Rabu, 30 Mei 2012

Khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW:




(Khutbah ini disampaikan pada 9 Zulhijjah, tahun 10 Hijriah di Lembah Uranah, Gunung Arafah):

"Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan, aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan telti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.

Wahai manusia, sebagaimana kamu menganggap bulan ini dan Kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti siapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya, kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan sekarang.

Waspadalah terhadap setan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil.

Wahai Manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu mereka juga mempunyai hak atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka atas kamu, maka mereka, juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan lemah-lembut lah terhadap mereka karena sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai Manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasa lah di bulan Ramadhan, dan tunaikan lah zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadah Haji sekiranya kamu mampu. Ketahui bahwa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam takwa dan beramal saleh.

Ingatlah, bahwa, kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan di atas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu awasilah agar jangan sekali-kali kamu keluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai Manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepas ku dan tidak akan ada lain agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilai lah dengan betul dan pahami lah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah ALQURAN dan SUNAH KU.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapan ku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahwasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-MU.

Jumat, 18 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 3)


“Assalamu’alaikum, Mas.”  Seorang laki-laki berambut gondrong, yang duduk di balik tumpukan pigura, menoleh.  Lalu tersenyum ramah, seramah tatapan matanya. Wajahnya yang nyaris tertutup jenggot dan cambang tak bisa menutupi parasnya yang tampan dan friendly. Baru kali ini aku langsung welcome terhadap lawan jenis, pada pandangan pertama.  Tapi jangan simpulkan aku jatuh hati.  Jantungku tak sesaat berhenti berdetak.  Tubuhku pun tak sejenak terpaku.  Biasa saja.  Ini reaksi normal saat bertemu kawan baru.
“Ini pasti Winda.”  Aku mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan genggaman erat.
“Salam kenal.  Kamu sepertinya sudah mengenalku. Tentu dari adikku.  Semoga hal yang baik saja yang diceritakannya.”  Dia tersenyum.
“Ya, namaku, Tri.”  Katanya seolah tak peduli kata-kataku. Tri?
“Itu nama tengahku.”
“Dan itu nama depanku.”
“Anak ketiga?”
“Kenapa tri diartikan ketiga?”
“Memang artinya tiga, kan?”  Tri tertawa.
“Dodo nyaris sempurna menceritakan tentangmu. Apa yang kulihat darimu sekarang, nyaris sesuai dengan yang kubayangkan saat Dodo menceritakan tentangmu.”  Heran, aku tak sedikit pun merasa keberatan.  Dodo yang tiba-tiba lenyap pun tak membuatku risau.
“Jadi, mana hasil ukiranmu?”
To the point, ya.”  Aku tertawa.  Yach, sempitnya waktu membuatku tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Tri mengajakku ke ruang belakang. Wow, rupanya pemandangan di belakang rumah bambu ini sangat indah. Hamparan sawah yang dibuat terasering tampak berundak-undak seperti tangga berwarna hijau segar. Birunya pegunungan, nun jauh di sana, memberikan kontras warna yang pas. Aku sampai tak sadar Tri sudah di hadapanku dengan membawa sekeranjang contoh ukiran.
“Win....”  aku tersenyum.
“Indah.”  Tri mengangguk.
“Kamu bosan dengan keindahan ini?”
“Karena komentarku cuma anggukan kecil?” aku menatap Tri.  Dia menunjuk sebuah kanvas di sudut ruangan.  Sebuah lukisan pemandangan alam yang sangat bagus, nyaris seperti sebuah foto. 
“Lukisanmu?”
“Sebuah ungkapan kekaguman atas keindahan yang dilukiskan oleh Sang Pencipta.”  Tri tersenyum. “Saat itu, aku seperti kamu saat ini. Aku takut menjadi bosan dengan pemandangan yang setiap saat kulihat.  Jadi saat aku merasa sangat kagum, segera kupindahkan keindahan itu ke dalam kanvas.  Biar pun tak seindah aslinya.”
“Kamu hebat.”
“Biasa saja. Ah, iya, ini contoh ukirannya. Kalau ada order, jangan terlalu sempit tenggang waktunya. Aku tak suka bekerja di bawah tekanan. Setengah jiwa aku mengerjakannya kalau dalam keadaan terburu-buru. Bagiku, ini adalah karya seni, bukan sekedar barang dagangan.”  Aku tertawa.
“PD kamu berlebihan.  Dipajang juga belum.  Tapi jangan khawatir, aku akan meletakkannya di tempat khusus, yang setiap pengunjung datang, karyamu inilah yang akan dilihatnya.”
“Aku sangat tersanjung. Terima kasih.”  Tri mengulurkan sebuah kartu nama. Tanpa melihatnya, aku segera menyelipkan kartu nama itu ke dalam salah satu saku tas pinggangku.
“Sayang sekali waktuku sangat sempit.  Kami hanya berdua mengelola  rumah souvenir, jadi tak bisa berlibur lama.”
“Lain kali aku datang bersama Dodo, boleh?”
“Aku tunggu.”  Tri tersenyum lebar. Aku sedikit geli melihat Tri yang masih juga melambaikan tangannya, mengantar kepergian kami, hingga bayangannya tak lagi terlihat saat kami berbelok menuju jalan aspal. Aku jadi teringat lagu “Teluk Bayur”.  He he.... tipe manusia akhir tahun 80-an.
“Kok, Mbak senyum-senyum?”  aku tersentak.  Mukaku terasa panas.  Malu ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
“Tampaknya Mbak suka sama mas Tri?”
“Ah, kamu. Kesimpulan yang dangkal.”
“Mas Tri itu, selain jago buat ukiran, jago juga membuat lukisan. Dia bisa membuat lukisan hanya dengan membayangkan cerita yang kita buat.”
“Mbak percaya.”
“Kok?”
“Ya, tadi Mbak lihat lukisan pemandangan alamnya.  Sangat bagus, nyaris seperti sebuah hasil bidikan kamera.”
“Ooo, itu, sih karena dia ada obyek nyata, jadi ngga terlalu istimewa.  Yang paling istimewa, ada di jok mobil Mbak.  Tapi dilihatnya nanti, kalau sudah sampai di kantor Mbak.”
“Yee, apa bedanya, sih, dibuka di rumah nanti?”
“Kemasannya cantik, Mbak. Nanti kita tak bisa mengemas secantik itu lagi.”
“OK, lah.”
“Janji, jangan dibuka sebelum sampai kantor.”  Aku mengangguk pasti.  Dodo bersiul-siul. Dan anehnya, aku tak gusar dengan siulannya kali ini. Alam pikiranku sedang kembara, kembali ke rumah joglo di sebuah kampung terpencil. Selintas terbayang senyum simpul Tri. Hih, siapa memberinya ijin untuk singgah di pikiranku? Kukibaskan tanganku, mencoba mengusir senyum lucunya.  Dodo melirikku selintas.  Aku pura-pura tidur.
Huff, akhirnya sampai rumah juga. Wah, jam tiga sore.  Aku segera berkemas.  Mbah Putri dan Ibu membantuku.  Lebih jelasnya, sibuk memasukkan berbagai penganan dan lauk khas kampungku ke dalam kardus.  Inilah kebiasaan Ibuku.  Bothok lamtoro[x] dan sembukan[xi], peyek teri, ungkusan tawon[xii], dan lain-lain.  Kalau saja semua makanan kampung itu bukan menu favoritku, pasti aku akan menggerutu.  Meski pun aku bukan tipe pemakan, tapi menu kampung masakan ibuku itu, pasti kulahap habis.  Tentu ditemani Amira.  Dia ikut bersemangat karena jadi merasa punya kampung halaman, setiap kali kami makan masakan ibuku.  Kadang aku terharu melihatnya.  Dua anak-beranak tanpo sanak tanpo kadang[xiii]. Sering kutawarkan agar ibu Amira tinggal bersama keluargaku di kampung.  Jadi, aku ada teman setiap pulang kampung.  Tapi dengan tegas Amira menolak.
“Bukan menolak kebaikanmu, tapi ibuku membawaku merantau untuk membuktikan beliau bukan manusia lemah yang mengandalkan belas kasihan orang lain.  Sepanjang hidupnya, ibuku tak mau merepotkan orang lain. Kalau sekedar berkunjung dan menjalin silatirahim, ya, sudah pasti kami sambut mesra.”  Begitulah Amira dan ibunya.  Dan aku menyanyangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Nduk, mbah Putri ingin sekali segera menimang cicit Mbah. Bulan depan, kita buat acara ruwatan, ya, Nduk....” aku tersadar dari lamunanku tentang Amira.
Bbbummmm, akhirnya meledak juga yang tersimpan dalam pikiran mbah Putri sejak semalam.  Aku tersenyum.
“Siapa tahu, ada sesuatu yang menutupi auramu, sehingga membuat orang tak bisa melihat kecantikanmu.”
“Memilih pasangan, kan, tidak memandang paras, Mbah.”  Aku tersenyum lagi. “mungkin, jodoh Winda memang belum waktunya datang.”
Mangkane kuwi, Nduk, kita upayakan agar lebih cepat datangnya.”  Aku terdiam.  Ibu mengedipkan matanya, menyuruhku tak berkomentar. “sudah, iyakan saja, nanti tak habis-habis mbahmu bicara,” begitu mungkin maksud Ibu.
“Mbah Putri akan di sini sampai bulan depan. Pulanglah hari Jum’at, biar waktunya lebih longgar.” Mbah menepuk punggungku. “Mbah akan persiapkan segala sesuatunya.  Kamu tinggal mengikuti prosesinya saja.”  Aku mengangguk kecil.  Akhirnya semua siap. 
“Winda berangkat dulu, Pak, Bu....” kucium tangan mereka.  Ibu mencium pipiku.  Bapak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku.  Mbah Putri menatap kami sambil tersenyum.
“Winda berangkat, Mbah.”  Mbah Putri mencium pipiku.
“Ya, hati-hati, jangan lupa persiapkan diri untuk acara bulan depan.” Aku mengangguk tanpa makna.
Aneh, keanehan yang ke sekian kalinya untuk kepulanganku kali ini. Aku sedikit pun tak merasa risau dengan “ancaman” mbah Putri. Apa karena saran Amira untuk bersikap seperti pepatah “anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” sudah merasuki pikiranku?  Tapi rasanya bukan itu.  Ada sesuatu yang membuat hatiku seperti berselimut pelangi. Bisa jadi karena mbah Putri ngga pakai acara ngotot memaksaku untuk ruwatan.  Bisa jadi karena aku mulai bosan dengan rutinitas “ancaman” ruwatan.  Jadi pikiranku lebih lepas dan bebas. Ya, pasti karena itu. 
Aku bersiul-siul.  Hei, kebiasaan baru, nih, bersiul-siul.  Padahal ini hal yang paling kubenci.  Ada apa denganku hari ini? Untuk mengusir jenuh, kuputar radio sajalah.
Selamat sore, untuk sahabat Suara Antara, yang baru tune di 303,5 FM. Untuk bincang-bincang sore hari ini, di studio telah hadir seorang seniman muda yang ganteng dan luar biasa kreatif, bung Tri.” 
Keningku langsung berkerut. Tri?  Apa sama dengan Tri yang tadi siang kutemui?
“Apa kabar, bung Tri?”
“Kabar baik, mas Agung.”
“Jadi, barang bekas apa, nih, yang sekarang disulap menjadi dolar?”  Ha ha...
Hei, itu suara tawa Tri.  Benar, dia Tri yang sama.
“Yach, namanya juga tinggal di kampung, Mas.  Banyak sampah daun, pelepah pisang, cangkang bunga mahoni, banyak.”
“Jadi, dibuat untuk kerajinan apa, Bung?”
“Pelepah pisang untuk lukisan. Cangkang bunga mahoni untuk hiasan bunga.  Ini contohnya.”
“Wah, terkesan mewah, ya.”
“Ya, dengan sentuhan vernis dan cat.”
“Bisa dijelaskan prosesnya?”
“Singkat saja, ya?  Pertama tentu dilakukan pengeringan pelepah pisang.  Lalu dipotong-potong sesuai keinginan dan kebutuhan.  Beri warna dengan cat minyak.  Selanjutnya, tinggal digunakan untuk membuat lukisan dengan cara ditempelkan pada kanvas.  Bisa dilakukan pemotongan lagi untuk detailnya.”
“Ini lukisan yang luar biasa. Obyeknya pun nampaknya sangat istimewa?”
“Sebenarnya ini replika dari lukisan saya yang lain, tapi lukisan yang itu menggunakan cat minyak.  Obyeknya sudah luar biasa, makanya hasilnya bisa memuaskan.”
“Seseorang yang istimewa untuk Bung Tri, nampaknya.”  Ha ha...
“Bisa, saja.”
“Baik, sahabat Suara Antara, bagi Anda yang ingin berbincang-bincang langsung dengan Bung Tri, bisa on line di 0342 552821.  Okay, stay tune on 103.3 Suara Antara Pro 2 FM, kita break dulu dan kembali setelah yang satu ini.”
Kuraih handphone dari saku tas pinggangku. Setelah memasang headset, segera kudial nomor yang tadi disebutkan penyiar radio.
“Kembali pada bincang-bincang sore.  Nampaknya sudah ada penelpon masuk. Suara Antara Pro 2 FM, selamat sore.  Dengan siapa dimana, nih?”
“Astuti, lagi di jalan....”
“Ooo, hati-hati dengan kemudinya, Non....”
“Terima kasih. Mau nanya, nih, sama Bung Tri.”
“Yup, silakan langsung.”
“Selamat sore, Bung Tri.”
“Selamat sore, Mbak Astuti.”
“Jadi untuk pemesanannya, kontak ke siapa?” Ha ha...
Terdengar tawa khas Tri.
“To the point, ya?”  aku ikut tertawa.
“Mbak bisa lihat dulu contohnya di workshop saya, bisa dipilih langsung mana yang akan diorder, barang dikirim menyusul.  Karena kami baru membuat contohnya saja, baru dibuat banyak kalau ada pesanan.  Sudah terjawab?”
“OK, dech, terima kasih.”
“Hati-hati di jalan, ya....”
“Ya, terima kasih.”
Apa Tri mengenali suaraku?
“Wah, lancar, nih, nampaknya usaha Bung Tri.  Belum-belum sudah ada yang order.”
“Sama-sama pecinta kreasi bahan bekas.”
“Lho, nampaknya sudah mengenal Mbak Astuti?”
“Bukan begitu, yang tertarik kreasi saya tentu hanya pecinta kreasi bahan bekas, kan?” sahutnya diplomatis. Ho ho...
“Iya, juga, ya....”
Tapi aku tahu, Tri memang mengenali suaraku.
“Sayang sekali waktu tidak mengijinkan untuk berbincang-bincang lebih lama lagi.  Terima kasih atas kehadirannya, Bung Tri. Jangan bosan-bosan untuk berkunjung di studio kami.”
“Sama-sama, terima kasih juga sudah memberi media bagi pengrajin pinggiran seperti kami, Mas Agung.”
Hm, sebuah kebetulan yang aneh.  Setengah harian ini, waktuku terisi oleh Tri. Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tak dikenal.
“Selamat sore, Win.”
“Selamat sore, siapa, nih?”
“Tak ingat suaraku?”  Aku mengernyitkan kening.
“Oooo, Bung Tri, seniman muda yang kreatif.”
“Terima kasih atensinya, ya.”
“Sama-sama.  Kebetulan aku tune di saluran itu.  Kok, kebetulan lagi ada kamu.” Ha ha... terdengar tawanya yang khas.
“Tadi kamu ngga bilang mau siaran.”
Kan, gak penting untuk kamu?”
“Kamu juga ngga lihatin ke aku hasil karyamu yang dari pelepah pisang dan bunga mahoni.”
“Kupikir kamu hanya tertarik ukiran.”
“Yang kupajang di rumah souvenirku macam-macam....”
“Lusa aku ke kotamu. Ada yang mau kubawakan?
“Lukisanmu yang dari pelepah pisang, deh. Hiasan dari cangkang bunga mahoninya juga boleh. Jangan lupa gantungan kunci ukiran dan miniatur Candi Penatarannya, ya.”
“OK, tuan Putri, anything for you....”
“Hei, ini bicara soal bisnis, Tuan.”
“Ini juga bicara tentang sebuah pelayanan, Nona.”
“Ooo, jadi kepada semua pelangganmu, kamu akan menyebutnya tuan Putri?"
“Ooo, yang itu hanya untuk kamu.”
“Ih, tipe perayu juga, ya?”
“Bukan juga. Ini spontan dan baru kali ini. Maaf kalau mengganggumu.”
“Dimaafkan.”
“Aku minta diantar Dodo, lusa.”
“OK.”
“Lusa, aku pasti datang.”
“Iya. Kutunggu.”
“Benar, ya.  Tunggu aku.”  Aku tersenyum.
Dan lagu yang mengalun dari radioku terdengar semakin merdu.  Tak terasa melelahkan perjalananku sore ini.  Akhirnya sampai juga di rumahku. Sibuklah aku mengeluarkan berbagai bawaan dari bagasiku.  Terakhir...
“Ini bingkisan dari Tri.”  Gumamku.
Uh, agak berat, nih.  Apa, ya? Sepertinya lukisan. Sesuai janjiku, besok baru kubuka di kantorku.  Seperti janjiku juga, besok akan kuletakkan secara khusus dalam ruanganku.  Uh, tak sabar menunggu pagi.
“SELAMAT PAGI, BOS...!”
Sapaan Amira menimbulkan gempa dengan kekuatan 8,5 skala richter. Membuat aku limbung dan hampir terjerembab. Semua barang ditanganku sampai terjatuh berantakan, kecuali sebuah bungkusan dari Tri, yang secara reflek, kupegang kuat-kuat.
“Belajar etika berbicara, ya, Nona!” Amira nyengir.
“Apa, tuh, yang kamu bawa? Nampaknya istimewa, sampai-sampai kamu biarkan kantong di tangan kirimu tercampak untuk menjaga barang itu tak jatuh?”  Aku tak menjawab.
“Cepat selamatkan isi kantong itu, Mira.  Isinya bothok lamtoro dan peyek teri, titipan ibuku untuk kamu dan ibumu.”
“Wah, makanan istimewa untuk kami kamu campakkan demi bungkusan itu?”
“Sudahlah, maaf, itu reaksi spontan karena kaget. Salah siapa, juga, mengagetkanku seperti tadi.”  Amira bersungut-sungut.  Tapi karena ingat betapa dia menyukai bothok buatan Ibu Winda, dia segera memungut kantong besar yang tergeletak di lantai.
“Tak berantakan isinya, kan?
“Ibumu selalu cermat, tak ceroboh sepertimu, beliau mengemasnya dengan baik, untuk menjaga kemungkinan barangnya tercampak seperti insiden barusan.”
“Ih, banyak bicara.” Aku segera menyimpan tas dalam laci dan meletakkan bungkusan berukuran 90 cm x 50 cm itu di atas meja. “Ini yang membuatku penasaran, Mir.”
“Memang apa isinya?”
“Yach, kalau tahu isinya, tentu aku tak penasaran.”
Tanpa banyak kata segera kubuka bungkusan itu dengan hati-hati. Amira ikut tegang menungguku membuka bungkusan.
“Wow... lukisan Win...! Sepertinya, wajah kamu, tuh.”  Aku terperangah. Lukisan seorang perempuan dengan dandanan bak puteri keraton yang sedang menjalani sebuah prosesi siraman, menjelang acara pernikahan. Wajahnya memang mirip aku.  Rambut ikal yang panjang, tergerai hingga pinggang, bisa jadi dimiliki banyak perempuan.  Tapi, setitik tahi lalat di bawah mata kanan itu adalah ciri khususku. Di sudut kanan bawah lukisan terdapat sebuah inisial yang langsung bisa kukenali, TRI. Inisial yang sama juga pernah kulihat di lukisan pemandangannya, kemarin.
“Bagus, ya, Win.  Kamu pesan di mana?”
“Ini buatan kawan adikku.”
“Kamu pernah jumpa dia?”
“Kemarin.”
“Lukisan ini dibuat kemarin?” aku menggeleng.  Kutunjuk goresan tanggal di samping inisial Tri.  Tiga bulan yang lalu.
“Wah, punya kenalan pelukis hebat gini tak bilang-bilang.  Kamu lihat sendiri lukisan diriku yang kuletak dekat kamar mandi? Itu balasan untuk lukisan yang mengecewakan.”
“Aku baru kenal kemarin.”
Lho?”
“Kata Dodo, Tri punya kelebihan, bisa membuat lukisan berdasarkan cerita seseorang... tanpa melihat langsung obyeknya.”
“Wah, bisa jadi pelukis untuk kepolisian, tuh, melukis DPO.” Aku melolot.  Amira terpingkal-pingkal melihat mataku yang membesar bak bola bekel. Aku harus segera berterima kasih atas bingkisan yang luar biasa ini.
“Hallo, Tri? Makasih, ya, atas lukisannya yang indah.” Ha ha...
Aduh, tawa khas Tri tiba-tiba membuatku ingin bertemu dengannya. Ada apa, nih?
“Hasil lukisan, 80 persen, tergantung obyeknya.  Karena obyeknya indah, lukisan pun jadi indah. Ini menurutku, garis bawahi, ya.”
“Ah, sanjungan untukku atau pujian untuk keahlianmu? Kamu membuat lukisan ini tanpa ada obyek nyata.”
“Lho, sangat nyata.  Obyeknya sudah terekam kuat dalam otak kananku, tersimpan dalam long-term memoryku....” Aku tertawa. Hei, kenapa seolah ada taman bunga dalam hatiku. Terasa indah. Tiba-tiba aku tersipu-sipu.
“Ya, sudah, terima kasih, sekali lagi. Selamat berkarya, ya....”
“Sama-sama....”
Senyumku masih juga mengembang.  Amira melambai-lambaikan tangan di wajahku.
“Hoi...!”
Aku nyengir kuda.
“Ada yang sedang jatuh cinta, nampaknya.”
“Ih, selalu menarik kesimpulan tanpa pakai research and study. Dasar....”
“Menurutmu perasaan bisa disimpulkan melalui riset?” Amira mengerlingku. “kasus tentang cinta, bersifat kualitatif, Nona, bukan kuantitatif.  Dinilainya dari indikasi yang terlihat, bukan diukur dengan neraca.” Amira mengikuti kemana pun langkahku.
“Dan dari indikasi yang ada, berupa senyum yang sampai sekarang masih terlukis di wajahmu serta aura pelangi di matamu, dapat disimpulkan... you’re in love, my dear.” Kupukulkan buku, yang sedang kubawa, ke punggung Amira.
“Usil. Sudahlah, mulai kerja, deh.  Aku bawa banyak contoh barang dari kampung. Fresh dan newest, Lho.  Bahannya dari akar, bukan kayu.”  Amira langsung berubah sikap.  Sekarang dia tampak seperti seorang profesional yang tengah meneliti karat logam mulia. Satu per satu, hasil ukiran yang kubawa dari rumah, diamatinya dengan serius.
“Wah, ini keren, Win. Pas juga dengan yang diminta Miss Carren. Biar kuhubungi dia sekarang.  Rencananya dia mau pulang kampung seminggu lagi.  Ini akan jadi oleh-oleh yang berkesan untuk sanak saudara.”
“Jadi, tunggu apa lagi. Tapi kalau order banyak, tak bisa langsung dapat barangnya. Dikirim menyusul.”  Amira mengacungkan jempolnya. 
“Oh, iya.  Bantu aku pasang lukisan ini di ruanganku, ya, Mir.”
“Ya, ya... aku sangat mengerti.”  Amira mengerling nakal. Aku tak peduli.


be continued ....

Selasa, 15 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 2)


“Jangan menghina, dong.  Asal kamu tahu, sampai sekarang, keris dan tombak milik leluhurku masih disimpan rapi sama mbah Putri.  Pada tangkai tombak dan keris ada lambang kerajaan Majapahit. Mbah Kakung juga memiliki semacam lencana yang hanya miliki oleh pasukan khusus kerajaan Majapahit. Itu bukti kalau beliau memiliki hubungan cukup erat dengan Majapahit.  Yach, istilah kerennya, masih trah darah biru, begitu.”  Ujarku dengan nada serius.
Sebenarnya aku menahan geli saat mengeluarkan kalimat-kalimat tak lazim itu. Kukatakan tak lazim karena aku memang tak pernah, sekalipun, mengungkapkan sesuatu berbau kebanggaan akan silsilah.  Tapi, lihat rekasi Amira mendengar kalimat terakhirku. Dia, dengan gerakan tiba-tiba, mendekatkan wajahnya, sangat dekat, hingga hidungnya menempel ke hidungku.  Tanpa kusadari dia mengambil pin di laci mejanya dan secepat kilat menusukkannya ke lenganku.
“Awww….”
Belum sempat aku protes, Amira dengan sigap menekan bekas tusukannya lalu menjentikkan jarinya untuk mengambil setetes darahku.
“Hm, warnanya merah.  Apanya yang darah biru.  Baunya juga sama dengan darah rakyat jelata sepertiku. Amis khas darah.”  Tanpa rasa bersalah Amira mendelik ke arahku.
“Apanya yang darah biru? Bukannya, kata ustadz Yasin, semua manusia sama derajatnya di mata Allah? Yang membedakan adalah iman dan amal baiknya saja? Ih, kenapa kali ini aku berada di pihak ustadz Yasin?”  Amira menggaruk-garuk kepalanya.  Aku berpartisipasi dengan ikut mengacak-acak rambutnya, menetralisir suasana.
Oi, ini kepala, Neng, dikira kucingmu apa?  Enak saja main acak-acak.”  Aku tertawa.
“Kamu kalau sudah bicara seperti lokomotif kereta api batu bara.  Sampai berasap-asap.  Jangan buat polusi di kantorku, ya.”
“Tadi mengaku berdarah biru, sekarang main ancam.  Akhir-akhir ini kamu jadi tak jelas kalau bicara.  Sudahlah, jangan risaukan komentar orang tentang statusmu sekarang.  Lihat aku. Bak anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.  Hasilnya? Lihatlah auraku yang selalu tampak indah.” Amira mengerjab-kerjabkan matanya. Aku mencibir.
“Tapi katamu kita beda prinsip hidup?”
“Hanya untuk satu hal, tentang menikah atau tidak menikah.”  sahut Amira. “Tapi, Win, biarpun untuk satu hal ini kita beda prinsip, tak ada salahnya, kan, kalau untuk sementara kamu ikut prinsipku?  Apa gunanya kamu risau sepanjang waktu.  Yang ada, wajahmu akan cepat berkerut, rambutmu lama-lama rontok karena stress.  Alhasil, kamu bukannya cepat bertemu jodoh, tapi makin susah dapat pasangan.  Siapa yang mau dengan perempuan botak dan penuh kerutan?”  Amira tampak serius.  Mimiknya yang lucu di saat seperti itu membuatku tak bisa menahan tawa.
“Sudahlah, sakit perutku karena banyak  tertawa.  Tema obrolan kita minggu ini tak jauh dari masalah jodoh dan perawan tua.  Senin besok kita ganti tema, ya?” Ujarku berkelakar.
“Boleh.  Bagaimana kalau tentang UMR dan kenaikan gaji?” Amira menyahut dengan bersemangat. Mukaku langsung berubah warna.  Ini masalah sensitif. Sangat cepat proses aksi reaksinya.
“Hm, tema yang menarik. Jangan lupa tentang loyalitas dan peningkatan prestasi kerja, ya?”  Sahutku.  Amira melengos.
“Bos tak pernah salah.  Pasal satu ayat satu Undang-Undang Ketenaga-kerjaan versi Winda Tri Astuti, SH.”  Ujarnya sambil berlalu. Huh, pasti ke kantin. Asal kebanyakan bicara, perutnya ikut-ikutan bicara, minta segera diisi.  Dengan nasi, harus dengan nasi!
“Ih, karyawan tak punya sopan santun.  Meninggalkan ruang rapat tanpa permisi.  Potong sepuluh persen gaji bulan ini!” Amira mengibaskan tangannya, tak peduli kata-kataku.  Aku berlari menyusulnya.
Senin pagi. Semangat!
“Win, ada kartu ucapan selamat hari jadimu, tuh.  Kuletakkan di mejamu.”  Hm, tumben gadis cerewet ini datang lebih cepat dariku.
“Assalamu’alaikum.”  Sapaku menyahut kata-katanya sambil terus berjalan menuju ruanganku.
“Alaikum salam.” Jawab Amira, singkat, padat, dan lugas.
“Selamat, ya, akhirnya kamu bisa menaklukkan waktu dengan datang lebih cepat!”  Aku melongokkan kepala dari pintu ruangan.  Amira memonyongkan mulutnya.
“Serba salah.  Datang terlambat salah, datang cepat salah juga.” Gerutunya.
Sepertinya ada yang sedang mengeluh.”  Sahutku. Kuambil selembar kartu pos di atas mejaku. Wah, gaya pergaulan akhir tahun 80-an.  Berkirim atensi dan simpati melalui jasa pos.
Happy birthday, Winda. Semoga bertambahnya usiamu diiringi dengan bertambahnya berkah untukmu.”  Amin, sambutku dalam hati.  Dari siapa, nih? Hm, Rahardjo!  Siapa, ya? Segera kubuka laptopku, mencari data teman-teman lamaku.  Cara dan gaya dia menyampaikan ucapan membuatku yakin, dia salah satu teman SMAku.  Tapi kenapa tak ada nama Rahardjo?  Kalau Soekaryo ada.  Teman satu kelas. Si Kribo peternak kutu.  Dia marah kalau dipanggil Karyo, Ndeso, katanya.  Demi terlihat lebih keren, dia sering menuliskan namanya “Soe K. Rio”, panggilannya RIO.  Di antara semua teman sekelas, hanya aku yang mampu membuatnya bahagia karena paling tulus memangilnya dengan panggilan Bung Rio.  Panggilan keren seperti pada masa perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir.  Aku tersenyum geli mengingat semua itu.
Tapi, masa iya Rahardjo sama dengan Soekaryo?  Dieja dari arah mana pun tak menunjukkan indikasi kesamaan tulisan, bacaan, dan arti
Belum hilang rasa penasaranku, suara Amira yang melengking terdengar memenuhi ruangan kantor kami yang hanya berukuran 10 x 10 meter.  Sekedar informasi, kantor kami ada dua tingkat.  Ruangan bagian atas berfungsi sebagai gudang dan ruang presentasi. Sedangkan ruang bagian bawah untuk ruang tamu, ruang display contoh souvenir, dan ruang khusus direktris, yaitu aku, bersama site-manager merangkap sekretarisku, Amira.
“Win, cepat ke sini. Sepertinya kamu punya fans gelap, deh!”  Aku berlari keluar. Begitu melihatku, Amira mengacung-acungkan seikat mawar merah, kuning dan pink.
“Rahardjo lagi.”
“Wah, ada juga yang naksir kamu.  Semoga kali ini kamu beruntung.”
“Memangnya ikut lotre.” Kami bergandengan tangan, dengan mesra, memasuki kantor. Sesekali aku membalas senyuman beberapa orang yang kukenal di area perkantoran kami. Wah, dipikir-pikir, meski pun tak punya satupun pacar, aku banyak teman juga di sini.  Betul juga kata Amira.  Kenapa harus risau tentang usia.  Kenapa harus pusing memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Dipikirkan atau tidak, kalau belum saatnya, sudah pasti tak akan tiba. Janjiku dalam hati, mulai hari ini, hidupku harus kembali ceria dan penuh warna
Sebulan berlalu. Sesuai janjiku pada orangtuaku, yang dengan rela melepaskanku untuk menjemput riski di kota lain, setiap akhir bulan aku wajib menengok mereka.  Aku tak pernah merasa keberatan.  Toh, tak sampai tiga jam perjalanan. 
Tapi entah kenapa hari ini aku merasa sedikit enggan.  Bukan karena tak ingin berjumpa Bapak dan Ibu. Kata Bapak, tadi padi, melalui telepon, Mbah Putri sedang ada di rumah kami. Wah, alamat bakal sakit kepalaku.  Mbah Putri cuma tertarik satu topik pembicaraan jika bertemu denganku. RUWATAN.
“Pulang hari ini, Win?” Amira melongok dari balik pintu.
“Iya, jadwal pulang.”
“Nampaknya tak bersemangat?”
“Ada Mbah Putri di rumah.  Jadi kurang bersemangat mau pulang.”
“Hih, cucu tak berperikemanusiaan. Harusnya kamu bersyukur, masih punya mbah. Banyak yang bahkan tak lagi bisa menikmati kasih sayang orangtua.”
“Iya-iya.  Tak bersemangat bukan berarti tak jadi pulang, kan?
“Kalau begitu, cepat berkemaslah. Kok masih juga sibuk kerja.”
Lho, ini gara-gara kamu juga, kan? Siapa suruh promosikan cover Qur’an hand made? Padahal ini kubuat khusus untuk Ibu...”
Lho, kan bagus, ternyata karyamu banyak diminati?”
“Benar, tapi tak tepat waktu, Sayang.  Kan, kamu tahu hari ini jadwalku pulang? Tak tepat sasaran juga karena kamu promosi sama teh Dian, yang selalu grasa-grusu, maunya semua cepat beres.  Memangnya makanan siap saji.”  Aku sedikit mengeluh.  Pasalnya, mataku tak bisa diajak kompromi untuk jalan di malam hari, kabur dan silau oleh cahaya lampu.
Sorry, dech.   Biar kubilang sama teh Dian untuk menunggu sampai minggu depan.  Gampang, tuh.”  Amira membantuku mengemasi perangkat membuat asesoris yang terserak di mejaku.  Aku segera berkemas.  Karena berencana pulang, semua barang yang akan kubawa sudah kupersiapkan, tak perlu kembali ke rumah.
“Win, bareng pulangnya, ya?”
“Bareng?  Itu ngantar namanya, arahnya saja berbeda.”  Amira nyengir.
“Malas jalan sendiri.”
“Iyalah, sekalian ada sesuatu untuk ibumu.”
“Tumben, baik.”
“Enak, saja. Kata ibumu juga, aku lebih seperti anaknya dibanding kamu.”  Amira tertawa. Setelah memastikan semua beres, sambil bercanda kami menuju tempat parkir. Sudah sepi.  Maklum, akhir pekan, hampir semua kantor hanya buka setengah hari.  Kecuali kantor kami, milik jomblowers.
“Salam untuk Mbah Putri, ya? Kasih kabar kalau jadi ruwatan.” Ledek Amira.  Aku tersenyum kecut, membayangkan pertemuanku nanti dengan Mbah Putri.  Hm, dua setengah jam seolah terasa lebih cepat dari waktuku untuk mandi. Padahal aku belum siap bertemu Mbah Putri. Nah, kan.  Mbah Putri sedang duduk-duduk di teras. Matanya tak lepas menatap ke pagar depan, pasti menungguku. Lihat saja, begitu melihat mobilku, Mbah Putri tergopop-gopoh menyambut.  Tapih[vii],  yang membelit kakinya membuatnya kesulitan berjalan.  Aku segera turun meskipun mobil masih di luar pagar.  Minta tolong adikku saja untuk memasukkannya.
Sugeng[viii], Mbah?”  aku mencium tangannya yang keriput.  Mbah Putri tertawa menampakkan giginya yang masih utuh berbaris rapi, meskipun warnanya semburat merah karena daun sirih. Bukan gigi palsu, lho. Kapur yang dikunyahnya bersama pinang dan daun sirih membuat gigi Mbah Putri kuat dan sehat.
“Sehat...mbah sehat. Hm, cucuku sing ayu.”  Sahutnya sambil memijit-mijit lenganku.  Aku membimbing Mbah Putri ke dalam rumah.  Hari mulai larut malam.
“Ini untuk Mbah Putri.”  Kuulurkan sebuah tempat nginang[ix] dari tembaga.  Mata Mbah Putri berbinar-binar.
“Wah, ini pernah mbah lihat di museum bung Karno.  Kok mirip, ya?”  aku tertawa.
“Karena Winda tahu Mbah Putri suka, Winda pesan ke pengrajin tembaga, khusus untuk Mbah Putri tersayang....” Mata Mbah Putri berkaca-kaca.  Tangannya mengusap-usap bahuku.
“Dan ini untuk ibu.”  Ibu yang baru muncul sambil membawa segelas teh manis hangat segera menyambut bungkusan yang kuulurkan.  Dengan bersemangat ibu membuka bungkusannya.
“Wah, baju kurung berhias mutiara... bagusnya... pasti mahal.”  Ibu menatapku. “Jangan boros-boros, kamu harusnya lebih memperhatikan masa depanmu.  Kelak kamu butuh biaya yang banyak, untuk pernikahanmu, rumah tanggamu....” Aku tertawa untuk menghindari pembicaraan yang bakal membuatku tersudut ke dunia abu-abu.
“Baju itu Winda dapat cuma-cuma dari pelanggan Winda.  Beliau punya butik...  dan, kata beliau, itu khusus untuk Ibu.”  Ibu mengangguk-angguk.  Setelah membagi oleh-oleh untuk semua isi rumah, termasuk sandal anti sakit ginjal untuk Bapak dan perangkat ukir untuk adikku, serta bersenda gurau bersama, aku segera masuk ke kamarku, istirahat.  Besok tak bisa lagi kutebak apa yang bakal terjadi.  Jadi aku harus siapkan fisik dan mentalku.
Terima kasih, Tuhan.  Pagi yang cerah.  Benar-benar cerah karena tak ada tanda-tanda Mbah Putri akan membicarakan tentang ruwatan denganku.
Aku selalu menikmasti suasana desa yang asri.  Hamparan sawah di seberang jalan depan rumah kami, tampak menghijau oleh suburnya padi yang sedang masa pertumbuhan vegetatif.  Cicit burung pipit menyelingi nyanyian kodok yang tak sadar matahari mulai meninggi.  Mungkin karena tinggalnya dalam lobang, kodok itu tak tahu hari telah lewat seperempat pagi.  Hembusan angin menyempurnakan suasana indah pagi. Hmmm...
“Mbak, lihat hasil ukiranku.”  Aku menoleh.  Dodo, si bungsu, membawa sebuah ukiran berbentuk kuda poni.  Kuamati hasil ukirannya.
“Bagus.... ini sangat bagus.  Kalau bisa stabil seperti ini hasil ukirannya, bisa dipajang di toko Mbak.  Buat saja yang ukurannya mini, khusus untuk souvenir pesta.”  Dodo tersenyum lebar. Dodo... adikku yang phobia sekolah. Lulus SMU saja membuatnya girang bukan kepalang.  Dia sampai sujud syukur berlama-lama, sambil mengulang-ulang kata yang sama, “Alhamdulillah, usailah sudah tugas belajarku.” 
Aku senang dia menemukan bakatnya.  Ini jauh lebih baik daripada dia mengukir ranjang dan kursi jati milik ibu yang sebenarnya sudah berupa ukiran indah. Gerak reflek tanganku, nih, katanya membela diri.  Lalu dengan uang gajiku, saat itu, aku membelikannya alat ukir murahan dan beberapa potong papan kayu jati.  Dia pun mulai belajar membuat relief.  Ternyata hasilnya luar biasa, hingga pernah menjuarai lomba ukir patung dan relief tingkat kabupaten.  Jelas suatu kebanggaan bisa menjadi juara mengukir di sebuah kota penghasil ukiran.
Oya?  Kalau begitu, seluruh hasil ukiran kelompok ukir kami bisa juga, kan, ikut dipasarkan?
Lho, kenapa tidak?”  Dodo mengacungkan jempol. Aku tersenyum senang.
“Nanti siang ikut Dodo ke rumah kawan Dodo, ya?”
“Jauh?”
Nggak. Dia kawan sekaligus guru ukir Dodo. Dia hebat, lho.”
“Boleh.  Setelah makan siang, ya.  Tapi tak bisa lama.  Mbak harus siap-siap kembali nanti sore.” 
“Beres.”
Ya, daripada diajak bicara tentang ruwatan, bagus ikut adikku ke rumah kawannya.  Tapi aneh, juga, ya?  Tumben Mbah Putri tak secerewet beberapa bulan lalu.  Kalem-kalem saja.  Sedikit pun tak menyinggung soal usiaku, jodohku, lebih-lebih tentang ruwatan.  Wah, perubahan yang menyenangkan, sekaligus mengherankan.
“Bu, kami keluar sebentar, ya....” 
“Kemana? Nanti sore kamu sudah kembali ke kota. Ibu dan Bapak belum sempat ngobrol  lama sama kamu....”
“Sebentar, kok, Bu.  Ke rumah teman Dodo, lihat ukiran.”
“Ya, sudahlah. Jangan lewat waktu ashar, ya, pulangnya.” Aku mengangguk.  Dodo sudah menunggu di mobil.
“Nah, gini, dong, nyetirnya. Jangan seperti naik rodeo.”  Dodo menyeringai.
“Mbak Winda pasti akan menyukainya.”
“Asal berbau souvenir, Mbak, kan, selalu suka. Lebih-lebih kalau bahan bakunya mudah didapat dan murah, atau barang-barang bekas.”
“Mbak, nih, seperti mesin daur ulang saja.”  Dodo tertawa.  Aku tersenyum simpul.
“Rupanya dia benar-benar ahli?”
“Kubilang, Mbak pasti akan menyukainya.”
“Mbak bilang, asal berupa hasta karya yang kreatif, Mbak pasti suka.”  Dodo tersenyum simpul.
“Lokasi rumahnya lebih kampung dari rumah kita, ya?”
“Begitulah. Melewati rawa dan air terjun.”
“Seram.”
Ngga, juga.”  Dan benar kata Dodo. Rawanya memang agak mistis. Lumpurnya mengeluarkan bau amis.  Tapi, air terjunnya sangat indah. Guyuran air yang deras membawa hawa segar dan sejuk, atau dingin tepatnya.              
“Satu belokan lagi.”  Aku menoleh ke arah Dodo, sekilas. Lalu kembali menatap lurus ke tempat tujuan kami.  Di ujung jalan, yang ditunjuk Dodo, tampak sebuah bangunan joglo tulen. Masih asli tanpa sedikit pun kontaminasi adat budaya lain.  Halaman joglo yang luas itu tertutup hamparan rumput jepang. Di samping bangunan utama, terdapat sebuah bangunan berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa. Kesannya seperti rumah-rumah di pedalaman.  Dodo memarkir mobil di bawah pohon rambutan, yang kuperkirakan usianya hampir setengah abad.  Dengan langkah pelan, kami menuju rumah berdinding anyaman bambu.


be continued ....