Rabu, 02 Mei 2012

Ini Jalan yang Dulu Biasa Kita Lalui



Hari ini, entah kenapa, aku ingin melewatinya lagi.  Dulu, tiga tahun yang lalu, kamu membawaku melewati jalan ini.  Dan itu kali pertama bagiku.  

            “Dasar kuper!”  katamu waktu itu.  Aku hanya bisa tertawa. Karena kamu benar, aku kuper.  Tapi aku tak ingin tampak kuper di matamu.

            “Aku tak suka jalan-jalan memotong seperti ini.”

            “Hmmm.”

            “Apa, hmmm?”

            “Keras kepala.”

“Keras kepala?”

“Sudah ketahuan kuper, masih ngeles.” Aku tertawa.

“Ketahuan, ya?” Aku pura-pura bodoh. Dan kamu menyempatkan diri menoleh dan mencubit pipiku.  Padahal kamu sedang melaju kencang.

“Dingin.”

“Sudah dibilang, pakai jaket.  Bermotor di malam hari tentu dingin.  Lagi-lagi keras kepala.”  Itu yang aku suka darimu.  Caramu menegurku.  Caramu memberikan perhatian padaku.

Dan saat ini aku melewati jalan ini lagi.  Sendiri.
“Ini jalan favoritku.”  Katamu waktu itu.  Kali kedua.

“Kenapa?”  kamu tertawa.

“Lihat saja nanti.”  Aku penasaran.  Kamu terlihat senang melihat kepalaku dikerubuti ribuan tanda tanya.

“Ok.  Aku hitung mundur dari sekarang.  Pegangan yang kuat.”  Kupeluk pinggangnya erat. Telingaku lekat dipunggungnya yang hangat. Menikmati heartbeat-nya. Hmmm. “Tiga ... dua ... satu ... yuhuuuuu ....!”  ha ha ha.  Wow, sensasi gelombang di pinggir jalan ini sungguh berbeda.

“Benar, kan?” kamu masih tertawa.  Aku suka. “dari sekian banyak gelombang di jalan-jalan yang ada di Pekanbaru, hanya satu ini yang sensasional. Kita dibuat melambung tapi tak terpelanting.” Katamu di sela tawa.

“Lalu kenapa pake pesan sponsor ‘pegangan kuat-kuat’?”  kamu tertawa lebih kencang.

“Itu, sih, biar lebih dramatis dan romantis, gitu ....” Waaaa ... kupukul punggungnya kuat-kuat.

“Curi kesempatan, ya!” ha ha...

Aku merindumu.  Maka kini, kembali kulewati jalan ini.

Tapi kali ini sepi.  Aku melaju lamban tanpamu. Sepanjang jalan masih bisa kudengar tawamu.  Masih bisa kulihat jejakmu.  Meski samar.

“Jangan menangis.  Aku tak apa-apa.  Ini hanya sakit ringan, semacam flu.”  Ucapmu sambil tersenyum.  Kamu memang keras kepala sepertiku.  Dengan bibir sepucat itu, tubuh seringkih itu, kau bilang gak apa-apa. Dan tangisku semakin menjadi-jadi.  Meski tanpa suara.  Tapi dua anak sungai yang berhulu dari mataku mengalir deras.  Lalu kau susah payah bangkit dari berbaringmu.  Mencoba membendung banjir air mataku.

“Sudah.  Sisakan sedikit saat aku benar-benar mati.”  Waaaa ... kau bukan sedang menghiburku.  Kau pun tertawa.  

“Sudahlah.  Lebih baik kau bernyanyi untukku.  Sumbang nyanyianmu lebih indah daripada merdu tangismu.” Hu hu hu ....

“Sudahlah.”  Kali ini kamu lekat menatapku. Matamu tetap teduh. Selalu membuatku luruh.  Dan ajaib.  Air mataku berhenti mengalir, seketika.  

“Dunia ini sebentar saja bisa kita nikmati. Ada yang lebih abadi.  Dan aku akan menunggumu di sana.  Jadi, jika saatku tiba, jangan pernah menganggapnya sebuah perpisahan. Tapi itu adalah awal langkah baru kita.  Dan jangan menangis sedih, tapi menangislah bahagia.”

Aku terdiam.  Kunikmati genggaman tanganmu yang selalu hangat.  Kita tak pernah bilang saling cinta.  Kita hanya bertukar isyarat tentang perhatian, kasih sayang, dan indahnya berbagi.  Maka, sekali pun kamu tak pernah bilang “aku cinta kamu” tapi aku yakin kamu mencintaiku.

Kalau orang seringkali merasa sesuatu sangat berarti saat sudah kehilangan, tidak denganku.  Aku selalu merasa kehilanganmu.  Sebentar saja tanpamu, aku merindumu.  Kerinduan yang sama sekali tak menyiksaku.  Kerinduan yang membuatku ingin selalu hidup.  Kerinduan yang membuatku tak lelah menjalani hari.  

Kerinduan itu, kini, membawa langkahku ke sini.  Menelusuri jalan yang biasa kita lalui.

Sebentar lagi aku akan sampai di gelombang jalan favoritmu.  Yang akhirnya menjadi favoritku juga.  

Tiga ... dua ... satu ... fiiiiuuuuuuu ...

Kenapa rasanya tak sama?  Kenapa?

“Gelombangnya akan lebih terasa kalau kamu duduk di belakang.”  Katamu saat itu.  Seketika kuhentikan laju motorku. Setelah mengintip dari spion, memastikan tak ada kendaraan di belakangku, aku berbalik arah.  Aku ingin mencoba sekali lagi. Kupastikan aku duduk lebih mendekati belakang jok. 

Tiga ... dua ... satu ... gooooooo ....!

Ha ha ha ... kamu benar, Sayang!  It’s so great! Sensasional! Gelombang jalan itu membuatku serasa berayun.  Lembut dan so sexy

Kapan kita bisa lalui jalan ini bersama-sama lagi?

“He he ... jangan bermimpi. Kita berbeda dunia, Manis. Ayolah, cari sensasi baru di jalan yang baru.  Cari gelombang baru yang lebih indah.”

Aku menoleh ke sekelilingku. Itu suaramu.

“Bukankah kamu ingin aku selalu mengenangmu?”

“Tidak berarti dengan membuang waktu hanya untuk menelusuri jejakku.”

“Aku rindu.”

“Kita akan kembali bertemu.”

“Benarkah?”

“Semua akan sesuai prasangkamu.  Kalau kamu yakin itu, maka kita akan bertemu.”

Aku tersenyum.  

“Nah, pulanglah. Malam semakin larut. Bundamu akan sangat khawatir.”

“Adakah gelombang yang indah di duniamu, kini?”

“Uh, tak ada. Yang ada cubitan di bibirku, membuatnya lumer meleleh.  Karena bibir itu pernah mencium pipimu.”

“Ah.”

“Siapa berani mencubit bibirmu sekasar itu?”

“He he ... ini balasan setimpal untukku.  Menyentuh perempuan yang bukan milikku.”

“Aku milikmu.”

“Tidak dengan namaNya.”

“Oh.”

“Berdoalah, mohon ampunan untukku.  Aku dirundung sesal kini.”

“Karena mencintaiku?”

“Karena menyentuh bibirmu.”

“Ah.”

“Sudahlah, pulang sana.  Segera ambil wudhu lalu berdoa untukku.  Aku sungguh butuh bantuanmu.” 

Lalu kulihat bayanganmu. Sekelebat saja. Tersenyum dan melambai. Membuatku lalai.  Hingga lajuku tak lagi terkendali meski aku mencoba meng ambil kendali.  Tapi hanya setengah hati.  Aku lebih suka membiarkan semuanya ringan melayang.  Karena ingin bersamamu ... 

Kenapa kamu selalu keras kepala.  

Aku tersadar oleh bisikanmu.  Hah.  Semua tampak putih.  Ooo.  Sebuah ruangan di rumah sakit rupanya.

“Dan ...?”

“Kenapa nama itu yang kamu ingat?”  Bunda menggenggam jemariku. “untung ada yang lewat jalan itu dan menolongmu.  Bersyukurlah, Sayang.  Kamu bisa selamat.  Bahkan tanpa luka serius.  Ini mukjizat, Nak.”

“Mukjizat?”

“Lihatlah bangkai motormu, nanti.”  Bunda memang luar biasa.  Mungkin sudah kebal akan tingkahku.  Makanya tetap bisa setenang itu. “Kamu pasti ngebut lagi.”

Aku tak ingin menjawab.  Aku tak terlalu laju.  Aku hanya ingin mengikuti bayangan Daniel.
“Dengar. Daniel sudah tiada. Lanjutkan hidupmu. Daniel akan lebih senang kalau kamu tak seperti ini. Sejak dia tak ada, apa yang kamu lakukan?  Menghabiskan waktu sia-sia. Selesaikan kuliahmu segera.  Lihatlah Bunda.”

Bundamu benar, Sayang.

Suaramu lagi. Kamu ada di mana? Aku tak bisa menemukanmu.

“Tak usah repot mencari.  Kan, aku ada di hatimu?”  aku tersenyum.

“Benar.”

“Dengar aku.  Bundamu benar.  Lanjutkan hidupmu. Tak perlu risaukan aku. Semua baik-baik saja. Tak perlu kamu buktikan besarnya cintamu untukku. Aku percaya. Kalau kamu memaksa juga, jangan dengan cara seperti semalam.”

“Aku bukan sedang buktikan cinta dan setiaku.  Aku merindumu.”

“Ya, aku tahu.”

“Aku ingin mengulang semua.  Belum puas bersamamu.”

“Hei, bisa lihat aku tersenyum?”

Aku menggeleng.

“Tapi aku yakin kamu sedang tersenyum.”

Ha ha ha ...

“Sekarang kamu tertawa.” Aku tersenyum. “dan pasti kini kamu sedang menatapku.”

“Wow.”

“Kenapa?”

“Kamu bahkan hafal kebiasaanku.”

“Kamu bagian dari hidupku.”

“Baiklah, aku menyerah. Sekarang pilihanmu. Mau mati sebelum terkubur?  Atau kembali menjadi Tria yang dulu paling kukagumi?”

“Maksudmu?”

“Kamu tahu apa yang kusuka darimu?”

Aku menggeleng.

“Selalu bersemangat. Karena melihat semangatmu aku bisa bertahan. Setidaknya tiga tahun lebih lama dari vonis dokter.”

“Benarkah?”

“Takdir mempertemukan kita.  Takdir pula yang membuatku bertahan.  Dan kamu turut dalam takdirku.  Meski, akhirnya takdir pula yang beri jarak antara kita.”  

“Aku berarti juga untukmu.”  Aku tersenyum bahagia.

“Ya. Karena itu kembalilah seperti dulu.”

“Aku janji.”

Sekarang aku bisa melihat senyummu. Senyum yang selalu kurindu. 

“Aku boleh pergi sekarang?”

“Ya.  Seperti saat kamu pamit mau ‘offline’.  Janji besok akan ‘online’ lagi.”

Dan lagi-lagi aku bisa melihatmu tertawa.

Kamu tahu aku keras kepala.  Aku janji akan kembali seperti dulu.  Tapi aku tak janji mampu melupakanmu.  Daniel, tetaplah menungguku.  Carikan aku tempat di sana.  Harus yang dekat denganmu.  Aku tersenyum.  Untuk ke sekian kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar