Selasa, 15 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 2)


“Jangan menghina, dong.  Asal kamu tahu, sampai sekarang, keris dan tombak milik leluhurku masih disimpan rapi sama mbah Putri.  Pada tangkai tombak dan keris ada lambang kerajaan Majapahit. Mbah Kakung juga memiliki semacam lencana yang hanya miliki oleh pasukan khusus kerajaan Majapahit. Itu bukti kalau beliau memiliki hubungan cukup erat dengan Majapahit.  Yach, istilah kerennya, masih trah darah biru, begitu.”  Ujarku dengan nada serius.
Sebenarnya aku menahan geli saat mengeluarkan kalimat-kalimat tak lazim itu. Kukatakan tak lazim karena aku memang tak pernah, sekalipun, mengungkapkan sesuatu berbau kebanggaan akan silsilah.  Tapi, lihat rekasi Amira mendengar kalimat terakhirku. Dia, dengan gerakan tiba-tiba, mendekatkan wajahnya, sangat dekat, hingga hidungnya menempel ke hidungku.  Tanpa kusadari dia mengambil pin di laci mejanya dan secepat kilat menusukkannya ke lenganku.
“Awww….”
Belum sempat aku protes, Amira dengan sigap menekan bekas tusukannya lalu menjentikkan jarinya untuk mengambil setetes darahku.
“Hm, warnanya merah.  Apanya yang darah biru.  Baunya juga sama dengan darah rakyat jelata sepertiku. Amis khas darah.”  Tanpa rasa bersalah Amira mendelik ke arahku.
“Apanya yang darah biru? Bukannya, kata ustadz Yasin, semua manusia sama derajatnya di mata Allah? Yang membedakan adalah iman dan amal baiknya saja? Ih, kenapa kali ini aku berada di pihak ustadz Yasin?”  Amira menggaruk-garuk kepalanya.  Aku berpartisipasi dengan ikut mengacak-acak rambutnya, menetralisir suasana.
Oi, ini kepala, Neng, dikira kucingmu apa?  Enak saja main acak-acak.”  Aku tertawa.
“Kamu kalau sudah bicara seperti lokomotif kereta api batu bara.  Sampai berasap-asap.  Jangan buat polusi di kantorku, ya.”
“Tadi mengaku berdarah biru, sekarang main ancam.  Akhir-akhir ini kamu jadi tak jelas kalau bicara.  Sudahlah, jangan risaukan komentar orang tentang statusmu sekarang.  Lihat aku. Bak anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.  Hasilnya? Lihatlah auraku yang selalu tampak indah.” Amira mengerjab-kerjabkan matanya. Aku mencibir.
“Tapi katamu kita beda prinsip hidup?”
“Hanya untuk satu hal, tentang menikah atau tidak menikah.”  sahut Amira. “Tapi, Win, biarpun untuk satu hal ini kita beda prinsip, tak ada salahnya, kan, kalau untuk sementara kamu ikut prinsipku?  Apa gunanya kamu risau sepanjang waktu.  Yang ada, wajahmu akan cepat berkerut, rambutmu lama-lama rontok karena stress.  Alhasil, kamu bukannya cepat bertemu jodoh, tapi makin susah dapat pasangan.  Siapa yang mau dengan perempuan botak dan penuh kerutan?”  Amira tampak serius.  Mimiknya yang lucu di saat seperti itu membuatku tak bisa menahan tawa.
“Sudahlah, sakit perutku karena banyak  tertawa.  Tema obrolan kita minggu ini tak jauh dari masalah jodoh dan perawan tua.  Senin besok kita ganti tema, ya?” Ujarku berkelakar.
“Boleh.  Bagaimana kalau tentang UMR dan kenaikan gaji?” Amira menyahut dengan bersemangat. Mukaku langsung berubah warna.  Ini masalah sensitif. Sangat cepat proses aksi reaksinya.
“Hm, tema yang menarik. Jangan lupa tentang loyalitas dan peningkatan prestasi kerja, ya?”  Sahutku.  Amira melengos.
“Bos tak pernah salah.  Pasal satu ayat satu Undang-Undang Ketenaga-kerjaan versi Winda Tri Astuti, SH.”  Ujarnya sambil berlalu. Huh, pasti ke kantin. Asal kebanyakan bicara, perutnya ikut-ikutan bicara, minta segera diisi.  Dengan nasi, harus dengan nasi!
“Ih, karyawan tak punya sopan santun.  Meninggalkan ruang rapat tanpa permisi.  Potong sepuluh persen gaji bulan ini!” Amira mengibaskan tangannya, tak peduli kata-kataku.  Aku berlari menyusulnya.
Senin pagi. Semangat!
“Win, ada kartu ucapan selamat hari jadimu, tuh.  Kuletakkan di mejamu.”  Hm, tumben gadis cerewet ini datang lebih cepat dariku.
“Assalamu’alaikum.”  Sapaku menyahut kata-katanya sambil terus berjalan menuju ruanganku.
“Alaikum salam.” Jawab Amira, singkat, padat, dan lugas.
“Selamat, ya, akhirnya kamu bisa menaklukkan waktu dengan datang lebih cepat!”  Aku melongokkan kepala dari pintu ruangan.  Amira memonyongkan mulutnya.
“Serba salah.  Datang terlambat salah, datang cepat salah juga.” Gerutunya.
Sepertinya ada yang sedang mengeluh.”  Sahutku. Kuambil selembar kartu pos di atas mejaku. Wah, gaya pergaulan akhir tahun 80-an.  Berkirim atensi dan simpati melalui jasa pos.
Happy birthday, Winda. Semoga bertambahnya usiamu diiringi dengan bertambahnya berkah untukmu.”  Amin, sambutku dalam hati.  Dari siapa, nih? Hm, Rahardjo!  Siapa, ya? Segera kubuka laptopku, mencari data teman-teman lamaku.  Cara dan gaya dia menyampaikan ucapan membuatku yakin, dia salah satu teman SMAku.  Tapi kenapa tak ada nama Rahardjo?  Kalau Soekaryo ada.  Teman satu kelas. Si Kribo peternak kutu.  Dia marah kalau dipanggil Karyo, Ndeso, katanya.  Demi terlihat lebih keren, dia sering menuliskan namanya “Soe K. Rio”, panggilannya RIO.  Di antara semua teman sekelas, hanya aku yang mampu membuatnya bahagia karena paling tulus memangilnya dengan panggilan Bung Rio.  Panggilan keren seperti pada masa perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir.  Aku tersenyum geli mengingat semua itu.
Tapi, masa iya Rahardjo sama dengan Soekaryo?  Dieja dari arah mana pun tak menunjukkan indikasi kesamaan tulisan, bacaan, dan arti
Belum hilang rasa penasaranku, suara Amira yang melengking terdengar memenuhi ruangan kantor kami yang hanya berukuran 10 x 10 meter.  Sekedar informasi, kantor kami ada dua tingkat.  Ruangan bagian atas berfungsi sebagai gudang dan ruang presentasi. Sedangkan ruang bagian bawah untuk ruang tamu, ruang display contoh souvenir, dan ruang khusus direktris, yaitu aku, bersama site-manager merangkap sekretarisku, Amira.
“Win, cepat ke sini. Sepertinya kamu punya fans gelap, deh!”  Aku berlari keluar. Begitu melihatku, Amira mengacung-acungkan seikat mawar merah, kuning dan pink.
“Rahardjo lagi.”
“Wah, ada juga yang naksir kamu.  Semoga kali ini kamu beruntung.”
“Memangnya ikut lotre.” Kami bergandengan tangan, dengan mesra, memasuki kantor. Sesekali aku membalas senyuman beberapa orang yang kukenal di area perkantoran kami. Wah, dipikir-pikir, meski pun tak punya satupun pacar, aku banyak teman juga di sini.  Betul juga kata Amira.  Kenapa harus risau tentang usia.  Kenapa harus pusing memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Dipikirkan atau tidak, kalau belum saatnya, sudah pasti tak akan tiba. Janjiku dalam hati, mulai hari ini, hidupku harus kembali ceria dan penuh warna
Sebulan berlalu. Sesuai janjiku pada orangtuaku, yang dengan rela melepaskanku untuk menjemput riski di kota lain, setiap akhir bulan aku wajib menengok mereka.  Aku tak pernah merasa keberatan.  Toh, tak sampai tiga jam perjalanan. 
Tapi entah kenapa hari ini aku merasa sedikit enggan.  Bukan karena tak ingin berjumpa Bapak dan Ibu. Kata Bapak, tadi padi, melalui telepon, Mbah Putri sedang ada di rumah kami. Wah, alamat bakal sakit kepalaku.  Mbah Putri cuma tertarik satu topik pembicaraan jika bertemu denganku. RUWATAN.
“Pulang hari ini, Win?” Amira melongok dari balik pintu.
“Iya, jadwal pulang.”
“Nampaknya tak bersemangat?”
“Ada Mbah Putri di rumah.  Jadi kurang bersemangat mau pulang.”
“Hih, cucu tak berperikemanusiaan. Harusnya kamu bersyukur, masih punya mbah. Banyak yang bahkan tak lagi bisa menikmati kasih sayang orangtua.”
“Iya-iya.  Tak bersemangat bukan berarti tak jadi pulang, kan?
“Kalau begitu, cepat berkemaslah. Kok masih juga sibuk kerja.”
Lho, ini gara-gara kamu juga, kan? Siapa suruh promosikan cover Qur’an hand made? Padahal ini kubuat khusus untuk Ibu...”
Lho, kan bagus, ternyata karyamu banyak diminati?”
“Benar, tapi tak tepat waktu, Sayang.  Kan, kamu tahu hari ini jadwalku pulang? Tak tepat sasaran juga karena kamu promosi sama teh Dian, yang selalu grasa-grusu, maunya semua cepat beres.  Memangnya makanan siap saji.”  Aku sedikit mengeluh.  Pasalnya, mataku tak bisa diajak kompromi untuk jalan di malam hari, kabur dan silau oleh cahaya lampu.
Sorry, dech.   Biar kubilang sama teh Dian untuk menunggu sampai minggu depan.  Gampang, tuh.”  Amira membantuku mengemasi perangkat membuat asesoris yang terserak di mejaku.  Aku segera berkemas.  Karena berencana pulang, semua barang yang akan kubawa sudah kupersiapkan, tak perlu kembali ke rumah.
“Win, bareng pulangnya, ya?”
“Bareng?  Itu ngantar namanya, arahnya saja berbeda.”  Amira nyengir.
“Malas jalan sendiri.”
“Iyalah, sekalian ada sesuatu untuk ibumu.”
“Tumben, baik.”
“Enak, saja. Kata ibumu juga, aku lebih seperti anaknya dibanding kamu.”  Amira tertawa. Setelah memastikan semua beres, sambil bercanda kami menuju tempat parkir. Sudah sepi.  Maklum, akhir pekan, hampir semua kantor hanya buka setengah hari.  Kecuali kantor kami, milik jomblowers.
“Salam untuk Mbah Putri, ya? Kasih kabar kalau jadi ruwatan.” Ledek Amira.  Aku tersenyum kecut, membayangkan pertemuanku nanti dengan Mbah Putri.  Hm, dua setengah jam seolah terasa lebih cepat dari waktuku untuk mandi. Padahal aku belum siap bertemu Mbah Putri. Nah, kan.  Mbah Putri sedang duduk-duduk di teras. Matanya tak lepas menatap ke pagar depan, pasti menungguku. Lihat saja, begitu melihat mobilku, Mbah Putri tergopop-gopoh menyambut.  Tapih[vii],  yang membelit kakinya membuatnya kesulitan berjalan.  Aku segera turun meskipun mobil masih di luar pagar.  Minta tolong adikku saja untuk memasukkannya.
Sugeng[viii], Mbah?”  aku mencium tangannya yang keriput.  Mbah Putri tertawa menampakkan giginya yang masih utuh berbaris rapi, meskipun warnanya semburat merah karena daun sirih. Bukan gigi palsu, lho. Kapur yang dikunyahnya bersama pinang dan daun sirih membuat gigi Mbah Putri kuat dan sehat.
“Sehat...mbah sehat. Hm, cucuku sing ayu.”  Sahutnya sambil memijit-mijit lenganku.  Aku membimbing Mbah Putri ke dalam rumah.  Hari mulai larut malam.
“Ini untuk Mbah Putri.”  Kuulurkan sebuah tempat nginang[ix] dari tembaga.  Mata Mbah Putri berbinar-binar.
“Wah, ini pernah mbah lihat di museum bung Karno.  Kok mirip, ya?”  aku tertawa.
“Karena Winda tahu Mbah Putri suka, Winda pesan ke pengrajin tembaga, khusus untuk Mbah Putri tersayang....” Mata Mbah Putri berkaca-kaca.  Tangannya mengusap-usap bahuku.
“Dan ini untuk ibu.”  Ibu yang baru muncul sambil membawa segelas teh manis hangat segera menyambut bungkusan yang kuulurkan.  Dengan bersemangat ibu membuka bungkusannya.
“Wah, baju kurung berhias mutiara... bagusnya... pasti mahal.”  Ibu menatapku. “Jangan boros-boros, kamu harusnya lebih memperhatikan masa depanmu.  Kelak kamu butuh biaya yang banyak, untuk pernikahanmu, rumah tanggamu....” Aku tertawa untuk menghindari pembicaraan yang bakal membuatku tersudut ke dunia abu-abu.
“Baju itu Winda dapat cuma-cuma dari pelanggan Winda.  Beliau punya butik...  dan, kata beliau, itu khusus untuk Ibu.”  Ibu mengangguk-angguk.  Setelah membagi oleh-oleh untuk semua isi rumah, termasuk sandal anti sakit ginjal untuk Bapak dan perangkat ukir untuk adikku, serta bersenda gurau bersama, aku segera masuk ke kamarku, istirahat.  Besok tak bisa lagi kutebak apa yang bakal terjadi.  Jadi aku harus siapkan fisik dan mentalku.
Terima kasih, Tuhan.  Pagi yang cerah.  Benar-benar cerah karena tak ada tanda-tanda Mbah Putri akan membicarakan tentang ruwatan denganku.
Aku selalu menikmasti suasana desa yang asri.  Hamparan sawah di seberang jalan depan rumah kami, tampak menghijau oleh suburnya padi yang sedang masa pertumbuhan vegetatif.  Cicit burung pipit menyelingi nyanyian kodok yang tak sadar matahari mulai meninggi.  Mungkin karena tinggalnya dalam lobang, kodok itu tak tahu hari telah lewat seperempat pagi.  Hembusan angin menyempurnakan suasana indah pagi. Hmmm...
“Mbak, lihat hasil ukiranku.”  Aku menoleh.  Dodo, si bungsu, membawa sebuah ukiran berbentuk kuda poni.  Kuamati hasil ukirannya.
“Bagus.... ini sangat bagus.  Kalau bisa stabil seperti ini hasil ukirannya, bisa dipajang di toko Mbak.  Buat saja yang ukurannya mini, khusus untuk souvenir pesta.”  Dodo tersenyum lebar. Dodo... adikku yang phobia sekolah. Lulus SMU saja membuatnya girang bukan kepalang.  Dia sampai sujud syukur berlama-lama, sambil mengulang-ulang kata yang sama, “Alhamdulillah, usailah sudah tugas belajarku.” 
Aku senang dia menemukan bakatnya.  Ini jauh lebih baik daripada dia mengukir ranjang dan kursi jati milik ibu yang sebenarnya sudah berupa ukiran indah. Gerak reflek tanganku, nih, katanya membela diri.  Lalu dengan uang gajiku, saat itu, aku membelikannya alat ukir murahan dan beberapa potong papan kayu jati.  Dia pun mulai belajar membuat relief.  Ternyata hasilnya luar biasa, hingga pernah menjuarai lomba ukir patung dan relief tingkat kabupaten.  Jelas suatu kebanggaan bisa menjadi juara mengukir di sebuah kota penghasil ukiran.
Oya?  Kalau begitu, seluruh hasil ukiran kelompok ukir kami bisa juga, kan, ikut dipasarkan?
Lho, kenapa tidak?”  Dodo mengacungkan jempol. Aku tersenyum senang.
“Nanti siang ikut Dodo ke rumah kawan Dodo, ya?”
“Jauh?”
Nggak. Dia kawan sekaligus guru ukir Dodo. Dia hebat, lho.”
“Boleh.  Setelah makan siang, ya.  Tapi tak bisa lama.  Mbak harus siap-siap kembali nanti sore.” 
“Beres.”
Ya, daripada diajak bicara tentang ruwatan, bagus ikut adikku ke rumah kawannya.  Tapi aneh, juga, ya?  Tumben Mbah Putri tak secerewet beberapa bulan lalu.  Kalem-kalem saja.  Sedikit pun tak menyinggung soal usiaku, jodohku, lebih-lebih tentang ruwatan.  Wah, perubahan yang menyenangkan, sekaligus mengherankan.
“Bu, kami keluar sebentar, ya....” 
“Kemana? Nanti sore kamu sudah kembali ke kota. Ibu dan Bapak belum sempat ngobrol  lama sama kamu....”
“Sebentar, kok, Bu.  Ke rumah teman Dodo, lihat ukiran.”
“Ya, sudahlah. Jangan lewat waktu ashar, ya, pulangnya.” Aku mengangguk.  Dodo sudah menunggu di mobil.
“Nah, gini, dong, nyetirnya. Jangan seperti naik rodeo.”  Dodo menyeringai.
“Mbak Winda pasti akan menyukainya.”
“Asal berbau souvenir, Mbak, kan, selalu suka. Lebih-lebih kalau bahan bakunya mudah didapat dan murah, atau barang-barang bekas.”
“Mbak, nih, seperti mesin daur ulang saja.”  Dodo tertawa.  Aku tersenyum simpul.
“Rupanya dia benar-benar ahli?”
“Kubilang, Mbak pasti akan menyukainya.”
“Mbak bilang, asal berupa hasta karya yang kreatif, Mbak pasti suka.”  Dodo tersenyum simpul.
“Lokasi rumahnya lebih kampung dari rumah kita, ya?”
“Begitulah. Melewati rawa dan air terjun.”
“Seram.”
Ngga, juga.”  Dan benar kata Dodo. Rawanya memang agak mistis. Lumpurnya mengeluarkan bau amis.  Tapi, air terjunnya sangat indah. Guyuran air yang deras membawa hawa segar dan sejuk, atau dingin tepatnya.              
“Satu belokan lagi.”  Aku menoleh ke arah Dodo, sekilas. Lalu kembali menatap lurus ke tempat tujuan kami.  Di ujung jalan, yang ditunjuk Dodo, tampak sebuah bangunan joglo tulen. Masih asli tanpa sedikit pun kontaminasi adat budaya lain.  Halaman joglo yang luas itu tertutup hamparan rumput jepang. Di samping bangunan utama, terdapat sebuah bangunan berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa. Kesannya seperti rumah-rumah di pedalaman.  Dodo memarkir mobil di bawah pohon rambutan, yang kuperkirakan usianya hampir setengah abad.  Dengan langkah pelan, kami menuju rumah berdinding anyaman bambu.


be continued ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar