Rabu, 25 April 2012

JALAN UNTUK KEMBALI


 Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di antara dua saudara laki-laki, membuatku menjadi anak paling disayang.  Terutama oleh Bapak.  Aku tahu Bapak sangat menyayangiku, meskipun tak pernah mengucapkan kata sayang padaku. Sejak aku masih kanak-kanak.  Aku tahu Bapak sangat mencintaiku. Dari caranya menatapku, dari caranya mengusap rambut ikalku, dari caranya melindungiku, bahkan dari gigitan seekor nyamuk.  Bapak tak banyak bicara.  Tapi setiap yang aku minta, dengan cepat beliau berikan, tanpa bertanya untuk apa, sepenting apa.  Begitu terus, mulai dari kanak-kanakku hingga pada suatu sore, saat aku mengungkapkan dengan susah payah tentang dia.
“Bapak….”  Beliau, yang sedang sibuk menyemir sepatu kulitnya yang usianya hampir sepantar denganku, menoleh dan tersenyum.  Aku mengulurkan selembar foto.  Bapak menghentikan kesibukannya, mengelap tangan dengan kaos yang dikenakannya dan menerima foto yang kuulurkan.
“Dia memintaku untuk menikah dengannya.”  Ucapku lirih dan dan terbata-bata, nyaris hanya telingaku yang mendengarnya.  Tapi, mungkin, Bapak mendengarnya seolah gemuruh guntur di tengah hujan lebat berangin.  Wajahnya tampak tegang sesaat, kemudian tubuhnya seolah menggigil bagai diterpa badai yang sangat dasyat.  Aku berharap Bapak tidak tumbang karenanya. Jantungku serasa meledak menunggu sepatah dua patah kata darinya, namun beliau tak juga menjawab.  Hanya memandangi foto itu lekat.  Aku terpaku di tempatku, menunggu reaksi beliau.  Tak sedikit pun ada keberanian untuk mendesak agar beliau segera memberikan pendapat.
“Bagaimana Bapak berani mengambil keputusan besar ini hanya dengan melihat selembar foto?”  suara Bapak terdengar bergetar dan berat.  Aku tak bisa menjawab.  Bapak pun tak perlu jawaban.
“Adab seorang laki-laki yang ingin meminang perempuan yang akan dijadikannya teman hidup, adalah datang kepada wali si perempuan, lalu meminta dengan baik-baik.  Maka Bapak bisa menduga seperti apa dia, apakah kelak dia akan sanggup memperlakukanmu dengan layak.  Seperti  kami, orangtuamu ini, memperlakukanmu.”
“Dia miskin, Bapak.  Jangankan membiayai dirinya sendiri untuk menemui Bapak, untuk makan saja dia harus bekerja keras dulu.  Seharian mencari pasir, hasilnya untuk makan dia, ibu dan adiknya.  Dia tak pernah melihat dunia luar.  Hidupnya selama ini di kampung itu saja.  Kemiskinan juga membuatnya tumbuh tanpa bekal pendidikan.” 
Suparta, laki-laki dalam foto itu, adalah seorang pemuda kampung di tempatku bekerja, di sebuah perkebunan swasta yang lokasinya harus ditempuh dalam waktu sehari semalam perjalanan dengan bus, dari kota asalku.  Pemuda kampung yang baru kukenal tiga bulan saja.  Pemuda yang sangat bersemangat.  Dia berbeda dengan kebanyakan pemuda di kampung itu.  Selalu ingin tahu dan selalu serius jika aku menceritakan tentang kehidupan dunia di luar kampung, yang belum pernah dilihatnya.  Seorang pemuda kampung yang, menurutku, memiliki sebuah pengorbanan dan tanggung jawab yang sangat besar.  Kecintaannya pada ibu dan adik laki-lakinya yang sakit-sakitan, membuatku bersimpati padanya. 
Suparta yang lugu sehingga menganggap simpatiku sebagai bentuk perhatian yang berbeda.  Maka aku hanya bisa terdiam dan menghindar saat dia ingin menikahiku.  Namun aku harus bimbang saat penolakanku membuatnya sakit karena dia nekat mogok makan.  Aku didera rasa takut jika dia terus bertahan dengan sikapnya, lalu dia mati.  Bagaimana dengan ibu dan adiknya?  Maka dengan setengah hati aku mengiyakan pintanya, hanya agar dia sembuh dan bisa kembali bekerja. 
Lalu aku bisa berkata apa saat dia akhirnya sembuh dan menuntut aku memenuhi janjiku?  Dan inilah aku, perempuan naïf yang akhirnya memutuskan untuk benar-benar menerima lamarannya, hanya dengan sebuah pertimbangan, aku ingin dia tetap bercahaya, untuk ibu dan adiknya.
“Bapak bukan jenis orang yang menilai kebahagiaan hanya dari limpahan materi.  Tapi kamu harus tahu, kekurangan materi bisa menjadi sebuah masalah besar dalam keluargamu kelak.  Meskipun itu bukan pokok masalah.”  Bapak duduk di balai-balai.  Aku tepekur di samping beliau.
“Kamu seorang sarjana sedangkan, dia, bahkan, tak pernah mengenyam pendidikan. Tidakkah ini menjadi pertimbanganmu untuk memutuskan menerima atau menolaknya?  Perbedaan status dan tingkat ekonomi, tak terlalu menimbulkan masalah besar, Nduk.  Tapi perbedaan tingkat pendidikan pasti mempengaruhi cara berpikir seseorang.  Dia laki-laki yang akan memimpin keluargamu, kelak.  Apa mungkin dia sanggup mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga?  Apakah kamu akan sanggup bertahan dengan cara berpikir dan sikapnya kelak?  Memang ada satu dua orang yang tanpa pendidikan tinggi mampu juga membina rumah tangga dengan baik.  Tapi bagaimana kualitas rumah tangganya?”
“Bapak tahu saya keras kepala.  Bapak tahu sikap saya jika sudah memutuskan sesuatu.”
“Ya….  Tapi bukan untuk hal sepenting ini, Nduk.”  Bapak menatapku dalam. “Menikah artinya menjadikan seseorang yang tadinya asing sebagai sahabat hidupmu.  Menjalani suka dan duka bersama.  Mengambil keputusan demi keputusan, juga bersama-sama.  Pendidikannya terlalu rendah untuk menjangkau permasalahan rumah tangga kalian kelak. Terlebih lagi, kamu bilang, dia tak pernah keluar dari kampungnya.”
Nduk, jika pendidikan kamu tidak terpaut jauh dengannya, bisa jadi rumah tangga kalian akan berjalan dengan baik, karena pemikiran kalian tak jauh berbeda.  Tapi….”
“Bapak, dia tak berpendidikan karena keadaan membuatnya harus putus sekolah.  Tapi dia punya kemauan besar untuk terus belajar.  Sesuai saran saya, dia mulai kursus montir. Juga mengaji pada seorang ustadz untuk mengejar ketinggalannya dalam ilmu agama.”
Nduk, hampir semua orang akan ngotot dan melakukan berbagai cara sebelum tercapai keinginannya.  Dia melakukan itu karena permintaanmu.  Apakah dia akan tetap seperti itu jika kelak kamu benar-benar menjadi istrinya?”  Aku tak bisa menjawab.  Suasana menjadi hening. 
“Bapak mengenalmu, Nduk.  Sangat mengenalmu.  Hanya membaca sebuah berita menyedihkan di koran saja bisa membuatmu menangis tersedu-sedu.  Tapi tak benar kalau kamu terlalu gegabah memutuskan hal sepenting ini, hanya dengan pertimbangan sesederhana itu.  Kamu kasihan padanya, bukan?”  Bapak menebak sangat tepat apa yang ada dalam pikiranku.
“Baiklah.  Takabur jika Bapak memvonis bahwa kamu akan hidup menderita jika bersamanya.  Dan Bapak pasti akan sangat menyesal jika menghalangi keinginanmu, padahal ternyata Tuhan memberimu kebahagiaan melalui dia.”
“Maksud Bapak?”
“Bapak hanya bisa mendoakan semoga keputusanmu tidak salah.”  Lalu aku hanya bisa menangis.  Aku yakin bukan tangisan bahagia.  Aku menangis untuk karuniaNya atas seorang Bapak yang sangat bijaksana.
Dan akhirnya kami, aku dan Suparta, menikah.  Bapak dengan tulus menyerahkanku kepada laki-laki yang memang tampak lugu dan canggung berada di antara keluargaku.  Bahkan dia hanya bisa menjawab ya dan tidak setiap Bapak mengatakan sesuatu padanya.  Melihatnya, aku didera bimbang yang luar biasa.  Tapi aku tak bisa mundur lagi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan.  Aku mulai mengerti arti kiasan “orang tua itu kenyang makan garam”.  Maka kini aku menyadari, hampir semua yang pernah Bapak katakan padaku, benar adanya. Suparta kembali ke kebiasaan asalnya. Tidak lagi bersemangat kursus, terlebih mengunjungi Ustadznya.  Dia mulai takzim pada apa yang lazim dilakukan hampir semua suami di kampungnya.  Dia menempatkanku pada posisi seorang istri yang sehari-hari menghabiskan waktu berkutat di dapur, sumur, dan kasur.  Aku yang terbiasa berhubungan dengan luasnya dunia harus beradaptasi menjadi bagian dari kampungnya di mana seorang istri  berkewajiban memasak untuk suami, mencuci baju di kali, membantu menanam dan memanen padi, terakhir, melayani hasratnya sebelum dia terlelap dengan wajah penuh kebanggaan karena terlahir sebagai laki-laki.  Aku jenuh. 
Akhirnya aku harus menjalani hari-hariku terkungkung di sebuah kampung terpencil, tanpa listrik dan tanpa sarana transportasi yang memadai.   Hingga aku selalu terlambat mengetahui, Merapi mengamuk memuntahkan isi perutnya, Yogyakarta luluh lantak oleh gempa, atau Jakarta yang membara dipanaskan oleh demonstrasi mahasiswa.  Yang aku tahu dengan segera adalah periuk nasi telah mengeluarkan asapnya tanda kami masih bisa makan hari ini.
“Bagaimana kabarmu, Nduk?”  hampir meledak tangisku mendengar suara Bapak di seberang sana.  Aku menelponnya, saat pergi belanja ke pasar sekali seminggu, dari sebuah wartel.  Tapi aku tak ingin Bapak tahu aku sedang menangis
“Baik, Bapak.  Saya menemukan dunia yang sangat berbeda, tapi Bapak tak perlu khawatir, saya bisa belajar menerimanya.”  Selalu seperti itu setiap aku menelpon beliau. 
Hingga tak terasa lima tahun berlalu.  Keluargaku tidak lagi aku dan Suparta, tapi juga dua mutiaraku, Wanda dan Hanif.  Usia keduanya hanya terpaut setahun.  Jarak yang sangat dekat karena di kampung kami tak ada istilah alat kontrasepsi. 
Aku yang dulu selalu menjalani hidup dengan rencana yang tertata rapi, kini harus pasrah dengan keadaan hidup di kampung yang mengalir bagaikan air.  Kehidupan yang monoton dan penuh kepasrahan, seperti wayang tunduk kepada dalang.  Sebelum hadir kedua mutiaraku, semua ini tak merisaukanku.  Kalaupun aku harus menjadi bagian keterbelakangan kampung ini, setidaknya aku pernah merasakan derap dan indahnya dunia di luar sana.
Tapi aku tak ingin kedua buah hatiku harus terlahir dan tumbuh dalam kungkungan kehidupan tanpa roda di kampung ini.  Sebuah kehidupan yang tidak mengalami perputaran.  Lahir, hidup, dan mati, tanpa tahu betapa luas dunia ini.
Tujuh tahun tepat, aku akhirnya bertekat membuat keputusan besar, aku harus keluar dari sini.  Langit tujuh lapis, seminggu memiliki tujuh hari, semesta tercipta dalam tujuh masa.  Maka aku memilih di tahun ke tujuh ini untuk mengubah haluan hidup kami.
“Selama ini semuanya berjalan baik, bukan?  Tanpa keluhan kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi?”
“Tujuh tahun aku bertahan dalam hidup yang tak berputar.  Aku hanya ingin bertanggungjawab dengan keputusanku.  Kini, demi kedua anak ini, aku dengan berat harus memutuskan untuk keluar dari sini.  Dulu, ketika kamu memintaku menikahimu, kamu bilang ingin keluar dari tempurung kampungmu ini.  Ketika akhirnya kita menikah, kenapa kamu justru menarikku ke dalam kungkungan hidup yang tak berkembang ini?  Aku menghormatimu sebagai suamiku. Tapi aku tak ingin anak-anakku kehilangan kesempatan untuk merasakan kehidupan yang indah, dengan tetap berada di sini.” 
Tanpa menatapnya, aku mengemasi beberapa lembar pakaian dan buku-bukuku yang nyaris hancur karena terlalu sering dibuka-buka.  Lalu menyusunnya dengan rapi dalam sebuah kardus bekas mie instan.
 “Dengan atau tanpa kerelaanmu, aku akan membawa anak-anak ini melihat kehidupan yang lain, agar mereka tahu bahwa hidup tidak hanya untuk makan, tidur, meladang, lalu menungu ajal.  Hidup juga berjuang dan berkorban untuk orang lain, berempati dan bersimpati kepada orang lain.  Hidup bisa jadi berliku-liku, mendaki, menuruni lembah, atau harus melesat ke awan.  Aku sulit mengajarkan tentang itu, karena di sini, yang mereka lihat hanyalah kehidupan tanpa nada, tanpa tempo, tanpa dinamika dan tanpa irama.”
Suparta, seperti biasa, hanya diam tanpa kata.  Tidak berusaha menahan atau pun menikuti langkah kami yang semakin menjauh darinya.  Anak-anakku tertatih-tatih mengikuti langkahku yang terseok-seok dengan sebuah beban kardus mie instan berisi buku-buku dan pakaian.  Apakah aku yang durhaka? Ataukah dia yang dayus? Aku tak punya banyak waktu untuk memikirkannya.
“Ke mana kita, Bunda?”
“Menjemput masa depan kita, Sayang.  Kalian akan belajar melukis impian kalian.”  Anak-anakku terdiam tak mengerti.  Tak apalah, karena sebentar lagi mereka akan mengerti.
Sehari semalam kami terguncang-gunang dalam jok belakang sebuah pick up.  Berbaur dengan berbagai jenis buah dan sayuran.  Kami tak memiliki ongkos untuk naik bus.  Tumpangan ini dari seorang pedagang yang berbaik hati membawa kami ke kota asalku.  Karena kebetulan dia juga dari kota itu.
Embun belum sempat kering saat kami bertiga turun dari pick up.  Bapak, seperti biasa, sedang menyapu halaman.  Beliau menatap kami lekat.  Mungkin beliau tak mengenaliku yang kini sangat jauh berbeda dengan saat pergi meninggalkan kota ini.  Kulitku kusam, pakaianku lusuh, dan mataku kehilangan cahaya.
“Apakah kamu…?”  Aku menghambur memeluknya.  Kedua anakku terdiam di tempatnya.  Bapak memelukku erat.  Aku merasakan tetesan airmata di punggungku.  Menangiskah Bapak?  Tapi yang kudengar suara tawa.
“Bapak menertawakan kekalahanku?”  Bapak menggeleng kuat-kuat.
“Inilah yang Bapak harap bisa kamu putuskan tujuh tahun yang lalu.  Hanya karena tak ingin mendahului takdir, Bapak merelakanmu pergi.  Percayalah, Bapak selalu berdiri di sampingmu.  Inilah keputusan terbaikmu, Nduk.”  Aku tergugu. 
“Bunda….”  Aku menatap kedua mutiaraku.
“Ini Mbah Kakung, Sayang.”  Bapak menatap haru kedua mutiaraku yang tampak lusuh dan kuyu. Kedua belah tangannya yang keriput terentang menyambut kedua anakku yang berlari kecil ke arahnya.
“Selamat datang, cucu-cucuku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar