Benar.
Menunggu
masih juga menjadi hal yang paling menyebalkan. Sedari tadi leherku tak henti bergerak, melongok ke kanan dan ke kiri,
mendongak lalu menunduk. Angin yang tak bosan meniup daun-daun Kamboja pun
semakin riang mengiringi gerakan leherku. Dan yang melengkapi kekesalanku
adalah, dia tak sadar sedang kutunggu.
Ya, benar.
Aku menunggu seorang gadis penjaja
bolu kembojo keliling. Menjelang sore, saat bayang-bayang mencapai dua kali
lipat tinggi asliku, dia akan lewat.
Lalu berhenti di bawah pohon Kamboja untuk beristirahat.
Biasanya aku tak sampai harus
menunggu di bawah Kamboja ini. Aku menunggunya di kamarku. Sambil duduk menerawang jendela. Jika sudah tampak bayangannya, baru aku
bersuit dan meneriakkan kata yang sama “Kembojoooooo, tunggu aku!” dan gadis manis itu akan berhenti. Duduk di bangku bambu, yang sekarang
kududuki, sambil berkipas.
Tapi kenapa hari ini dia tak muncul?
Dan kenapa aku harus merasa khawatir?
Aha! Itu dia. Wah, kenapa jalannya terseok-seok? Sedang sakitkah? Tanpa sadar aku berlari menyambutnya.
“Hei, kau tak apa-apa?”
Dia tersenyum santun.
“Sini, biar kubantu membawa
nampanmu.”
“Tidak
usah, terima kasih.”
“Oh,
kakimu berdarah.”
“Tak
apa, jangan sentuh.” Kuurungkan niatku
untuk melihat keadaan kakinya yang terluka. “Tadi aku kurang hati-hati,
terpeleset di parit dekat simpang. Tapi
hanya luka sedikit. Tak apa.”
Aku
menatapnya dalam. Gadis ini masih sangat
muda. Kutaksir seusia adik perempuanku
yang kini duduk di bangku kelas 9 SMU.
“Boleh
tahu namamu?” Pertanyaan itu keluar
tanpa bisa kucegah. Dia menatapku
sekilas lalu sibuk merapikan bolu kembojonya.
“Puan. Puan Raisya.”
“Nama
yang cantik. Kamu masih punya keluarga?”
Wajahnya yang manis itu memucat.
“Baiklah.
Aku tak akan bertanya lagi.” Dia
tersenyum.
“Karena
Abang pelanggan setia saya, baiklah saya
akan cerita sedikit.” Aku menatapnya
sekali lagi dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari
mulutnya.
Puan
cantik nan malang. Bencana tanah longsor
delapan tahun yang lalu merenggut belaian lembut sang Bunda untuk
selamanya. Juga merampas senyuman lebar
sang Ayah, yang dulu selalu menyertai langkah kakinya menuju padang ilmu, dua
tahun berikutnya.
Sejenak
Puan terpaku. “saat itu saya belum lagi
genap 10 tahun. Baru kelas 5 sekolah
dasar.” Suaranya bergetar. Kulihat dia menggigil.
“Seperti
mimpi buruk, saya selalu teringat saat Bunda berjuang keras menarik saya dari
himpitan atap rumbai akibat tanah longsor yang tiba-tiba menimpa rumah, tak lama
setelah adzan Subuh. Teringat saat Bunda
tanpa lelah mengais tanah dengan sebuah centong nasi dengan gerakan yang sangat
cepat, seperti gerakan kincir air yang menjadi sumber listrik di kampung kami,
seolah berpacu dengan laju tanah yang terus merosot setiap kali Bunda
mengaisnya. Ya, saat itu Bunda sedang
menanak nasi untuk sarapan. Air mata Bunda mengalir tiada henti seiring dengan
rintik hujan yang membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi teriakan
tetangga yang rumahnya ikut tertimpa tanah longsor. Bunda seperti memiliki kekuatan maha dahsyat
hingga akhirnya berhasil mengeluarkan saya dari timbunan tanah. Lalu memanggul badan saya yang lunglai sambil
mondar-mandir mencari tempat dirasa yang aman.
“Saya
tak pernah bisa melupakan semua itu.”
Puan tertunduk.
“Lalu
Bunda kembali mengais-ngais tanah mencari adik yang tadi masih lelap. Si Bungsu yang baru 3 tahun.” Puan menangis tanpa suara, setetes demi
setetes airmata mengalir di pipinya.
“Saya benar-benar takut saat itu, membayangkan tubuh mungil adik
tertimbun tanah. Terkubur hidup-hidup.”
“Tapi
Allah Maha Kuasa. Sekali lagi Bunda
berhasil menemukan adik. Beruntung, lemari baju tumbang dan tertahan dinding
sehingga tubuh Azriel, adik saya, terhindar dari timbunan tanah.”
“Saat
itu saya hanya bisa melihat Bunda terseok-seok menggendong Azriel. Bunda mendekap tubuh kotor Azriel yang penuh
darah. Lalu Bunda membaringkan tubuh Azriel di samping saya. Tak banyak yang bisa saya lakukan saat itu,
hanya mampu menggerakkan bola mata.
Benar-benar tak berdaya. Bahkan untuk mencegah Bunda agar tidak kembali
mencoba masuk ke dalam rumah.”
Puan
menghela nafas dalam. “Ijazah dan surat-surat penting Ayahmu, Nak...” begitu
kata Bunda. Bibirnya bergetar dan membiru.
“Lalu
tiba-tiba terdengar gemuruh. Longsoran
tanah semakin kuat. Saya bersusah payah
mencoba menggerakkan badan, menelungkup mendekap Azriel, berusaha melindunginya. Lalu tak ingat apa-apa.”
Badanku
gemetar dan berkeringat mendengar cerita Puan.
Mulutku terkunci rapat. Aku
kehilangan kata-kata untuk sekedar membesarkan hatinya.
“Saya
tak bisa melupakan wajah pias Ayah. Saat
tersadar dari pingsan, yang entah berapa lama, ternyata saya sudah berbaring di
sebuah klinik. Banyak balutan perban di badan saya.” Puan menghela nafas. Terdengar sangat berat. “Belum pernah saya
melihat guratan kesedihan yang sedemikian tajam di wajah keras ayah. Beliau orang yang kuat. Tapi, yang saya lihat saat itu adalah seorang
laki-laki rapuh yang tak beda dengan serumpun ilalang. Lemah, serasa mau tumbang tapi tetap
bertahan.”
“Saat
itu Ayah hanya mampu berkata lirih “Bunda sudah pergi ....”
Puan
menunduk. “suara Ayah memang nyaris tak terdengar, tapi bagi saya seperti
sambaran kilat yang menimbulkan sengatan api, membuat sekujur tubuh saya serasa
terbakar. Tapi tak membuat saya ingin berteriak.”
“Saat
jenazah Bunda ditemukan, tangannya menggenggam kuat-kuat sebuah bungkusan ....” Puan menatap lurus. “Isinya buku rapor
sekolah saya yang belum sempat di kembalikan, ijazah Ayah, beberapa lembar foto
keluarga yang kami buat saat Raya setahun sebelumnya.”
“Oh,
tidak.” Aku menggenggam jemari Puan yang
mendingin. “Kau tak perlu melanjutkan ceritamu.”
“Tak
apa. Ini baru cerita sedihnya.” Puan tersenyum. Aku ikut tersenyum. Ingin segera mendengar akhir cerita yang
indah.
“Ternyata
cobaan untuk kami tak berhenti sampai di situ.
Dua tahun berikutnya, Ayah menyusul Bunda.”
“Saya tak akan pernah bisa lupa. Saat saya tengah serius menyelesaikan Ujian
Akhir Sekolah, tiba-tiba guru kelas saya meminta saya untuk mengemasi semua
peralatan sekolah. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut beliau. Beliau hanya memeluk bahu saya dan mengantar
saya pulang. Di rumah, sudah banyak
tetangga yang berkerumun, di dalam dan di luar ruangan.”
“Ibu...?” Bu Jusnilla yang cantik merengkuh dan memeluk
saya erat.
“Ayahmu,
Sayang. Jangan sedih, Ibu akan selalu
bersamamu.”
“Oh,
tidak. Bagaimana Saya bisa
melupakannya? Becak motor ayah dihantam
Fuso yang melaju kencang menuju luar kota.
Muatan kayu gelondong yang berhamburan semakin meremukkan tubuh ayah
bersama becak motornya. Ayah ... ayah ...!”
“Dua
orang yang saya kasihi harus pergi dengan cara yang tragis. Lantaran tanah longsor dan timbunan kayu
hutan. Pembalakan liar sungguh begitu
kejam merenggut mereka.”
“Pembalakan
liar?”
“Ya,
apa lagi?” mata Puan berkilat-kilat.
“Karena pembalakan hutan jadi gundul, tanah jadi rapuh dan mudah longsor. Karena pembalakan liar kayu-kayu gelondong
tak berizin resmi itu dilarikan oleh Fuso ke luar kota. Kejaran aparat membuat sopir kesetanan. Dan Ayah jadi korban ....”
“Ah,
Puan ....”
“Tapi
Tuhan Maha Adil, Bang.” Puan tersenyum.
“Di balik semua musibah selalu ada hikmah.
Kalau bukan karena musibah itu, saya tak akan bisa membuat bole kembojo
seenak ini.” Aku tertawa.
“Yakin
sekali kembojo buatanmu enak.”
“Iya
lah ... Abang saja hampir tiap sore menunggu kembojo saya, kan?” Aku tertawa.
“Jadi
bagaimana kamu bisa membuat kembojo seenak ini?”
“Semua
itu berkat kebaikan hati Bu Jusnilla, guru kelas saya. Kebetulan beliau punya usaha rumahan, membuat
aneka kue khas Riau. Dari sekian banyak
kue dan kerupuk, saya hanya bisa membuat kembojo. Aneh, kan?” aku tertawa.
“Dan
ternyata inilah jalan saya untuk mendapatkan rizki-Nya. Dengan bolu kembojo, saya bisa menyekolahkan
adik. Sekarang dia kelas tiga SMP.” Nada suara Puan terdengar sangat bangga. Aku tersenyum menatapnya.
“Dan
bolu ini menjadi beda rasanya, karena saya panggang di atas bara briket. Briket arang cangkang kelapa sawit buatan
adik saya, Azriel.” Mata Puan
berbina-binar. “Dia sangat gagah dan hebat.
Ayah dan Bunda pasti bangga dengannya.”
“Dan
juga sangat bangga denganmu, Puan. Kamu
sangat hebat. Baiklah, mana bolu kembojo
untukku? Hari menjelang petang, tentu
kamu ingin segera pulang.”
“Ah,
iya. Kali ini Abang saya kasih
gratis. Tapi besok belinya harus
dobel.” Aku tertawa.
“Aku
tunggu besok sore. Jangan terlambat
lagi.” Puan tertawa menampakkan barisan
giginya yang putih dan rapi. “Hati-hati, sampaikan salamku untuk Azriel.”
Lagi-lagi
Puan tertawa. Lalu berlalu, tanpa menoleh lagi. Padahal aku masih ingin
menatapnya. Gadis manis itu melangkah
terpincang-pincang.
Hmmm, besok aku akan
menunggumu, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar