Hari ini, entah kenapa,
aku ingin melewatinya lagi. Dulu, tiga
tahun yang lalu, kamu membawaku melewati jalan ini. Dan itu kali pertama bagiku.
“Dasar kuper!”
katamu waktu itu. Aku hanya bisa
tertawa. Karena kamu benar, aku kuper.
Tapi aku tak ingin tampak kuper di matamu.
“Aku tak suka jalan-jalan memotong seperti ini.”
“Hmmm.”
“Apa, hmmm?”
“Keras kepala.”
“Keras
kepala?”
“Sudah
ketahuan kuper, masih ngeles.” Aku
tertawa.
“Ketahuan,
ya?” Aku pura-pura bodoh. Dan kamu menyempatkan diri menoleh dan mencubit
pipiku. Padahal kamu sedang melaju
kencang.
“Dingin.”
“Sudah
dibilang, pakai jaket. Bermotor di malam
hari tentu dingin. Lagi-lagi keras
kepala.” Itu yang aku suka darimu. Caramu menegurku. Caramu memberikan perhatian padaku.
Dan saat ini aku melewati jalan ini
lagi. Sendiri.
“Ini
jalan favoritku.” Katamu waktu itu. Kali kedua.
“Kenapa?” kamu tertawa.
“Lihat
saja nanti.” Aku penasaran. Kamu terlihat senang melihat kepalaku
dikerubuti ribuan tanda tanya.
“Ok. Aku hitung mundur dari sekarang. Pegangan yang kuat.” Kupeluk pinggangnya erat. Telingaku lekat
dipunggungnya yang hangat. Menikmati heartbeat-nya.
Hmmm. “Tiga ... dua ... satu ... yuhuuuuu ....!” ha ha ha.
Wow, sensasi gelombang di pinggir jalan ini sungguh berbeda.
“Benar,
kan?” kamu masih tertawa. Aku suka. “dari sekian banyak gelombang di
jalan-jalan yang ada di Pekanbaru, hanya satu ini yang sensasional. Kita dibuat
melambung tapi tak terpelanting.” Katamu di sela tawa.
“Lalu
kenapa pake pesan sponsor ‘pegangan
kuat-kuat’?” kamu tertawa lebih kencang.
“Itu,
sih, biar lebih dramatis dan romantis, gitu ....” Waaaa
... kupukul punggungnya kuat-kuat.
“Curi
kesempatan, ya!” ha ha...
Aku merindumu. Maka kini, kembali kulewati jalan ini.
Tapi
kali ini sepi. Aku melaju lamban
tanpamu. Sepanjang jalan masih bisa kudengar tawamu. Masih bisa kulihat jejakmu. Meski samar.
“Jangan
menangis. Aku tak apa-apa. Ini hanya sakit ringan, semacam flu.” Ucapmu sambil tersenyum. Kamu memang keras kepala sepertiku. Dengan bibir sepucat itu, tubuh seringkih
itu, kau bilang gak apa-apa. Dan tangisku semakin menjadi-jadi. Meski tanpa suara. Tapi dua anak sungai yang berhulu dari mataku
mengalir deras. Lalu kau susah payah
bangkit dari berbaringmu. Mencoba
membendung banjir air mataku.
“Sudah. Sisakan sedikit saat aku benar-benar
mati.” Waaaa ... kau bukan sedang
menghiburku. Kau pun tertawa.
“Sudahlah. Lebih baik kau bernyanyi untukku. Sumbang nyanyianmu lebih indah daripada merdu
tangismu.” Hu hu hu ....
“Sudahlah.” Kali ini kamu lekat menatapku. Matamu tetap
teduh. Selalu membuatku luruh. Dan
ajaib. Air mataku berhenti mengalir,
seketika.
“Dunia
ini sebentar saja bisa kita nikmati. Ada yang lebih abadi. Dan aku akan menunggumu di sana. Jadi, jika saatku tiba, jangan pernah menganggapnya
sebuah perpisahan. Tapi itu adalah awal langkah baru kita. Dan jangan menangis sedih, tapi menangislah bahagia.”
Aku
terdiam. Kunikmati genggaman tanganmu
yang selalu hangat. Kita tak pernah
bilang saling cinta. Kita hanya bertukar
isyarat tentang perhatian, kasih sayang, dan indahnya berbagi. Maka, sekali pun kamu tak pernah bilang “aku
cinta kamu” tapi aku yakin kamu mencintaiku.
Kalau
orang seringkali merasa sesuatu sangat berarti saat sudah kehilangan, tidak
denganku. Aku selalu merasa
kehilanganmu. Sebentar saja tanpamu, aku
merindumu. Kerinduan yang sama sekali
tak menyiksaku. Kerinduan yang membuatku
ingin selalu hidup. Kerinduan yang
membuatku tak lelah menjalani hari.
Kerinduan itu, kini, membawa
langkahku ke sini. Menelusuri jalan yang
biasa kita lalui.
Sebentar
lagi aku akan sampai di gelombang jalan favoritmu. Yang akhirnya menjadi favoritku juga.
Tiga
... dua ... satu ... fiiiiuuuuuuu ...
Kenapa
rasanya tak sama? Kenapa?
“Gelombangnya
akan lebih terasa kalau kamu duduk di belakang.” Katamu saat itu. Seketika kuhentikan laju motorku. Setelah
mengintip dari spion, memastikan tak ada kendaraan di belakangku, aku berbalik
arah. Aku ingin mencoba sekali lagi.
Kupastikan aku duduk lebih mendekati belakang jok.
Tiga
... dua ... satu ... gooooooo ....!
Ha
ha ha ... kamu benar, Sayang! It’s so great! Sensasional! Gelombang
jalan itu membuatku serasa berayun.
Lembut dan so sexy.
Kapan kita bisa lalui jalan ini
bersama-sama lagi?
“He
he ... jangan bermimpi. Kita berbeda dunia, Manis. Ayolah, cari sensasi baru di
jalan yang baru. Cari gelombang baru
yang lebih indah.”
Aku
menoleh ke sekelilingku. Itu suaramu.
“Bukankah
kamu ingin aku selalu mengenangmu?”
“Tidak
berarti dengan membuang waktu hanya untuk menelusuri jejakku.”
“Aku
rindu.”
“Kita
akan kembali bertemu.”
“Benarkah?”
“Semua
akan sesuai prasangkamu. Kalau kamu
yakin itu, maka kita akan bertemu.”
Aku
tersenyum.
“Nah,
pulanglah. Malam semakin larut. Bundamu akan sangat khawatir.”
“Adakah
gelombang yang indah di duniamu, kini?”
“Uh,
tak ada. Yang ada cubitan di bibirku, membuatnya lumer meleleh. Karena bibir itu pernah mencium pipimu.”
“Ah.”
“Siapa
berani mencubit bibirmu sekasar itu?”
“He
he ... ini balasan setimpal untukku.
Menyentuh perempuan yang bukan milikku.”
“Aku
milikmu.”
“Tidak
dengan namaNya.”
“Oh.”
“Berdoalah,
mohon ampunan untukku. Aku dirundung
sesal kini.”
“Karena
mencintaiku?”
“Karena
menyentuh bibirmu.”
“Ah.”
“Sudahlah,
pulang sana. Segera ambil wudhu lalu
berdoa untukku. Aku sungguh butuh
bantuanmu.”
Lalu
kulihat bayanganmu. Sekelebat saja. Tersenyum dan melambai. Membuatku
lalai. Hingga lajuku tak lagi terkendali
meski aku mencoba meng ambil kendali.
Tapi hanya setengah hati. Aku
lebih suka membiarkan semuanya ringan melayang.
Karena ingin bersamamu ...
Kenapa kamu selalu keras
kepala.
Aku
tersadar oleh bisikanmu. Hah. Semua tampak putih. Ooo.
Sebuah ruangan di rumah sakit rupanya.
“Dan
...?”
“Kenapa
nama itu yang kamu ingat?” Bunda
menggenggam jemariku. “untung ada yang lewat jalan itu dan menolongmu. Bersyukurlah, Sayang. Kamu bisa selamat. Bahkan tanpa luka serius. Ini mukjizat, Nak.”
“Mukjizat?”
“Lihatlah
bangkai motormu, nanti.” Bunda memang
luar biasa. Mungkin sudah kebal akan
tingkahku. Makanya tetap bisa setenang
itu. “Kamu pasti ngebut lagi.”
Aku
tak ingin menjawab. Aku tak terlalu
laju. Aku hanya ingin mengikuti bayangan
Daniel.
“Dengar.
Daniel sudah tiada. Lanjutkan hidupmu. Daniel akan lebih senang kalau kamu tak
seperti ini. Sejak dia tak ada, apa yang kamu lakukan? Menghabiskan waktu sia-sia. Selesaikan
kuliahmu segera. Lihatlah Bunda.”
Bundamu benar, Sayang.
Suaramu
lagi. Kamu ada di mana? Aku tak bisa menemukanmu.
“Tak
usah repot mencari. Kan, aku ada di hatimu?” aku
tersenyum.
“Benar.”
“Dengar
aku. Bundamu benar. Lanjutkan hidupmu. Tak perlu risaukan aku.
Semua baik-baik saja. Tak perlu kamu buktikan besarnya cintamu untukku. Aku
percaya. Kalau kamu memaksa juga, jangan dengan cara seperti semalam.”
“Aku
bukan sedang buktikan cinta dan setiaku.
Aku merindumu.”
“Ya,
aku tahu.”
“Aku
ingin mengulang semua. Belum puas
bersamamu.”
“Hei,
bisa lihat aku tersenyum?”
Aku
menggeleng.
“Tapi
aku yakin kamu sedang tersenyum.”
Ha
ha ha ...
“Sekarang
kamu tertawa.” Aku tersenyum. “dan pasti kini kamu sedang menatapku.”
“Wow.”
“Kenapa?”
“Kamu
bahkan hafal kebiasaanku.”
“Kamu
bagian dari hidupku.”
“Baiklah,
aku menyerah. Sekarang pilihanmu. Mau mati sebelum terkubur? Atau kembali menjadi Tria yang dulu paling
kukagumi?”
“Maksudmu?”
“Kamu
tahu apa yang kusuka darimu?”
Aku
menggeleng.
“Selalu
bersemangat. Karena melihat semangatmu aku bisa bertahan. Setidaknya tiga tahun
lebih lama dari vonis dokter.”
“Benarkah?”
“Takdir
mempertemukan kita. Takdir pula yang
membuatku bertahan. Dan kamu turut dalam
takdirku. Meski, akhirnya takdir pula
yang beri jarak antara kita.”
“Aku
berarti juga untukmu.” Aku tersenyum
bahagia.
“Ya.
Karena itu kembalilah seperti dulu.”
“Aku
janji.”
Sekarang aku bisa melihat senyummu.
Senyum yang selalu kurindu.
“Aku
boleh pergi sekarang?”
“Ya. Seperti saat kamu pamit mau ‘offline’. Janji besok akan ‘online’ lagi.”
Dan lagi-lagi aku bisa melihatmu
tertawa.
Kamu tahu aku keras
kepala. Aku janji akan kembali seperti
dulu. Tapi aku tak janji mampu
melupakanmu. Daniel, tetaplah
menungguku. Carikan aku tempat di
sana. Harus yang dekat denganmu. Aku tersenyum. Untuk ke sekian kalinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar