Rabu, 27 Juni 2012

Puan Raisya


 
            Benar. 
Menunggu masih juga menjadi hal yang paling menyebalkan. Sedari tadi leherku tak henti bergerak, melongok ke kanan dan ke kiri, mendongak lalu menunduk. Angin yang tak bosan meniup daun-daun Kamboja pun semakin riang mengiringi gerakan leherku. Dan yang melengkapi kekesalanku adalah, dia tak sadar sedang kutunggu.
            Ya, benar.
            Aku menunggu seorang gadis penjaja bolu kembojo keliling. Menjelang sore, saat bayang-bayang mencapai dua kali lipat tinggi asliku, dia akan lewat.  Lalu berhenti di bawah pohon Kamboja untuk beristirahat.
            Biasanya aku tak sampai harus menunggu di bawah Kamboja ini. Aku menunggunya di kamarku.  Sambil duduk menerawang jendela.  Jika sudah tampak bayangannya, baru aku bersuit dan meneriakkan kata yang sama “Kembojoooooo, tunggu aku!”  dan gadis manis itu akan berhenti.  Duduk di bangku bambu, yang sekarang kududuki, sambil berkipas.
            Tapi kenapa hari ini dia tak muncul? Dan kenapa aku harus merasa khawatir?
            Aha! Itu dia.  Wah, kenapa jalannya terseok-seok?  Sedang sakitkah?  Tanpa sadar aku berlari menyambutnya.
            “Hei, kau tak apa-apa?”
            Dia tersenyum santun.
            “Sini, biar kubantu membawa nampanmu.”
“Tidak usah, terima kasih.”
“Oh, kakimu berdarah.”
“Tak apa, jangan sentuh.”  Kuurungkan niatku untuk melihat keadaan kakinya yang terluka. “Tadi aku kurang hati-hati, terpeleset di parit dekat simpang.  Tapi hanya luka sedikit.  Tak apa.”
Aku menatapnya dalam.  Gadis ini masih sangat muda.  Kutaksir seusia adik perempuanku yang kini duduk di bangku kelas 9 SMU.
“Boleh tahu namamu?”  Pertanyaan itu keluar tanpa bisa kucegah.  Dia menatapku sekilas lalu sibuk merapikan bolu kembojonya.
“Puan.  Puan Raisya.”
“Nama yang cantik. Kamu masih punya keluarga?”  Wajahnya yang manis itu memucat.
“Baiklah. Aku tak akan bertanya lagi.”  Dia tersenyum.
“Karena Abang pelanggan setia saya,  baiklah saya akan cerita sedikit.”  Aku menatapnya sekali lagi dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. 
Puan cantik nan malang.  Bencana tanah longsor delapan tahun yang lalu merenggut belaian lembut sang Bunda untuk selamanya.  Juga merampas senyuman lebar sang Ayah, yang dulu selalu menyertai langkah kakinya menuju padang ilmu, dua tahun berikutnya. 
Sejenak Puan terpaku.  “saat itu saya belum lagi genap 10 tahun.  Baru kelas 5 sekolah dasar.”  Suaranya bergetar.  Kulihat dia menggigil.
“Seperti mimpi buruk, saya selalu teringat saat Bunda berjuang keras menarik saya dari himpitan atap rumbai akibat tanah longsor yang tiba-tiba menimpa rumah, tak lama setelah adzan Subuh.  Teringat saat Bunda tanpa lelah mengais tanah dengan sebuah centong nasi dengan gerakan yang sangat cepat, seperti gerakan kincir air yang menjadi sumber listrik di kampung kami, seolah berpacu dengan laju tanah yang terus merosot setiap kali Bunda mengaisnya.  Ya, saat itu Bunda sedang menanak nasi untuk sarapan. Air mata Bunda mengalir tiada henti seiring dengan rintik hujan yang membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi teriakan tetangga yang rumahnya ikut tertimpa tanah longsor.  Bunda seperti memiliki kekuatan maha dahsyat hingga akhirnya berhasil mengeluarkan saya dari timbunan tanah.  Lalu memanggul badan saya yang lunglai sambil mondar-mandir mencari tempat dirasa yang aman.
“Saya tak pernah bisa melupakan semua itu.”  Puan tertunduk. 
“Lalu Bunda kembali mengais-ngais tanah mencari adik yang tadi masih lelap.  Si Bungsu yang baru 3 tahun.”  Puan menangis tanpa suara, setetes demi setetes airmata mengalir di pipinya.  “Saya benar-benar takut saat itu, membayangkan tubuh mungil adik tertimbun tanah.  Terkubur hidup-hidup.”
“Tapi Allah Maha Kuasa.  Sekali lagi Bunda berhasil menemukan adik. Beruntung, lemari baju tumbang dan tertahan dinding sehingga tubuh Azriel, adik saya, terhindar dari timbunan tanah.” 
“Saat itu saya hanya bisa melihat Bunda terseok-seok menggendong Azriel.  Bunda mendekap tubuh kotor Azriel yang penuh darah. Lalu Bunda membaringkan tubuh Azriel di samping saya.  Tak banyak yang bisa saya lakukan saat itu, hanya mampu menggerakkan bola mata.  Benar-benar tak berdaya. Bahkan untuk mencegah Bunda agar tidak kembali mencoba masuk ke dalam rumah.” 
Puan menghela nafas dalam. “Ijazah dan surat-surat penting Ayahmu, Nak...” begitu kata Bunda. Bibirnya bergetar dan membiru.
“Lalu tiba-tiba terdengar gemuruh.  Longsoran tanah semakin kuat.  Saya bersusah payah mencoba menggerakkan badan, menelungkup mendekap Azriel, berusaha melindunginya.  Lalu tak ingat apa-apa.”
Badanku gemetar dan berkeringat mendengar cerita Puan.  Mulutku terkunci rapat.  Aku kehilangan kata-kata untuk sekedar membesarkan hatinya.
“Saya tak bisa melupakan wajah pias Ayah.  Saat tersadar dari pingsan, yang entah berapa lama, ternyata saya sudah berbaring di sebuah klinik. Banyak balutan perban di badan saya.”  Puan menghela nafas.  Terdengar sangat berat. “Belum pernah saya melihat guratan kesedihan yang sedemikian tajam di wajah keras ayah.  Beliau orang yang kuat.  Tapi, yang saya lihat saat itu adalah seorang laki-laki rapuh yang tak beda dengan serumpun ilalang.  Lemah, serasa mau tumbang tapi tetap bertahan.” 
“Saat itu Ayah hanya mampu berkata lirih “Bunda sudah pergi ....” 
Puan menunduk. “suara Ayah memang nyaris tak terdengar, tapi bagi saya seperti sambaran kilat yang menimbulkan sengatan api, membuat sekujur tubuh saya serasa terbakar. Tapi tak membuat saya ingin berteriak.”
“Saat jenazah Bunda ditemukan, tangannya menggenggam kuat-kuat sebuah bungkusan ....”  Puan menatap lurus. “Isinya buku rapor sekolah saya yang belum sempat di kembalikan, ijazah Ayah, beberapa lembar foto keluarga yang kami buat saat Raya setahun sebelumnya.”
“Oh, tidak.”  Aku menggenggam jemari Puan yang mendingin. “Kau tak perlu melanjutkan ceritamu.”
“Tak apa.  Ini baru cerita sedihnya.”  Puan tersenyum.  Aku ikut tersenyum.  Ingin segera mendengar akhir cerita yang indah.
“Ternyata cobaan untuk kami tak berhenti sampai di situ.  Dua tahun berikutnya, Ayah menyusul Bunda.”
  “Saya tak akan pernah bisa lupa.  Saat saya tengah serius menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah, tiba-tiba guru kelas saya meminta saya untuk mengemasi semua peralatan sekolah. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut beliau.  Beliau hanya memeluk bahu saya dan mengantar saya pulang.  Di rumah, sudah banyak tetangga yang berkerumun, di dalam dan di luar ruangan.”
“Ibu...?”  Bu Jusnilla yang cantik merengkuh dan memeluk saya erat.
“Ayahmu, Sayang.  Jangan sedih, Ibu akan selalu bersamamu.”
“Oh, tidak.  Bagaimana Saya bisa melupakannya?  Becak motor ayah dihantam Fuso yang melaju kencang menuju luar kota.  Muatan kayu gelondong yang berhamburan semakin meremukkan tubuh ayah bersama becak motornya.  Ayah ... ayah ...!”
“Dua orang yang saya kasihi harus pergi dengan cara yang tragis.  Lantaran tanah longsor dan timbunan kayu hutan.  Pembalakan liar sungguh begitu kejam merenggut mereka.”
“Pembalakan liar?”
“Ya, apa lagi?”  mata Puan berkilat-kilat. “Karena pembalakan hutan jadi gundul, tanah jadi rapuh dan mudah longsor.  Karena pembalakan liar kayu-kayu gelondong tak berizin resmi itu dilarikan oleh Fuso ke luar kota.  Kejaran aparat membuat sopir kesetanan.  Dan Ayah jadi korban ....”
“Ah, Puan ....”
“Tapi Tuhan Maha Adil, Bang.”  Puan tersenyum. “Di balik semua musibah selalu ada hikmah.  Kalau bukan karena musibah itu, saya tak akan bisa membuat bole kembojo seenak ini.”  Aku tertawa.
“Yakin sekali kembojo buatanmu enak.”
“Iya lah ... Abang saja hampir tiap sore menunggu kembojo saya, kan?”  Aku tertawa.
“Jadi bagaimana kamu bisa membuat kembojo seenak ini?”
“Semua itu berkat kebaikan hati Bu Jusnilla, guru kelas saya.  Kebetulan beliau punya usaha rumahan, membuat aneka kue khas Riau.  Dari sekian banyak kue dan kerupuk, saya hanya bisa membuat kembojo.  Aneh, kan?”  aku tertawa.
“Dan ternyata inilah jalan saya untuk mendapatkan rizki-Nya.  Dengan bolu kembojo, saya bisa menyekolahkan adik.  Sekarang dia kelas tiga SMP.”  Nada suara Puan terdengar sangat bangga.  Aku tersenyum menatapnya.
“Dan bolu ini menjadi beda rasanya, karena saya panggang di atas bara briket.  Briket arang cangkang kelapa sawit buatan adik saya, Azriel.”  Mata Puan berbina-binar. “Dia sangat gagah dan hebat.  Ayah dan Bunda pasti bangga dengannya.”
“Dan juga sangat bangga denganmu, Puan.  Kamu sangat hebat.  Baiklah, mana bolu kembojo untukku?  Hari menjelang petang, tentu kamu ingin segera pulang.”
“Ah, iya.  Kali ini Abang saya kasih gratis.  Tapi besok belinya harus dobel.”  Aku tertawa.
“Aku tunggu besok sore.  Jangan terlambat lagi.”  Puan tertawa menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi. “Hati-hati, sampaikan salamku untuk Azriel.” 
Lagi-lagi Puan tertawa. Lalu berlalu, tanpa menoleh lagi. Padahal aku masih ingin menatapnya.  Gadis manis itu melangkah terpincang-pincang. 
Hmmm, besok aku akan menunggumu, lagi.

Jumat, 01 Juni 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 4)



“Jadi, apa kabar Rahardjo?”
“Iya, ya? Karena tak kurespon, dia menghilang begitu saja.  Lagian, bagaimana mau merespon, semuanya serba kaleng. Surat kaleng, kartu pos kaleng, bunga kaleng. Cuma nama tanpa alamat.”  Amira tertawa melihat ekspresiku.
“Setidaknya, aku bisa mengucapkan terima kasih atas semua kiriman dan simpatinya.”
“Lalu, kabar mbah Putri?”  aku terdiam sesaat.
“Kalau sampai sehari sebelum bulan depan aku tak ada tanda-tanda punya gandengan, Mir, positif diruwat, deh.”  Amira mengusap-usap punggungku.
Poor Winda. Tapi, aku iri sama kamu, Win.  Apa pun itu, setidaknya banyak yang perhatian denganmu. Mengupayakan ini itu untuk kebaikanmu.”
“Ya, alhamdulillah atas semua perhatian mereka.  Hanya saja, ritual yang berbau sesaji dan kemenyan, sangat menggangguku.”
“Kalau begitu, berdoalah agar segera bertemu jodohmu sebelum ruwatan.” Ya, kali ini Amira benar.  Aku akan sungguh-sungguh meminta padaNya, agar dijauhkan dari acara ruwatan bulan depan, dengan caraNya.
“Lusa, Tri, si pelukis, akan singgah. Aku sudah wanti-wanti[xiv] agar dia membawa contoh barang yang lain.”
“Benarkah? Aku juga mau dibuatkan lukisan. Biar kupajang di ruang tamu, bukan di kamar mandi seperti yang sekarang.”
“Manfaatkanlah momen singkat itu.”
“Demikian juga untukmu.”
“Maksudmu?”
“Ya, tadi, untuk menghindarkan diri dari ruwatan....” Amira terkikik-kikik.
“Sembarangan....” Amira malah semakin terbahak. Kudorong tubuhnya hingga keluar dari ruanganku dan segera kukunci pintu. 
Sambil bersandar di pintu, kupandangi lukisan buatan Tri. Cantik sekali perempuan itu.  Apa aku secantik itu? Lihatlah matanya yang bulat dengan hiasan bulu mata asli nan lentik, tanpa tambahan bulu mata anti badai katrina dan tsunami, tampak jernih bagaikan tetesan embun pagi. Secercah titik air di ujung bulu mata diberi kilat warna perak sehingga tampak hidup. Ini benar-benar karya luar biasa untukku. Pertama, karena ini lukisan diriku yang pertama.  Kedua, keindahan hasil lukisannya jauh melebihi obyek aslinya.  Coba hasilnya seperti lukisan diri Amira, tentu bukan dalam ruanganku tempatnya, tapi di toilet atau gudang, untuk mengusir tikus dan kecoa.  Aku sekarang bisa berempati dengan derita Amira dengan lukisan dirinya.
“Ih, tega sekali kamu pajang lukisan mahal itu di dekat pintu kamar mandi.” Protesku.
“Masih bagus kuletakkan di dekat pintu.  Tadinya malah akan kupajang di dalamnya sekalian.  Atau kalau perlu untuk menutup pintu kandang ayam mang Udi. Mahal-mahal aku membayar, hasilnya mirip gondoruwo.”
“Jangan menghina pelukisnya, dong, lihat obyeknya juga....”  Ujarku menenangkan.  Amira malah ngamuk-ngamuk.
Dan sekarang aku paham.  Sejelek apa pun kita, inginnya terlihat cantik dan indah.  Apalagi jika aslinya cantik, sudah tentu ingin hasil foto atau lukisannya secantik aslinya.  Jadi pantas jika Amira meradang.  Kuperhatikan sahabatku itu dari balik tirai ruanganku.  Tingkahnya terkadang tomboi, tapi lebih sering terlihat feminin. Dalam keadaan berantakan saja, seperti saat ini, duduk bersila dikursinya, entry data sambil mengunyah cemilan keripik jagung, rambut diikat ekor kuda dengan helaian rambut yang berjuntai, dia tampak cantik dan menarik.  Kenapa tak ada yang mau jadi pacarnya, ya?
Saat kami berjalan berdua, apalagi di tempat ramai seperti pusat-pusat perbelanjaan, bukan mau GR, bisa dipastikan banyak mata memandang kami.  Bukan hanya laki-laki. Dari tatap mata mereka, bisa kupastikan buka tatapan sinis, karena terpancar sinar kekaguman. He he.... jadi malu.  Tapi itu kenyataan.  Sangat nyata, senyata kami yang masih jomblo hingga saat ini.  Lama-lama aku merasa tak nyaman dengan tatapan mereka. Kagum tapi tak mau kenal.  Suka tapi tak mau mencoba lebih dekat.  Kenapa?  Padahal kami berjalan seperti orang lain berjalan.  Kami bercanda seperti cara orang lain bercanda.  Kami berdandan seperti kebanyakan.  Kami tak juga menggunakan asesoris yang mewah.  Justru seringkali bertema etnis.  Sekalian promosi.  Tapi kenapa seolah ada jarak antara kami dan mereka? Aku jadi malas pergi ke tempat-tempat ramai, karena membuatku merasa seperti boneka pajangan, meski pun tak ada apa pun yang terpajang di tubuhku.
“Lagi shooting, ya, Mbak?  Main di sinetron apa? Kok saya belum pernah melihatnya di televisi?” Seeorang ibu-ibu menyapa.  Kami tertawa. Dia mengira kami artis? Ya, ampun, secantik itukah kami?
“Belum tayang, Bu.  Menunggu waktu.”  Sahut Amira iseng.
“Wah, pasti seru.... ceritanya tentang apa, ya?”
“Hmm.... perempuan yang jomblo seumur hidup....”
“Waaah, kasihan sekali....  cantik-cantik jomblo seumur hidup.  Mendingan saya, dong, biar muka pas-pasan, tapi punya laki juga.”
Amira manyun dan mengajakku berlalu.
“Makanya jangan suka iseng. Ucapanmu adalah doamu.  Jangan-jangan, gara-gara kamu suka iseng, trus diaminkan malaikat, kita jadi harus menjomblo hingga kini....”
Aku menghela nafas.  Dadaku jadi sesak teringat semua itu.  Apa iya, itu salah satu faktor kami jauh dari jodoh?
“Spadaaa?  Halloo? Tengah hari gini termenung-menung.  Makan, yuk. Aku sudah masak nasi tadi.  Kan, kamu bawa bothok dan peyek.  Kita nikmati makanan kampung....”  aku tersenyum dan segera menyusul Amira ke dapur. 
Ya, kantor kami adalah rumah kedua kami.  Makanya didesain senyaman mungkin, dilengkapi dapur dengan interior yang keren, sumbangan dari seorang penggemar Amira.  Begitu kerennya, sampai-sampai kami tak tega mengotorinya dengan sering masak.  Alhasil, tetap saja kami sering makan di kantin daripada masak sendiri.
“Pemasukan bulan ini melampaui target, Lho....” kata Amira sambil menikmati bothok lamtoro.
“Jangan khawatir, ada insentifnya, tuh....”  Sahutku sambil meliriknya.
“Hmmm, bos yang penuh pengertian.”
“Terima kasih.”
“Padahal cuma petai cina.  Kok, bisa enak ya, Win?”  aku tertawa.
“Masalahnya bukan pada bahannya, Sayang.  Tapi cara memasaknya.  Bothok ini dimasak dengan penuh cinta.  Makanya, enak.”
“Kali ini kamu benar. Memasak memang harus dengan segenap cinta. Berarti sebesar bothok inilah cinta ibumu....”
“Jangan menghina.  Bukan sebesar bothoknya, tapi seenak rasanya!”
“Iya, deh.  Terima kasih, ya, mau membagi cinta ibumu denganku....”  Kuacak rambut Amira yang memang sudah acak-acakan.
“OK, bereskan, ya, setelah itu rapikan diri, karena akan ada tamu penting.”
“Baik, Bos! Ibu pejabat yang mau pesan hiasan dinding itu, kan?
“Iya, salah satunya.  Beliau banyak relasi, jadi kita harus berikan pelayanan yang terbaik, untuk menarik pelanggan berikutnya.”  Amira mengangguk-angguk.
Beginilah aktivitas kami sepanjang hari.  Santai tapi serius, serius tapi santai.  Bingung, kan?
Hmmm, bukan keinginan tapi sebuah naluri.  Alam bawah sadarku menuntunku untuk memperindah penampilanku hari ini.  Tri akan datang. Sebenarnya aku merasa tak peduli dan berulangkali berkata pada diri sendiri, aku tak peduli. Tapi kenapa aku ingin terlihat cantik saat bertemu dengannya nanti? Bahkan, jika biasanya aku menyempatkan diri duduk termenung selama lima menit saat baru terjaga, hari ini aku memaksa tubuhku untuk segera bangkit.
Entah sudah berapa baju kucoba.  Entah berapa asesoris kupadu-padankan dengan baju yang kupakai. Pada akhirnya aku menyerah.  Ini bukan aku.  Dan aku akan kembali seperti yang biasanya.  Karena aku merasa lebih nyaman berpenampilan sebagaimana biasa.  Aduh, nambah kerjaan saja.  Biarlah pulang kerja kurapikan kembali baju-baju yang berserakan di atas tempat tidur.  Aku tak ingin membuat Amira menolerir kebiasaannya terlambat kerja gara-gara aku sendiri datang terlambat. 
“Assalamu’alaikum, Bos.”
“Alaikumsalam....” 
“Tumben terlambat?”
“Bukan terlambat, tapi tepat saat jam masuk kerja.”
“Terserah, deh. Sepertinya kamarmu berantakan? Baju-baju berserakan?”  aku melotot.
“Enak, saja, menuduh sembarangan.”
“Kita, kan, sudah seperti satu bagian tubuh, Win. Asal mau bertemu seseorang yang spesial, seluruh isi lemarimu pasti terkuras habis.  Untunglah sekarang kita tak serumah, lolos dari kerjaan lembur aku.”  Mataku makin membesar.
“Sudah, tak usah malu-malu. Jadi, kenapa akhirnya pakai baju yang tak lebih dari biasa?” Amira mengamat-amati penampilanku.
“Karena, pada akhirnya, aku sadar. Biarpun dunia semakin edan, manusia waras masih memilih dengan hati, bukan dengan mata.”  Mulut Amira membulat.
“Sepertinya, kamu memang sedang jatuh cinta, Win. Aku berharap, kali ini kamu sukses.”
“Terima kasih.” Aku memilih mengikuti jalan berpikir Amira.  Daripada dia semakin panjang berkhotbah. Membuatku jadi lapar.
“Sarapan mie enak juga, ya, Mir?”
“Siap, Bos!”  Amira menghormat.  Aku tersenyum.  Duh, enaknya punya rekan kerja yang sehati dan sejiwa.
Tuhan, kali ini aku dibuat resah dan gelisah.  Entah kenapa jantungku terasa berdebar-debar tanpa bisa kucegah lagi.  Aku ingin semua wajar.  Aku ingin seperti Winda yang biasa.  Aku makin blingsatan melihat Amira yang tiap sebentar meledekku dengan lirikan dan senyum menyebalkan.
“Apa, sih?” gerutuku jengkel.  Lagian, aku bego juga.  Kenapa aku harus salah tingkah sepagi ini?  Perjalanan menuju tempat ini, kan, bisa sampai tiga jam.  Mana mungkin Tri nekat pergi sebelum subuh.  Mukaku terasa panas.
“Dooo, yang malu-ma...lu.” Tak menunggu sampai habis kalimat Amira, langsung kusambit dia dengan jepit kertas.  Heran, meledek saja hobinya. Masih ada waktu untuk menata perasaanku agar tak tampak norak.  Aku bukan remaja tujuh belas tahun yang baru pertama mengenal cinta.  Tapi kalau kuingat-ingat, saat belia, aku memang tak pernah sempat jatuh cinta dengan serius. Paling banter cuma rasa suka atau simpati.  Aku termasuk kutu buku yang hanya bisa tertarik dengan buku-buku pelajaran keluaran baru atau  koleksi komik bergambar, Detektif Conan. Conan dan Ran pun tak mengajariku untuk mencinta dengan cara yang romantis.  Yang ada, perasaan yang selalu tersembunyi.  Karena itu aku kurang pandai membuat orangt tertarik dan jatuh hati padaku.  Hei, mungkin ini penyebab aku jauh dari jodoh, ya?  Percuma, kan, paras cantik dan penampilan menarik kalau dianggap jutek dan tak punya aura “perempuan”.
“Mir, ajari aku untuk lebih feminin.”  Amira menatapku dalam.
“Salah orang. Aku tak lebih feminin dari kamu. Kenapa tiba-tiba....”
“Mungkin tak ada laki-laki yang mau sama aku karena sikapku yang tak ada feminin-femininnya.  Mereka melihat aku seperti manusia yang tak perlu siapa-siapa.  Bahkan, saat ban kempes di tengah perjalanan, jauh dari bengkel, aku bisa menggantinya sendiri.”
“Tak perlu risau dengan keadaan kita.  Jadi diri sendiri lebih nyaman, kan?  Lagipula, tidak semua laki-laki suka perempuan yang feminin.  Banyak juga laki-laki yang suka perempuan kuat dan mandiri.” Amira menjetikkan jarinya di hidungku.
“Mencari cinta sejati, tidak dengan cara mengubah diri kita agar lebih disukai orang lain.  Jika laki-laki itu tertakdir sebagai jodoh dan cinta sejati kita, dia tak akan peduli dengan semua itu.  Dia pasti bisa menerima kita apa adanya.”  Aku mengangguk-angguk.
“Benar juga, ya. Lucu juga mencari alasan untuk sebuah takdir.  Bukankah takdir tertulis tanpa pakai alasan?  Kita terbiasa mencari sebab terjadinya sesuatu, kenapa nasibku begini dan orang lain begitu, padahal hal itu justru membuat semakin tersiksa dengan keadaan kita.” 
Kupeluk Amira kuat-kuat. “You’re my best soulmate!  Jikalau aku tertakdir tak berpasangan dengan laki-laki untuk meneruskan generasiku, asal bisa terus bersamamu, aku akan tenang.”  Amira menepuk-nepuk punggungku.
“Ya, ya. Tapi jangan lama-lama. Hilang aroma parfumku.” Kudorong tubuh Amira gemas.  Dasar, manusia satu ini!  Hmmm, jam sepuluh tepat.
“Adakah aku datang di saat yang tak tepat?”  Aku terperanjat, begitu juga Amira. Tri, dengan tampilannya yang semi formal, berdiri di dekat pintu ruanganku.  Dodo tampak ikut mengintip dari balik pungggungnya.
“Eh, eee... berapa lama kalian di situ?”  aku terbata-bata. 
“Yaa, cukup lama untuk ikut tersentuh dengan kekuatan persahabatan kalian berdua.”  Mukaku memerah.  Kulirik Amira yang masih saja terbengong-bengong di tempatnya berdiri.  Kusikut perutnya.  Tiba-tiba Amira mengulurkan tangannya ke arah Tri.
“Salam kenal, selamat datang.”  Tri tersenyum menyambut jabat tangan Amira.
“Ini sekretaris andalan Winda, ya?”  Eh, muka Amira tampak memerah.  Ooo, pertanda apakah ini? Dia tampak tersipu-sipu.  Tidak seperti Amira yang biasanya ceplas-ceplos dan cuek.
“Ya, sekretarisku yang gesit dan bisa kuandalkan di setiap saat.” Aku membantu Amira yang tampak kehilangan kata-kata.  Tri menatapku dengan sorot penuh senyum.  Hatiku berdesir halus.  Ih, apa-apaan, nih.
“Oya, ada titipan dari Ibu.”  Kata Dodo menyelamatkanku dari kehilangan kesadaran karena sihir senyum Tri.  Buru-buru kuikuti langkah Dodo menuju ruang tamu. 
“Biasa, peyek teri dan bothok lamtoro.  Yang kemarin sudah habis?”
“Ya, dalam sekejab.  Banyak penggemar bothok ibu.” 
“Win, aku cuma bawa satu contoh lukisan dari pelepah pisang.  Kalau hiasan dari bunga mahoni, aku bawa cukup banyak.”  Tiba-tiba Tri sudah berdiri di belakangku.  Lucunya, Amira mengekor di belakangnya, terdiam seribu bahasa.  Norak banget.
“Mir, tolong pesankan teh dingin di kantin, ya?” Amira menatapku seperti orang hilang ingatan.
“Mir!”
“Eh, iya... kopi dingin....”  aku tersenyum.
“Teh dingin, Sayang. Terima kasih, ya.”  Aku merasa Amira harus menghirup nafas segar di luar ruangan setelah dibuat sesak oleh aura Tri yang juga sempat membuatku hampir pingsan. 
Kalau dipikir-pikir, penampilan Tri hari ini memang sangat berbeda dengan saat pertama aku jumpa.  Rambutnya yang gondrong terikat rapi.  Kumis dan cambangnya pun rapi.  Belum lagi kostum semi formal yang dikenakannya.  Paduan jeans dan tuxedo warna biru pastel dengan lengan terlipat hingga siku.  Benar-benar pas dengan warna manik matanya yang menggunakan soft-lens warna senada.  Kalau sebelumnya aku dibuat terpesona oleh senyumnya yang ramah dan menawan, kali ini aku dibuat tak berkedip karena kepiawaiannya berdandan. Kind of metrosexual man.  Peduli fashion.  Aku jadi malu dengan tampilanku yang apa adanya.  Padahal Tri sudah memberikan tampilan yang luar biasa. Ih, kok aku jadi ke-GR-an, belum tentu Tri tampil keren untuk aku.
“Hari ini banyak kerjaan, Win?”  Suara Tri membuyarkan lamunanku.
Ngga, juga. Kenapa?  Oya, silakan duduk dulu.  Masa dari tadi berdiri saja.”  Tri mengangguk.  Dodo masih saja sibuk membongkar beberapa kardus.
“Biarlah, Do. Lagian, bongkarnya di atas saja, di tempat penyimpanan barang.”
“Jadi, karya seniku hanya untuk disimpan?”
“Bukan begitu. Yang dipajang juga cuma sampel. Yang lainnya disimpan biar tidak kotor dan rusak.” Aku tersenyum. “Jangan cemas, menyimpannya bukan dionggok begitu saja, tetap disusun dalam rak.”  Tri tampak lega.
“Syukurlah. Sebentar lagi jam makan siang. Kita jalan keluar sekalian makan siang, ya?” Tri menatapku berharap.  Aku menoleh ke arah Dodo.
“Aku bongkar barang dulu. Aku juga ingin lihat isi toko, mbak.”
“Aku bantu kamu, Do.”  Tiba-tiba Amira muncul dengan empat botol teh dingin.  Aku segera berdiri membantunya.
“Memangnya kalian gak ingin makan juga?”
“Bungkusin saja, deh.”  Dodo dan Amira menjawab serempak.  Ih, macam anak SD.
“Ya, sudahlah. Aku bukan guide yang bagus, tapi kalau cuma menunjukkan tempat makan yang enak dan nyaman, masih bisalah.”  Tri tersenyum.
Bermula dari makan siang. Entah kenapa, seolah tercipta sebuah tamna indah di salah satu sudut hatiku. Penuh warna dan aroma. Menghitung mundur hari-hari hingga mendekati bulan baru tak lagi membuatku risau. Kali ini, aku benar-benar lolos dari ancaman “ruwatan” mbah Putri.
“Win, akhir bulan ini kamu pulang, kan?”  suara Tri di seberang sana.
“Ya, kewajiban seorang anak....”
“Sekalian persiapkan acara untuk kita, ya.”
“Maksudnya?”
“Aku... dan kedua orangtuaku, berniat membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih pasti.”  Mataku berbinar-binar.  Aku mengangguk-angguk.
Kok, diam?”
“Eh, iya... aku mengangguk tadi. Kamu tentu tak melihatku mengangguk, ya?”  suara tawa Tri seperti semburan air telaga, sejuk. Amira mengitipku dari celah tirai jendela.
“Wah, gak¸jadi, dong, meliput acara ruwatan....” 
“Kamu, kan, juga tertarik prosesi pernikahan adat Jawa kuno.”
“Aku pasti akan merasa kehilangan kamu, Win.”  Ooo, kupeluk Amira yang menatapku sendu. “cepat sekali, baru kenal setengah bulan.”
“Ini mungkin yang disebut jodoh, Mir.  Tak tahu dengan siapa dan kapan tibanya.”
“Setelah bertemu Tri, entah kenapa prinsip hidupku mulai goyah,” suara Amira lirih, tapi terdengar sangat jelas di telingaku.
“Kamu... suka juga sama Tri?”
“Tentu suka.  Tapi bukan alasan untuk bersaing dengan sahabat tercintaku.”
“Sebelum janur kuning melengkung, masih persaingan bebas, Mir.”
“Menantang?”
“Kamu sendiri yang bilang, cinta tak bisa dipaksakan, tak bisa dialihkan, seenaknya.” Aku mengerling Amira. “kita bisa mencintai banyak hati, tapi cinta sejati hanya ada satu, kan, Mir?”  Amira mencibir.
“Kesimpulannya, Tri sudah terlanjur jatuh cinta padamu, dan tak mungkin berpaling padaku?”
“Salah satunya....” Aku mengerling Amira yang tampak penasaran dengan kalimatku yang menggantung.
“Terlalu percaya diri....”  aku tertawa.
“Ada yang belum kuperlihatkan padamu.”  Aku bergegas menuju lemariku. Kuambil sebuah pigura berukuran 50 cm x 90 cm dari rak paling atas.
“Ini, karya master piece Tri. Dia membuatnya setahun yang lalu.  Saat belum pernah bertemu denganku. Hanya melalui cerita adikku. Hanya dengan membayangkan wajahku. Ini bukan karya biasa, bukan? Ini karya seseorang yang sedang jatuh cinta!  Sebuah cinta tanpa syarat. Tak peduli apakah cintanya akan berbalas.”
Amira tak berkedip menatap lukisan diriku yang di bawa Tri saat berkunjung dua minggu yang lalu.  Lukisan yang dibuat dengan bahan pelepah pisang kering.
“Sempurna.  Seperti sebuah foto.”
“Kesimpulannya, sekali pun aku baru mengenalnya, aku tak akan ragukan perasaannya padaku.  Karena itu, aku yakin, dia tak akan goyah oleh godaan perempuan lain, termasuk dirimu....”  aku tersenyum.  Amira menatapku geli.
“Kamu....” Amira memelukku. “Aku bahagia, akhirnya berakhir juga hari-hari penantianmu akan cinta sejati.”
“Satu lagi. Kamu tahu nama panjang Tri?”  Amira melebarkan matanya menunggu jawaban pertanyaanku sendiri.
“Tri Angga Rahardjo!”
“Oooo, penggemar gelapmu!”  He he... aku terkekeh.  Seandainya aku tahu Rahardjo adalah Tri, tentu dari sebulan yang lalu aku tak perlu gundah gulana sepanjang waktu membayangkan mbah Putri tersenyum penuh kemenangan karena berhasil meruwat aku.
Hari-hari terasa berjalan lambat.  Aku sengaja tak memberi tahu orangtuaku tentang hubunganku dengan Tri.  Rencanaku, aku akan pulang tiga hari lebih cepat dan mempersiapkan acara penting itu, dengan tanganku sendiri.
“Aku ingin kamu dan ibumu ikut pulang bersamaku, Mir.”
“Ok.  Ini moment penting yang tak mungkin kulewatkan.”
Amira membuktikan partisipasi bahagianya dengan mencipta sebuah souvenir pernikahan, khusus untukku, handmade. Dengan sepenuh hati, sepanjang hari, saat senggang, dia sibuk menyelesaikan souvenirnya. Ada kerinduan akan celoteh dan cerewetnya. Aku pun tak boleh ikut membantu. Terima kasih atas sahabat sebaik Amira, ya Tuhan.
“Yup. Semua sudah beres. Tak ada yang tertinggal, kan, Bu?” Amira meneriaki ibunya yang ikut sibuk membereskan berbagai macam barang ke dalam mobil. Ibunya mengacungkan jempol, tanda semua OK. Aku tertawa melihat kekompakan ibu dan anak itu.
“Jadi orangtuamu belum tahu?”
“Kalau Dodo gak  keceplosan, ya mereka belum tahu.” 
“Wah, tentu mereka terkejut.”
“Lebih-lebih mbah Putri.”  Ha ha... Amira tertawa. Ibu Amira tampak meringkuk di bangku belakang.
“Ibu, kalau pusing, di depan, saja.  Guncangannya terlalu kuat di belakang, nanti Ibu mabuk.”  Ujarku sambil menatap Ibu Amira dari spion.
“Berhenti dulu, deh.”  Amira melompat ke jok belakang bertukar dengan ibunya. “bisa kualat kita membiarkan Ibu duduk di belakang.”
“Ibu tadi yang minta.  Rupanya ibu mual duduk di belakang.”
“Ya, tak apa.”  Perjalanan terasa sangat cepat.  Kami sudah sampai depan rumah. Wah, mbah Putri sedang sibuk menganyam janur untuk kembar mayang.  Loh, kok sudah buat kembar mayang?  Ih, si Dodo memang keterlaluan.
“Wah, sudah datang cucu nenek.”  Mbah Putri tergopoh-gopoh menyambut kami. Dodo yang baru muncul langsung jadi juru angkat barang.
“Buat kembar mayang untuk pernikahan siapa, Nek?”  tanya Amira.
“Bukan untuk menikah, ini untuk ruwatan. Ini bukan kembar mayang namanya. Hiasan janur kuning untuk di pasang di tempat pewayangan.” Ooo, ternyata untuk persiapan ruwatan.  Aku terlanjur menuduh Dodo sembarangan.
Lho, pakai acara wayangan?”
“Ya, iya, Nduk.”  Amira mengangguk-angguk.  Hebat sekali dia akting.  Aku segera meninggalkan mbah Putri dan Amira yang jadi ikut sibut membuat hiasan janur kuning.  Bapak dan ibuku tampak berbincang hangat dengan ibu Amira.
“Jangan cemaskan mbahmu.  Lagi pula, acara ruwatan, kan, gak menyalahi hukum. Ikuti saja mau mbahmu, agar beliau senang hati.” Aku mengangguk. Lusa, saat kusampaikan lamaran Tri, tentu Bapak dan Ibu akan kaget. Aku ingin berita ini menjadi kejutan untuk keluargaku persis di pagi hari saat akan diadakan acara ruwatan. Kejutan yang membahagiakan. Huff, jantung selalu berdebar membayangkan saat itu.
Dan kini, tibalah saatnya.  Nanti siang, setelah waktu Dhuhur, keluarga Tri akan datang melamarku. Semua persiapan untuk acara lamaran sudah kusiapkan diam-diam bersama Amira dan Ibunya. Mbah putriku tak kalah sibuk menyiapkan prosesi ruwatan besok malam. Hi hi... aku semakin berdebar. Tapi, aku juga masih menahan diri untuk menceritakan kabar gembiraku pada Bapak dan Ibu.
Dan hingga tengah hari, tak ada tanda-tanda kedatangan Tri. Tak ada telepon ataupun sms mengabarkan tentangnya. Aku minta Dodo untuk menghubunginya. Terhubung tapi tak ada yang mengangkat telepon.  Aku mulai cemas. Aku jadi ragu mengabarkan rencana indahku dengan Tri kepada orangtuaku.
Untuk menghilangkan perasaan gundah, aku memilih ikut duduk bersama Bapak menikmati acara berita siang di sebuah stasiun televisi.
Pemirsa, sekilas info, sekitar jam 10 pagi ini, terjadi tabrakan beruntun di sebuah jalan menuju kota Blitar.  Tabrakan beruntun terjadi setelah sebuah truk fuso berhenti mendadak karena menghindari sebuah bus dari arah berlawanan yang tiba-tiba melaju melewati batas jalan. Tabrakan ini mengakibatkan 3 korban meninggal dan 10 orang luka-luka. Salah satu korban meninggal yang sudah diketahui identitasnya adalah... Tri Angga Rahardjo, 29 tahun....”
Aku terpaku mendengar sekilas info tadi. Aku tak ingin percaya tapi Amira yang tiba-tiba memelukku dari belakang membuatku menjadi yakin, aku tak salah dengar. Aku tak tahu harus berkata apa.  Bapak yang melihat reaksiku mendengar berita itu tampak heran.
“Kamu mengenalnya?”  tebak seorang Bapak yang menyelami perasaan anak perempuan satu-satunya.
“Dia... calon menantu Bapak, yang rencananya akan datang siang ini....” sahutku nyaris tak terdengar. Amira semakin erat memelukku. Aku bisa merasakan tetesan air matanya di punggungku.  Air mata yang bahkan tak bisa keluar dari mataku.  Aku menoleh menatap mbah Putri yang masih tampak tekun dengan pernik-pernik untuk ruwatan besok malam.
“Anak yang terlahir seperti kamu, disebutnya sendang kaapit pancuran.  Banyak sialnya, kecuali diadakan prosesi ruwatan, untuk membuang sial. Ini bukan gugon tuhon[xv], tapi hasil pengamatan dari jaman para leluhur dahulu kala yang sering melihat anak terlahir sepertimu sering terhalang mendapatkan kebahagiaan.”
Kalimat demi kalimat yang pernah diucapkan mbah Putri tiba-tiba kembali terngiang di telingaku.  Aku tetap tak ingin percaya semua itu.  Meskipun kebahagian yang sudah di depan mata terenggut tiba-tiba oleh tabrakan beruntun yang membawa Tri pergi jauh dariku.  Aku masih tetap yakin, setiap orang terlahir dengan membawa takdirnya masing-masing. Dan aku hanya bisa yakin, inilah takdirku.  Aku ainul yaqin bahwa sudah suratanku jika ternyata aku masih harus bersabar dan melapangkan dada meniti hari-hari penantianku, akan cinta sejatiku.

Pekanbaru, November 2011



[i] ‘Ainul yaqin : yakin 100 persen
[ii] Ruwatan : acara khusus untuk menghilangkan bala
[iii] Nduk : panggilan untuk anak perempuan
[iv] Ruqyah : sistem pengobatan dalam Islam, menggunakan ayat-ayat Al Qur’an
[v] Makbul : terkabul
[vi] Trah : turunan
[vii] Tapih : jarik atau kain panjang yang digunakan sebagai bawahan/pasangan kebaya
[viii] Sugeng : sehat
[ix] Nginang : mengunyah campuran daun sirih, pinang, dan kapur
[x] Lamtoro : petai cina
[xi] Sembukan : sebangsa daun beraroma khas, termasuk tanaman semak yang tumbuh merambat
[xii] Tawon : lebah
[xiii] Tanpo sanak tanpo kadang : tanpa saudara dan kerabat
[xiv] Wanti-wanti : berpesan dengan “sangat”
[xv] Gugon tuhon : dongeng, kepercayaan