Selasa, 01 Mei 2012

JUJUR DI WARUNG JUJUR




            Sekolah akan membuka warung jujur.  Tiga sekawan, Ikhsan, Iman, dan Arya, asyik memperbincangkan rencana itu. Mereka siswa kelas 4. Apa, ya  maksud warung jujur, tuch? 
“Mungkin warung yang penjual dan pembelinya yang jujur-jujur saja?”  kata Ikhsan.
“Berarti yang boleh beli cuma aku dan Iman”.  Sahut Arya. “Kamu, kan, suka diam-diam ambil kue di kantin dan kabur tanpa bayar”.
“Sembarangan!  Ibuku yang bayar sepulang sekolah.  Ibu, kan, sudah membuat kontrak kerja dengan Bu kantin, aku boleh ambil jajanan lalu ibu akan membayarnya saat jemput aku!”  Ikhsan membela diri.  Iman tergelak melihat ekspresi muka Ikhsan.
            “Memangnya kamu tak diberi uang jajan?”  tanya Arya.  Ikhsan diam sejenak.
“Dulu, iya.  Tapi sebulan terakhir ini ibuku tak lagi memberi uang jajan.  Tapi aku diberi bekal nasi dan teh manis.
“Kenapa?”
“Kata ibu, aku boros.”  Arya tertawa.
“Nah, kan, kamu dianggap tak jujur dengan uang jajan kamu.  Makanya, kalau nanti warung jujur jadi dibuka, kamu termasuk siswa yang dilarang keras berbelanja di sana.”  Wajah Ikhsan memerah.  Iman menepuk bahunya.
“Jangan sedih, kalau uang jajanku berlebih, aku traktir, deh!”  Ikhsan tersenyum senang. 
“Kamu memang sahabat sejatiku...”  ujar Ikhsan sambil melirik Arya dengan sengit.  Sahabatnya itu hanya tertawa.
“Hei, bel masuk.  Sekarang pelajaran Bu Yasmin.  Aku tak ingin ketinggalan sepatah kata pun dari beliau!”  Arya berlari menuju kelas.  Ikhsan dan Iman pun tak mau kalah, keduanya berlari tunggang langgang menyusul Arya. Bu Yasmin adalah guru Agama.  Usianya sudah 45 tahun tapi karena murah senyum, beliau tampak selalu cantik dan lebih muda dari usianya.  Hampir setiap siswa menyukainya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuhu...”  Bu Yasmin memberi salam.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuhu...!” dengan bersemangat seluruh siswa kelas 4b menjawab.  Bu Yasmin tersenyum lebar.
“Luar biasa semangatnya, terimakasih.  Sebelum Ibu mulai, Ibu absen dulu, ya.”  Satu per satu siswa kelas 4b dipanggil namanya.  Semua hadir.  Ya, setiap hari Rabu, semua siswa kelas 4b selalu hadir semua.  We love Wednesday, begitu motto mereka.  Karena ada Bu Yasmin. 
Gawat, ya!  Lihat saja, Anton yang tiap sebentar bersin-bersin pun memaksakan diri masuk, karena tak mau ketinggalan pelajaran Bu Yasmin.
“Kamu flu, Anton?” 
“Iya, Bu...”  Hidung Anton tampak memerah keseringan bersin.
“Kalau sedang bersin, tutup hidung dengan tisu atau sapu tangan, ya, biar tidak menyebar virusnya dan menulari teman yang lain.”  Anton mengangguk.
“Iya, Bu...”
“Nah, anak-anak Ibu semuanya.  Ibu ada cerita yang sangat bagus.  Ibu benar-benar terharu masih bisa menemukan anak sejujur itu.”
“Bagaimana ceritanya, Bu?”  Arya tak sabar.
“Iya, akan Ibu ceritakan.  Tadi, karena motor Ibu rusak, Ibu ke sekolah naik angkutan kota, keneknya seorang anak kecil, seusia kalian.  Kalau masih bisa sekolah, dia juga kelas 4, sama seperti kalian.  Tapi dia harus berhenti sekolah karena ayahnya sudah tiada, sedangkan ibunya hanya berjualan daun pisang di pasar.  Adiknya ada dua.”  Bu Yasmin menghela nafas.
“Lalu, Bu?”
“Sabar, dong, Ikhsan.”  Tegur Bima, ketua kelas.
“Ayahnya, yang bekerja sebagai sopir angkot, meninggal sebulan yang lalu, karena tabrakan.  Kalian ingat, kan, sebulan yang lalu ada tabrakan di dekat sekolah kita?  Saat itu, seorang anak muda mengendarai motor sangat kencang.  Angkot yang berusaha menghindari tabrakan dengan pemuda itu, malah menabrak tiang listrik.  Ternyata, sopir angkotnya, ayah si kenek kecil yang Ibu jumpai tadi.”  Mata Bu Yasmin tampak berkaca-kaca.  Suasana kelas menjadi hening.
“Ibu tidak punya uang kecil untuk membayar ongkos, lalu Ibu beri uang lima puluh ribuan.  Karena belum ada kembalian, Ibu diminta menunggu penumpang lain membayar.  Sampai di tujuan, Ibu langsung turun.  Ibu bahkan tak ingat belum diberikan kembalian.  Tadi, saat Ibu duduk di meja piket, kira-kira sudah sepuluh menit Ibu duduk, kenek kecil itu terengah-engah menemui Ibu dan memberikan uang kembalian.”
“Kamu berlari ke sini?”  tanya Ibu.
“Iya, Bu, maaf tadi tak sempat kasih kembalian.”
“Angkotmu, mana?”
“Menunggu di perempatan.  Sulit balik ke sini, jadi saya lari saja.” 
“Ibu terharu sekali.  Lebih-lebih, saat Ibu berikan dia uang sepuluh ribuan sebagai hadiah, dia menolaknya dengan halus.  Hebat, ya, anak itu?  Padahal, bisa saja dia tak pedulikan tentang uang kembalian itu.  Tapi karena kejujurannya, dia sampai bersusah payah menemui Ibu.  Benar-benar sikap yang patut kita tiru.”
“Betul, Bu.  Apalagi, sekolah kita akan membuka warung jujur!”  kata Iman.
Sebenarnya, warung jujur itu apa, sih, Bu?”
“Oh, maksudnya, warung itu tidak ada penjaganya.  Yang ada hanya barang-barang yang dijual dan kotak uang, serta buku catatan pembelian.  Siapa yang beli, catat nama, kelas, dan barang yang dibeli.  Catatan itu gunanya untuk mencocokkan barang terjual dengan jumlah uang yang ada.”  Semua siswa mengangguk-angguk.
“Wah, enak, tuh...”  Celetuk Risman.
“Huuu, iya, kamu pasti senang, bisa belanja tanpa bayar!”  Sahut Nita.  Risman melotot.  Bu Yasmin Tersenyum.
“Warung jujur dibuat sekaligus untuk menguji kejujuran anak-anak Ibu semuanya.  Memang tidak akan ada yang tahu seandainya kalian mengambil barang tanpa membayar.  Ya, tak ada satu pun manusia yang tahu.  Tapi ingat...”  Bu Yasmin menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Ya, ada yang malaikat yang senantiasa mencatat apa yang kita perbuat.  Allah juga melihat kita.  Sekalipun kita tidak melihat Allah, harus kita ingat, Allah pasti selalu melihat kita.”
“Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita minggu yang lalu.”  Waktu berlalu tanpa terasa.  Belajar dengan Bu Yasmin selalu menyenangkan.  Kadang-kadang beliau menceritakan kisah-kisah yang menarik jika suasana kelas mulai membosankan.  Sesekali beliau mengajak kami bernyanyi. Dengan begitu, anak-anak belajar dengan senang dan nyaman.
Seminggu kemudian, warung jujur pun dibuka dan diresmikan oleh Ibu Kepala Sekolah, setelah upacara bendera hari Senin pagi.
“Anak-anak Ibu semuanya.  Sekolah kita, hari ini, mulai membuka warung jujur.  Ada alat-alat sekolah, seperti pensil, pena, buku tulis, penghapus, penggaris, dan lain sebagainya, bisa kalian beli.  Kenapa dinamakan warung jujur?”
“Warung jujur ini dibuat untuk melihat seberapa besar kejujuran anak-anak Ibu semuanya.  Kalian bisa berbelanja tanpa ada penjaga.  Kalian melayani diri kalian sendiri.  Ibu harapkan, semua anak-anak Ibu selalu bersikap jujur sekali pun tak ada orang lain yang melihat.  Mari sama-sama kita sukseskan warung jujur sekolah kita ini.”  Demikian amanat Ibu Kepala Sekolah.
Hari pertama, semua barang di warung jujur habis.  Tapi kenapa uangnya tidak cukup?  Bu Rina, penganggungjawab warung jujur bingung.
Hari kedua, masih juga belum cocok antara jumlah barang terjual dengan uang yang ada dalam kotak.  Memang, uang yang ada sesuai dengan catatan dalam buku.  Wah, berarti ada yang curang, nih.
Hari-hari berikutnya masih sama. 
“Kalau seperti ini terus, kita tidak bisa lagi belanja barang baru.”  Keluh Bu Rina.
“Kita tunggu dalam satu bulan ini.”  Sahut Bendahara Sekolah.
“Apa perlu kita amati diam-diam?”
“Tidak usah. Bisa jadi, karena tahu diamat-amati, anak yang curang itu menghentikan aksinya.  Tapi begitu kita bosan mengamati, dia bikin ulah lagi.  Anak-anak itu harus menyadari kesalahannya mulai dari hati nurani mereka sendiri.” 
Ternyata, hingga sebulan warung jujur buka, selalu terjadi kecurangan. 
“Kalau dibiarkan, anak-anak ini akan merajalela.”
“Benar, ternyata belum ada perubahan.  Saya akan mengusahakan sesuatu untuk mencari siapa yang sebenarnya telah berbuat curang.”  Bu Yasmin mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.  Mungkin beliau memiliki ide cemerlang.
“Kita coba, semoga berhasil.”
Hari senin pagi, setelah upacara, seluruh siswa diminta tetap berkumpul di lapangan sekolah.  Masing-masing guru kelas membagikan sepotong stik es cream kepada siswanya.
“Anak-anak Ibu yang Ibu sayangi,”  Bu Yasmin menatap seluruh siswa. “hari ini kalian diberikan sepotong stik es cream yang panjangnya sama.  Stik itu sudah diberi nama oleh guru kelas kalian.  Besok, kalian kumpulkan kembali.”
“Warung jujur di sekolah kita, ternyata mulai dimasuki oleh anak-anak yang kurang jujur.  Jika hal ini dibiarkan terus, warung kita tentu bisa merugi, akhirnya tidak bisa buka lagi.  Stik yang dibagikan kepada kalian, bukan stik biasa.  Besok, saat dikembalikan, akan ketahuan siapa yang suka berbuat curang.  Stik milik si curang akan bertambah panjang dari stik kawannya.  Siapa yang besok bolos tanpa alasan, juga patut dipertanyakan.  Jadi, besok pagi, kalian kumpulkan kembali stik itu kepada guru kelas kalian, tanpa kecuali.”  Suara Bu Yasmin terdengar sangat tegas.  Suasana menjadi sunyi.
“Baiklah, sekarang kalian boleh masuk ke dalam kelas masing-masing.  Tidak usah takut, hanya stik milik si curang yang akan memanjang.”  Bu Yasmin mengakhiri amanatnya sambil tersenyum.  Para siswa berlarian menuju kelas masing-masing.
Hingga larut malam, Risman dan Bonar, tidak juga bisa tidur. Mereka bertetangga.  Sedari tadi mereka saling kirim SMS.
“Gimana, nih, Man.  Jangan-jangan stik kita memanjang.”  SMS Bonar bernada cemas.
“Mana mungkin.”
“Kata Bu Yasmin, stik ini bukan stik biasa.”
“Apa iya?”
“Memang, sepertinya mustahil.  Tapi ada baiknya kita jaga-jaga.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau stiknya kita potong sedikit.  Jadi kalau besok stik kita memanjang, ukurannya tetap sama dengan stik yang lain?”
“Kita tunggu saja besok.  Kalau memanjang, baru kita potong.”
“Iya kalau sempat, ini sudah larut malam, kita belum tidur.  Apalagi kamu, suka terlambat bangun.”
“Iya juga.  Baiklah, kita potong saja sedikit.”
Mereka merasa lega.  Akhirnya mereka bisa terlelap.
Keesokan harinya, semua siswa mengumpulkan stik kepada guru kelas.  Stik yang sudah terkumpul diperiksa dengan teliti.  Di kelas 4b, ada satu stik yang tampak bekas potongan dan ukurannya berbeda.  Begitu juga di kelas 4a.
“Akhirnya, dari stik yang kalian kumpulkan, Ibu tahu siapa yang selama ini melakukan kecurangan di warung jujur.”  Kata Bu Ira, Guru Kelas 4b, kepada siswanya.
“Siapa, Bu?”  Bu Guru tersenyum. 
“Alangkah baiknya jika anak yang Ibu maksud berani mengakuinya sebelum orangtuanya dipanggil oleh Kepala Sekolah.”  Meskipun berusaha tenang, wajah Risman terasa panas.  Mukanya tampak memerah.  Untung tak seorang pun temannya  memperhatikan.  Di kelasnya, Bonar juga merasakan hal yang sama.
Di kantin sekolah.
“Bonar, kita mengaku saja, yuk?  Aku takut kalau orangtuaku tahu semua ini.  Bisa-bisa mereka mengirimku ke kampung nenek lagi karena menganggapku masih nakal.”
“Aku juga takut.  Tapi kalau kita mengaku, nanti kita dihukum.”
“Ya, sih.  Tapi karena kita sudah salah, pantas juga dihukum.  Asal orangtuaku tak tahu masalah ini, aku bisa tenang.”  Keduanya terdiam beberapa saat.
“Aku akan mengaku.”  Risman bangkit dan berjalan menuju kelasnya.  Bu Ira tampak sedang sibuk mengoreksi PR siswa.  Beliau tersenyum melihat kedatangan Risman.
“Bu....”
“Duduklah.  Jadi akhirnya kamu menyadari kesalahanmu?”
“Tapi, bagaimana Ibu tahu pelakunya saya?  Apa stik saya memanjang lagi?”
“Bukan memanjang, tapi memendek.  Benda mati, kan, tidak bisa tumbuh dan berkembang?”
“Kata Bu Yasmin....”
“Bu Yasmin bukannya ingin berbohong, tapi berusaha membuat kalian menyadari kesalahan kalian.”
“Saya menyesal, Bu.”  Risman menunduk dalam-dalam.
“Kenapa menyesalnya menunggu ketahuan?”  Risman terdiam.
“Saya janji tak akan mengulanginya lagi.  Jangan panggil orangtua saya, ya, Bu?”
“Coba pandang Ibu.”  Risman memberanikan diri memandang bu Ira.  Matanya berkaca-kaca.
“Baiklah.  Kali ini, Ibu maafkan.  Jangan pernah diulangi lagi.  Perbuatanmu itu tidak hanya merugikan diri kamu sendiri.  Tapi juga merugikan sekolah dan teman-temanmu yang lain juga.”
“Iya, Bu, saya mengerti.  Saya minta maaf.”
Di kelas 4a, tampak Bonar sedang duduk takzim di depan Bu Arta, Guru kelasnya.  Rupanya Bonar juga mengakui kesalahannya.
Hari-hari selanjutnya, warung jujur benar-benar menjadi warung jujur. Tidak ada lagi selisih barang terjual dengan jumlah uang yang masuk.  Kalau pun ada selisih, tidak seberapa nilainya. Mungkin adik-adik yang masih kelas satu atau kelas dua salah menghitung uang kembalian. Warung jujur sekolah kami pun semakin berkembang.  Kalau dulu hanya menjual alat-alat sekolah, sekarang juga ada kue-kue.  Karena harganya lebih murah dan kue-kuenya pun tampak bersih dan bergizi, siswa banyak yang jajan di warung jujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar