“Ma, sibuk?” Aku mengintip mama dari pintu yang sedikit
terbuka. Mama sedang merapikan baju di
lemari. Mama menoleh dan melambaiku
agar masuk. Aku tersenyum, menguak pintu
lebar-lebar dan melompat ke kasur. Mama
memekik.
“Ya, ampuuuun! Reysha
Hanna Safitri!” He he… Aku tertawa. Mama mengacak-acak rambutku. Hmmm, kesempatan untuk bermanja.
“Ih, sudah sarjana, masih bertingkah seperti balita….” Aku tertawa. Ya, sejak papa meninggal saat
aku berusia 3,5 tahun, kami hanya berdua melalui hari. Sepanjang waktu yang kami lalui bersama, belum
pernah aku melihat mama bermuram durja dan mengeluh. Bahkan saat Papa meninggal, Mama hanya
terdiam sambil terus memelukku. Mama bekerja dan terus bekerja, sedangkan aku
harus pasrah dititipkan di rumah tetangga.
Aku masih bisa mengingat saat aku menjerit-jerit dan menangis karena
ditinggalkan mama pergi ke tempat bekerja. Tapi tangisku akan segera mereda setelah mbak
Niken, anak bu Rahmi yang menjagaku, mengajakku bermain. Begitu setiap hari
kami lalui. Dan kini, 23 tiga tahun
sudah usiaku, dan sebulan yang lalu aku diwisuda. Tapi semua itu tak bisa menghalangiku untuk bermanja-manja
pada Mama.
“Ma, Rey mau tanya sesuatu….” Aku mengerling mama.
“Tentang apa?” Mama menoleh sekilas.
“Mimpi. Mama, kan,
paling jago menafsirkan mimpi.” Mama
memonyongkan mulutnya.
“Memangnya Mama paranormal?” Aku tertawa.
“Ma, kalau mimpi baju kita diminta orang, artinya apa?” Mama mengerutkan kening. Sesaat lamanya Mama terdiam, membuatku
penasaran.
“Ma….?”
“Artinya, kamu harus beli baju baru lagi, ha ha….”
“Ah, Mama!” Mama
menjerit karena kucubit lengannya.
“Hei, ada yang lebih penting dari sebuah mimpi.” Mama menarikku ke pelukannya. Aku meronta.
Pasti itu lagi. Aku harus kabur.
“Eit, tak bisa kabur.
Ayolah, Rey. Kenalkanlah Mama
dengan calon menantu Mama….” Aku
nyengir.
“Masa, iya, tak ada yang tertarik dengan anak Mama yang
cantik ini?” Mama menarikku ke depan
cermin. “Lihat, gadis semampai berkulit putih bersih dengan rambut indah bak
bintang iklan shampoo begini. Apa teman
sekampusmu berkaca mata tebal semua?
Sampai tak bisa melihat bidadari Mama ini?”
“Ya, ada dong, Ma.
Antri malah.”
“Lalu?”
“Rey baru akan mengenalkannya pada Mama dengan syarat,
Mama harus mau menikah lagi dengan lelaki baik yang akan menjaga Mama.” Mama terdiam.
“Artinya, kamu tak akan pernah bisa memperkenalkan calon
menantu Mama, karena Mama tak ada niat sedikit pun untuk menikah lagi, Rey.”
“Ah, Mama. Jangan
seperti itu. Rey ingin melihat Mama bahagia.”
“Memangnya selama ini Mama tampak menderita?” Buru-buru kupeluk Mama. Benar, Mama memang tak pernah terlihat sedih
dengan keadaannya. Mama bahkan selalu
bersemangat dan ceria. Sebenarnya,
beberapa pria pernah meminangnya, tapi Mama tak bergeming. Tiba-tiba aku ingat
Windu. Laki-laki berusia lima belas
tahun lebih tua dariku. Seorang pengusaha
muda, pemilik peternakan kuda. Aku
mengenalnya saat kuliah lapang. Windu
memang sangat menarik. Sifatnya yang
lembut dan suka mengalah membuatku tak bisa bilang tidak saat dia memintaku
untuk menjadi kekasihnya. Aku yang manja
seolah mendapatkan sosok seorang kakak sekaligus ayah. Windu yang selalu menempatkanku seolah pualam
yang sangat berharga dalam hidupnya.
Windu yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Kecuali saat aku wisuda. Ya, aku tahu Windu sangat kecewa ketika aku
tak mengundangnya untuk hadir di hari bersejarah itu. Dengan alasan yang baginya tak masuk akal,
sama sekali. Padahal, saat itu Windu
berencana memintaku pada Mama.
“Kenapa kamu tak mau mengenalkanku pada keluargamu?” Aku menangkap nada redaman kecewa yang luar
biasa dari suara Windu, saat itu.
“Aku tak ingin setelah wisuda, Mama memaksaku segera
menikah begitu tahu aku sudah memiliki kekasih.” Windu menatapku dengan sorot aneh.
“Aku baru akan mengenalkanmu pada Mama kalau beliau sudah
mendapatkan pengganti papa. Kasihan
Mama. Selama ini waktunya tercurah hanya
untukku. Jika aku menikah, tentu aku
akan kehilangan banyak waktu untuknya.
Padahal, sudah saatnya giliran aku yang mencurahkan perhatian untuknya.”
“Jika ternyata mamamu tak ingin menikah, kamu juga tak
akan pernah menikah?” Windu
mengerlingku.
“Jangan diambil kesimpulan seperti itu, dong. Paling tidak, beberapa tahun ke depan, aku
ingin membuat Mama bahagia dengan selalu menjaganya.” Aku membalas kerlingan Windu dengan tepukan
halus di pipinya.
“Bukannya lebih baik kalau kita segera menikah, sehingga
aku pun bisa ikut menjaga Mama?”
“Ah, Windu. Nanti
kamu yang akan kecewa karena perhatianku tak sepenuhnya untukmu. Aku tentu akan membagi waktuku untuk Mama dan
kamu.”
“Ya, kan, bukan masalah.
Toh, kamu membagi waktu bukan untuk orang lain? Tak patut juga aku cemburu pada mamamu,
kan?” Aku tak bisa menjawab. Windu meraih tanganku, menepuk-nepuk punggung
tanganku lembut.
“Usiaku sudah 38 tahun, Rey. Aku juga pernah berpikir sepertimu. Kamu, kan, tahu, aku juga cuma punya
mama. Papaku meninggal saat aku masih
kuliah. Sejak itu, waktu dan hidupku
tercurah hanya untuk Mama dan mengembangkan peternakan peninggalan Papa. Aku sebenarnya juga berusaha mengenal wanita,
tapi tak ada satu pun yang sesuai di hati Mama, lalu kamu tahu akhirnya? Semua wanita yang pernah dekat denganku, tak
ada yang sanggup bertahan. Tapi begitu
melihat kamu, Mamaku jadi seperti serdadu kalah perang, bertekuk lutut
padamu. Sampai-sampai perhatiannya
untukku berkurang hampir seratus persen.”
Aku tersenyum mendengar gurauannya.
“Jadi kamu memilihku karena permintaan mamamu?” Windu mengacak-acak rambutku.
“Kalau mama saja bisa jatuh hati padamu, apalagi
aku.” Windu mengusap bahuku. “Jadi,
jangan biarkan aku menunggu lebih lama lagi, ya?” Aku menatap Windu dalam-dalam. Windu tersayang, kamulah seseorang yang
paling kuinginkan saat aku membutuhkan pendamping hidup, kelak. Tapi jika kamu terus mendesak, aku tak bisa lagi mengikuti keinginanmu. Mata Windu menyiratkan kekecewaan yang dalam. Aku hanya bisa tertunduk dan membiarkannya
berlalu, tanpa mengucap salam perpisahan.
“Lho, malah melamun.”
Ucapan Mama menyadarkanku dari lamunan sesaat tentang Windu. “Rey, mama
takut….”
“Takut Rey tak normal?”
Mama mencubit pipiku.
“Tentu bukan. Mama
takut, karena kehilangan figur seorang ayah, kamu jadi sulit menerima seorang
laki-laki. Mama takut, kamu salah
mengartikan keputusan Mama untuk tetap sendiri sebagai bentuk ketidakpedulian
Mama pada laki-laki. Lalu kamu berpikir
bahwa kita tak memerlukan kehadiran mereka karena merasa mampu bertahan hidup
tanpa mereka….”
“Aduh, Ma. Janganlah
berpikir berlebihan. Rey normal, Rey
bisa, kok, jatuh cinta pada laki-laki.
Rey juga punya keinginan untuk berkeluarga, kelak. Tapi, Rey ingin, Mama bisa menemukan
pengganti Papa sebelum saat itu tiba.
Agar Mama tak merasa terlalu kehilangan perhatian….”
“Ah, janganlah keadaan Mama menjadi beban untuk rencana
hidupmu. Lagipula, kalau kamu berpikir
seperti itu, jadi beban juga buat Mama.
Bagaimana kalau Mama tak menemukan jodoh Mama lagi? Apa kamu tega, Mama memaksakan diri menerima
seseorang hanya untuk membuatmu mau menikah?”
“Tentu bukan seperti itu mau Rey….” Mama menggenggam jemariku.
“Nah, kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat,
perkenalkan pada Mama, cepat menikah, dan segera kasih cucu untuk Mama. Itu semua sudah lebih dari cukup.” Mama menutup bibirku dengan dua jarinya,
melihatku hendak bicara.
“Rey, Sayang.
Sembilan belas tahun sejak kepergian Papa, lalu Mama memutuskan untuk
tetap sendiri, membuat Mama jadi terbiasa.
Rasanya, Mama sudah lupa bagaimana harus berbagi dengan orang lain,
selain denganmu.”
“Karena itu, Ma, Rey ingin Mama mulai memperhatikan
kebutuhan Mama sendiri. Selama ini, Mama
mencurahkan seluruh waktu hanya untuk bekerja dan Rey.
Sekarang, Rey sudah dewasa, Ma.
Rey yakin, Mama sesungguhnya masih memerlukan pendamping hidup. Pasti ada hal lain yang tak bisa Rey berikan
untuk Mama tapi bisa Mama dapatkan dari orang lain….” Mama tertawa kecil.
“Lagipula, Mama sudah tua. Tak pantas lagi berpikir tentang pernikahan.”
“Ah, Mama tampak sepuluh tahun lebih muda, kok. Oom Rio orangnya baik juga, kan, Ma? Selama ini beliau tak berhenti memberi
perhatian pada kita. Mama saja yang tak
berusaha membuka hati dan memberi kesempatan padanya.”
“Mungkin Mama terlalu mencintai papamu, Rey. Lima tahun yang kami lalui bersama terasa
amat singkat. Hanya kenangan manis saja
yang membekas di hati Mama. Ribuan kali
Mama mencoba mencari, Mama tak bisa menemukan segores luka pun yang
ditinggalkannya. Rasanya, tak ada yang
dapat menggantikan posisinya di hati Mama.”
Rey melihat sebuah senyuman indah tersungging di wajah cantik Mama.
“Rey tak bermaksud meminta Mama
untuk menghilangkan kenangan Mama tentang Papa.
Sekali pun Rey tak banyak ingat tentang Papa, Rey yakin Papa adalah
laki-laki yang sangat baik.”
“Amat
sangat baik, Sayang….”
“Ma, beri kesempatan pada Rey untuk mendapatkan laki-laki
sebaik Papa, untuk Mama.” Mama tertawa.
“Ah, kamu. Mencari
untukmu sendiri saja, belum bisa.”
“Rey, kan, masih 23 tahun, Ma. Masih panjang langkah Rey. Yang paling penting, sekarang, untuk
Mama.” Ujarku bersemangat. Mama menatapku lekat.
“Anggaplah kita sedang bermain. Mama beri kamu waktu dua puluh tiga hari
untuk mencari laki-laki yang tepat untuk mama.”
“Kenapa 23 hari?”
“Sesuai umur kamu.”
“Ah, 45 hari, deh.
Sesuai umur Mama.” Mama terdiam
sejenak. Aku menatapnya memohon. Sambil
tersenyum, mama menjabat tanganku erat-erat.
“Deal. Tapi ingat, jika kamu tak berhasil, kamu
harus segera perkenalkan calon menantu mama.”
Aku mengaculkan dua jempol tanda setuju.
Mulailah hari-hariku disibukkan dengan mengatur rencana
untuk mencarikan jodoh untuk mama. Seminggu
pertama aku sibuk membuka setiap majalah, tabloid, dan koran, hanya untuk
melihat rubrik kontak jodoh. Tapi tidak
dari internet. Terlalu maya laki-laki
dari dunia maya, menurutku. Lalu, membuat
daftar nama dan alamat. Ya, terseleksi lima
belas laki-laki keren, lagi-lagi menurutku, cocok untuk mama.
Selanjutnya, lima hari berturut-turut mencari alamat
bakal calon jodoh mama. Sengaja aku
mencari laki-laki yang sekota. Empat
puluh lima hari, kan, bukan waktu yang lama? Hi hi, 45 hari kerja. Kok, jadi
seperti menang tender, ya? Tiga hari
berikutnya, waktu untuk melakukan cek dan ricek. Akhirnya tereliminasi sepuluh orang. Mereka pembohong belaka. Ada yang alamatnya palsu, wajah palsu, atau
biodata palsu.
Kerjaku agak ringan sekarang, tinggal lima kandidat. Lima hari untuk menjumpai lima bakal calon
papaku. Dari seleksi tahap tiga ini,
kupilih tiga laki-laki untuk kuperkenalkan dengan mama.
Ok, show time! Aku membawa tiga foto dan biodata mereka ke
mama. Tak lepas pandanganku dari wajah
mama. Beliau tampak serius memperhatikan
dan membaca biografi bakal calon papa baruku.
Aku mulai tak sabar. Mama tak
juga menunjukkan ekspresi yang kuharapkan.
Misalnya, tertarik pada salah satu calon.
“Jadi, kapan jadwal pertemuan kami?” Aku tersenyum sambil menyodorkan selembar
kertas. Mama mengerutkan kening.
“Padat sekali jadwalnya?
Mama merasa jadi seperti kepala Negara.”
Aku terkekeh.
Hari-hari berlalu dan setiap saat menimbulkan harap cemas
dihatiku. Takut semua usahaku gagal dan
aku harus menyerah pada keinginan mama.
Akhirnya sampailah pada hari di mana mama akan mengambil keputusan.
“Kita makan malam di luar?” Aku melonjak gembira. Bukan karena tak pernah makan di luar. Tapi karena aku tahu kebiasaan Mama. Jika mama mengajakku makan di luar, artinya,
ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan.
“Ok. Rey siap
mendengarkan keputusan Mama.” Mama
tersenyum. Cantik sekali. Mama meraih jemariku.
“Rey, Mama menghargai usahamu untuk mencarian jodoh untuk
Mama. Sekali pun sebenarnya Mama
setengah hati menanggapi calon yang kamu ajukan. Tapi, Mama tak bisa menipu hati Mama,
akhirnya ada seseorang yang menggerakkan mama untuk mencoba membina rumah tangga
lagi.”
“Calon yang mana, Ma?”
Aku benar-benar tak sabar.
“Bukan dari ketiganya.
Tapi karena salah seorang dari mereka, Mama mengenal laki-laki yang
hampir serupa dengan papamu. Nah, malam
ini, Mama akan mengenalkannya padamu. Kemarin
Mama sudah menerima lamarannya. Maaf,
ya, Mama tak segera memberitahumu?
Karena, sebenarnya Mama masih punya syarat untuknya. Jika kamu tak setuju, Mama akan membatalkan
semuanya.”
“Oh, jangan, Ma.
Aku pasti setuju. Mama tak akan
salah pilih.”
“Anak Mama yang manis.”
Mama mengusap pipiku. “Namanya Sam.
Memang beberapa tahun lebih muda dari Mama, tapi dia sangat dewasa. Nah, itu dia datang.” Bisik mama.
“Selamat malam….”
Demi mendengar sapaan lembut dari belakangku, aku membalikkan badan
dengan cepat. Kusiapkan senyum terindah
untuk calon papa baruku.
Tapi, Tuhan, betapa bahagianya aku jika Kau biarkan bumi
terbelah saat ini juga, lalu menelanku bulat-bulat ketika aku bersitatap dengan
Sam, laki-laki pilihan mama. Sam milik
Mama adalah Windu kekasih hatiku, yang tiga bulan ini terabaikan olehku.
Windu Samudra…!
Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mampu menatap Windu yang masih
terpaku di tempatnya. Menatapku tanpa
sepatah kata….
Pekanbaru,
medio Agustus 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar