“Morning, Honey…”
A nice greeting mampir di pesan offline Yahoo Messenger-ku. Whuuuuaaaaa…! Rasanya seperti terbang
melayang. Dia menyapaku saat matahari pun masih enggan menampakkan diri. Fu fu fu, its show me how he cares!
Mukaku memanas, pasti karena sangat tersanjung.
“Mamaaaaa, pupu….!”
What?
Sekarang aku terhempas ke jurang terdalam.
Hu hu hu, aku pengin chatting…. Dia
menungguku, hiks hiks.
Tapi rengekan si kecil semakin nyaring, mengalahkan tangis hatiku.
“Mamaaaaa….”
Kepalaku terkulai pasrah.
“Morning, too, honey. Wait, I must do something….”
Langkahku gontai menghampiri si kecil yang
belum lagi genap dua tahun. Tiba-tiba,
sesaat sebelum menggandeng tangan mungilnya, aku menemukan sesuatu yang
berbeda. Tatapan matanya. Ya, tatapan matanya. Seperti menyiratkan sebuah kerinduan. Ooooh, dear. Gadis mungilku yang selalu terabaikan.
Setengah
hari kutinggalkan untuk bekerja, seperempat hari yang biasanya tercurah hanya
untuknya, pun, akhir-akhir ini terenggut darinya.
Air mataku tak bisa kucegah. Kerinduan di
matanya membuatku lunglai. Kupeluk buah
hatiku erat, sangat kuat, hingga dia meringis.
“Mama, Akiiit...” Aku tersenyum. Dia meringis kesakitan tapi tatap matanya
menyiratkan sebuah kebahagiaan. Hu hu
hu, aku merasa bersalah telah mengabaikannya beberapa hari ini. Karena dia, seseorang yang tiba-tiba hadir
menawarkan sebuah harapan indah. Aku
harus bagaimana?
“Honey, I’d like to introduce you to
someone special. This is my little
angel. Her name is Ara….”
Senyumku mengembang melihat emoticon
smile darinya.
“Nice to meet you, Ara….”
Melalui webcam aku dapat melihat senyum
tulus dan lambaian tangannya, untuk Ara.
Membuatku lega. Dia mau mengerti.
Fu fu fu, semoga semua berjalan dan berakhir indah. Mungkinkah?
Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar