Kubuat lingkaran merah tepat
pada tanggal 13 November di kalender
mejaku. Hm,
tiga puluh tahun usiaku kini. Usia yang
matang untuk seorang laki-laki. Jika aku laki-laki. Tapi
aku terlahir sebagai perempuan. Masyarakat sekitarku menganggap usiaku sudah kadaluwarsa
sebagai anak perawan. Kasarnya, aku
adalah perawan tua. Ih, jadi miris
setiap kali kuingat istilah itu.
Miris tak berarti risau. Sekali pun tak paham banyak
tentang agama, tapi aku termasuk orang yang ‘ainul
yaqin[i]
bahwa takdirku sudah tertulis saat aku belum
lagi 40 hari dalam rahim ibuku. Kelahiran, riski,
jodoh, dan kematian adalah takdir yang tidak satu pun manusia dapat campur
tangan.
Bukannya mau menyerah pada takdir. Kalau pun hingga kini
aku masih sendiri bukan berarti aku tak berusaha
menemukan belahan jiwaku. Aku bukan tipe
perfeksionis yang menetapkan kriteria tertentu untuk laki-laki yang kumau. Sama sekali bukan. Aku juga
bukan tipe workaholic yang
mengabaikan naluri alamiahku untuk dicintai dan mencintai. Aku normal, layaknya perempuan pada umumnya. Apakah aku pernah
trauma? Sama sekali tidak pernah. Baik trauma karena
pengalaman sendiri, maupun trauma melihat pengalaman orang lain. Tapi,
entah kenapa,
jodohku seolah tak berada satu dunia denganku.
Padahal, aku termasuk perempuan dengan penampilan yang prima. Banyak yang bilang, aku cantik dan
menarik. Dengan tinggi 164 cm dan berat
badan 51 kilogram, rasanya aku termasuk perempuan seksi. Secara teoritis, seharusnya aku bisa dengan
mudah menemukan seorang kekasih. Kenyataannya,
hingga kini, aku masih harus setia dengan status jomblo.
Beberapa kali aku tertarik dengan laki-laki tapi selalu
salah. Kadang salah orang, kadang salah
waktu. Aku pernah mencintai oomku, jelas
itu salah orang. Saat duduk di sekolah
dasar, aku pernah terobsesi dengan guru teater yang, kata teman-temanku, sangat
cakep. Salah waktu, kan?
“Belum saatnya, lima belas
tahun lagi,”
kata Naning, sahabat kecilku.
Sering juga cintaku bertepuk sebelah tangan. Kadang aku
suka seseorang, ternyata dia tak suka.
Sebaliknya, seseorang yang tak pernah kupedulikan selalu berusaha menarik perhatianku. Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Versi Mbah Putriku, aku jauh dari jodoh karena aku belum
diruwat. Kata
mbah, aku yang
terlahir sebagai anak perempuan di antara dua saudara
laki-laki termasuk kategori anak sendang kaapit pancuran. Tipe
anak semacamku ini berpotensi mengalami kesialan dalam hidup, kecuali dilakukan
ruwatan[ii]. Anak yang setipe denganku adalah pancuran kaapit sendang, anak laki-laki
di antara dua saudara perempuan. Ada lagi, kedono-kedini,
dua anak sepasang, laki-laki dan perempuan atau sebaliknya. Pendowo limo, lima anak laki-laki. Wah,
bisa-bisa semua manusia harus diruwat.
Bapakku tertawa saat aku menanyakan tentang itu.
“Nduk[iii],
kamu lahir di masa orde baru. Saat keluar dari perut ibumu,
kamu sudah diterangi lampu listrik dan bisa
menikmati jalan aspal. Kok,
bisa-bisanya, hal-hal yang tak masuk akal semacam itu kamu pikirkan. Padahal, bapakmu ini, yang lahir saat
Jepang mendarat di Tanjung Perak, tahun 1942, sedikit pun tak pernah terlintas
pikiran semacam itu.” Lalu bapak
menunjuk foto di dinding ruang keluarga yang sudah menguning, foto mbah kakung.
“Itu, Mbah Kungmu, yang juga termasuk orang kuno, malah sering
bilang, “saben jelmo urip iku wis nggowo
pestine dhewe-dhewe, rejekine wis tetep dadi ora perlu nganyak duweke wong liyo, jodone wis
tetep dadi ora perlu grusa-grusu, patine
wis mesti dadi ora perlu ndisiki pestine Gusti” (setiap manusia membawa
takdirnya masing-masing, riskinya sudah dipastikan jadi jangan mengambil hak
orang lain, jodohnya sudah ditentukan, jadi tak perlu terburu-buru kalau pun
belum juga bertemu, matinya pun sudah ditetapkan jadi jangan mendahului takdir Yang Kuasa).”
“Berarti Bapak tak mempermasalahkan keadaanku, kan?”
“Tentu tidak. Tapi,
tak ada salahnya juga kalau kita mengupayakan agar kamu segera bertemu
jodohmu.”
“Maksudnya, saya mau dijodohkan?”
“Bukan dijodohkan, tapi dipertemukan dengan beberapa
orang, siapa tahu, salah satunya adalah jodohmu.”
“Sama saja itu, Pak.”
“Tentu berbeda. Kalau dari sekian orang yang nanti
dikenalkan padamu ternyata tak bisa membawamu duduk di pelaminan, artinya mereka
bukan jodohmu, kan? Kamu tidak dipaksa untuk menerima salah satu
dari mereka. Jalani saja, kalau akhirnya
kalian bisa menikah, artinya kalian berjodoh.”
Kemudian Bapak mengenalkanku dengan beberapa anak teman
bapak, anak kenalan teman bapak, bahkan sampai ke anak tetangga teman
bapak. Hasilnya? Nihil. Nol besar. Selalu
saja ada hal-hal yang menjadi kendala sehingga berujung kegagalan. Hingga kini, tiga puluh tahun sudah usiaku.
Amira, rekan
kerja sekaligus sahabat baikku, lebih mengerikan lagi pendapatnya. Dia bilang,
mungkin aku pernah menolak seseorang yang membuatnya sakit hati padaku. Lalu dia mengirimkan guna-guna padaku dengan
tujuan agar tak ada laki-laki yang mau denganku. Aku tertawa mendengarnya.
“Jangan anggap remeh kata-kataku.” Ujarnya dengan mimik serius. “Ingat Inggit? Tak masuk akal, kan, jika tak ada laki-laki yang
tertarik padanya. Kecantikannya luar
biasa, bagaikan foto model tingkat dunia.
Perilakunya juga sangat menyenangkan. Tapi kenyataannya, hampir setiap laki-laki
yang bertemu dengannya tak menunjukkan ekspresi tertarik, bahkan cenderung
enggan dekat. Rinto, teman kita, pernah kucomblangi agar bisa jadian dengan
Inggit.” Amira tampak
semakin serius.
“Tahu apa katanya?” Amira mendekatkan wajahnya padaku.
“Aku mau kamu jodohkan dengan
perempuan bermuka keriput itu?” Amira menirukan kata-kata Rinto dengan suara yang dalam sambil membelalakkan
matanya.
“Hah, perempuan
secantik Inggit dengan wajah cerah tanpa sedikit
pun noda, seterang bulan purnama, dibilang
keriput. Apa yang sebenarnya
terjadi?” Aku mengangkat bahu, tak tahu
harus berkomentar apa. Amira mengibaskan
tangannya, seolah berkata, “ya, sudahlah.”
“Nah, setelah ruqyah[iv],” lanjut Amira dengan nada yang mulai merendah, “tak
menunggu hitungan bulan, akhirnya dia bertemu dengan jodohnya, dan, kamu juga tahu, kini dia tengah
menunggu buah hatinya yang ke dua.” Amira
menatapku serius.
“Think about it.”
Aku termenung. Bukan mengiyakan seluruh kata-kata Amira,
tapi sedang memikirkan kemungkinan aku pernah menyakiti hati seseorang, lalu
dia mendoakan sesuatu yang buruk untukku.
Dan doanya terkabul. Bukankah doa orang teraniaya itu makbul[v]?
“Bagaimana, kamu mau mencoba? Biar kutanyakan di mana Inggit ruqyah.”
Aku tersenyum, “menurutku, kamu saja yang
ruqyah. Bukannya usiamu terpaut dua tahun lebih tua dariku? Kamu juga belum menemukan jodohmu….” ujarku
bergurau. Amira mendelik.
“Lain cerita. Kita berbeda prinsip hidup. Aku bukan orang yang suka terikat dalam
kungkungan sakral pernikahan. Jadi
memang tak ada niat untuk menikah. Kamu
tahu, kan? Aku lahir dari seorang ibu tanpa ayah yang
jelas. Seorang laki-laki bejat
menghamili dan meninggalkan ibuku, layaknya seekor binatang yang kencing di
jalan lalu pergi begitu saja. Aku tak
pernah menutupi semua itu. Tapi seperti
yang kamu lihat, ibuku tampak hidup normal dengan statusnya sebagai single parent.”
“Kodrati manusia adalah mengembangkan keturunan. Kamu tak
ingin memiliki generasi penerus yang mewarisi rangkaian DNAmu? Kamu rela sejarah hidupmu terputus tanpa
keturunan?” Amira mengangkat bahu.
“Aku termasuk salah satu jenis manusia yang tak memiliki
kebanggaan dengan kelahiranku di dunia ini.
Yach, hanya mengikuti takdir harus terlahir dengan
kondisi seperti ini. Bukan mau
merendahkan diriku sendiri, tapi mencoba untuk tahu diri.” Amira menarik nafas panjang.
“Aku sadar seratus persen bahwa aku tak memenuhi syarat sebagai
calon mempelai perempuan. Kamu tahu, kan,
ketika seorang laki-laki memilih calon istri, apa yang dipesankan oleh
orangtuanya? Cari
perempuan yang jelas bobot, bibit, dan bebetnya. Belum
lagi, kata Ustadz Yasin, memilih
jodoh itu dilihat dari harta, paras, status, atau imannya. Aku tak memiliki kualitas lebih dari orang lain mengenai syarat-syarat
itu. Jadi apa yang bisa menjadi
kebanggaanku sebagai perempuan? Daripada sakit hati, rasanya hidupku akan lebih
indah jika aku tak memikirkan tentang pernikahan.” Amira mencomot sepotong
pizza dan mengunyahnya dengan santai. Kuulurkan botol minumannya yang terletak di
dekat tempat dudukku, dia tampak tercekik karena mengunyah dan menelan tanpa
jeda.
“Terima kasih.” Amira
kembali menatapku.
“Kalau pun aku ingin punya
anak, aku akan melakukan inseminasi buatan.”
Mataku membelalak mendengar istilah sarkasme Amira.
“Inseminasi buatan?
Seperti sapi pedaging saja.”
“Ya, semacam
itu. Hm, atau kloning saja? Sekali beranak, bisa menghasilkan lebih dari satu
makhluk baru yang sama persis denganku. Aku
bisa melihat diriku sendiri pada keturunanku.
Seperti kembar identik! Dan aku akan pastikan keturunanku hanya yang
berjenis kelamin perempuan. Aku akan bangga jika bisa mengisi dunia ini
dengan banyak anak perempuan. Lalu aku akan
memberikan masa kecil dan masa remaja yang indah untuknya.” Mata Amira bersinar terang.
“Kenapa harus perempuan?”
“Karena perempuanlah makhluk
terkuat di muka bumi ini.”
“Perempuan makhluk terkuat? Makhluk dengan tubuh lemah dan mudah
menangis?” Amira menggoyang-goyangkan jari telunjuknya mendengar komentarku.
“Gen perempuan, kamu tahu, mampu bertahan sampai tiga
hari hingga bertemu dengan sel telur.
Sedangkan gen laki-laki, hanya mampu bertahan sekian jam saja. Dari asal muasalnya saja, perempuan sudah
diciptakan sebagai makhluk yang memiliki daya juang dan daya tahan yang luar
biasa.”
“Aku bangga terlahir sebagai seorang perempuan. Satu-satunya kebanggaanku.” Amira
tertawa lebar.
“Tapi perempuan banyak yang teraniaya.”
“Mereka mampu bertahan dalam keadaan teraniaya. Hal yang tak bisa dilakukan oleh kebanyakan laki-laki. Contoh nyatanya,
ibuku. Baru kini aku menyadari betapa kuatnya ibuku. Dalam keadaan sendiri, ibuku
telah mengandung, melahirkan, lalu merawat aku.
Bekerja keras untuk menafkahi kami. Dia begitu keras pada dirinya sendiri, demi
aku. Tak
peduli apa pun kata orang tentang keadaannya. Demi
memberiku kesempatan untuk melihat dunia ini, untuk melihat laki-laki kerdil
yang telah menyakiti ibuku, menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa
pengecutnya laki-laki itu.” Sorot mata Amira setajam pisau belati.
“Mau tahu perasaanku saat melihat laki-laki itu, tepat
satu meter di hadapanku, tanpa dikenali sebagai anak perempuannya...” suara
Amira lebih mirip desisan. “dia tak lebih dari seonggok tumpukan daging yang
ditopang kerangka, tanpa hati dan jiwa.
Senyumnya lebar seperti seringai singa. Huh, benar-benar mimpi buruk
mengingat semua itu.” Wajah Amira terlihat tegang.
“Hm, aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keadaan
seperti ini. Sedikit pun aku juga tak menyalahkan ibuku yang telah
melakukan kesalahan besar dengan memilihkanku bapak seperti laki-laki itu. Karena
aku bisa membuktikan, sekuat apa pun laki-laki itu berusaha membuat ibuku
terjatuh, dia hanya akan melihat ibuku yang semakin lama justru semakin kokoh
berdiri. I love my mom, so
much! Dan aku sangat bangga pada ibuku.”
Aku menatap Amira yang menerawang keluar jendela. Apa yang bisa kulihat
darinya? Ketegaran atau kekuatan dendam yang membuatnya tampak sekeras batu
karang?
“Aku yakin ibumu akan selalu
membanggakanmu. Kamu perempuan hebat yang dilahirkan dari
rahim seorang perempuan yang hebat pula.”
Ujarku menguatkan hatinya. Secara fisik, Amira memang kuat, tapi jiwanya
rapuh, digerogoti amarah dan dendam yang tumbuh berakar secara laten, karena, mungkin Amira tak pernah menyadarinya. Amira mematung. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
“Sudahlah, lupakan laki-laki
itu.” Kutepuk bahu Amira. “lagian, kenapa
kita jadi bicara ngelantur? Oh ya, pesanan dari Pak Rian
sudah siap dikirim?”
“Hmm, ya.” Amira membalikkan tubuhnya
menghadap komputer. Sikapnya dengan
cepat berubah. Jemari lentiknya bergerak
lincah di atas keyboard, mencari data
yang kuminta.
“Lima kodi kotak hantaran balut kain tenun. Sudah siap, tinggal dikirim besok. Pesanan hiasan dinding dari bambu kuning
untuk Bu Armini juga sudah siap.”
“Jangan lupa pesanan souvenir untuk pernikahan anak konglomerat
kota ini. Beliau minta barang sudah
diterima, dalam keadaan mulus, paling lambat tiga hari sebelum hari H.” Amira
mengacungkan jempol.
“Siap, Bos. Mulus,
ya?” Aku tertawa.
Yach, awalnya aku mendirikan rumah souvenir seorang diri,
lima tahun yang lalu. Setelah aku bosan
bekerja di bawah tekanan. Berbekal
pengalamanku berjualan asesoris dan souvenir pada teman-temanku, aku pun
memberanikan diri membuka usaha rumahan yang menyediakan aneka souvenir dari berbagai
daerah di Indonesia. Kalaupun sekarang usahaku
mulai menanjak, hingga bisa menyewa sebuah ruko di lingkungan perkantoran yang
cukup elit, bukan berarti aku melalui jalan tol untuk mendapatkan semuanya.
Bukan sekali dua kali aku gagal. Pernah
juga tertipu, dibayar dengan cek kosong, order pelanggan dilarikan oleh awak
pengirim barang. Yang paling pahit, karya orisinilku dibajak dengan bahan yang
mutunya gak jelas dengan merk yang
sama, dengan maksud menjatuhkan kredibilitas rumah souvenir yang kudirikan.
Semua menjadi pelajaran dan pengalaman.
Setengah perjalanan, saat usahaku
tampak mulai berkembang, Amira, sahabatku saat kuliah, yang selama ini
menganggur, kuajak bekerja sama. Amira
sangat luwes dan cekatan. Sehingga usaha rumah souvenirku berkembang semakin pesat.
Kami bersahabat sekalipun banyak beda pendapat dalam
prinsip hidup. Tak jarang kami beradu
argumen tentang kehidupan. Bukan salah Amira jika dia memiliki sentimen pribadi
pada makhluk berjenis laki-laki. Sejarah kelam ibunya membuat Amira super
protektif dari makhluk berjakun. Tapi,
aku tak henti berdoa,
agar suatu saat, Amira dipertemukan dengan laki-laki baik yang mampu mengubah
cara berpikirnya dan membawanya ke dunia indah pernikahan. Amira layak mendapatkan laki-laki yang
istimewa, karena dia gadis yang istimewa.
“Win, jadi Mbah Putrimu bikin acara ruwatan?” tanya Amira menyadarkanku dari lamunan.
“Hm…?” Aku menoleh dan menatap Amira. “Kamu percaya hal
semacam itu?”
“Yang menarik buatku bukan tujuan acaranya, tapi
prosesinya. Di jaman modern seperti
sekarang ini sulit menemukan acara ruwatan.
Apalagi dilakukan oleh trah[vi]
jelata seperti kita. Biasanya, orang-orang berdarah biru yang rajin mengadakan
acara kejawen seperti itu.
“Trah jelata? Ngomong-ngomong,
kata Mbah Putriku, leluhur kami masih keturunan bangsawan Majapahit, Lho. Kamu pernah lihat fotonya? Rambutnya selalu digelung, berpakaian adat
Jawa kuno lengkap dengan keris, beskap,
dan blangkonnya.”
“Ah, apa iya? Tapi
memang lucu fotonya. Blangkonnya mirip
kura-kura.” Amira tertawa geli.
be continued ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar