“Jadi, apa kabar Rahardjo?”
“Iya, ya? Karena tak kurespon, dia menghilang begitu
saja. Lagian, bagaimana mau merespon, semuanya serba kaleng. Surat
kaleng, kartu pos kaleng, bunga kaleng. Cuma nama tanpa alamat.” Amira tertawa melihat ekspresiku.
“Setidaknya, aku bisa mengucapkan terima kasih atas semua
kiriman dan simpatinya.”
“Lalu, kabar mbah Putri?”
aku terdiam sesaat.
“Kalau sampai sehari sebelum bulan depan aku tak ada
tanda-tanda punya gandengan, Mir, positif diruwat, deh.” Amira mengusap-usap
punggungku.
“Poor Winda.
Tapi, aku iri sama kamu, Win. Apa pun
itu, setidaknya banyak yang perhatian denganmu. Mengupayakan ini itu untuk
kebaikanmu.”
“Ya, alhamdulillah atas semua perhatian mereka. Hanya saja, ritual yang berbau sesaji dan
kemenyan, sangat menggangguku.”
“Kalau begitu, berdoalah agar segera bertemu jodohmu
sebelum ruwatan.” Ya, kali ini Amira benar.
Aku akan sungguh-sungguh meminta padaNya, agar dijauhkan dari acara
ruwatan bulan depan, dengan caraNya.
“Lusa, Tri, si pelukis, akan singgah. Aku sudah wanti-wanti[xiv]
agar dia membawa contoh barang yang lain.”
“Benarkah? Aku juga mau dibuatkan lukisan. Biar kupajang
di ruang tamu, bukan di kamar mandi seperti yang sekarang.”
“Manfaatkanlah momen singkat itu.”
“Demikian juga untukmu.”
“Maksudmu?”
“Ya, tadi, untuk menghindarkan diri dari ruwatan....”
Amira terkikik-kikik.
“Sembarangan....” Amira malah semakin terbahak. Kudorong
tubuhnya hingga keluar dari ruanganku dan segera kukunci pintu.
Sambil bersandar di pintu, kupandangi lukisan buatan Tri.
Cantik sekali perempuan itu. Apa aku
secantik itu? Lihatlah matanya yang bulat dengan hiasan bulu mata asli nan
lentik, tanpa tambahan bulu mata anti badai katrina dan tsunami, tampak jernih
bagaikan tetesan embun pagi. Secercah titik air di ujung bulu mata diberi kilat
warna perak sehingga tampak hidup. Ini benar-benar karya luar biasa untukku.
Pertama, karena ini lukisan diriku yang pertama. Kedua, keindahan hasil lukisannya jauh
melebihi obyek aslinya. Coba hasilnya
seperti lukisan diri Amira, tentu bukan dalam ruanganku tempatnya, tapi di
toilet atau gudang, untuk mengusir tikus dan kecoa. Aku sekarang bisa berempati dengan derita
Amira dengan lukisan dirinya.
“Ih, tega sekali kamu pajang lukisan mahal itu di dekat
pintu kamar mandi.” Protesku.
“Masih bagus kuletakkan di dekat pintu. Tadinya malah akan kupajang di dalamnya
sekalian. Atau kalau perlu untuk menutup
pintu kandang ayam mang Udi. Mahal-mahal aku membayar, hasilnya mirip
gondoruwo.”
“Jangan menghina pelukisnya, dong, lihat obyeknya juga....”
Ujarku menenangkan. Amira malah ngamuk-ngamuk.
Dan sekarang aku paham.
Sejelek apa pun kita, inginnya terlihat cantik dan indah. Apalagi jika aslinya cantik, sudah tentu
ingin hasil foto atau lukisannya secantik aslinya. Jadi pantas jika Amira meradang. Kuperhatikan sahabatku itu dari balik tirai
ruanganku. Tingkahnya terkadang tomboi,
tapi lebih sering terlihat feminin. Dalam keadaan berantakan saja, seperti saat
ini, duduk bersila dikursinya, entry data
sambil mengunyah cemilan keripik jagung, rambut diikat ekor kuda dengan helaian
rambut yang berjuntai, dia tampak cantik dan menarik. Kenapa tak ada yang mau jadi pacarnya, ya?
Saat kami berjalan berdua, apalagi di tempat ramai
seperti pusat-pusat perbelanjaan, bukan mau GR, bisa dipastikan banyak mata
memandang kami. Bukan hanya laki-laki.
Dari tatap mata mereka, bisa kupastikan buka tatapan sinis, karena terpancar
sinar kekaguman. He he.... jadi malu.
Tapi itu kenyataan. Sangat nyata,
senyata kami yang masih jomblo hingga saat ini.
Lama-lama aku merasa tak nyaman dengan tatapan mereka. Kagum tapi tak
mau kenal. Suka tapi tak mau mencoba
lebih dekat. Kenapa? Padahal kami berjalan seperti orang lain
berjalan. Kami bercanda seperti cara
orang lain bercanda. Kami berdandan
seperti kebanyakan. Kami tak juga
menggunakan asesoris yang mewah. Justru
seringkali bertema etnis. Sekalian
promosi. Tapi kenapa seolah ada jarak
antara kami dan mereka? Aku jadi malas pergi ke tempat-tempat ramai, karena
membuatku merasa seperti boneka pajangan, meski pun tak ada apa pun yang
terpajang di tubuhku.
“Lagi shooting,
ya, Mbak? Main di sinetron apa? Kok saya
belum pernah melihatnya di televisi?” Seeorang ibu-ibu menyapa. Kami tertawa. Dia mengira kami artis? Ya,
ampun, secantik itukah kami?
“Belum tayang, Bu.
Menunggu waktu.” Sahut Amira
iseng.
“Wah, pasti seru.... ceritanya tentang apa, ya?”
“Hmm.... perempuan yang jomblo seumur hidup....”
“Waaah, kasihan sekali.... cantik-cantik jomblo seumur hidup. Mendingan saya, dong, biar muka pas-pasan, tapi punya laki juga.”
Amira manyun dan mengajakku berlalu.
“Makanya jangan suka iseng. Ucapanmu adalah doamu. Jangan-jangan, gara-gara kamu suka iseng, trus diaminkan malaikat, kita jadi harus
menjomblo hingga kini....”
Aku menghela nafas.
Dadaku jadi sesak teringat semua itu.
Apa iya, itu salah satu faktor kami jauh dari jodoh?
“Spadaaa? Halloo?
Tengah hari gini
termenung-menung. Makan, yuk. Aku sudah
masak nasi tadi. Kan, kamu bawa bothok dan
peyek. Kita nikmati makanan kampung....” aku tersenyum dan segera menyusul Amira ke
dapur.
Ya, kantor kami adalah rumah kedua kami. Makanya didesain senyaman mungkin, dilengkapi
dapur dengan interior yang keren, sumbangan dari seorang penggemar Amira. Begitu kerennya, sampai-sampai kami tak tega
mengotorinya dengan sering masak.
Alhasil, tetap saja kami sering makan di kantin daripada masak sendiri.
“Pemasukan bulan ini melampaui target, Lho....” kata Amira sambil menikmati bothok lamtoro.
“Jangan khawatir, ada insentifnya, tuh....” Sahutku sambil meliriknya.
“Hmmm, bos yang penuh pengertian.”
“Terima kasih.”
“Padahal cuma petai cina.
Kok, bisa enak ya, Win?” aku
tertawa.
“Masalahnya bukan pada bahannya, Sayang. Tapi cara memasaknya. Bothok
ini dimasak dengan penuh cinta. Makanya,
enak.”
“Kali ini kamu benar. Memasak memang harus dengan segenap
cinta. Berarti sebesar bothok inilah
cinta ibumu....”
“Jangan menghina.
Bukan sebesar bothoknya, tapi
seenak rasanya!”
“Iya, deh. Terima kasih, ya, mau membagi cinta ibumu
denganku....” Kuacak rambut Amira yang
memang sudah acak-acakan.
“OK, bereskan, ya, setelah itu rapikan diri, karena akan
ada tamu penting.”
“Baik, Bos! Ibu pejabat yang mau pesan hiasan dinding
itu, kan?”
“Iya, salah satunya.
Beliau banyak relasi, jadi kita harus berikan pelayanan yang terbaik,
untuk menarik pelanggan berikutnya.”
Amira mengangguk-angguk.
Beginilah aktivitas kami sepanjang hari. Santai tapi serius, serius tapi santai. Bingung, kan?
Hmmm, bukan keinginan tapi sebuah naluri. Alam bawah sadarku menuntunku untuk
memperindah penampilanku hari ini. Tri
akan datang. Sebenarnya aku merasa tak peduli dan berulangkali berkata pada
diri sendiri, aku tak peduli. Tapi kenapa aku ingin terlihat cantik saat
bertemu dengannya nanti? Bahkan, jika biasanya aku menyempatkan diri duduk
termenung selama lima menit saat baru terjaga, hari ini aku memaksa tubuhku
untuk segera bangkit.
Entah sudah berapa baju kucoba. Entah berapa asesoris kupadu-padankan dengan
baju yang kupakai. Pada akhirnya aku menyerah.
Ini bukan aku. Dan aku akan
kembali seperti yang biasanya. Karena
aku merasa lebih nyaman berpenampilan sebagaimana biasa. Aduh, nambah
kerjaan saja. Biarlah pulang kerja
kurapikan kembali baju-baju yang berserakan di atas tempat tidur. Aku tak ingin membuat Amira menolerir
kebiasaannya terlambat kerja gara-gara aku sendiri datang terlambat.
“Assalamu’alaikum, Bos.”
“Alaikumsalam....”
“Tumben terlambat?”
“Bukan terlambat, tapi tepat saat jam masuk kerja.”
“Terserah, deh.
Sepertinya kamarmu berantakan?
Baju-baju berserakan?” aku melotot.
“Enak, saja, menuduh sembarangan.”
“Kita, kan,
sudah seperti satu bagian tubuh, Win. Asal mau bertemu seseorang yang spesial,
seluruh isi lemarimu pasti terkuras habis.
Untunglah sekarang kita tak serumah, lolos dari kerjaan lembur aku.” Mataku makin membesar.
“Sudah, tak usah malu-malu. Jadi, kenapa akhirnya pakai
baju yang tak lebih dari biasa?” Amira mengamat-amati penampilanku.
“Karena, pada akhirnya, aku sadar. Biarpun dunia semakin
edan, manusia waras masih memilih dengan hati, bukan dengan mata.” Mulut Amira membulat.
“Sepertinya, kamu memang sedang jatuh cinta, Win. Aku
berharap, kali ini kamu sukses.”
“Terima kasih.” Aku memilih mengikuti jalan berpikir
Amira. Daripada dia semakin panjang
berkhotbah. Membuatku jadi lapar.
“Sarapan mie enak juga, ya, Mir?”
“Siap, Bos!” Amira
menghormat. Aku tersenyum. Duh,
enaknya punya rekan kerja yang sehati dan sejiwa.
Tuhan, kali ini aku dibuat resah dan gelisah. Entah kenapa jantungku terasa berdebar-debar
tanpa bisa kucegah lagi. Aku ingin semua
wajar. Aku ingin seperti Winda yang
biasa. Aku makin blingsatan melihat Amira yang tiap sebentar meledekku dengan lirikan
dan senyum menyebalkan.
“Apa, sih?”
gerutuku jengkel. Lagian, aku bego juga. Kenapa aku harus salah tingkah sepagi
ini? Perjalanan menuju tempat ini, kan, bisa sampai tiga jam. Mana mungkin Tri nekat pergi sebelum
subuh. Mukaku terasa panas.
“Dooo, yang malu-ma...lu.” Tak menunggu sampai habis
kalimat Amira, langsung kusambit dia dengan jepit kertas. Heran, meledek saja hobinya. Masih ada waktu
untuk menata perasaanku agar tak tampak norak.
Aku bukan remaja tujuh belas tahun yang baru pertama mengenal
cinta. Tapi kalau kuingat-ingat, saat
belia, aku memang tak pernah sempat jatuh cinta dengan serius. Paling banter cuma rasa suka atau simpati. Aku termasuk kutu buku yang hanya bisa
tertarik dengan buku-buku pelajaran keluaran baru atau koleksi komik bergambar, Detektif Conan. Conan
dan Ran pun tak mengajariku untuk mencinta dengan cara yang romantis. Yang ada, perasaan yang selalu
tersembunyi. Karena itu aku kurang
pandai membuat orangt tertarik dan jatuh hati padaku. Hei, mungkin ini penyebab aku jauh dari
jodoh, ya? Percuma, kan, paras cantik dan penampilan menarik kalau dianggap jutek dan
tak punya aura “perempuan”.
“Mir, ajari aku untuk lebih feminin.” Amira menatapku dalam.
“Salah orang. Aku tak lebih feminin dari kamu. Kenapa tiba-tiba....”
“Mungkin tak ada laki-laki yang mau sama aku karena
sikapku yang tak ada feminin-femininnya.
Mereka melihat aku seperti manusia yang tak perlu siapa-siapa. Bahkan, saat ban kempes di tengah perjalanan,
jauh dari bengkel, aku bisa menggantinya sendiri.”
“Tak perlu risau dengan keadaan kita. Jadi diri sendiri lebih nyaman, kan?
Lagipula, tidak semua laki-laki suka perempuan yang feminin. Banyak juga laki-laki yang suka perempuan
kuat dan mandiri.” Amira menjetikkan jarinya di hidungku.
“Mencari cinta sejati, tidak dengan cara mengubah diri
kita agar lebih disukai orang lain. Jika
laki-laki itu tertakdir sebagai jodoh dan cinta sejati kita, dia tak akan
peduli dengan semua itu. Dia pasti bisa
menerima kita apa adanya.” Aku
mengangguk-angguk.
“Benar juga, ya. Lucu juga mencari alasan untuk sebuah
takdir. Bukankah takdir tertulis tanpa
pakai alasan? Kita terbiasa mencari
sebab terjadinya sesuatu, kenapa nasibku begini dan orang lain begitu, padahal
hal itu justru membuat semakin tersiksa dengan keadaan kita.”
Kupeluk Amira kuat-kuat. “You’re my best soulmate!
Jikalau aku tertakdir tak berpasangan dengan laki-laki untuk meneruskan
generasiku, asal bisa terus bersamamu, aku akan tenang.” Amira menepuk-nepuk punggungku.
“Ya, ya. Tapi jangan lama-lama. Hilang aroma parfumku.” Kudorong
tubuh Amira gemas. Dasar, manusia satu
ini! Hmmm, jam sepuluh tepat.
“Adakah aku datang di saat yang tak tepat?” Aku terperanjat, begitu juga Amira. Tri,
dengan tampilannya yang semi formal, berdiri di dekat pintu ruanganku. Dodo tampak ikut mengintip dari balik
pungggungnya.
“Eh, eee... berapa lama kalian di situ?” aku terbata-bata.
“Yaa, cukup lama untuk ikut tersentuh dengan kekuatan
persahabatan kalian berdua.” Mukaku
memerah. Kulirik Amira yang masih saja
terbengong-bengong di tempatnya berdiri.
Kusikut perutnya. Tiba-tiba Amira
mengulurkan tangannya ke arah Tri.
“Salam kenal, selamat datang.” Tri tersenyum menyambut jabat tangan Amira.
“Ini sekretaris andalan Winda, ya?” Eh, muka Amira tampak memerah. Ooo, pertanda apakah ini? Dia tampak
tersipu-sipu. Tidak seperti Amira yang
biasanya ceplas-ceplos dan cuek.
“Ya, sekretarisku yang gesit dan bisa kuandalkan di
setiap saat.” Aku membantu Amira yang tampak kehilangan kata-kata. Tri menatapku dengan sorot penuh senyum. Hatiku berdesir halus. Ih,
apa-apaan, nih.
“Oya, ada titipan dari Ibu.” Kata Dodo menyelamatkanku dari kehilangan
kesadaran karena sihir senyum Tri.
Buru-buru kuikuti langkah Dodo menuju ruang tamu.
“Biasa, peyek
teri dan bothok lamtoro. Yang kemarin sudah habis?”
“Ya, dalam sekejab.
Banyak penggemar bothok
ibu.”
“Win, aku cuma bawa satu contoh lukisan dari pelepah
pisang. Kalau hiasan dari bunga mahoni,
aku bawa cukup banyak.” Tiba-tiba Tri
sudah berdiri di belakangku. Lucunya,
Amira mengekor di belakangnya, terdiam seribu bahasa. Norak banget.
“Mir, tolong pesankan teh dingin di kantin, ya?” Amira
menatapku seperti orang hilang ingatan.
“Mir!”
“Eh, iya... kopi dingin....” aku tersenyum.
“Teh dingin, Sayang. Terima kasih, ya.” Aku merasa Amira harus menghirup nafas segar
di luar ruangan setelah dibuat sesak oleh aura Tri yang juga sempat membuatku
hampir pingsan.
Kalau dipikir-pikir, penampilan Tri hari ini memang sangat
berbeda dengan saat pertama aku jumpa.
Rambutnya yang gondrong terikat rapi.
Kumis dan cambangnya pun rapi.
Belum lagi kostum semi formal yang dikenakannya. Paduan jeans dan tuxedo warna biru pastel
dengan lengan terlipat hingga siku.
Benar-benar pas dengan warna manik matanya yang menggunakan soft-lens warna senada. Kalau sebelumnya aku dibuat terpesona oleh
senyumnya yang ramah dan menawan, kali ini aku dibuat tak berkedip karena
kepiawaiannya berdandan. Kind of metrosexual man. Peduli fashion. Aku jadi malu dengan tampilanku yang apa
adanya. Padahal Tri sudah memberikan
tampilan yang luar biasa. Ih, kok aku jadi ke-GR-an, belum tentu Tri tampil
keren untuk aku.
“Hari ini banyak kerjaan, Win?” Suara Tri membuyarkan lamunanku.
“Ngga, juga.
Kenapa? Oya, silakan duduk dulu. Masa dari tadi berdiri saja.” Tri mengangguk. Dodo masih saja sibuk membongkar beberapa
kardus.
“Biarlah, Do. Lagian,
bongkarnya di atas saja, di tempat penyimpanan barang.”
“Jadi, karya seniku hanya untuk disimpan?”
“Bukan begitu. Yang dipajang juga cuma sampel. Yang
lainnya disimpan biar tidak kotor dan rusak.” Aku tersenyum. “Jangan cemas,
menyimpannya bukan dionggok begitu saja, tetap disusun dalam rak.” Tri tampak lega.
“Syukurlah. Sebentar lagi jam makan siang. Kita jalan
keluar sekalian makan siang, ya?” Tri menatapku berharap. Aku menoleh ke arah Dodo.
“Aku bongkar barang dulu. Aku juga ingin lihat isi toko, mbak.”
“Aku bantu kamu, Do.”
Tiba-tiba Amira muncul dengan empat botol teh dingin. Aku segera berdiri membantunya.
“Memangnya kalian gak
ingin makan juga?”
“Bungkusin saja, deh.” Dodo dan Amira menjawab serempak. Ih, macam anak SD.
“Ya, sudahlah. Aku bukan guide yang bagus, tapi kalau cuma menunjukkan tempat makan yang
enak dan nyaman, masih bisalah.” Tri
tersenyum.
Bermula dari makan siang. Entah kenapa, seolah tercipta
sebuah tamna indah di salah satu sudut hatiku. Penuh warna dan aroma.
Menghitung mundur hari-hari hingga mendekati bulan baru tak lagi membuatku
risau. Kali ini, aku benar-benar lolos dari ancaman “ruwatan” mbah Putri.
“Win, akhir bulan ini kamu pulang, kan?” suara Tri di seberang
sana.
“Ya, kewajiban seorang anak....”
“Sekalian persiapkan acara untuk kita, ya.”
“Maksudnya?”
“Aku... dan kedua orangtuaku, berniat membawa hubungan
kita ke jenjang yang lebih pasti.” Mataku
berbinar-binar. Aku mengangguk-angguk.
“Kok, diam?”
“Eh, iya... aku mengangguk tadi. Kamu tentu tak melihatku
mengangguk, ya?” suara tawa Tri seperti
semburan air telaga, sejuk. Amira mengitipku dari celah tirai jendela.
“Wah, gak¸jadi, dong, meliput acara ruwatan....”
“Kamu, kan,
juga tertarik prosesi pernikahan adat Jawa kuno.”
“Aku pasti akan merasa kehilangan kamu, Win.” Ooo, kupeluk Amira yang menatapku sendu.
“cepat sekali, baru kenal setengah bulan.”
“Ini mungkin yang disebut jodoh, Mir. Tak tahu dengan siapa dan kapan tibanya.”
“Setelah bertemu Tri, entah kenapa prinsip hidupku mulai
goyah,” suara Amira lirih, tapi terdengar sangat jelas di telingaku.
“Kamu... suka juga sama Tri?”
“Tentu suka. Tapi
bukan alasan untuk bersaing dengan sahabat tercintaku.”
“Sebelum janur kuning melengkung, masih persaingan bebas,
Mir.”
“Menantang?”
“Kamu sendiri yang bilang, cinta tak bisa dipaksakan, tak
bisa dialihkan, seenaknya.” Aku mengerling Amira. “kita bisa mencintai banyak
hati, tapi cinta sejati hanya ada satu, kan,
Mir?” Amira mencibir.
“Kesimpulannya, Tri sudah terlanjur jatuh cinta padamu,
dan tak mungkin berpaling padaku?”
“Salah satunya....” Aku mengerling Amira yang tampak
penasaran dengan kalimatku yang menggantung.
“Terlalu percaya diri....” aku tertawa.
“Ada yang belum kuperlihatkan padamu.” Aku bergegas menuju lemariku. Kuambil sebuah
pigura berukuran 50 cm x 90 cm dari rak paling atas.
“Ini, karya master piece
Tri. Dia membuatnya setahun yang lalu.
Saat belum pernah bertemu denganku. Hanya melalui cerita adikku. Hanya
dengan membayangkan wajahku. Ini bukan karya biasa, bukan? Ini karya seseorang yang sedang jatuh cinta! Sebuah cinta tanpa syarat. Tak peduli apakah
cintanya akan berbalas.”
Amira tak berkedip menatap lukisan diriku yang di bawa
Tri saat berkunjung dua minggu yang lalu.
Lukisan yang dibuat dengan bahan pelepah pisang kering.
“Sempurna. Seperti
sebuah foto.”
“Kesimpulannya, sekali pun aku baru mengenalnya, aku tak
akan ragukan perasaannya padaku. Karena
itu, aku yakin, dia tak akan goyah oleh godaan perempuan lain, termasuk
dirimu....” aku tersenyum. Amira menatapku geli.
“Kamu....” Amira memelukku. “Aku bahagia, akhirnya
berakhir juga hari-hari penantianmu akan cinta sejati.”
“Satu lagi. Kamu tahu nama panjang Tri?” Amira melebarkan matanya menunggu jawaban
pertanyaanku sendiri.
“Tri Angga Rahardjo!”
“Oooo, penggemar gelapmu!” He he... aku terkekeh. Seandainya aku tahu Rahardjo adalah Tri,
tentu dari sebulan yang lalu aku tak perlu gundah gulana sepanjang waktu
membayangkan mbah Putri tersenyum penuh kemenangan karena berhasil meruwat aku.
Hari-hari terasa berjalan lambat. Aku sengaja tak memberi tahu orangtuaku
tentang hubunganku dengan Tri.
Rencanaku, aku akan pulang tiga hari lebih cepat dan mempersiapkan acara
penting itu, dengan tanganku sendiri.
“Aku ingin kamu dan ibumu ikut pulang bersamaku, Mir.”
“Ok. Ini moment penting yang tak mungkin
kulewatkan.”
Amira membuktikan partisipasi bahagianya dengan mencipta
sebuah souvenir pernikahan, khusus untukku, handmade.
Dengan sepenuh hati, sepanjang hari, saat senggang, dia sibuk menyelesaikan
souvenirnya. Ada kerinduan akan celoteh dan cerewetnya. Aku pun tak boleh ikut
membantu. Terima kasih atas sahabat sebaik Amira, ya Tuhan.
“Yup. Semua sudah beres. Tak ada yang tertinggal, kan, Bu?” Amira meneriaki ibunya yang
ikut sibuk membereskan berbagai macam barang ke dalam mobil. Ibunya
mengacungkan jempol, tanda semua OK. Aku tertawa melihat kekompakan ibu dan
anak itu.
“Jadi orangtuamu belum tahu?”
“Kalau Dodo gak keceplosan,
ya mereka belum tahu.”
“Wah, tentu mereka terkejut.”
“Lebih-lebih mbah Putri.”
Ha ha... Amira tertawa. Ibu Amira tampak meringkuk di bangku belakang.
“Ibu, kalau pusing, di depan, saja. Guncangannya terlalu kuat di belakang, nanti
Ibu mabuk.” Ujarku sambil menatap Ibu
Amira dari spion.
“Berhenti dulu, deh.” Amira melompat ke jok belakang bertukar
dengan ibunya. “bisa kualat kita membiarkan Ibu duduk di belakang.”
“Ibu tadi yang minta.
Rupanya ibu mual duduk di belakang.”
“Ya, tak apa.”
Perjalanan terasa sangat cepat.
Kami sudah sampai depan rumah. Wah, mbah Putri sedang sibuk menganyam
janur untuk kembar mayang. Loh, kok
sudah buat kembar mayang? Ih, si Dodo
memang keterlaluan.
“Wah, sudah datang cucu nenek.” Mbah Putri tergopoh-gopoh menyambut kami.
Dodo yang baru muncul langsung jadi juru angkat barang.
“Buat kembar mayang untuk pernikahan siapa, Nek?” tanya Amira.
“Bukan untuk menikah, ini untuk ruwatan. Ini bukan kembar
mayang namanya. Hiasan janur kuning untuk di pasang di tempat pewayangan.” Ooo,
ternyata untuk persiapan ruwatan. Aku
terlanjur menuduh Dodo sembarangan.
“Lho, pakai
acara wayangan?”
“Ya, iya, Nduk.” Amira mengangguk-angguk. Hebat sekali dia akting. Aku segera meninggalkan mbah Putri dan Amira
yang jadi ikut sibut membuat hiasan janur kuning. Bapak dan ibuku tampak berbincang hangat
dengan ibu Amira.
“Jangan cemaskan mbahmu.
Lagi pula, acara ruwatan, kan,
gak menyalahi hukum. Ikuti saja mau mbahmu, agar beliau senang hati.” Aku
mengangguk. Lusa, saat kusampaikan lamaran Tri, tentu Bapak dan Ibu akan kaget.
Aku ingin berita ini menjadi kejutan untuk keluargaku persis di pagi hari saat
akan diadakan acara ruwatan. Kejutan yang membahagiakan. Huff, jantung selalu
berdebar membayangkan saat itu.
Dan kini, tibalah saatnya. Nanti siang, setelah waktu Dhuhur, keluarga
Tri akan datang melamarku. Semua persiapan untuk acara lamaran sudah kusiapkan
diam-diam bersama Amira dan Ibunya. Mbah putriku tak kalah sibuk menyiapkan
prosesi ruwatan besok malam. Hi hi... aku semakin berdebar. Tapi, aku juga masih
menahan diri untuk menceritakan kabar gembiraku pada Bapak dan Ibu.
Dan hingga tengah hari, tak ada tanda-tanda kedatangan
Tri. Tak ada telepon ataupun sms mengabarkan tentangnya. Aku minta Dodo untuk
menghubunginya. Terhubung tapi tak ada yang mengangkat telepon. Aku mulai cemas. Aku jadi ragu mengabarkan
rencana indahku dengan Tri kepada orangtuaku.
Untuk menghilangkan perasaan gundah, aku memilih ikut
duduk bersama Bapak menikmati acara berita siang di sebuah stasiun televisi.
“Pemirsa, sekilas
info, sekitar jam 10 pagi ini, terjadi tabrakan beruntun di sebuah jalan menuju
kota Blitar. Tabrakan beruntun terjadi
setelah sebuah truk fuso berhenti mendadak karena menghindari sebuah bus dari
arah berlawanan yang tiba-tiba melaju melewati batas jalan. Tabrakan ini
mengakibatkan 3 korban meninggal dan 10 orang luka-luka. Salah satu korban
meninggal yang sudah diketahui identitasnya adalah... Tri Angga Rahardjo, 29
tahun....”
Aku terpaku mendengar sekilas info tadi. Aku tak ingin
percaya tapi Amira yang tiba-tiba memelukku dari belakang membuatku menjadi
yakin, aku tak salah dengar. Aku tak tahu harus berkata apa. Bapak yang melihat reaksiku mendengar berita
itu tampak heran.
“Kamu mengenalnya?”
tebak seorang Bapak yang menyelami perasaan anak perempuan satu-satunya.
“Dia... calon menantu Bapak, yang rencananya akan datang
siang ini....” sahutku nyaris tak terdengar. Amira semakin erat memelukku. Aku
bisa merasakan tetesan air matanya di punggungku. Air mata yang bahkan tak bisa keluar dari
mataku. Aku menoleh menatap mbah Putri
yang masih tampak tekun dengan pernik-pernik untuk ruwatan besok malam.
“Anak yang terlahir seperti kamu, disebutnya sendang kaapit pancuran. Banyak sialnya, kecuali diadakan prosesi
ruwatan, untuk membuang sial. Ini bukan gugon
tuhon[xv],
tapi hasil pengamatan dari jaman para leluhur dahulu kala yang sering melihat
anak terlahir sepertimu sering terhalang mendapatkan kebahagiaan.”
Kalimat demi kalimat yang pernah diucapkan mbah Putri
tiba-tiba kembali terngiang di telingaku. Aku tetap tak ingin percaya semua itu. Meskipun kebahagian yang sudah di depan mata
terenggut tiba-tiba oleh tabrakan beruntun yang membawa Tri pergi jauh
dariku. Aku masih tetap yakin, setiap
orang terlahir dengan membawa takdirnya masing-masing. Dan aku hanya bisa
yakin, inilah takdirku. Aku ainul yaqin bahwa sudah suratanku jika ternyata
aku masih harus bersabar dan melapangkan dada meniti hari-hari penantianku,
akan cinta sejatiku.
Pekanbaru, November 2011
[i] ‘Ainul yaqin :
yakin 100 persen
[ii] Ruwatan : acara
khusus untuk menghilangkan bala
[iii] Nduk : panggilan
untuk anak perempuan
[iv] Ruqyah : sistem
pengobatan dalam Islam, menggunakan ayat-ayat Al Qur’an
[vii] Tapih : jarik
atau kain panjang yang digunakan sebagai bawahan/pasangan kebaya
[ix] Nginang :
mengunyah campuran daun sirih, pinang, dan kapur
[xi] Sembukan :
sebangsa daun beraroma khas, termasuk tanaman semak yang tumbuh merambat
[xiii] Tanpo sanak tanpo
kadang : tanpa saudara dan kerabat
[xiv] Wanti-wanti :
berpesan dengan “sangat”
[xv] Gugon tuhon : dongeng,
kepercayaan