Sekolah
akan membuka warung jujur. Tiga sekawan,
Ikhsan, Iman, dan Arya, asyik memperbincangkan rencana itu. Mereka siswa kelas
4. Apa, ya maksud warung jujur, tuch?
“Mungkin warung yang
penjual dan pembelinya yang jujur-jujur saja?”
kata Ikhsan.
“Berarti yang boleh
beli cuma aku dan Iman”. Sahut Arya.
“Kamu, kan, suka diam-diam ambil kue di kantin dan kabur tanpa bayar”.
“Sembarangan! Ibuku yang bayar sepulang sekolah. Ibu, kan, sudah membuat kontrak kerja dengan
Bu kantin, aku boleh ambil jajanan lalu ibu akan membayarnya saat jemput
aku!” Ikhsan membela diri. Iman tergelak melihat ekspresi muka Ikhsan.
“Memangnya
kamu tak diberi uang jajan?” tanya
Arya. Ikhsan diam sejenak.
“Dulu, iya. Tapi sebulan terakhir ini ibuku tak lagi
memberi uang jajan. Tapi aku diberi bekal nasi dan teh manis.”
“Kenapa?”
“Kata ibu, aku
boros.” Arya tertawa.
“Nah, kan, kamu
dianggap tak jujur dengan uang jajan kamu.
Makanya, kalau nanti warung jujur jadi dibuka, kamu termasuk siswa yang
dilarang keras berbelanja di sana.”
Wajah Ikhsan memerah. Iman
menepuk bahunya.
“Jangan sedih, kalau
uang jajanku berlebih, aku traktir, deh!” Ikhsan tersenyum senang.
“Kamu memang sahabat
sejatiku...” ujar Ikhsan sambil melirik
Arya dengan sengit. Sahabatnya itu hanya tertawa.
“Hei, bel masuk. Sekarang pelajaran Bu Yasmin. Aku tak ingin ketinggalan sepatah kata pun
dari beliau!” Arya berlari menuju
kelas. Ikhsan dan Iman pun tak mau
kalah, keduanya berlari tunggang langgang menyusul Arya. Bu Yasmin adalah guru Agama. Usianya sudah 45 tahun tapi karena murah
senyum, beliau tampak selalu cantik dan lebih muda dari usianya. Hampir setiap siswa menyukainya.
“Assalamu’alaikum
warrahmatullahi wabarakatuhu...” Bu
Yasmin memberi salam.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi
wabarakatuhu...!” dengan bersemangat seluruh siswa kelas 4b menjawab. Bu Yasmin tersenyum lebar.
“Luar biasa
semangatnya, terimakasih. Sebelum Ibu
mulai, Ibu absen dulu, ya.” Satu per
satu siswa kelas 4b dipanggil namanya.
Semua hadir. Ya, setiap hari
Rabu, semua siswa kelas 4b selalu hadir semua.
“We
love Wednesday”,
begitu motto mereka. Karena ada
Bu Yasmin.
Gawat, ya! Lihat saja, Anton yang tiap sebentar
bersin-bersin pun memaksakan diri masuk, karena tak mau ketinggalan pelajaran
Bu Yasmin.
“Kamu flu, Anton?”
“Iya, Bu...” Hidung Anton tampak memerah keseringan
bersin.
“Kalau sedang bersin,
tutup hidung dengan tisu atau sapu tangan, ya, biar tidak menyebar virusnya dan
menulari teman yang lain.” Anton
mengangguk.
“Iya, Bu...”
“Nah, anak-anak Ibu
semuanya. Ibu ada cerita yang sangat
bagus. Ibu benar-benar terharu masih
bisa menemukan anak sejujur itu.”
“Bagaimana ceritanya,
Bu?” Arya tak sabar.
“Iya, akan Ibu
ceritakan. Tadi, karena motor Ibu rusak,
Ibu ke sekolah naik angkutan kota, keneknya seorang anak kecil, seusia
kalian. Kalau masih bisa sekolah, dia
juga kelas 4, sama seperti kalian. Tapi
dia harus berhenti sekolah karena ayahnya sudah tiada, sedangkan ibunya hanya
berjualan daun pisang di pasar. Adiknya
ada dua.” Bu Yasmin menghela nafas.
“Lalu, Bu?”
“Sabar, dong, Ikhsan.”
Tegur Bima, ketua kelas.
“Ayahnya, yang bekerja
sebagai sopir angkot, meninggal sebulan yang lalu, karena tabrakan. Kalian ingat, kan, sebulan yang lalu ada tabrakan di dekat sekolah kita? Saat itu, seorang anak muda mengendarai motor
sangat kencang. Angkot yang berusaha
menghindari tabrakan dengan pemuda itu, malah menabrak tiang listrik. Ternyata, sopir angkotnya, ayah si kenek
kecil yang Ibu jumpai tadi.” Mata Bu
Yasmin tampak berkaca-kaca. Suasana
kelas menjadi hening.
“Ibu tidak punya uang
kecil untuk membayar ongkos, lalu Ibu beri uang lima puluh ribuan. Karena belum ada kembalian, Ibu diminta
menunggu penumpang lain membayar. Sampai
di tujuan, Ibu langsung turun. Ibu
bahkan tak ingat belum diberikan kembalian.
Tadi, saat Ibu duduk di meja piket, kira-kira sudah sepuluh menit Ibu
duduk, kenek kecil itu terengah-engah menemui Ibu dan memberikan uang
kembalian.”
“Kamu berlari ke
sini?” tanya Ibu.
“Iya, Bu, maaf tadi tak
sempat kasih kembalian.”
“Angkotmu, mana?”
“Menunggu di
perempatan. Sulit balik ke sini, jadi
saya lari saja.”
“Ibu terharu
sekali. Lebih-lebih, saat Ibu berikan
dia uang sepuluh ribuan sebagai hadiah, dia menolaknya dengan halus. Hebat, ya, anak itu? Padahal, bisa saja dia tak pedulikan tentang
uang kembalian itu. Tapi karena
kejujurannya, dia sampai bersusah payah menemui Ibu. Benar-benar sikap yang patut kita tiru.”
“Betul, Bu. Apalagi, sekolah kita akan membuka warung
jujur!” kata Iman.
“Sebenarnya, warung jujur itu apa, sih, Bu?”
“Oh, maksudnya, warung
itu tidak ada penjaganya. Yang ada hanya
barang-barang yang dijual dan kotak uang, serta buku catatan pembelian. Siapa yang beli, catat nama, kelas, dan barang
yang dibeli. Catatan itu gunanya untuk
mencocokkan barang terjual dengan jumlah uang yang ada.” Semua siswa mengangguk-angguk.
“Wah, enak,
tuh...” Celetuk Risman.
“Huuu, iya, kamu pasti
senang, bisa belanja tanpa bayar!” Sahut
Nita. Risman melotot. Bu Yasmin Tersenyum.
“Warung jujur dibuat
sekaligus untuk menguji kejujuran anak-anak Ibu semuanya. Memang tidak akan ada yang tahu seandainya
kalian mengambil barang tanpa membayar.
Ya, tak ada satu pun manusia yang tahu.
Tapi ingat...” Bu Yasmin menoleh
ke kanan dan ke kiri.
“Ya, ada yang malaikat
yang senantiasa mencatat apa yang kita perbuat.
Allah juga melihat kita.
Sekalipun kita tidak melihat Allah, harus kita ingat, Allah pasti selalu
melihat kita.”
“Baiklah, kita
lanjutkan pelajaran kita minggu yang lalu.”
Waktu berlalu tanpa terasa.
Belajar dengan Bu Yasmin selalu menyenangkan. Kadang-kadang beliau menceritakan kisah-kisah
yang menarik jika suasana kelas mulai membosankan. Sesekali beliau mengajak kami bernyanyi. Dengan begitu, anak-anak
belajar dengan senang dan nyaman.
Seminggu kemudian,
warung jujur pun dibuka dan diresmikan oleh Ibu Kepala Sekolah, setelah upacara
bendera hari Senin pagi.
“Anak-anak Ibu
semuanya. Sekolah kita, hari ini, mulai
membuka warung jujur. Ada alat-alat
sekolah, seperti pensil, pena, buku tulis, penghapus, penggaris, dan lain
sebagainya, bisa kalian beli. Kenapa
dinamakan warung jujur?”
“Warung jujur ini
dibuat untuk melihat seberapa besar kejujuran anak-anak Ibu semuanya. Kalian bisa berbelanja tanpa ada
penjaga. Kalian melayani diri kalian
sendiri. Ibu harapkan, semua anak-anak
Ibu selalu bersikap jujur sekali pun tak ada orang lain yang melihat. Mari sama-sama kita sukseskan warung jujur
sekolah kita ini.” Demikian amanat Ibu
Kepala Sekolah.
Hari pertama, semua
barang di warung jujur habis. Tapi
kenapa uangnya tidak cukup? Bu Rina,
penganggungjawab warung jujur bingung.
Hari kedua, masih juga
belum cocok antara jumlah barang terjual dengan uang yang ada dalam kotak. Memang, uang yang ada sesuai dengan catatan
dalam buku. Wah, berarti ada yang
curang, nih.
Hari-hari berikutnya
masih sama.
“Kalau seperti ini
terus, kita tidak bisa lagi belanja barang baru.” Keluh Bu Rina.
“Kita tunggu dalam satu
bulan ini.” Sahut Bendahara Sekolah.
“Apa perlu kita amati
diam-diam?”
“Tidak usah. Bisa jadi,
karena tahu diamat-amati, anak yang curang itu menghentikan aksinya. Tapi begitu kita bosan mengamati, dia bikin
ulah lagi. Anak-anak itu harus menyadari
kesalahannya mulai dari hati nurani mereka sendiri.”
Ternyata, hingga
sebulan warung jujur buka, selalu terjadi kecurangan.
“Kalau dibiarkan,
anak-anak ini akan merajalela.”
“Benar, ternyata belum
ada perubahan. Saya akan mengusahakan
sesuatu untuk mencari siapa yang sebenarnya telah berbuat curang.” Bu Yasmin mengangguk-anggukkan kepala sambil
tersenyum. Mungkin beliau memiliki ide
cemerlang.
“Kita coba, semoga
berhasil.”
Hari senin pagi,
setelah upacara, seluruh siswa diminta tetap berkumpul di lapangan
sekolah. Masing-masing guru kelas
membagikan sepotong stik es cream kepada siswanya.
“Anak-anak Ibu yang Ibu
sayangi,” Bu Yasmin menatap seluruh
siswa. “hari ini kalian diberikan sepotong stik es cream yang panjangnya
sama. Stik itu sudah diberi nama oleh
guru kelas kalian. Besok, kalian
kumpulkan kembali.”
“Warung jujur di
sekolah kita, ternyata mulai dimasuki oleh anak-anak yang kurang jujur. Jika hal ini dibiarkan terus, warung kita
tentu bisa merugi, akhirnya tidak bisa buka lagi. Stik yang dibagikan kepada kalian, bukan stik
biasa. Besok, saat dikembalikan, akan
ketahuan siapa yang suka berbuat curang.
Stik milik si curang akan bertambah panjang dari stik kawannya. Siapa yang besok bolos tanpa alasan, juga
patut dipertanyakan. Jadi, besok pagi,
kalian kumpulkan kembali stik itu kepada guru kelas kalian, tanpa
kecuali.” Suara Bu Yasmin terdengar
sangat tegas. Suasana menjadi sunyi.
“Baiklah, sekarang
kalian boleh masuk ke dalam kelas masing-masing. Tidak usah takut, hanya stik milik si curang
yang akan memanjang.” Bu Yasmin
mengakhiri amanatnya sambil tersenyum.
Para siswa berlarian menuju kelas masing-masing.
Hingga larut malam,
Risman dan Bonar, tidak juga bisa tidur. Mereka bertetangga. Sedari tadi mereka saling kirim SMS.
“Gimana, nih, Man. Jangan-jangan stik kita memanjang.” SMS Bonar bernada cemas.
“Mana mungkin.”
“Kata Bu Yasmin, stik
ini bukan stik biasa.”
“Apa iya?”
“Memang, sepertinya
mustahil. Tapi ada baiknya kita
jaga-jaga.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau
stiknya kita potong sedikit. Jadi kalau
besok stik kita memanjang, ukurannya tetap sama dengan stik yang lain?”
“Kita tunggu saja
besok. Kalau memanjang, baru kita
potong.”
“Iya kalau sempat, ini
sudah larut malam, kita belum tidur. Apalagi
kamu, suka terlambat bangun.”
“Iya juga. Baiklah, kita potong saja sedikit.”
Mereka merasa
lega. Akhirnya mereka bisa terlelap.
Keesokan harinya, semua
siswa mengumpulkan stik kepada guru kelas.
Stik yang sudah terkumpul diperiksa dengan teliti. Di kelas 4b, ada satu stik yang tampak bekas
potongan dan ukurannya berbeda. Begitu
juga di kelas 4a.
“Akhirnya, dari stik yang
kalian kumpulkan, Ibu tahu siapa yang selama ini melakukan kecurangan di warung
jujur.” Kata Bu Ira, Guru Kelas 4b,
kepada siswanya.
“Siapa, Bu?” Bu Guru tersenyum.
“Alangkah baiknya jika
anak yang Ibu maksud berani mengakuinya sebelum orangtuanya dipanggil oleh
Kepala Sekolah.” Meskipun berusaha
tenang, wajah Risman terasa panas.
Mukanya tampak memerah. Untung
tak seorang pun temannya memperhatikan.
Di kelasnya, Bonar juga merasakan hal yang sama.
Di kantin sekolah.
“Bonar, kita mengaku
saja, yuk? Aku takut kalau orangtuaku
tahu semua ini. Bisa-bisa mereka
mengirimku ke kampung nenek lagi karena menganggapku masih nakal.”
“Aku juga takut. Tapi kalau kita mengaku, nanti kita dihukum.”
“Ya, sih. Tapi karena kita sudah salah, pantas juga
dihukum. Asal orangtuaku tak tahu
masalah ini, aku bisa tenang.” Keduanya
terdiam beberapa saat.
“Aku akan
mengaku.” Risman bangkit dan berjalan
menuju kelasnya. Bu Ira tampak sedang
sibuk mengoreksi PR siswa. Beliau
tersenyum melihat kedatangan Risman.
“Bu....”
“Duduklah. Jadi akhirnya kamu menyadari kesalahanmu?”
“Tapi, bagaimana Ibu
tahu pelakunya saya? Apa stik saya
memanjang lagi?”
“Bukan memanjang, tapi
memendek. Benda mati, kan, tidak bisa tumbuh dan berkembang?”
“Kata Bu Yasmin....”
“Bu Yasmin bukannya
ingin berbohong, tapi berusaha membuat kalian menyadari kesalahan kalian.”
“Saya menyesal,
Bu.” Risman menunduk dalam-dalam.
“Kenapa menyesalnya
menunggu ketahuan?” Risman terdiam.
“Saya janji tak akan
mengulanginya lagi. Jangan panggil
orangtua saya, ya, Bu?”
“Coba pandang
Ibu.” Risman memberanikan diri memandang
bu Ira. Matanya berkaca-kaca.
“Baiklah. Kali ini, Ibu maafkan. Jangan pernah diulangi lagi. Perbuatanmu itu tidak hanya merugikan diri
kamu sendiri. Tapi juga merugikan sekolah dan teman-temanmu
yang lain juga.”
“Iya, Bu, saya
mengerti. Saya minta maaf.”
Di kelas 4a, tampak
Bonar sedang duduk takzim di depan Bu Arta, Guru kelasnya. Rupanya Bonar juga mengakui kesalahannya.
Hari-hari selanjutnya,
warung jujur benar-benar menjadi warung jujur. Tidak ada lagi selisih barang
terjual dengan jumlah uang yang masuk. Kalau
pun ada selisih, tidak seberapa nilainya. Mungkin adik-adik yang masih kelas
satu atau kelas dua salah menghitung uang kembalian. Warung jujur sekolah kami
pun semakin berkembang. Kalau dulu hanya
menjual alat-alat sekolah, sekarang juga ada kue-kue. Karena harganya lebih murah dan kue-kuenya
pun tampak bersih dan bergizi, siswa banyak yang jajan di warung jujur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar