Kamis, 26 April 2012

Virus Online


Morning, Honey…”

A nice greeting mampir di pesan offline Yahoo Messenger-ku.  Whuuuuaaaaa…! Rasanya seperti terbang melayang. Dia menyapaku saat matahari pun masih enggan menampakkan diri.  Fu fu fu, its show me how he cares! Mukaku memanas, pasti karena sangat tersanjung.

“Mamaaaaa, pupu….!”

What? Sekarang aku terhempas ke jurang terdalam.

Hu hu hu, aku pengin chatting…. Dia menungguku, hiks hiks.
Tapi rengekan si kecil semakin nyaring, mengalahkan tangis hatiku.

“Mamaaaaa….”

Kepalaku terkulai pasrah.
Morning, too, honey.  Wait, I must do something….”

Langkahku gontai menghampiri si kecil yang belum lagi genap dua tahun.  Tiba-tiba, sesaat sebelum menggandeng tangan mungilnya, aku menemukan sesuatu yang berbeda.  Tatapan matanya.  Ya, tatapan matanya.  Seperti menyiratkan sebuah kerinduan.  Ooooh, dear.  Gadis mungilku yang selalu terabaikan. 

Setengah hari kutinggalkan untuk bekerja, seperempat hari yang biasanya tercurah hanya untuknya, pun, akhir-akhir ini terenggut darinya.

Air mataku tak bisa kucegah. Kerinduan di matanya membuatku lunglai.  Kupeluk buah hatiku erat, sangat kuat, hingga dia meringis.

“Mama, Akiiit...”  Aku tersenyum.  Dia meringis kesakitan tapi tatap matanya menyiratkan sebuah kebahagiaan.  Hu hu hu, aku merasa bersalah telah mengabaikannya beberapa hari ini.  Karena dia, seseorang yang tiba-tiba hadir menawarkan sebuah harapan indah.  Aku harus bagaimana?

Honey, I’d like to introduce you to someone special.  This is my little angel.  Her name is Ara….”
Senyumku mengembang melihat emoticon smile darinya. 

Nice to meet you, Ara….”   

Melalui webcam aku dapat melihat senyum tulus dan lambaian tangannya, untuk Ara.  Membuatku lega. Dia mau mengerti.  Fu fu fu, semoga semua berjalan dan berakhir indah.  Mungkinkah?  Semoga.

Rabu, 25 April 2012


LAKI-LAKI PILIHAN MAMA



            “Ma, sibuk?”  Aku mengintip mama dari pintu yang sedikit terbuka.  Mama sedang merapikan baju di lemari.   Mama menoleh dan melambaiku agar masuk.  Aku tersenyum, menguak pintu lebar-lebar dan melompat ke kasur.  Mama memekik.
“Ya, ampuuuun! Reysha Hanna Safitri!”  He he… Aku tertawa.  Mama mengacak-acak rambutku.  Hmmm, kesempatan untuk bermanja.
“Ih, sudah sarjana, masih bertingkah seperti balita….”  Aku tertawa. Ya, sejak papa meninggal saat aku berusia 3,5 tahun, kami hanya berdua melalui hari.  Sepanjang waktu yang kami lalui bersama, belum pernah aku melihat mama bermuram durja dan mengeluh.  Bahkan saat Papa meninggal, Mama hanya terdiam  sambil terus memelukku.  Mama bekerja dan terus bekerja, sedangkan aku harus pasrah dititipkan di rumah tetangga.  Aku masih bisa mengingat saat aku menjerit-jerit dan menangis karena ditinggalkan mama pergi ke tempat bekerja.  Tapi tangisku akan segera mereda setelah mbak Niken, anak bu Rahmi yang menjagaku, mengajakku bermain. Begitu setiap hari kami lalui.  Dan kini, 23 tiga tahun sudah usiaku, dan sebulan yang lalu aku diwisuda.  Tapi semua itu tak bisa menghalangiku untuk bermanja-manja pada Mama. 
“Ma, Rey mau tanya sesuatu….”  Aku mengerling mama.
“Tentang apa?” Mama menoleh sekilas.
“Mimpi.  Mama, kan, paling jago menafsirkan mimpi.”  Mama memonyongkan mulutnya.
“Memangnya Mama paranormal?”  Aku tertawa.
“Ma, kalau mimpi baju kita diminta orang, artinya apa?”  Mama mengerutkan kening.  Sesaat lamanya Mama terdiam, membuatku penasaran.
“Ma….?”
“Artinya, kamu harus beli baju baru lagi, ha ha….”
“Ah, Mama!”  Mama menjerit karena kucubit lengannya.
“Hei, ada yang lebih penting dari sebuah mimpi.”  Mama menarikku ke pelukannya.  Aku meronta.  Pasti itu lagi.  Aku harus kabur.
“Eit, tak bisa kabur.  Ayolah, Rey.  Kenalkanlah Mama dengan calon menantu Mama….”  Aku nyengir.
“Masa, iya, tak ada yang tertarik dengan anak Mama yang cantik ini?”  Mama menarikku ke depan cermin. “Lihat, gadis semampai berkulit putih bersih dengan rambut indah bak bintang iklan shampoo begini.  Apa teman sekampusmu berkaca mata tebal semua?  Sampai tak bisa melihat bidadari Mama ini?”
“Ya, ada dong, Ma.  Antri malah.”
“Lalu?”
“Rey baru akan mengenalkannya pada Mama dengan syarat, Mama harus mau menikah lagi dengan lelaki baik yang akan menjaga Mama.”  Mama terdiam.
“Artinya, kamu tak akan pernah bisa memperkenalkan calon menantu Mama, karena Mama tak ada niat sedikit pun untuk menikah lagi, Rey.”
“Ah, Mama.  Jangan seperti itu. Rey ingin melihat Mama bahagia.”
“Memangnya selama ini Mama tampak menderita?”  Buru-buru kupeluk Mama.  Benar, Mama memang tak pernah terlihat sedih dengan keadaannya.  Mama bahkan selalu bersemangat dan ceria.  Sebenarnya, beberapa pria pernah meminangnya, tapi Mama tak bergeming. Tiba-tiba aku ingat Windu.  Laki-laki berusia lima belas tahun lebih tua dariku.  Seorang pengusaha muda, pemilik peternakan kuda.  Aku mengenalnya saat kuliah lapang.  Windu memang sangat menarik.  Sifatnya yang lembut dan suka mengalah membuatku tak bisa bilang tidak saat dia memintaku untuk menjadi kekasihnya.  Aku yang manja seolah mendapatkan sosok seorang kakak sekaligus ayah.  Windu yang selalu menempatkanku seolah pualam yang sangat berharga dalam hidupnya.  Windu yang selalu ada saat aku membutuhkannya.  Kecuali saat aku wisuda.  Ya, aku tahu Windu sangat kecewa ketika aku tak mengundangnya untuk hadir di hari bersejarah itu.  Dengan alasan yang baginya tak masuk akal, sama sekali.  Padahal, saat itu Windu berencana memintaku pada Mama. 
“Kenapa kamu tak mau mengenalkanku pada keluargamu?”  Aku menangkap nada redaman kecewa yang luar biasa dari suara Windu, saat itu. 
“Aku tak ingin setelah wisuda, Mama memaksaku segera menikah begitu tahu aku sudah memiliki kekasih.”  Windu menatapku dengan sorot aneh.
“Aku baru akan mengenalkanmu pada Mama kalau beliau sudah mendapatkan pengganti papa.  Kasihan Mama.  Selama ini waktunya tercurah hanya untukku.  Jika aku menikah, tentu aku akan kehilangan banyak waktu untuknya.  Padahal, sudah saatnya giliran aku yang mencurahkan perhatian untuknya.”
“Jika ternyata mamamu tak ingin menikah, kamu juga tak akan pernah menikah?”  Windu mengerlingku.
“Jangan diambil kesimpulan seperti itu, dong.  Paling tidak, beberapa tahun ke depan, aku ingin membuat Mama bahagia dengan selalu menjaganya.”  Aku membalas kerlingan Windu dengan tepukan halus di pipinya.
“Bukannya lebih baik kalau kita segera menikah, sehingga aku pun bisa ikut menjaga Mama?”
“Ah, Windu.  Nanti kamu yang akan kecewa karena perhatianku tak sepenuhnya untukmu.  Aku tentu akan membagi waktuku untuk Mama dan kamu.”
“Ya, kan, bukan masalah.  Toh, kamu membagi waktu bukan untuk orang lain?  Tak patut juga aku cemburu pada mamamu, kan?”  Aku tak bisa menjawab.  Windu meraih tanganku, menepuk-nepuk punggung tanganku lembut.
“Usiaku sudah 38 tahun, Rey.  Aku juga pernah berpikir sepertimu.  Kamu, kan, tahu, aku juga cuma punya mama.  Papaku meninggal saat aku masih kuliah.  Sejak itu, waktu dan hidupku tercurah hanya untuk Mama dan mengembangkan peternakan peninggalan Papa.  Aku sebenarnya juga berusaha mengenal wanita, tapi tak ada satu pun yang sesuai di hati Mama, lalu kamu tahu akhirnya?  Semua wanita yang pernah dekat denganku, tak ada yang sanggup bertahan.  Tapi begitu melihat kamu, Mamaku jadi seperti serdadu kalah perang, bertekuk lutut padamu.  Sampai-sampai perhatiannya untukku berkurang hampir seratus persen.”  Aku tersenyum mendengar gurauannya.
“Jadi kamu memilihku karena permintaan mamamu?”  Windu mengacak-acak rambutku.
“Kalau mama saja bisa jatuh hati padamu, apalagi aku.”  Windu mengusap bahuku. “Jadi, jangan biarkan aku menunggu lebih lama lagi, ya?”  Aku menatap Windu dalam-dalam.  Windu tersayang, kamulah seseorang yang paling kuinginkan saat aku membutuhkan pendamping hidup, kelak.  Tapi jika kamu terus mendesak,  aku tak bisa lagi mengikuti keinginanmu.  Mata Windu menyiratkan kekecewaan yang dalam.  Aku hanya bisa tertunduk dan membiarkannya berlalu, tanpa mengucap salam perpisahan.
“Lho, malah melamun.”  Ucapan Mama menyadarkanku dari lamunan sesaat tentang Windu. “Rey, mama takut….”
“Takut Rey tak normal?”  Mama mencubit pipiku.
“Tentu bukan.  Mama takut, karena kehilangan figur seorang ayah, kamu jadi sulit menerima seorang laki-laki.  Mama takut, kamu salah mengartikan keputusan Mama untuk tetap sendiri sebagai bentuk ketidakpedulian Mama pada laki-laki.  Lalu kamu berpikir bahwa kita tak memerlukan kehadiran mereka karena merasa mampu bertahan hidup tanpa mereka….”
“Aduh, Ma.  Janganlah berpikir berlebihan.  Rey normal, Rey bisa, kok, jatuh cinta pada laki-laki.  Rey juga punya keinginan untuk berkeluarga, kelak.  Tapi, Rey ingin, Mama bisa menemukan pengganti Papa sebelum saat itu tiba.  Agar Mama tak merasa terlalu kehilangan perhatian….”
“Ah, janganlah keadaan Mama menjadi beban untuk rencana hidupmu.  Lagipula, kalau kamu berpikir seperti itu, jadi beban juga buat Mama.  Bagaimana kalau Mama tak menemukan jodoh Mama lagi?  Apa kamu tega, Mama memaksakan diri menerima seseorang hanya untuk membuatmu mau menikah?”
“Tentu bukan seperti itu mau Rey….”  Mama menggenggam jemariku.
“Nah, kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat, perkenalkan pada Mama, cepat menikah, dan segera kasih cucu untuk Mama.  Itu semua sudah lebih dari cukup.”  Mama menutup bibirku dengan dua jarinya, melihatku hendak bicara.
“Rey, Sayang.  Sembilan belas tahun sejak kepergian Papa, lalu Mama memutuskan untuk tetap sendiri, membuat Mama jadi terbiasa.  Rasanya, Mama sudah lupa bagaimana harus berbagi dengan orang lain, selain denganmu.”
“Karena itu, Ma, Rey ingin Mama mulai memperhatikan kebutuhan Mama sendiri.  Selama ini, Mama mencurahkan seluruh waktu hanya untuk bekerja dan  Rey.  Sekarang, Rey sudah dewasa, Ma.  Rey yakin, Mama sesungguhnya masih memerlukan pendamping hidup.  Pasti ada hal lain yang tak bisa Rey berikan untuk Mama tapi bisa Mama dapatkan dari orang lain….”  Mama tertawa kecil.
“Lagipula, Mama sudah tua.  Tak pantas lagi berpikir tentang pernikahan.”
“Ah, Mama tampak sepuluh tahun lebih muda, kok.  Oom Rio orangnya baik juga, kan, Ma?  Selama ini beliau tak berhenti memberi perhatian pada kita.  Mama saja yang tak berusaha membuka hati dan memberi kesempatan padanya.”
“Mungkin Mama terlalu mencintai papamu, Rey.  Lima tahun yang kami lalui bersama terasa amat singkat.  Hanya kenangan manis saja yang membekas di hati Mama.  Ribuan kali Mama mencoba mencari, Mama tak bisa menemukan segores luka pun yang ditinggalkannya.  Rasanya, tak ada yang dapat menggantikan posisinya di hati Mama.”  Rey melihat sebuah senyuman indah tersungging di wajah cantik Mama.
            “Rey tak bermaksud meminta Mama untuk menghilangkan kenangan Mama tentang Papa.  Sekali pun Rey tak banyak ingat tentang Papa, Rey yakin Papa adalah laki-laki yang sangat baik.”
            “Amat sangat baik, Sayang….”
“Ma, beri kesempatan pada Rey untuk mendapatkan laki-laki sebaik Papa, untuk Mama.”  Mama tertawa.
“Ah, kamu.  Mencari untukmu sendiri saja, belum bisa.”
“Rey, kan, masih 23 tahun, Ma.  Masih panjang langkah Rey.  Yang paling penting, sekarang, untuk Mama.”  Ujarku bersemangat.  Mama menatapku lekat.
“Anggaplah kita sedang bermain.  Mama beri kamu waktu dua puluh tiga hari untuk mencari laki-laki yang tepat untuk mama.”
“Kenapa 23 hari?”
“Sesuai umur kamu.”
“Ah, 45 hari, deh.  Sesuai umur Mama.”  Mama terdiam sejenak.  Aku menatapnya memohon. Sambil tersenyum, mama menjabat tanganku erat-erat.
Deal.  Tapi ingat, jika kamu tak berhasil, kamu harus segera perkenalkan calon menantu mama.”  Aku mengaculkan dua jempol tanda setuju.
Mulailah hari-hariku disibukkan dengan mengatur rencana untuk mencarikan jodoh untuk mama.  Seminggu pertama aku sibuk membuka setiap majalah, tabloid, dan koran, hanya untuk melihat rubrik kontak jodoh.  Tapi tidak dari internet.  Terlalu maya laki-laki dari dunia maya, menurutku.  Lalu, membuat daftar nama dan alamat.  Ya, terseleksi lima belas laki-laki keren, lagi-lagi menurutku, cocok untuk mama. 
Selanjutnya, lima hari berturut-turut mencari alamat bakal calon jodoh mama.  Sengaja aku mencari laki-laki yang sekota.  Empat puluh lima hari, kan, bukan waktu yang lama? Hi hi, 45 hari kerja. Kok, jadi seperti menang tender, ya?  Tiga hari berikutnya, waktu untuk melakukan cek dan ricek.  Akhirnya tereliminasi sepuluh orang.  Mereka pembohong belaka.  Ada yang alamatnya palsu, wajah palsu, atau biodata palsu.
Kerjaku agak ringan sekarang, tinggal lima kandidat.  Lima hari untuk menjumpai lima bakal calon papaku.  Dari seleksi tahap tiga ini, kupilih tiga laki-laki untuk kuperkenalkan dengan mama.
Ok, show time!  Aku membawa tiga foto dan biodata mereka ke mama.  Tak lepas pandanganku dari wajah mama.  Beliau tampak serius memperhatikan dan membaca biografi bakal calon papa baruku.  Aku mulai tak sabar.  Mama tak juga menunjukkan ekspresi yang kuharapkan.  Misalnya, tertarik pada salah satu calon.
“Jadi, kapan jadwal pertemuan kami?”  Aku tersenyum sambil menyodorkan selembar kertas.  Mama mengerutkan kening.
“Padat sekali jadwalnya?  Mama merasa jadi seperti kepala Negara.”  Aku terkekeh. 
Hari-hari berlalu dan setiap saat menimbulkan harap cemas dihatiku.  Takut semua usahaku gagal dan aku harus menyerah pada keinginan mama.  Akhirnya sampailah pada hari di mana mama akan mengambil keputusan.
“Kita makan malam di luar?”  Aku melonjak gembira.  Bukan karena tak pernah makan di luar.  Tapi karena aku tahu kebiasaan Mama.  Jika mama mengajakku makan di luar, artinya, ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan.
“Ok.  Rey siap mendengarkan keputusan Mama.”  Mama tersenyum.  Cantik sekali.  Mama meraih jemariku.
“Rey, Mama menghargai usahamu untuk mencarian jodoh untuk Mama.  Sekali pun sebenarnya Mama setengah hati menanggapi calon yang kamu ajukan.  Tapi, Mama tak bisa menipu hati Mama, akhirnya ada seseorang yang menggerakkan mama untuk mencoba membina rumah tangga lagi.”
“Calon yang mana, Ma?”  Aku benar-benar tak sabar.
“Bukan dari ketiganya.  Tapi karena salah seorang dari mereka, Mama mengenal laki-laki yang hampir serupa dengan papamu.  Nah, malam ini, Mama akan mengenalkannya padamu.  Kemarin Mama sudah menerima lamarannya.  Maaf, ya, Mama tak segera memberitahumu?  Karena, sebenarnya Mama masih punya syarat untuknya.  Jika kamu tak setuju, Mama akan membatalkan semuanya.”
“Oh, jangan, Ma.  Aku pasti setuju.  Mama tak akan salah pilih.”
“Anak Mama yang manis.”  Mama mengusap pipiku. “Namanya Sam.  Memang beberapa tahun lebih muda dari Mama, tapi dia sangat dewasa.  Nah, itu dia datang.”  Bisik mama.
“Selamat malam….”  Demi mendengar sapaan lembut dari belakangku, aku membalikkan badan dengan cepat.  Kusiapkan senyum terindah untuk calon papa baruku. 
Tapi, Tuhan, betapa bahagianya aku jika Kau biarkan bumi terbelah saat ini juga, lalu menelanku bulat-bulat ketika aku bersitatap dengan Sam, laki-laki pilihan mama.  Sam milik Mama adalah Windu kekasih hatiku, yang tiga bulan ini terabaikan olehku. 
Windu Samudra…!
Aku tak tahu harus berkata apa.  Aku hanya mampu menatap Windu yang masih terpaku di tempatnya.  Menatapku tanpa sepatah kata….

Pekanbaru, medio Agustus 2011

JALAN UNTUK KEMBALI


 Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di antara dua saudara laki-laki, membuatku menjadi anak paling disayang.  Terutama oleh Bapak.  Aku tahu Bapak sangat menyayangiku, meskipun tak pernah mengucapkan kata sayang padaku. Sejak aku masih kanak-kanak.  Aku tahu Bapak sangat mencintaiku. Dari caranya menatapku, dari caranya mengusap rambut ikalku, dari caranya melindungiku, bahkan dari gigitan seekor nyamuk.  Bapak tak banyak bicara.  Tapi setiap yang aku minta, dengan cepat beliau berikan, tanpa bertanya untuk apa, sepenting apa.  Begitu terus, mulai dari kanak-kanakku hingga pada suatu sore, saat aku mengungkapkan dengan susah payah tentang dia.
“Bapak….”  Beliau, yang sedang sibuk menyemir sepatu kulitnya yang usianya hampir sepantar denganku, menoleh dan tersenyum.  Aku mengulurkan selembar foto.  Bapak menghentikan kesibukannya, mengelap tangan dengan kaos yang dikenakannya dan menerima foto yang kuulurkan.
“Dia memintaku untuk menikah dengannya.”  Ucapku lirih dan dan terbata-bata, nyaris hanya telingaku yang mendengarnya.  Tapi, mungkin, Bapak mendengarnya seolah gemuruh guntur di tengah hujan lebat berangin.  Wajahnya tampak tegang sesaat, kemudian tubuhnya seolah menggigil bagai diterpa badai yang sangat dasyat.  Aku berharap Bapak tidak tumbang karenanya. Jantungku serasa meledak menunggu sepatah dua patah kata darinya, namun beliau tak juga menjawab.  Hanya memandangi foto itu lekat.  Aku terpaku di tempatku, menunggu reaksi beliau.  Tak sedikit pun ada keberanian untuk mendesak agar beliau segera memberikan pendapat.
“Bagaimana Bapak berani mengambil keputusan besar ini hanya dengan melihat selembar foto?”  suara Bapak terdengar bergetar dan berat.  Aku tak bisa menjawab.  Bapak pun tak perlu jawaban.
“Adab seorang laki-laki yang ingin meminang perempuan yang akan dijadikannya teman hidup, adalah datang kepada wali si perempuan, lalu meminta dengan baik-baik.  Maka Bapak bisa menduga seperti apa dia, apakah kelak dia akan sanggup memperlakukanmu dengan layak.  Seperti  kami, orangtuamu ini, memperlakukanmu.”
“Dia miskin, Bapak.  Jangankan membiayai dirinya sendiri untuk menemui Bapak, untuk makan saja dia harus bekerja keras dulu.  Seharian mencari pasir, hasilnya untuk makan dia, ibu dan adiknya.  Dia tak pernah melihat dunia luar.  Hidupnya selama ini di kampung itu saja.  Kemiskinan juga membuatnya tumbuh tanpa bekal pendidikan.” 
Suparta, laki-laki dalam foto itu, adalah seorang pemuda kampung di tempatku bekerja, di sebuah perkebunan swasta yang lokasinya harus ditempuh dalam waktu sehari semalam perjalanan dengan bus, dari kota asalku.  Pemuda kampung yang baru kukenal tiga bulan saja.  Pemuda yang sangat bersemangat.  Dia berbeda dengan kebanyakan pemuda di kampung itu.  Selalu ingin tahu dan selalu serius jika aku menceritakan tentang kehidupan dunia di luar kampung, yang belum pernah dilihatnya.  Seorang pemuda kampung yang, menurutku, memiliki sebuah pengorbanan dan tanggung jawab yang sangat besar.  Kecintaannya pada ibu dan adik laki-lakinya yang sakit-sakitan, membuatku bersimpati padanya. 
Suparta yang lugu sehingga menganggap simpatiku sebagai bentuk perhatian yang berbeda.  Maka aku hanya bisa terdiam dan menghindar saat dia ingin menikahiku.  Namun aku harus bimbang saat penolakanku membuatnya sakit karena dia nekat mogok makan.  Aku didera rasa takut jika dia terus bertahan dengan sikapnya, lalu dia mati.  Bagaimana dengan ibu dan adiknya?  Maka dengan setengah hati aku mengiyakan pintanya, hanya agar dia sembuh dan bisa kembali bekerja. 
Lalu aku bisa berkata apa saat dia akhirnya sembuh dan menuntut aku memenuhi janjiku?  Dan inilah aku, perempuan naïf yang akhirnya memutuskan untuk benar-benar menerima lamarannya, hanya dengan sebuah pertimbangan, aku ingin dia tetap bercahaya, untuk ibu dan adiknya.
“Bapak bukan jenis orang yang menilai kebahagiaan hanya dari limpahan materi.  Tapi kamu harus tahu, kekurangan materi bisa menjadi sebuah masalah besar dalam keluargamu kelak.  Meskipun itu bukan pokok masalah.”  Bapak duduk di balai-balai.  Aku tepekur di samping beliau.
“Kamu seorang sarjana sedangkan, dia, bahkan, tak pernah mengenyam pendidikan. Tidakkah ini menjadi pertimbanganmu untuk memutuskan menerima atau menolaknya?  Perbedaan status dan tingkat ekonomi, tak terlalu menimbulkan masalah besar, Nduk.  Tapi perbedaan tingkat pendidikan pasti mempengaruhi cara berpikir seseorang.  Dia laki-laki yang akan memimpin keluargamu, kelak.  Apa mungkin dia sanggup mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga?  Apakah kamu akan sanggup bertahan dengan cara berpikir dan sikapnya kelak?  Memang ada satu dua orang yang tanpa pendidikan tinggi mampu juga membina rumah tangga dengan baik.  Tapi bagaimana kualitas rumah tangganya?”
“Bapak tahu saya keras kepala.  Bapak tahu sikap saya jika sudah memutuskan sesuatu.”
“Ya….  Tapi bukan untuk hal sepenting ini, Nduk.”  Bapak menatapku dalam. “Menikah artinya menjadikan seseorang yang tadinya asing sebagai sahabat hidupmu.  Menjalani suka dan duka bersama.  Mengambil keputusan demi keputusan, juga bersama-sama.  Pendidikannya terlalu rendah untuk menjangkau permasalahan rumah tangga kalian kelak. Terlebih lagi, kamu bilang, dia tak pernah keluar dari kampungnya.”
Nduk, jika pendidikan kamu tidak terpaut jauh dengannya, bisa jadi rumah tangga kalian akan berjalan dengan baik, karena pemikiran kalian tak jauh berbeda.  Tapi….”
“Bapak, dia tak berpendidikan karena keadaan membuatnya harus putus sekolah.  Tapi dia punya kemauan besar untuk terus belajar.  Sesuai saran saya, dia mulai kursus montir. Juga mengaji pada seorang ustadz untuk mengejar ketinggalannya dalam ilmu agama.”
Nduk, hampir semua orang akan ngotot dan melakukan berbagai cara sebelum tercapai keinginannya.  Dia melakukan itu karena permintaanmu.  Apakah dia akan tetap seperti itu jika kelak kamu benar-benar menjadi istrinya?”  Aku tak bisa menjawab.  Suasana menjadi hening. 
“Bapak mengenalmu, Nduk.  Sangat mengenalmu.  Hanya membaca sebuah berita menyedihkan di koran saja bisa membuatmu menangis tersedu-sedu.  Tapi tak benar kalau kamu terlalu gegabah memutuskan hal sepenting ini, hanya dengan pertimbangan sesederhana itu.  Kamu kasihan padanya, bukan?”  Bapak menebak sangat tepat apa yang ada dalam pikiranku.
“Baiklah.  Takabur jika Bapak memvonis bahwa kamu akan hidup menderita jika bersamanya.  Dan Bapak pasti akan sangat menyesal jika menghalangi keinginanmu, padahal ternyata Tuhan memberimu kebahagiaan melalui dia.”
“Maksud Bapak?”
“Bapak hanya bisa mendoakan semoga keputusanmu tidak salah.”  Lalu aku hanya bisa menangis.  Aku yakin bukan tangisan bahagia.  Aku menangis untuk karuniaNya atas seorang Bapak yang sangat bijaksana.
Dan akhirnya kami, aku dan Suparta, menikah.  Bapak dengan tulus menyerahkanku kepada laki-laki yang memang tampak lugu dan canggung berada di antara keluargaku.  Bahkan dia hanya bisa menjawab ya dan tidak setiap Bapak mengatakan sesuatu padanya.  Melihatnya, aku didera bimbang yang luar biasa.  Tapi aku tak bisa mundur lagi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan.  Aku mulai mengerti arti kiasan “orang tua itu kenyang makan garam”.  Maka kini aku menyadari, hampir semua yang pernah Bapak katakan padaku, benar adanya. Suparta kembali ke kebiasaan asalnya. Tidak lagi bersemangat kursus, terlebih mengunjungi Ustadznya.  Dia mulai takzim pada apa yang lazim dilakukan hampir semua suami di kampungnya.  Dia menempatkanku pada posisi seorang istri yang sehari-hari menghabiskan waktu berkutat di dapur, sumur, dan kasur.  Aku yang terbiasa berhubungan dengan luasnya dunia harus beradaptasi menjadi bagian dari kampungnya di mana seorang istri  berkewajiban memasak untuk suami, mencuci baju di kali, membantu menanam dan memanen padi, terakhir, melayani hasratnya sebelum dia terlelap dengan wajah penuh kebanggaan karena terlahir sebagai laki-laki.  Aku jenuh. 
Akhirnya aku harus menjalani hari-hariku terkungkung di sebuah kampung terpencil, tanpa listrik dan tanpa sarana transportasi yang memadai.   Hingga aku selalu terlambat mengetahui, Merapi mengamuk memuntahkan isi perutnya, Yogyakarta luluh lantak oleh gempa, atau Jakarta yang membara dipanaskan oleh demonstrasi mahasiswa.  Yang aku tahu dengan segera adalah periuk nasi telah mengeluarkan asapnya tanda kami masih bisa makan hari ini.
“Bagaimana kabarmu, Nduk?”  hampir meledak tangisku mendengar suara Bapak di seberang sana.  Aku menelponnya, saat pergi belanja ke pasar sekali seminggu, dari sebuah wartel.  Tapi aku tak ingin Bapak tahu aku sedang menangis
“Baik, Bapak.  Saya menemukan dunia yang sangat berbeda, tapi Bapak tak perlu khawatir, saya bisa belajar menerimanya.”  Selalu seperti itu setiap aku menelpon beliau. 
Hingga tak terasa lima tahun berlalu.  Keluargaku tidak lagi aku dan Suparta, tapi juga dua mutiaraku, Wanda dan Hanif.  Usia keduanya hanya terpaut setahun.  Jarak yang sangat dekat karena di kampung kami tak ada istilah alat kontrasepsi. 
Aku yang dulu selalu menjalani hidup dengan rencana yang tertata rapi, kini harus pasrah dengan keadaan hidup di kampung yang mengalir bagaikan air.  Kehidupan yang monoton dan penuh kepasrahan, seperti wayang tunduk kepada dalang.  Sebelum hadir kedua mutiaraku, semua ini tak merisaukanku.  Kalaupun aku harus menjadi bagian keterbelakangan kampung ini, setidaknya aku pernah merasakan derap dan indahnya dunia di luar sana.
Tapi aku tak ingin kedua buah hatiku harus terlahir dan tumbuh dalam kungkungan kehidupan tanpa roda di kampung ini.  Sebuah kehidupan yang tidak mengalami perputaran.  Lahir, hidup, dan mati, tanpa tahu betapa luas dunia ini.
Tujuh tahun tepat, aku akhirnya bertekat membuat keputusan besar, aku harus keluar dari sini.  Langit tujuh lapis, seminggu memiliki tujuh hari, semesta tercipta dalam tujuh masa.  Maka aku memilih di tahun ke tujuh ini untuk mengubah haluan hidup kami.
“Selama ini semuanya berjalan baik, bukan?  Tanpa keluhan kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi?”
“Tujuh tahun aku bertahan dalam hidup yang tak berputar.  Aku hanya ingin bertanggungjawab dengan keputusanku.  Kini, demi kedua anak ini, aku dengan berat harus memutuskan untuk keluar dari sini.  Dulu, ketika kamu memintaku menikahimu, kamu bilang ingin keluar dari tempurung kampungmu ini.  Ketika akhirnya kita menikah, kenapa kamu justru menarikku ke dalam kungkungan hidup yang tak berkembang ini?  Aku menghormatimu sebagai suamiku. Tapi aku tak ingin anak-anakku kehilangan kesempatan untuk merasakan kehidupan yang indah, dengan tetap berada di sini.” 
Tanpa menatapnya, aku mengemasi beberapa lembar pakaian dan buku-bukuku yang nyaris hancur karena terlalu sering dibuka-buka.  Lalu menyusunnya dengan rapi dalam sebuah kardus bekas mie instan.
 “Dengan atau tanpa kerelaanmu, aku akan membawa anak-anak ini melihat kehidupan yang lain, agar mereka tahu bahwa hidup tidak hanya untuk makan, tidur, meladang, lalu menungu ajal.  Hidup juga berjuang dan berkorban untuk orang lain, berempati dan bersimpati kepada orang lain.  Hidup bisa jadi berliku-liku, mendaki, menuruni lembah, atau harus melesat ke awan.  Aku sulit mengajarkan tentang itu, karena di sini, yang mereka lihat hanyalah kehidupan tanpa nada, tanpa tempo, tanpa dinamika dan tanpa irama.”
Suparta, seperti biasa, hanya diam tanpa kata.  Tidak berusaha menahan atau pun menikuti langkah kami yang semakin menjauh darinya.  Anak-anakku tertatih-tatih mengikuti langkahku yang terseok-seok dengan sebuah beban kardus mie instan berisi buku-buku dan pakaian.  Apakah aku yang durhaka? Ataukah dia yang dayus? Aku tak punya banyak waktu untuk memikirkannya.
“Ke mana kita, Bunda?”
“Menjemput masa depan kita, Sayang.  Kalian akan belajar melukis impian kalian.”  Anak-anakku terdiam tak mengerti.  Tak apalah, karena sebentar lagi mereka akan mengerti.
Sehari semalam kami terguncang-gunang dalam jok belakang sebuah pick up.  Berbaur dengan berbagai jenis buah dan sayuran.  Kami tak memiliki ongkos untuk naik bus.  Tumpangan ini dari seorang pedagang yang berbaik hati membawa kami ke kota asalku.  Karena kebetulan dia juga dari kota itu.
Embun belum sempat kering saat kami bertiga turun dari pick up.  Bapak, seperti biasa, sedang menyapu halaman.  Beliau menatap kami lekat.  Mungkin beliau tak mengenaliku yang kini sangat jauh berbeda dengan saat pergi meninggalkan kota ini.  Kulitku kusam, pakaianku lusuh, dan mataku kehilangan cahaya.
“Apakah kamu…?”  Aku menghambur memeluknya.  Kedua anakku terdiam di tempatnya.  Bapak memelukku erat.  Aku merasakan tetesan airmata di punggungku.  Menangiskah Bapak?  Tapi yang kudengar suara tawa.
“Bapak menertawakan kekalahanku?”  Bapak menggeleng kuat-kuat.
“Inilah yang Bapak harap bisa kamu putuskan tujuh tahun yang lalu.  Hanya karena tak ingin mendahului takdir, Bapak merelakanmu pergi.  Percayalah, Bapak selalu berdiri di sampingmu.  Inilah keputusan terbaikmu, Nduk.”  Aku tergugu. 
“Bunda….”  Aku menatap kedua mutiaraku.
“Ini Mbah Kakung, Sayang.”  Bapak menatap haru kedua mutiaraku yang tampak lusuh dan kuyu. Kedua belah tangannya yang keriput terentang menyambut kedua anakku yang berlari kecil ke arahnya.
“Selamat datang, cucu-cucuku.”