Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di antara
dua saudara laki-laki, membuatku menjadi anak paling disayang. Terutama oleh Bapak. Aku tahu Bapak sangat menyayangiku, meskipun
tak pernah mengucapkan kata sayang padaku. Sejak aku masih kanak-kanak. Aku tahu Bapak sangat mencintaiku. Dari
caranya menatapku, dari caranya mengusap rambut ikalku, dari caranya
melindungiku, bahkan dari gigitan seekor nyamuk. Bapak tak banyak bicara. Tapi setiap yang aku minta, dengan cepat
beliau berikan, tanpa bertanya untuk apa, sepenting apa. Begitu terus, mulai dari kanak-kanakku hingga
pada suatu sore, saat aku mengungkapkan dengan susah payah tentang dia.
“Bapak….” Beliau,
yang sedang sibuk menyemir sepatu kulitnya yang usianya hampir sepantar denganku,
menoleh dan tersenyum. Aku mengulurkan
selembar foto. Bapak menghentikan
kesibukannya, mengelap tangan dengan kaos yang dikenakannya dan menerima foto
yang kuulurkan.
“Dia memintaku untuk menikah dengannya.” Ucapku lirih dan dan terbata-bata, nyaris
hanya telingaku yang mendengarnya. Tapi, mungkin, Bapak
mendengarnya seolah gemuruh guntur di tengah hujan lebat berangin. Wajahnya tampak tegang sesaat, kemudian tubuhnya
seolah menggigil bagai diterpa badai yang sangat dasyat. Aku berharap Bapak tidak tumbang karenanya.
Jantungku serasa meledak menunggu sepatah dua patah kata darinya, namun beliau
tak juga menjawab. Hanya memandangi foto
itu lekat. Aku terpaku di tempatku,
menunggu reaksi beliau. Tak sedikit pun
ada keberanian untuk mendesak agar beliau segera memberikan pendapat.
“Bagaimana Bapak berani mengambil keputusan besar ini hanya
dengan melihat selembar foto?” suara
Bapak terdengar bergetar dan berat. Aku
tak bisa menjawab. Bapak pun tak perlu
jawaban.
“Adab seorang laki-laki yang ingin meminang perempuan
yang akan dijadikannya teman hidup, adalah datang kepada wali si perempuan,
lalu meminta dengan baik-baik. Maka
Bapak bisa menduga seperti apa dia, apakah kelak dia akan sanggup
memperlakukanmu dengan layak.
Seperti kami, orangtuamu ini, memperlakukanmu.”
“Dia miskin, Bapak.
Jangankan membiayai dirinya sendiri untuk menemui Bapak, untuk makan
saja dia harus bekerja keras dulu.
Seharian mencari pasir, hasilnya untuk makan dia, ibu dan adiknya. Dia tak pernah melihat dunia luar. Hidupnya selama ini di kampung itu saja. Kemiskinan juga membuatnya tumbuh tanpa bekal
pendidikan.”
Suparta, laki-laki dalam foto itu, adalah seorang pemuda
kampung di tempatku bekerja, di sebuah perkebunan swasta yang lokasinya harus
ditempuh dalam waktu sehari semalam perjalanan dengan bus, dari kota asalku. Pemuda kampung yang baru kukenal tiga
bulan saja. Pemuda yang sangat
bersemangat. Dia berbeda dengan
kebanyakan pemuda di kampung itu. Selalu
ingin tahu dan selalu serius jika aku menceritakan tentang kehidupan dunia di
luar kampung, yang belum pernah dilihatnya.
Seorang pemuda kampung yang, menurutku, memiliki sebuah pengorbanan dan
tanggung jawab yang sangat besar.
Kecintaannya pada ibu dan adik laki-lakinya yang sakit-sakitan,
membuatku bersimpati padanya.
Suparta yang lugu sehingga menganggap simpatiku sebagai
bentuk perhatian yang berbeda. Maka aku
hanya bisa terdiam dan menghindar saat dia ingin menikahiku. Namun aku harus bimbang saat penolakanku membuatnya
sakit karena dia nekat mogok makan. Aku
didera rasa takut jika dia terus bertahan dengan sikapnya, lalu dia mati. Bagaimana dengan ibu dan adiknya? Maka dengan setengah hati aku mengiyakan
pintanya, hanya agar dia sembuh dan bisa kembali bekerja.
Lalu aku bisa berkata apa saat dia akhirnya sembuh dan
menuntut aku memenuhi janjiku? Dan inilah
aku, perempuan naïf yang akhirnya memutuskan untuk benar-benar menerima
lamarannya, hanya dengan sebuah pertimbangan, aku ingin dia tetap bercahaya,
untuk ibu dan adiknya.
“Bapak bukan jenis orang yang menilai kebahagiaan hanya
dari limpahan materi. Tapi kamu harus
tahu, kekurangan materi bisa menjadi sebuah masalah besar dalam keluargamu
kelak. Meskipun itu bukan pokok
masalah.” Bapak duduk di balai-balai. Aku tepekur di samping beliau.
“Kamu seorang sarjana sedangkan, dia, bahkan, tak pernah
mengenyam pendidikan. Tidakkah ini menjadi pertimbanganmu untuk memutuskan menerima atau
menolaknya? Perbedaan status dan tingkat
ekonomi, tak terlalu menimbulkan masalah besar, Nduk. Tapi perbedaan tingkat
pendidikan pasti mempengaruhi cara berpikir seseorang. Dia laki-laki yang akan memimpin keluargamu,
kelak. Apa mungkin dia sanggup mengambil
tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga?
Apakah kamu akan sanggup bertahan dengan cara berpikir dan sikapnya
kelak? Memang ada satu dua orang yang
tanpa pendidikan tinggi mampu juga membina rumah tangga dengan baik. Tapi bagaimana kualitas rumah tangganya?”
“Bapak tahu saya keras kepala. Bapak tahu sikap saya jika sudah memutuskan
sesuatu.”
“Ya…. Tapi bukan
untuk hal sepenting ini, Nduk.” Bapak menatapku dalam. “Menikah artinya
menjadikan seseorang yang tadinya asing sebagai sahabat hidupmu. Menjalani suka dan duka bersama. Mengambil keputusan demi keputusan, juga
bersama-sama. Pendidikannya terlalu
rendah untuk menjangkau permasalahan rumah tangga kalian kelak. Terlebih lagi,
kamu bilang, dia tak pernah keluar dari kampungnya.”
“Nduk, jika
pendidikan kamu tidak terpaut jauh dengannya, bisa jadi rumah tangga kalian
akan berjalan dengan baik, karena pemikiran kalian tak jauh berbeda. Tapi….”
“Bapak, dia tak berpendidikan karena keadaan membuatnya
harus putus sekolah. Tapi dia punya
kemauan besar untuk terus belajar.
Sesuai saran saya, dia mulai kursus montir. Juga mengaji pada seorang
ustadz untuk mengejar ketinggalannya dalam ilmu agama.”
“Nduk, hampir
semua orang akan ngotot dan melakukan berbagai cara sebelum tercapai
keinginannya. Dia melakukan itu karena
permintaanmu. Apakah dia akan tetap
seperti itu jika kelak kamu benar-benar menjadi istrinya?” Aku tak bisa menjawab. Suasana menjadi hening.
“Bapak mengenalmu, Nduk. Sangat mengenalmu. Hanya membaca sebuah berita menyedihkan di
koran saja bisa membuatmu menangis tersedu-sedu. Tapi tak benar kalau kamu terlalu gegabah memutuskan
hal sepenting ini, hanya dengan pertimbangan sesederhana itu. Kamu kasihan padanya, bukan?” Bapak menebak sangat tepat apa yang ada dalam
pikiranku.
“Baiklah. Takabur
jika Bapak memvonis bahwa kamu akan hidup menderita jika bersamanya. Dan Bapak pasti akan sangat menyesal jika
menghalangi keinginanmu, padahal ternyata Tuhan memberimu kebahagiaan melalui
dia.”
“Maksud Bapak?”
“Bapak hanya bisa mendoakan semoga keputusanmu tidak
salah.” Lalu aku hanya bisa
menangis. Aku yakin bukan tangisan
bahagia. Aku menangis untuk karuniaNya
atas seorang Bapak yang sangat bijaksana.
Dan akhirnya kami, aku dan Suparta, menikah. Bapak dengan tulus menyerahkanku kepada
laki-laki yang memang tampak lugu dan canggung berada di antara
keluargaku. Bahkan dia hanya bisa
menjawab ya dan tidak setiap Bapak mengatakan sesuatu padanya. Melihatnya, aku didera bimbang yang luar
biasa. Tapi aku tak bisa mundur lagi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku mulai mengerti arti kiasan “orang
tua itu kenyang makan garam”. Maka kini
aku menyadari, hampir semua yang pernah Bapak katakan padaku, benar adanya. Suparta
kembali ke kebiasaan asalnya. Tidak lagi bersemangat kursus, terlebih
mengunjungi Ustadznya. Dia mulai takzim
pada apa yang lazim dilakukan hampir semua suami di kampungnya. Dia menempatkanku pada posisi seorang istri
yang sehari-hari menghabiskan waktu berkutat di dapur, sumur, dan kasur. Aku yang terbiasa berhubungan dengan luasnya
dunia harus beradaptasi menjadi bagian dari kampungnya di mana seorang
istri berkewajiban memasak untuk suami,
mencuci baju di kali, membantu menanam dan memanen padi, terakhir, melayani
hasratnya sebelum dia terlelap dengan wajah penuh kebanggaan karena terlahir
sebagai laki-laki. Aku jenuh.
Akhirnya aku harus menjalani hari-hariku terkungkung di
sebuah kampung terpencil, tanpa listrik dan tanpa sarana transportasi yang
memadai. Hingga aku selalu terlambat mengetahui, Merapi
mengamuk memuntahkan isi perutnya, Yogyakarta luluh lantak oleh gempa, atau Jakarta
yang membara dipanaskan oleh demonstrasi mahasiswa. Yang aku tahu dengan segera adalah periuk
nasi telah mengeluarkan asapnya tanda kami masih bisa makan hari ini.
“Bagaimana kabarmu, Nduk?” hampir meledak tangisku mendengar suara Bapak
di seberang sana. Aku menelponnya, saat
pergi belanja ke pasar sekali seminggu, dari sebuah wartel. Tapi aku tak ingin Bapak tahu aku sedang
menangis
“Baik, Bapak. Saya
menemukan dunia yang sangat berbeda, tapi Bapak tak perlu khawatir, saya bisa
belajar menerimanya.” Selalu seperti itu
setiap aku menelpon beliau.
Hingga tak terasa lima tahun berlalu. Keluargaku tidak lagi aku dan Suparta, tapi
juga dua mutiaraku, Wanda dan Hanif.
Usia keduanya hanya terpaut setahun.
Jarak yang sangat dekat karena di kampung kami tak ada istilah alat
kontrasepsi.
Aku yang dulu selalu menjalani hidup dengan rencana yang
tertata rapi, kini harus pasrah dengan keadaan hidup di kampung yang mengalir
bagaikan air. Kehidupan yang monoton dan
penuh kepasrahan, seperti wayang tunduk kepada dalang. Sebelum hadir kedua mutiaraku, semua ini tak
merisaukanku. Kalaupun aku harus menjadi
bagian keterbelakangan kampung ini, setidaknya aku pernah merasakan derap dan
indahnya dunia di luar sana.
Tapi aku tak ingin kedua buah hatiku harus terlahir dan
tumbuh dalam kungkungan kehidupan tanpa roda di kampung ini. Sebuah kehidupan yang tidak mengalami
perputaran. Lahir, hidup, dan mati,
tanpa tahu betapa luas dunia ini.
Tujuh tahun tepat, aku akhirnya bertekat membuat
keputusan besar, aku harus keluar dari sini.
Langit tujuh lapis, seminggu memiliki tujuh hari, semesta tercipta dalam
tujuh masa. Maka aku memilih di tahun ke
tujuh ini untuk mengubah haluan hidup kami.
“Selama ini semuanya berjalan baik, bukan? Tanpa keluhan kenapa tiba-tiba kamu ingin
pergi?”
“Tujuh tahun aku bertahan dalam hidup yang tak
berputar. Aku hanya ingin
bertanggungjawab dengan keputusanku.
Kini, demi kedua anak ini, aku dengan berat harus memutuskan untuk
keluar dari sini. Dulu, ketika kamu
memintaku menikahimu, kamu bilang ingin keluar dari tempurung kampungmu
ini. Ketika akhirnya kita menikah,
kenapa kamu justru menarikku ke dalam kungkungan hidup yang tak berkembang
ini? Aku menghormatimu sebagai suamiku. Tapi
aku tak ingin anak-anakku kehilangan kesempatan untuk merasakan kehidupan yang
indah, dengan tetap berada di sini.”
Tanpa menatapnya, aku mengemasi beberapa lembar pakaian
dan buku-bukuku yang nyaris hancur karena terlalu sering dibuka-buka. Lalu menyusunnya dengan rapi dalam sebuah
kardus bekas mie instan.
“Dengan atau tanpa
kerelaanmu, aku akan membawa anak-anak ini melihat kehidupan yang lain, agar
mereka tahu bahwa hidup tidak hanya untuk makan, tidur, meladang, lalu menungu
ajal. Hidup juga berjuang dan berkorban
untuk orang lain, berempati dan bersimpati kepada orang lain. Hidup bisa jadi berliku-liku, mendaki,
menuruni lembah, atau harus melesat ke awan.
Aku sulit mengajarkan tentang itu, karena di sini, yang mereka lihat
hanyalah kehidupan tanpa nada, tanpa tempo, tanpa dinamika dan tanpa irama.”
Suparta, seperti biasa, hanya diam tanpa kata. Tidak berusaha menahan atau pun menikuti
langkah kami yang semakin menjauh darinya.
Anak-anakku tertatih-tatih mengikuti langkahku yang terseok-seok dengan
sebuah beban kardus mie instan berisi buku-buku dan pakaian. Apakah aku yang durhaka? Ataukah dia yang dayus? Aku tak punya banyak waktu untuk memikirkannya.
“Ke mana kita, Bunda?”
“Menjemput masa depan kita, Sayang. Kalian akan belajar melukis impian
kalian.” Anak-anakku terdiam tak
mengerti. Tak apalah, karena sebentar
lagi mereka akan mengerti.
Sehari semalam kami terguncang-gunang dalam jok belakang
sebuah pick up. Berbaur dengan berbagai
jenis buah dan sayuran. Kami tak
memiliki ongkos untuk naik bus.
Tumpangan ini dari seorang pedagang yang berbaik hati membawa kami ke
kota asalku. Karena kebetulan dia juga
dari kota itu.
Embun belum sempat kering saat kami bertiga turun dari
pick up. Bapak, seperti biasa, sedang
menyapu halaman. Beliau menatap kami
lekat. Mungkin beliau tak mengenaliku
yang kini sangat jauh berbeda dengan saat pergi meninggalkan kota ini. Kulitku kusam, pakaianku lusuh, dan mataku
kehilangan cahaya.
“Apakah kamu…?” Aku
menghambur memeluknya. Kedua anakku
terdiam di tempatnya. Bapak memelukku
erat. Aku merasakan tetesan airmata di
punggungku. Menangiskah Bapak? Tapi yang kudengar suara tawa.
“Bapak menertawakan kekalahanku?” Bapak menggeleng kuat-kuat.
“Inilah yang Bapak harap bisa kamu putuskan tujuh tahun
yang lalu. Hanya karena tak ingin
mendahului takdir, Bapak merelakanmu pergi.
Percayalah, Bapak selalu berdiri di sampingmu. Inilah keputusan terbaikmu, Nduk.”
Aku tergugu.
“Bunda….” Aku
menatap kedua mutiaraku.
“Ini Mbah Kakung, Sayang.” Bapak menatap haru kedua mutiaraku yang
tampak lusuh dan kuyu. Kedua belah tangannya yang keriput terentang menyambut
kedua anakku yang berlari kecil ke arahnya.
“Selamat datang, cucu-cucuku.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar