Selasa, 15 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 1)



Kubuat lingkaran merah tepat pada tanggal 13 November di kalender mejaku.  Hm, tiga puluh tahun usiaku kini.  Usia yang matang untuk seorang laki-laki.  Jika aku laki-laki. Tapi aku terlahir sebagai perempuan. Masyarakat sekitarku menganggap usiaku sudah kadaluwarsa sebagai anak perawan.  Kasarnya, aku adalah perawan tua.  Ih, jadi miris setiap kali kuingat istilah itu.
Miris tak berarti risau.  Sekali pun tak paham banyak tentang agama, tapi aku termasuk orang yang ‘ainul yaqin[i] bahwa takdirku sudah tertulis saat aku belum lagi 40 hari dalam rahim ibuku. Kelahiran, riski, jodoh, dan kematian adalah takdir yang tidak satu pun manusia dapat campur tangan. 
Bukannya mau menyerah pada takdir. Kalau pun hingga kini aku masih sendiri bukan berarti aku tak berusaha menemukan belahan jiwaku.  Aku bukan tipe perfeksionis yang menetapkan kriteria tertentu untuk laki-laki yang kumau.  Sama sekali bukan.  Aku juga bukan tipe workaholic yang mengabaikan naluri alamiahku untuk dicintai dan mencintai.  Aku normal, layaknya perempuan pada umumnya.  Apakah aku pernah trauma? Sama sekali tidak pernah. Baik trauma karena pengalaman sendiri, maupun trauma melihat pengalaman orang lain.  Tapi, entah kenapa, jodohku seolah tak berada satu dunia denganku.
Padahal, aku termasuk perempuan dengan penampilan yang prima.  Banyak yang bilang, aku cantik dan menarik.  Dengan tinggi 164 cm dan berat badan 51 kilogram, rasanya aku termasuk perempuan seksi.  Secara teoritis, seharusnya aku bisa dengan mudah menemukan seorang kekasih.  Kenyataannya, hingga kini, aku masih harus setia dengan status jomblo.
Beberapa kali aku tertarik dengan laki-laki tapi selalu salah.  Kadang salah orang, kadang salah waktu.  Aku pernah mencintai oomku, jelas itu salah orang.  Saat duduk di sekolah dasar, aku pernah terobsesi dengan guru teater yang, kata teman-temanku, sangat cakep.  Salah waktu, kan? 
Belum saatnya, lima belas tahun lagi, kata Naning, sahabat kecilku. 
Sering juga cintaku bertepuk sebelah tangan. Kadang aku suka seseorang, ternyata dia tak suka.  Sebaliknya, seseorang yang tak pernah kupedulikan selalu berusaha menarik perhatianku.  Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Versi Mbah Putriku, aku jauh dari jodoh karena aku belum diruwatKata mbah, aku yang terlahir sebagai anak perempuan di antara dua saudara laki-laki termasuk kategori anak sendang kaapit pancuran. Tipe anak semacamku ini berpotensi mengalami kesialan dalam hidup, kecuali dilakukan ruwatan[ii].  Anak yang setipe denganku adalah pancuran kaapit sendang, anak laki-laki di antara dua saudara perempuan. Ada lagi, kedono-kedini, dua anak sepasang, laki-laki dan perempuan atau sebaliknya. Pendowo limo, lima anak laki-laki. Wah, bisa-bisa semua manusia harus diruwat.  Bapakku tertawa saat aku menanyakan tentang itu.
Nduk[iii], kamu lahir di masa orde baru. Saat keluar dari perut ibumu, kamu  sudah diterangi lampu listrik dan bisa menikmati jalan aspal.  Kok, bisa-bisanya, hal-hal yang tak masuk akal semacam itu kamu pikirkan. Padahal, bapakmu ini, yang lahir saat Jepang mendarat di Tanjung Perak, tahun 1942, sedikit pun tak pernah terlintas pikiran semacam itu.”  Lalu bapak menunjuk foto di dinding ruang keluarga yang sudah menguning, foto mbah kakung.
“Itu, Mbah Kungmu,  yang juga termasuk orang kuno, malah sering bilang, “saben jelmo urip iku wis nggowo pestine dhewe-dhewe, rejekine wis tetep dadi ora perlu nganyak duweke wong liyo, jodone wis tetep dadi ora perlu grusa-grusu, patine wis mesti dadi ora perlu ndisiki pestine Gusti (setiap manusia membawa takdirnya masing-masing, riskinya sudah dipastikan jadi jangan mengambil hak orang lain, jodohnya sudah ditentukan, jadi tak perlu terburu-buru kalau pun belum juga bertemu, matinya pun sudah ditetapkan jadi jangan mendahului takdir Yang Kuasa).” 
“Berarti Bapak tak mempermasalahkan keadaanku, kan?
“Tentu tidak. Tapi, tak ada salahnya juga kalau kita mengupayakan agar kamu segera bertemu jodohmu.”
“Maksudnya, saya mau dijodohkan?
“Bukan dijodohkan, tapi dipertemukan dengan beberapa orang, siapa tahu, salah satunya adalah jodohmu.”
“Sama saja itu, Pak.”
“Tentu berbeda. Kalau dari sekian orang yang nanti dikenalkan padamu ternyata tak bisa membawamu duduk di pelaminan, artinya mereka bukan jodohmu, kan?  Kamu tidak dipaksa untuk menerima salah satu dari mereka.  Jalani saja, kalau akhirnya kalian bisa menikah, artinya kalian berjodoh.”
Kemudian Bapak mengenalkanku dengan beberapa anak teman bapak, anak kenalan teman bapak, bahkan sampai ke anak tetangga teman bapak.  Hasilnya? Nihil. Nol besar. Selalu saja ada hal-hal yang menjadi kendala sehingga berujung kegagalan.  Hingga kini, tiga puluh tahun sudah usiaku.
Amira, rekan kerja sekaligus sahabat baikku, lebih mengerikan lagi pendapatnya. Dia bilang, mungkin aku pernah menolak seseorang yang membuatnya sakit hati padaku.  Lalu dia mengirimkan guna-guna padaku dengan tujuan agar tak ada laki-laki yang mau denganku.  Aku tertawa mendengarnya. 
“Jangan anggap remeh kata-kataku.”  Ujarnya dengan mimik serius. “Ingat Inggit? Tak masuk akal, kan, jika tak ada laki-laki yang tertarik padanya.  Kecantikannya luar biasa, bagaikan foto model tingkat dunia.  Perilakunya juga sangat menyenangkan.  Tapi kenyataannya, hampir setiap laki-laki yang bertemu dengannya tak menunjukkan ekspresi tertarik, bahkan cenderung enggan dekat. Rinto, teman kita, pernah kucomblangi agar bisa jadian dengan Inggit.”  Amira tampak semakin serius.
Tahu apa katanya?” Amira mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mau kamu jodohkan dengan perempuan bermuka keriput itu?”  Amira menirukan kata-kata Rinto dengan suara yang dalam sambil membelalakkan matanya.
Hah, perempuan secantik Inggit dengan wajah cerah tanpa sedikit pun noda, seterang bulan purnama, dibilang keriput.  Apa yang sebenarnya terjadi?”  Aku mengangkat bahu, tak tahu harus berkomentar apa.  Amira mengibaskan tangannya, seolah berkata, “ya, sudahlah.”
“Nah, setelah  ruqyah[iv],” lanjut Amira dengan nada yang mulai merendah, “tak menunggu hitungan bulan, akhirnya dia bertemu dengan jodohnya, dan, kamu juga tahu, kini dia tengah menunggu buah hatinya yang ke dua.” Amira menatapku serius.
Think about it.
Aku termenung. Bukan mengiyakan seluruh kata-kata Amira, tapi sedang memikirkan kemungkinan aku pernah menyakiti hati seseorang, lalu dia mendoakan sesuatu yang buruk untukku.  Dan doanya terkabul. Bukankah doa orang teraniaya itu makbul[v]?
“Bagaimana, kamu mau mencoba?  Biar kutanyakan di mana Inggit ruqyah.”
Aku tersenyum, menurutku, kamu saja yang ruqyah. Bukannya usiamu terpaut dua tahun lebih tua dariku?  Kamu juga belum menemukan jodohmu….”  ujarku bergurau.  Amira mendelik.
“Lain cerita. Kita berbeda prinsip hidup.  Aku bukan orang yang suka terikat dalam kungkungan sakral pernikahan.  Jadi memang tak ada niat untuk menikah.  Kamu tahu, kan?  Aku lahir dari seorang ibu tanpa ayah yang jelas.  Seorang laki-laki bejat menghamili dan meninggalkan ibuku, layaknya seekor binatang yang kencing di jalan lalu pergi begitu saja.  Aku tak pernah menutupi semua itu.  Tapi seperti yang kamu lihat, ibuku tampak hidup normal dengan statusnya sebagai single parent.”
“Kodrati manusia adalah mengembangkan keturunan. Kamu tak ingin memiliki generasi penerus yang mewarisi rangkaian DNAmu?  Kamu rela sejarah hidupmu terputus tanpa keturunan?”  Amira mengangkat bahu.
“Aku termasuk salah satu jenis manusia yang tak memiliki kebanggaan dengan kelahiranku di dunia ini.  Yach, hanya mengikuti takdir harus terlahir dengan kondisi seperti ini.  Bukan mau merendahkan diriku sendiri, tapi mencoba untuk tahu diri.”  Amira menarik nafas panjang.
“Aku sadar seratus persen bahwa aku tak memenuhi syarat sebagai calon mempelai perempuan.  Kamu tahu, kan, ketika seorang laki-laki memilih calon istri, apa yang dipesankan oleh orangtuanya? Cari perempuan yang jelas bobot, bibit, dan bebetnya.  Belum lagi, kata Ustadz Yasin, memilih jodoh itu dilihat dari harta, paras, status, atau imannya.  Aku tak memiliki kualitas lebih dari orang lain mengenai syarat-syarat itu.  Jadi apa yang bisa menjadi kebanggaanku sebagai perempuan? Daripada sakit hati, rasanya hidupku akan lebih indah jika aku tak memikirkan tentang pernikahan.” Amira mencomot sepotong pizza dan mengunyahnya dengan santai.  Kuulurkan botol minumannya yang terletak di dekat tempat dudukku, dia tampak tercekik karena mengunyah dan menelan tanpa jeda.
Terima kasih.” Amira kembali menatapku.
Kalau pun aku ingin punya anak, aku akan melakukan inseminasi buatan.”  Mataku membelalak mendengar istilah sarkasme Amira. 
“Inseminasi buatan?  Seperti sapi pedaging saja.”
“Ya, semacam itu. Hm, atau kloning saja? Sekali beranak, bisa menghasilkan lebih dari satu makhluk baru yang sama persis denganku.  Aku bisa melihat diriku sendiri pada keturunanku.  Seperti kembar identik! Dan aku akan pastikan keturunanku hanya yang berjenis kelamin perempuan.  Aku akan bangga jika bisa mengisi dunia ini dengan banyak anak perempuan.  Lalu aku akan memberikan masa kecil dan masa remaja yang indah untuknya.”  Mata Amira bersinar terang.
“Kenapa harus perempuan?”
Karena perempuanlah makhluk terkuat di muka bumi ini.
“Perempuan makhluk terkuat?  Makhluk dengan tubuh lemah dan mudah menangis?” Amira menggoyang-goyangkan jari telunjuknya mendengar komentarku.
“Gen perempuan, kamu tahu, mampu bertahan sampai tiga hari hingga bertemu dengan sel telur.  Sedangkan gen laki-laki, hanya mampu bertahan sekian jam saja.  Dari asal muasalnya saja, perempuan sudah diciptakan sebagai makhluk yang memiliki daya juang dan daya tahan yang luar biasa.”  
“Aku bangga terlahir sebagai seorang perempuan. Satu-satunya kebanggaanku.” Amira tertawa lebar.
“Tapi perempuan banyak yang teraniaya.”
“Mereka mampu bertahan dalam keadaan teraniaya.  Hal yang tak bisa dilakukan oleh kebanyakan laki-laki. Contoh nyatanya, ibuku. Baru kini aku menyadari betapa kuatnya ibuku. Dalam keadaan sendiri, ibuku telah mengandung, melahirkan, lalu merawat aku. Bekerja keras untuk menafkahi kami. Dia begitu keras pada dirinya sendiri, demi aku.  Tak peduli apa pun kata orang tentang keadaannya. Demi memberiku kesempatan untuk melihat dunia ini, untuk melihat laki-laki kerdil yang telah menyakiti ibuku, menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa pengecutnya laki-laki itu.” Sorot mata Amira setajam pisau belati.
“Mau tahu perasaanku saat melihat laki-laki itu, tepat satu meter di hadapanku, tanpa dikenali sebagai anak perempuannya...” suara Amira lebih mirip desisan. “dia tak lebih dari seonggok tumpukan daging yang ditopang kerangka, tanpa hati dan jiwa.  Senyumnya lebar seperti seringai singa. Huh, benar-benar mimpi buruk mengingat semua itu.” Wajah Amira terlihat tegang.
“Hm, aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keadaan seperti ini.  Sedikit pun aku juga tak menyalahkan ibuku yang telah melakukan kesalahan besar dengan memilihkanku bapak seperti laki-laki itu. Karena aku bisa membuktikan, sekuat apa pun laki-laki itu berusaha membuat ibuku terjatuh, dia hanya akan melihat ibuku yang semakin lama justru semakin kokoh berdiri. I love my mom, so much! Dan aku sangat bangga pada ibuku.” Aku menatap Amira yang menerawang keluar jendela. Apa yang bisa kulihat darinya? Ketegaran atau kekuatan dendam yang membuatnya tampak sekeras batu karang?
“Aku yakin ibumu akan selalu membanggakanmu.  Kamu perempuan hebat yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang hebat pula.”  Ujarku menguatkan hatinya. Secara fisik, Amira memang kuat, tapi jiwanya rapuh, digerogoti amarah dan dendam yang tumbuh berakar secara laten, karena, mungkin Amira tak pernah menyadarinya.  Amira mematung. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
Sudahlah, lupakan laki-laki itu.” Kutepuk bahu Amira. “lagian, kenapa kita jadi bicara ngelantur? Oh ya, pesanan dari Pak Rian sudah siap dikirim?” 
“Hmm, ya.” Amira membalikkan tubuhnya menghadap komputer.  Sikapnya dengan cepat berubah.  Jemari lentiknya bergerak lincah di atas keyboard, mencari data yang kuminta.
“Lima kodi kotak hantaran balut kain tenun.  Sudah siap, tinggal dikirim besok.  Pesanan hiasan dinding dari bambu kuning untuk Bu Armini juga sudah siap.”
“Jangan lupa pesanan souvenir untuk pernikahan anak konglomerat kota ini.  Beliau minta barang sudah diterima, dalam keadaan mulus, paling lambat tiga hari sebelum hari H.” Amira mengacungkan jempol.
“Siap, Bos. Mulus, ya?” Aku tertawa. 
Yach, awalnya aku mendirikan rumah souvenir seorang diri, lima tahun yang lalu.  Setelah aku bosan bekerja di bawah tekanan.  Berbekal pengalamanku berjualan asesoris dan souvenir pada teman-temanku, aku pun memberanikan diri membuka usaha rumahan yang menyediakan aneka souvenir dari berbagai daerah di Indonesia. Kalaupun sekarang usahaku mulai menanjak, hingga bisa menyewa sebuah ruko di lingkungan perkantoran yang cukup elit, bukan berarti aku melalui jalan tol untuk mendapatkan semuanya. Bukan sekali dua kali aku gagal.  Pernah juga tertipu, dibayar dengan cek kosong, order pelanggan dilarikan oleh awak pengirim barang. Yang paling pahit, karya orisinilku dibajak dengan bahan yang mutunya gak jelas dengan merk yang sama, dengan maksud menjatuhkan kredibilitas rumah souvenir yang kudirikan. Semua menjadi pelajaran dan pengalaman.
Setengah perjalanan, saat usahaku tampak mulai berkembang, Amira, sahabatku saat kuliah, yang selama ini menganggur, kuajak bekerja sama.  Amira sangat luwes dan cekatan.  Sehingga usaha rumah souvenirku berkembang semakin pesat.
Kami bersahabat sekalipun banyak beda pendapat dalam prinsip hidup.  Tak jarang kami beradu argumen tentang kehidupan. Bukan salah Amira jika dia memiliki sentimen pribadi pada makhluk berjenis laki-laki. Sejarah kelam ibunya membuat Amira super protektif dari makhluk berjakun.  Tapi, aku tak henti berdoa, agar suatu saat, Amira dipertemukan dengan laki-laki baik yang mampu mengubah cara berpikirnya dan membawanya ke dunia indah pernikahan.  Amira layak mendapatkan laki-laki yang istimewa, karena dia gadis yang istimewa.
“Win, jadi Mbah Putrimu bikin acara ruwatan?” tanya Amira menyadarkanku dari lamunan.
“Hm…?” Aku menoleh dan menatap Amira. “Kamu percaya hal semacam itu?”
“Yang menarik buatku bukan tujuan acaranya, tapi prosesinya.  Di jaman modern seperti sekarang ini sulit menemukan acara ruwatan.  Apalagi dilakukan oleh trah[vi] jelata seperti kita. Biasanya, orang-orang berdarah biru yang rajin mengadakan acara kejawen seperti itu.
Trah jelata? Ngomong-ngomong, kata Mbah Putriku, leluhur kami masih keturunan bangsawan Majapahit, Lho. Kamu pernah lihat fotonya?  Rambutnya selalu digelung, berpakaian adat Jawa kuno lengkap dengan keris, beskap, dan blangkonnya.”
“Ah, apa iya?  Tapi memang lucu fotonya.  Blangkonnya mirip kura-kura.”  Amira tertawa geli.


be continued ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar