Rabu, 27 Juni 2012

Puan Raisya


 
            Benar. 
Menunggu masih juga menjadi hal yang paling menyebalkan. Sedari tadi leherku tak henti bergerak, melongok ke kanan dan ke kiri, mendongak lalu menunduk. Angin yang tak bosan meniup daun-daun Kamboja pun semakin riang mengiringi gerakan leherku. Dan yang melengkapi kekesalanku adalah, dia tak sadar sedang kutunggu.
            Ya, benar.
            Aku menunggu seorang gadis penjaja bolu kembojo keliling. Menjelang sore, saat bayang-bayang mencapai dua kali lipat tinggi asliku, dia akan lewat.  Lalu berhenti di bawah pohon Kamboja untuk beristirahat.
            Biasanya aku tak sampai harus menunggu di bawah Kamboja ini. Aku menunggunya di kamarku.  Sambil duduk menerawang jendela.  Jika sudah tampak bayangannya, baru aku bersuit dan meneriakkan kata yang sama “Kembojoooooo, tunggu aku!”  dan gadis manis itu akan berhenti.  Duduk di bangku bambu, yang sekarang kududuki, sambil berkipas.
            Tapi kenapa hari ini dia tak muncul? Dan kenapa aku harus merasa khawatir?
            Aha! Itu dia.  Wah, kenapa jalannya terseok-seok?  Sedang sakitkah?  Tanpa sadar aku berlari menyambutnya.
            “Hei, kau tak apa-apa?”
            Dia tersenyum santun.
            “Sini, biar kubantu membawa nampanmu.”
“Tidak usah, terima kasih.”
“Oh, kakimu berdarah.”
“Tak apa, jangan sentuh.”  Kuurungkan niatku untuk melihat keadaan kakinya yang terluka. “Tadi aku kurang hati-hati, terpeleset di parit dekat simpang.  Tapi hanya luka sedikit.  Tak apa.”
Aku menatapnya dalam.  Gadis ini masih sangat muda.  Kutaksir seusia adik perempuanku yang kini duduk di bangku kelas 9 SMU.
“Boleh tahu namamu?”  Pertanyaan itu keluar tanpa bisa kucegah.  Dia menatapku sekilas lalu sibuk merapikan bolu kembojonya.
“Puan.  Puan Raisya.”
“Nama yang cantik. Kamu masih punya keluarga?”  Wajahnya yang manis itu memucat.
“Baiklah. Aku tak akan bertanya lagi.”  Dia tersenyum.
“Karena Abang pelanggan setia saya,  baiklah saya akan cerita sedikit.”  Aku menatapnya sekali lagi dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. 
Puan cantik nan malang.  Bencana tanah longsor delapan tahun yang lalu merenggut belaian lembut sang Bunda untuk selamanya.  Juga merampas senyuman lebar sang Ayah, yang dulu selalu menyertai langkah kakinya menuju padang ilmu, dua tahun berikutnya. 
Sejenak Puan terpaku.  “saat itu saya belum lagi genap 10 tahun.  Baru kelas 5 sekolah dasar.”  Suaranya bergetar.  Kulihat dia menggigil.
“Seperti mimpi buruk, saya selalu teringat saat Bunda berjuang keras menarik saya dari himpitan atap rumbai akibat tanah longsor yang tiba-tiba menimpa rumah, tak lama setelah adzan Subuh.  Teringat saat Bunda tanpa lelah mengais tanah dengan sebuah centong nasi dengan gerakan yang sangat cepat, seperti gerakan kincir air yang menjadi sumber listrik di kampung kami, seolah berpacu dengan laju tanah yang terus merosot setiap kali Bunda mengaisnya.  Ya, saat itu Bunda sedang menanak nasi untuk sarapan. Air mata Bunda mengalir tiada henti seiring dengan rintik hujan yang membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi teriakan tetangga yang rumahnya ikut tertimpa tanah longsor.  Bunda seperti memiliki kekuatan maha dahsyat hingga akhirnya berhasil mengeluarkan saya dari timbunan tanah.  Lalu memanggul badan saya yang lunglai sambil mondar-mandir mencari tempat dirasa yang aman.
“Saya tak pernah bisa melupakan semua itu.”  Puan tertunduk. 
“Lalu Bunda kembali mengais-ngais tanah mencari adik yang tadi masih lelap.  Si Bungsu yang baru 3 tahun.”  Puan menangis tanpa suara, setetes demi setetes airmata mengalir di pipinya.  “Saya benar-benar takut saat itu, membayangkan tubuh mungil adik tertimbun tanah.  Terkubur hidup-hidup.”
“Tapi Allah Maha Kuasa.  Sekali lagi Bunda berhasil menemukan adik. Beruntung, lemari baju tumbang dan tertahan dinding sehingga tubuh Azriel, adik saya, terhindar dari timbunan tanah.” 
“Saat itu saya hanya bisa melihat Bunda terseok-seok menggendong Azriel.  Bunda mendekap tubuh kotor Azriel yang penuh darah. Lalu Bunda membaringkan tubuh Azriel di samping saya.  Tak banyak yang bisa saya lakukan saat itu, hanya mampu menggerakkan bola mata.  Benar-benar tak berdaya. Bahkan untuk mencegah Bunda agar tidak kembali mencoba masuk ke dalam rumah.” 
Puan menghela nafas dalam. “Ijazah dan surat-surat penting Ayahmu, Nak...” begitu kata Bunda. Bibirnya bergetar dan membiru.
“Lalu tiba-tiba terdengar gemuruh.  Longsoran tanah semakin kuat.  Saya bersusah payah mencoba menggerakkan badan, menelungkup mendekap Azriel, berusaha melindunginya.  Lalu tak ingat apa-apa.”
Badanku gemetar dan berkeringat mendengar cerita Puan.  Mulutku terkunci rapat.  Aku kehilangan kata-kata untuk sekedar membesarkan hatinya.
“Saya tak bisa melupakan wajah pias Ayah.  Saat tersadar dari pingsan, yang entah berapa lama, ternyata saya sudah berbaring di sebuah klinik. Banyak balutan perban di badan saya.”  Puan menghela nafas.  Terdengar sangat berat. “Belum pernah saya melihat guratan kesedihan yang sedemikian tajam di wajah keras ayah.  Beliau orang yang kuat.  Tapi, yang saya lihat saat itu adalah seorang laki-laki rapuh yang tak beda dengan serumpun ilalang.  Lemah, serasa mau tumbang tapi tetap bertahan.” 
“Saat itu Ayah hanya mampu berkata lirih “Bunda sudah pergi ....” 
Puan menunduk. “suara Ayah memang nyaris tak terdengar, tapi bagi saya seperti sambaran kilat yang menimbulkan sengatan api, membuat sekujur tubuh saya serasa terbakar. Tapi tak membuat saya ingin berteriak.”
“Saat jenazah Bunda ditemukan, tangannya menggenggam kuat-kuat sebuah bungkusan ....”  Puan menatap lurus. “Isinya buku rapor sekolah saya yang belum sempat di kembalikan, ijazah Ayah, beberapa lembar foto keluarga yang kami buat saat Raya setahun sebelumnya.”
“Oh, tidak.”  Aku menggenggam jemari Puan yang mendingin. “Kau tak perlu melanjutkan ceritamu.”
“Tak apa.  Ini baru cerita sedihnya.”  Puan tersenyum.  Aku ikut tersenyum.  Ingin segera mendengar akhir cerita yang indah.
“Ternyata cobaan untuk kami tak berhenti sampai di situ.  Dua tahun berikutnya, Ayah menyusul Bunda.”
  “Saya tak akan pernah bisa lupa.  Saat saya tengah serius menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah, tiba-tiba guru kelas saya meminta saya untuk mengemasi semua peralatan sekolah. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut beliau.  Beliau hanya memeluk bahu saya dan mengantar saya pulang.  Di rumah, sudah banyak tetangga yang berkerumun, di dalam dan di luar ruangan.”
“Ibu...?”  Bu Jusnilla yang cantik merengkuh dan memeluk saya erat.
“Ayahmu, Sayang.  Jangan sedih, Ibu akan selalu bersamamu.”
“Oh, tidak.  Bagaimana Saya bisa melupakannya?  Becak motor ayah dihantam Fuso yang melaju kencang menuju luar kota.  Muatan kayu gelondong yang berhamburan semakin meremukkan tubuh ayah bersama becak motornya.  Ayah ... ayah ...!”
“Dua orang yang saya kasihi harus pergi dengan cara yang tragis.  Lantaran tanah longsor dan timbunan kayu hutan.  Pembalakan liar sungguh begitu kejam merenggut mereka.”
“Pembalakan liar?”
“Ya, apa lagi?”  mata Puan berkilat-kilat. “Karena pembalakan hutan jadi gundul, tanah jadi rapuh dan mudah longsor.  Karena pembalakan liar kayu-kayu gelondong tak berizin resmi itu dilarikan oleh Fuso ke luar kota.  Kejaran aparat membuat sopir kesetanan.  Dan Ayah jadi korban ....”
“Ah, Puan ....”
“Tapi Tuhan Maha Adil, Bang.”  Puan tersenyum. “Di balik semua musibah selalu ada hikmah.  Kalau bukan karena musibah itu, saya tak akan bisa membuat bole kembojo seenak ini.”  Aku tertawa.
“Yakin sekali kembojo buatanmu enak.”
“Iya lah ... Abang saja hampir tiap sore menunggu kembojo saya, kan?”  Aku tertawa.
“Jadi bagaimana kamu bisa membuat kembojo seenak ini?”
“Semua itu berkat kebaikan hati Bu Jusnilla, guru kelas saya.  Kebetulan beliau punya usaha rumahan, membuat aneka kue khas Riau.  Dari sekian banyak kue dan kerupuk, saya hanya bisa membuat kembojo.  Aneh, kan?”  aku tertawa.
“Dan ternyata inilah jalan saya untuk mendapatkan rizki-Nya.  Dengan bolu kembojo, saya bisa menyekolahkan adik.  Sekarang dia kelas tiga SMP.”  Nada suara Puan terdengar sangat bangga.  Aku tersenyum menatapnya.
“Dan bolu ini menjadi beda rasanya, karena saya panggang di atas bara briket.  Briket arang cangkang kelapa sawit buatan adik saya, Azriel.”  Mata Puan berbina-binar. “Dia sangat gagah dan hebat.  Ayah dan Bunda pasti bangga dengannya.”
“Dan juga sangat bangga denganmu, Puan.  Kamu sangat hebat.  Baiklah, mana bolu kembojo untukku?  Hari menjelang petang, tentu kamu ingin segera pulang.”
“Ah, iya.  Kali ini Abang saya kasih gratis.  Tapi besok belinya harus dobel.”  Aku tertawa.
“Aku tunggu besok sore.  Jangan terlambat lagi.”  Puan tertawa menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi. “Hati-hati, sampaikan salamku untuk Azriel.” 
Lagi-lagi Puan tertawa. Lalu berlalu, tanpa menoleh lagi. Padahal aku masih ingin menatapnya.  Gadis manis itu melangkah terpincang-pincang. 
Hmmm, besok aku akan menunggumu, lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar