“Jangan menghina, dong. Asal kamu tahu, sampai sekarang, keris dan tombak milik leluhurku masih disimpan rapi sama mbah Putri. Pada tangkai tombak dan keris ada lambang kerajaan Majapahit. Mbah Kakung juga memiliki semacam lencana yang hanya miliki oleh pasukan khusus kerajaan Majapahit. Itu bukti kalau beliau memiliki hubungan cukup erat dengan Majapahit. Yach, istilah kerennya, masih trah darah biru, begitu.” Ujarku dengan nada serius.
Sebenarnya aku menahan geli saat mengeluarkan
kalimat-kalimat tak lazim itu. Kukatakan tak lazim karena aku memang tak
pernah, sekalipun, mengungkapkan sesuatu berbau kebanggaan akan silsilah. Tapi, lihat rekasi Amira mendengar
kalimat terakhirku. Dia, dengan gerakan
tiba-tiba, mendekatkan
wajahnya, sangat dekat, hingga hidungnya
menempel ke hidungku. Tanpa kusadari dia
mengambil pin di laci mejanya dan secepat kilat menusukkannya ke lenganku.
“Awww….”
Belum sempat aku protes, Amira dengan sigap menekan bekas
tusukannya lalu menjentikkan jarinya untuk mengambil setetes darahku.
“Hm, warnanya merah.
Apanya yang darah biru. Baunya
juga sama dengan darah rakyat jelata sepertiku. Amis khas darah.” Tanpa rasa bersalah Amira mendelik ke arahku.
“Apanya yang darah
biru? Bukannya,
kata ustadz Yasin, semua manusia sama derajatnya di mata Allah? Yang membedakan
adalah iman dan amal baiknya saja? Ih, kenapa kali ini aku berada di pihak ustadz Yasin?” Amira menggaruk-garuk kepalanya. Aku berpartisipasi dengan ikut mengacak-acak
rambutnya, menetralisir suasana.
“Oi, ini
kepala, Neng, dikira kucingmu
apa? Enak saja main acak-acak.” Aku tertawa.
“Kamu kalau sudah bicara seperti lokomotif kereta api
batu bara. Sampai berasap-asap. Jangan buat polusi di kantorku, ya.”
“Tadi mengaku berdarah biru, sekarang main ancam. Akhir-akhir ini kamu jadi tak jelas kalau
bicara. Sudahlah, jangan risaukan
komentar orang tentang statusmu sekarang.
Lihat aku. Bak anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Hasilnya? Lihatlah auraku yang selalu tampak indah.” Amira mengerjab-kerjabkan matanya. Aku
mencibir.
“Tapi katamu kita beda prinsip hidup?”
“Hanya untuk satu hal, tentang menikah atau tidak
menikah.” sahut Amira. “Tapi, Win, biarpun untuk satu hal
ini kita beda prinsip, tak ada salahnya, kan,
kalau untuk sementara kamu ikut prinsipku?
Apa gunanya kamu risau sepanjang waktu.
Yang ada, wajahmu akan cepat berkerut, rambutmu lama-lama rontok karena stress.
Alhasil, kamu bukannya cepat bertemu jodoh, tapi makin susah dapat
pasangan. Siapa yang mau dengan
perempuan botak dan penuh kerutan?” Amira
tampak serius. Mimiknya yang lucu di saat
seperti itu membuatku tak bisa menahan tawa.
“Sudahlah, sakit perutku karena banyak tertawa.
Tema obrolan kita minggu ini tak jauh dari masalah jodoh dan perawan
tua. Senin besok kita ganti tema, ya?”
Ujarku berkelakar.
“Boleh. Bagaimana
kalau tentang UMR dan kenaikan gaji?” Amira menyahut dengan bersemangat. Mukaku
langsung berubah warna. Ini masalah sensitif. Sangat cepat proses
aksi reaksinya.
“Hm, tema yang menarik. Jangan lupa tentang loyalitas dan
peningkatan prestasi kerja, ya?”
Sahutku. Amira melengos.
“Bos tak pernah salah.
Pasal satu ayat satu Undang-Undang Ketenaga-kerjaan
versi Winda Tri Astuti, SH.” Ujarnya sambil berlalu. Huh, pasti ke kantin. Asal kebanyakan bicara, perutnya
ikut-ikutan bicara, minta segera diisi.
Dengan nasi, harus dengan nasi!
“Ih, karyawan tak punya sopan santun. Meninggalkan ruang rapat tanpa permisi. Potong sepuluh persen gaji bulan ini!” Amira mengibaskan
tangannya, tak peduli kata-kataku. Aku
berlari menyusulnya.
Senin pagi. Semangat!
“Win, ada kartu ucapan selamat hari jadimu, tuh. Kuletakkan di mejamu.” Hm, tumben gadis cerewet ini datang lebih
cepat dariku.
“Assalamu’alaikum.”
Sapaku menyahut kata-katanya sambil terus berjalan menuju ruanganku.
“Alaikum salam.” Jawab Amira, singkat, padat, dan lugas.
“Selamat, ya, akhirnya kamu bisa menaklukkan waktu dengan
datang lebih cepat!” Aku melongokkan
kepala dari pintu ruangan. Amira memonyongkan
mulutnya.
“Serba salah.
Datang terlambat salah, datang cepat salah
juga.”
Gerutunya.
“Sepertinya ada
yang sedang mengeluh.” Sahutku. Kuambil selembar kartu pos di atas
mejaku. Wah, gaya pergaulan akhir tahun
80-an. Berkirim atensi dan simpati melalui jasa pos.
“Happy birthday,
Winda. Semoga bertambahnya usiamu diiringi dengan bertambahnya berkah
untukmu.” Amin, sambutku dalam hati. Dari siapa, nih? Hm, Rahardjo! Siapa,
ya? Segera kubuka laptopku, mencari data teman-teman lamaku. Cara dan gaya dia menyampaikan ucapan
membuatku yakin, dia salah satu teman SMAku.
Tapi kenapa tak ada nama Rahardjo?
Kalau Soekaryo ada. Teman satu
kelas. Si Kribo peternak kutu. Dia marah
kalau dipanggil Karyo, Ndeso,
katanya. Demi terlihat lebih keren, dia
sering menuliskan namanya “Soe K. Rio”, panggilannya RIO. Di antara semua teman sekelas, hanya aku yang
mampu membuatnya bahagia karena paling tulus memangilnya dengan panggilan Bung
Rio. Panggilan
keren seperti pada masa perjuangan Bung Karno, Bung
Hatta, dan Bung Syahrir. Aku tersenyum geli mengingat semua itu.
Tapi, masa iya Rahardjo sama dengan Soekaryo? Dieja dari arah mana pun tak menunjukkan indikasi kesamaan tulisan, bacaan, dan
arti.
Belum hilang rasa penasaranku, suara Amira yang
melengking terdengar memenuhi ruangan kantor kami yang hanya berukuran 10 x 10
meter. Sekedar informasi, kantor kami
ada dua tingkat. Ruangan bagian atas
berfungsi sebagai gudang dan ruang presentasi. Sedangkan ruang bagian bawah
untuk ruang tamu, ruang display contoh souvenir, dan
ruang khusus direktris, yaitu aku, bersama site-manager merangkap
sekretarisku, Amira.
“Win, cepat ke sini. Sepertinya kamu punya fans gelap, deh!” Aku berlari keluar. Begitu melihatku, Amira
mengacung-acungkan seikat mawar merah, kuning dan pink.
“Rahardjo lagi.”
“Wah, ada juga yang naksir kamu. Semoga kali ini kamu beruntung.”
“Memangnya ikut lotre.” Kami bergandengan tangan, dengan
mesra, memasuki kantor. Sesekali aku membalas senyuman beberapa orang yang
kukenal di area perkantoran kami. Wah,
dipikir-pikir, meski pun tak punya satupun pacar, aku banyak teman juga di
sini. Betul
juga kata Amira. Kenapa harus risau
tentang usia. Kenapa harus pusing
memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Dipikirkan atau tidak, kalau belum
saatnya, sudah pasti tak akan tiba. Janjiku
dalam hati, mulai hari ini, hidupku harus kembali ceria dan penuh warna.
Sebulan berlalu. Sesuai janjiku pada orangtuaku, yang
dengan rela melepaskanku untuk menjemput riski di kota lain, setiap akhir bulan
aku wajib menengok mereka. Aku tak
pernah merasa keberatan. Toh, tak sampai tiga jam perjalanan.
Tapi entah kenapa hari ini aku merasa sedikit
enggan. Bukan karena tak ingin berjumpa
Bapak dan Ibu. Kata Bapak, tadi padi,
melalui telepon, Mbah Putri sedang ada di rumah kami. Wah, alamat bakal sakit
kepalaku. Mbah Putri cuma tertarik satu topik pembicaraan jika bertemu
denganku. RUWATAN.
“Pulang hari ini, Win?” Amira melongok dari balik pintu.
“Iya, jadwal pulang.”
“Nampaknya tak bersemangat?”
“Ada Mbah Putri di rumah.
Jadi kurang bersemangat mau pulang.”
“Hih, cucu tak berperikemanusiaan. Harusnya kamu
bersyukur, masih punya mbah. Banyak yang bahkan tak lagi bisa menikmati kasih
sayang orangtua.”
“Iya-iya. Tak
bersemangat bukan berarti tak jadi pulang, kan?”
“Kalau begitu, cepat berkemaslah. Kok masih juga sibuk kerja.”
“Lho, ini
gara-gara kamu juga, kan? Siapa suruh
promosikan cover Qur’an hand made?
Padahal ini kubuat khusus untuk Ibu...”
“Lho, kan bagus, ternyata karyamu banyak
diminati?”
“Benar, tapi tak tepat waktu, Sayang. Kan,
kamu tahu hari ini jadwalku pulang? Tak tepat sasaran juga karena kamu promosi
sama teh Dian, yang selalu grasa-grusu, maunya semua cepat
beres. Memangnya makanan siap
saji.” Aku sedikit mengeluh. Pasalnya, mataku tak bisa diajak kompromi
untuk jalan di malam hari, kabur dan silau oleh cahaya lampu.
“Sorry, dech. Biar kubilang sama teh Dian untuk menunggu sampai minggu depan. Gampang,
tuh.” Amira membantuku mengemasi
perangkat membuat asesoris yang terserak di mejaku. Aku segera berkemas. Karena berencana pulang, semua barang yang
akan kubawa sudah kupersiapkan, tak perlu kembali ke rumah.
“Win, bareng pulangnya, ya?”
“Bareng? Itu ngantar namanya, arahnya saja
berbeda.” Amira nyengir.
“Malas jalan sendiri.”
“Iyalah, sekalian ada sesuatu untuk ibumu.”
“Tumben, baik.”
“Enak, saja. Kata ibumu juga, aku lebih seperti anaknya
dibanding kamu.” Amira tertawa. Setelah
memastikan semua beres, sambil bercanda kami menuju tempat parkir. Sudah
sepi. Maklum, akhir pekan, hampir semua
kantor hanya buka setengah hari. Kecuali
kantor kami, milik jomblowers.
“Salam untuk Mbah Putri, ya? Kasih kabar kalau jadi
ruwatan.” Ledek Amira. Aku tersenyum
kecut, membayangkan pertemuanku nanti dengan Mbah Putri. Hm, dua setengah jam seolah terasa lebih
cepat dari waktuku untuk mandi. Padahal aku belum siap bertemu Mbah Putri. Nah,
kan.
Mbah Putri sedang duduk-duduk di teras. Matanya tak lepas menatap ke
pagar depan, pasti menungguku. Lihat saja, begitu melihat mobilku, Mbah Putri
tergopop-gopoh menyambut. Tapih[vii],
yang membelit kakinya membuatnya
kesulitan berjalan. Aku segera turun
meskipun mobil masih di luar pagar.
Minta tolong adikku saja untuk memasukkannya.
“Sugeng[viii],
Mbah?” aku mencium tangannya yang
keriput. Mbah Putri tertawa menampakkan
giginya yang masih utuh berbaris rapi, meskipun warnanya semburat merah karena
daun sirih. Bukan gigi palsu, lho.
Kapur yang dikunyahnya bersama pinang dan daun sirih membuat gigi Mbah Putri
kuat dan sehat.
“Sehat...mbah sehat. Hm, cucuku sing ayu.” Sahutnya sambil
memijit-mijit lenganku. Aku membimbing Mbah
Putri ke dalam rumah. Hari mulai larut
malam.
“Ini untuk Mbah Putri.”
Kuulurkan sebuah tempat nginang[ix]
dari tembaga. Mata Mbah Putri
berbinar-binar.
“Wah, ini pernah mbah lihat di museum bung Karno. Kok mirip, ya?” aku tertawa.
“Karena Winda tahu Mbah Putri suka, Winda pesan ke
pengrajin tembaga, khusus untuk Mbah Putri tersayang....” Mata Mbah Putri
berkaca-kaca. Tangannya mengusap-usap
bahuku.
“Dan ini untuk ibu.”
Ibu yang baru muncul sambil membawa segelas teh manis hangat segera
menyambut bungkusan yang kuulurkan.
Dengan bersemangat ibu membuka bungkusannya.
“Wah, baju kurung berhias mutiara... bagusnya... pasti
mahal.” Ibu menatapku. “Jangan
boros-boros, kamu harusnya lebih memperhatikan masa depanmu. Kelak kamu butuh biaya yang banyak, untuk
pernikahanmu, rumah tanggamu....” Aku tertawa untuk menghindari pembicaraan
yang bakal membuatku tersudut ke dunia abu-abu.
“Baju itu Winda dapat cuma-cuma dari pelanggan
Winda. Beliau punya butik... dan, kata beliau, itu khusus untuk Ibu.” Ibu mengangguk-angguk. Setelah membagi oleh-oleh untuk semua isi
rumah, termasuk sandal anti sakit ginjal untuk Bapak dan perangkat ukir untuk
adikku, serta bersenda gurau bersama, aku segera masuk ke kamarku,
istirahat. Besok tak bisa lagi kutebak
apa yang bakal terjadi. Jadi aku harus
siapkan fisik dan mentalku.
Terima kasih, Tuhan.
Pagi yang cerah. Benar-benar
cerah karena tak ada tanda-tanda Mbah Putri akan membicarakan tentang ruwatan
denganku.
Aku selalu menikmasti suasana desa yang asri. Hamparan sawah di seberang jalan depan rumah
kami, tampak menghijau oleh suburnya padi yang sedang masa pertumbuhan
vegetatif. Cicit burung pipit menyelingi
nyanyian kodok yang tak sadar matahari mulai meninggi. Mungkin karena tinggalnya dalam lobang, kodok
itu tak tahu hari telah lewat seperempat pagi.
Hembusan angin menyempurnakan suasana indah pagi. Hmmm...
“Mbak, lihat hasil ukiranku.” Aku menoleh.
Dodo, si bungsu, membawa sebuah ukiran berbentuk kuda poni. Kuamati hasil ukirannya.
“Bagus.... ini sangat bagus. Kalau bisa stabil seperti ini hasil
ukirannya, bisa dipajang di toko Mbak.
Buat saja yang ukurannya mini, khusus untuk souvenir pesta.” Dodo tersenyum lebar. Dodo... adikku yang phobia sekolah. Lulus SMU saja
membuatnya girang bukan kepalang. Dia
sampai sujud syukur berlama-lama, sambil mengulang-ulang kata yang sama,
“Alhamdulillah, usailah sudah tugas belajarku.”
Aku senang dia menemukan bakatnya. Ini jauh lebih baik daripada dia mengukir
ranjang dan kursi jati milik ibu yang sebenarnya sudah berupa ukiran indah.
Gerak reflek tanganku, nih, katanya
membela diri. Lalu dengan uang gajiku,
saat itu, aku membelikannya alat ukir murahan dan beberapa potong papan kayu
jati. Dia pun mulai belajar membuat
relief. Ternyata hasilnya luar biasa,
hingga pernah menjuarai lomba ukir patung dan relief tingkat kabupaten. Jelas suatu kebanggaan bisa menjadi juara
mengukir di sebuah kota penghasil ukiran.
“Oya? Kalau begitu, seluruh hasil ukiran kelompok
ukir kami bisa juga, kan, ikut dipasarkan?”
“Lho, kenapa
tidak?” Dodo mengacungkan jempol. Aku
tersenyum senang.
“Nanti siang ikut Dodo ke rumah kawan Dodo, ya?”
“Jauh?”
“Nggak. Dia
kawan sekaligus guru ukir Dodo. Dia hebat, lho.”
“Boleh. Setelah
makan siang, ya. Tapi tak bisa
lama. Mbak harus siap-siap kembali nanti
sore.”
“Beres.”
Ya, daripada diajak bicara tentang ruwatan, bagus ikut
adikku ke rumah kawannya. Tapi aneh,
juga, ya? Tumben Mbah Putri tak
secerewet beberapa bulan lalu.
Kalem-kalem saja. Sedikit pun tak
menyinggung soal usiaku, jodohku, lebih-lebih tentang ruwatan. Wah, perubahan yang menyenangkan, sekaligus
mengherankan.
“Bu, kami keluar sebentar, ya....”
“Kemana? Nanti sore kamu sudah kembali ke kota. Ibu dan
Bapak belum sempat ngobrol lama sama kamu....”
“Sebentar, kok,
Bu. Ke rumah teman Dodo, lihat ukiran.”
“Ya, sudahlah. Jangan lewat waktu ashar, ya, pulangnya.”
Aku mengangguk. Dodo sudah menunggu di
mobil.
“Nah, gini, dong, nyetirnya.
Jangan seperti naik rodeo.” Dodo
menyeringai.
“Mbak Winda pasti akan menyukainya.”
“Asal berbau souvenir, Mbak, kan, selalu suka. Lebih-lebih kalau bahan bakunya mudah didapat dan
murah, atau barang-barang bekas.”
“Mbak, nih,
seperti mesin daur ulang saja.” Dodo
tertawa. Aku tersenyum simpul.
“Rupanya dia benar-benar ahli?”
“Kubilang, Mbak pasti akan menyukainya.”
“Mbak bilang, asal berupa hasta karya yang kreatif, Mbak
pasti suka.” Dodo tersenyum simpul.
“Lokasi rumahnya lebih kampung dari rumah kita, ya?”
“Begitulah. Melewati rawa dan air terjun.”
“Seram.”
“Ngga, juga.” Dan benar kata Dodo. Rawanya memang agak mistis.
Lumpurnya mengeluarkan bau amis. Tapi,
air terjunnya sangat indah. Guyuran air yang deras membawa hawa segar dan
sejuk, atau dingin tepatnya.
“Satu belokan lagi.”
Aku menoleh ke arah Dodo, sekilas. Lalu kembali menatap lurus ke tempat
tujuan kami. Di ujung jalan, yang
ditunjuk Dodo, tampak sebuah bangunan joglo tulen. Masih asli tanpa sedikit pun
kontaminasi adat budaya lain. Halaman
joglo yang luas itu tertutup hamparan rumput jepang. Di samping bangunan utama,
terdapat sebuah bangunan berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa.
Kesannya seperti rumah-rumah di pedalaman.
Dodo memarkir mobil di bawah pohon rambutan, yang kuperkirakan usianya
hampir setengah abad. Dengan langkah
pelan, kami menuju rumah berdinding anyaman bambu.
be continued ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar