Jumat, 18 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 3)


“Assalamu’alaikum, Mas.”  Seorang laki-laki berambut gondrong, yang duduk di balik tumpukan pigura, menoleh.  Lalu tersenyum ramah, seramah tatapan matanya. Wajahnya yang nyaris tertutup jenggot dan cambang tak bisa menutupi parasnya yang tampan dan friendly. Baru kali ini aku langsung welcome terhadap lawan jenis, pada pandangan pertama.  Tapi jangan simpulkan aku jatuh hati.  Jantungku tak sesaat berhenti berdetak.  Tubuhku pun tak sejenak terpaku.  Biasa saja.  Ini reaksi normal saat bertemu kawan baru.
“Ini pasti Winda.”  Aku mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan genggaman erat.
“Salam kenal.  Kamu sepertinya sudah mengenalku. Tentu dari adikku.  Semoga hal yang baik saja yang diceritakannya.”  Dia tersenyum.
“Ya, namaku, Tri.”  Katanya seolah tak peduli kata-kataku. Tri?
“Itu nama tengahku.”
“Dan itu nama depanku.”
“Anak ketiga?”
“Kenapa tri diartikan ketiga?”
“Memang artinya tiga, kan?”  Tri tertawa.
“Dodo nyaris sempurna menceritakan tentangmu. Apa yang kulihat darimu sekarang, nyaris sesuai dengan yang kubayangkan saat Dodo menceritakan tentangmu.”  Heran, aku tak sedikit pun merasa keberatan.  Dodo yang tiba-tiba lenyap pun tak membuatku risau.
“Jadi, mana hasil ukiranmu?”
To the point, ya.”  Aku tertawa.  Yach, sempitnya waktu membuatku tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Tri mengajakku ke ruang belakang. Wow, rupanya pemandangan di belakang rumah bambu ini sangat indah. Hamparan sawah yang dibuat terasering tampak berundak-undak seperti tangga berwarna hijau segar. Birunya pegunungan, nun jauh di sana, memberikan kontras warna yang pas. Aku sampai tak sadar Tri sudah di hadapanku dengan membawa sekeranjang contoh ukiran.
“Win....”  aku tersenyum.
“Indah.”  Tri mengangguk.
“Kamu bosan dengan keindahan ini?”
“Karena komentarku cuma anggukan kecil?” aku menatap Tri.  Dia menunjuk sebuah kanvas di sudut ruangan.  Sebuah lukisan pemandangan alam yang sangat bagus, nyaris seperti sebuah foto. 
“Lukisanmu?”
“Sebuah ungkapan kekaguman atas keindahan yang dilukiskan oleh Sang Pencipta.”  Tri tersenyum. “Saat itu, aku seperti kamu saat ini. Aku takut menjadi bosan dengan pemandangan yang setiap saat kulihat.  Jadi saat aku merasa sangat kagum, segera kupindahkan keindahan itu ke dalam kanvas.  Biar pun tak seindah aslinya.”
“Kamu hebat.”
“Biasa saja. Ah, iya, ini contoh ukirannya. Kalau ada order, jangan terlalu sempit tenggang waktunya. Aku tak suka bekerja di bawah tekanan. Setengah jiwa aku mengerjakannya kalau dalam keadaan terburu-buru. Bagiku, ini adalah karya seni, bukan sekedar barang dagangan.”  Aku tertawa.
“PD kamu berlebihan.  Dipajang juga belum.  Tapi jangan khawatir, aku akan meletakkannya di tempat khusus, yang setiap pengunjung datang, karyamu inilah yang akan dilihatnya.”
“Aku sangat tersanjung. Terima kasih.”  Tri mengulurkan sebuah kartu nama. Tanpa melihatnya, aku segera menyelipkan kartu nama itu ke dalam salah satu saku tas pinggangku.
“Sayang sekali waktuku sangat sempit.  Kami hanya berdua mengelola  rumah souvenir, jadi tak bisa berlibur lama.”
“Lain kali aku datang bersama Dodo, boleh?”
“Aku tunggu.”  Tri tersenyum lebar. Aku sedikit geli melihat Tri yang masih juga melambaikan tangannya, mengantar kepergian kami, hingga bayangannya tak lagi terlihat saat kami berbelok menuju jalan aspal. Aku jadi teringat lagu “Teluk Bayur”.  He he.... tipe manusia akhir tahun 80-an.
“Kok, Mbak senyum-senyum?”  aku tersentak.  Mukaku terasa panas.  Malu ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
“Tampaknya Mbak suka sama mas Tri?”
“Ah, kamu. Kesimpulan yang dangkal.”
“Mas Tri itu, selain jago buat ukiran, jago juga membuat lukisan. Dia bisa membuat lukisan hanya dengan membayangkan cerita yang kita buat.”
“Mbak percaya.”
“Kok?”
“Ya, tadi Mbak lihat lukisan pemandangan alamnya.  Sangat bagus, nyaris seperti sebuah hasil bidikan kamera.”
“Ooo, itu, sih karena dia ada obyek nyata, jadi ngga terlalu istimewa.  Yang paling istimewa, ada di jok mobil Mbak.  Tapi dilihatnya nanti, kalau sudah sampai di kantor Mbak.”
“Yee, apa bedanya, sih, dibuka di rumah nanti?”
“Kemasannya cantik, Mbak. Nanti kita tak bisa mengemas secantik itu lagi.”
“OK, lah.”
“Janji, jangan dibuka sebelum sampai kantor.”  Aku mengangguk pasti.  Dodo bersiul-siul. Dan anehnya, aku tak gusar dengan siulannya kali ini. Alam pikiranku sedang kembara, kembali ke rumah joglo di sebuah kampung terpencil. Selintas terbayang senyum simpul Tri. Hih, siapa memberinya ijin untuk singgah di pikiranku? Kukibaskan tanganku, mencoba mengusir senyum lucunya.  Dodo melirikku selintas.  Aku pura-pura tidur.
Huff, akhirnya sampai rumah juga. Wah, jam tiga sore.  Aku segera berkemas.  Mbah Putri dan Ibu membantuku.  Lebih jelasnya, sibuk memasukkan berbagai penganan dan lauk khas kampungku ke dalam kardus.  Inilah kebiasaan Ibuku.  Bothok lamtoro[x] dan sembukan[xi], peyek teri, ungkusan tawon[xii], dan lain-lain.  Kalau saja semua makanan kampung itu bukan menu favoritku, pasti aku akan menggerutu.  Meski pun aku bukan tipe pemakan, tapi menu kampung masakan ibuku itu, pasti kulahap habis.  Tentu ditemani Amira.  Dia ikut bersemangat karena jadi merasa punya kampung halaman, setiap kali kami makan masakan ibuku.  Kadang aku terharu melihatnya.  Dua anak-beranak tanpo sanak tanpo kadang[xiii]. Sering kutawarkan agar ibu Amira tinggal bersama keluargaku di kampung.  Jadi, aku ada teman setiap pulang kampung.  Tapi dengan tegas Amira menolak.
“Bukan menolak kebaikanmu, tapi ibuku membawaku merantau untuk membuktikan beliau bukan manusia lemah yang mengandalkan belas kasihan orang lain.  Sepanjang hidupnya, ibuku tak mau merepotkan orang lain. Kalau sekedar berkunjung dan menjalin silatirahim, ya, sudah pasti kami sambut mesra.”  Begitulah Amira dan ibunya.  Dan aku menyanyangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Nduk, mbah Putri ingin sekali segera menimang cicit Mbah. Bulan depan, kita buat acara ruwatan, ya, Nduk....” aku tersadar dari lamunanku tentang Amira.
Bbbummmm, akhirnya meledak juga yang tersimpan dalam pikiran mbah Putri sejak semalam.  Aku tersenyum.
“Siapa tahu, ada sesuatu yang menutupi auramu, sehingga membuat orang tak bisa melihat kecantikanmu.”
“Memilih pasangan, kan, tidak memandang paras, Mbah.”  Aku tersenyum lagi. “mungkin, jodoh Winda memang belum waktunya datang.”
Mangkane kuwi, Nduk, kita upayakan agar lebih cepat datangnya.”  Aku terdiam.  Ibu mengedipkan matanya, menyuruhku tak berkomentar. “sudah, iyakan saja, nanti tak habis-habis mbahmu bicara,” begitu mungkin maksud Ibu.
“Mbah Putri akan di sini sampai bulan depan. Pulanglah hari Jum’at, biar waktunya lebih longgar.” Mbah menepuk punggungku. “Mbah akan persiapkan segala sesuatunya.  Kamu tinggal mengikuti prosesinya saja.”  Aku mengangguk kecil.  Akhirnya semua siap. 
“Winda berangkat dulu, Pak, Bu....” kucium tangan mereka.  Ibu mencium pipiku.  Bapak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku.  Mbah Putri menatap kami sambil tersenyum.
“Winda berangkat, Mbah.”  Mbah Putri mencium pipiku.
“Ya, hati-hati, jangan lupa persiapkan diri untuk acara bulan depan.” Aku mengangguk tanpa makna.
Aneh, keanehan yang ke sekian kalinya untuk kepulanganku kali ini. Aku sedikit pun tak merasa risau dengan “ancaman” mbah Putri. Apa karena saran Amira untuk bersikap seperti pepatah “anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” sudah merasuki pikiranku?  Tapi rasanya bukan itu.  Ada sesuatu yang membuat hatiku seperti berselimut pelangi. Bisa jadi karena mbah Putri ngga pakai acara ngotot memaksaku untuk ruwatan.  Bisa jadi karena aku mulai bosan dengan rutinitas “ancaman” ruwatan.  Jadi pikiranku lebih lepas dan bebas. Ya, pasti karena itu. 
Aku bersiul-siul.  Hei, kebiasaan baru, nih, bersiul-siul.  Padahal ini hal yang paling kubenci.  Ada apa denganku hari ini? Untuk mengusir jenuh, kuputar radio sajalah.
Selamat sore, untuk sahabat Suara Antara, yang baru tune di 303,5 FM. Untuk bincang-bincang sore hari ini, di studio telah hadir seorang seniman muda yang ganteng dan luar biasa kreatif, bung Tri.” 
Keningku langsung berkerut. Tri?  Apa sama dengan Tri yang tadi siang kutemui?
“Apa kabar, bung Tri?”
“Kabar baik, mas Agung.”
“Jadi, barang bekas apa, nih, yang sekarang disulap menjadi dolar?”  Ha ha...
Hei, itu suara tawa Tri.  Benar, dia Tri yang sama.
“Yach, namanya juga tinggal di kampung, Mas.  Banyak sampah daun, pelepah pisang, cangkang bunga mahoni, banyak.”
“Jadi, dibuat untuk kerajinan apa, Bung?”
“Pelepah pisang untuk lukisan. Cangkang bunga mahoni untuk hiasan bunga.  Ini contohnya.”
“Wah, terkesan mewah, ya.”
“Ya, dengan sentuhan vernis dan cat.”
“Bisa dijelaskan prosesnya?”
“Singkat saja, ya?  Pertama tentu dilakukan pengeringan pelepah pisang.  Lalu dipotong-potong sesuai keinginan dan kebutuhan.  Beri warna dengan cat minyak.  Selanjutnya, tinggal digunakan untuk membuat lukisan dengan cara ditempelkan pada kanvas.  Bisa dilakukan pemotongan lagi untuk detailnya.”
“Ini lukisan yang luar biasa. Obyeknya pun nampaknya sangat istimewa?”
“Sebenarnya ini replika dari lukisan saya yang lain, tapi lukisan yang itu menggunakan cat minyak.  Obyeknya sudah luar biasa, makanya hasilnya bisa memuaskan.”
“Seseorang yang istimewa untuk Bung Tri, nampaknya.”  Ha ha...
“Bisa, saja.”
“Baik, sahabat Suara Antara, bagi Anda yang ingin berbincang-bincang langsung dengan Bung Tri, bisa on line di 0342 552821.  Okay, stay tune on 103.3 Suara Antara Pro 2 FM, kita break dulu dan kembali setelah yang satu ini.”
Kuraih handphone dari saku tas pinggangku. Setelah memasang headset, segera kudial nomor yang tadi disebutkan penyiar radio.
“Kembali pada bincang-bincang sore.  Nampaknya sudah ada penelpon masuk. Suara Antara Pro 2 FM, selamat sore.  Dengan siapa dimana, nih?”
“Astuti, lagi di jalan....”
“Ooo, hati-hati dengan kemudinya, Non....”
“Terima kasih. Mau nanya, nih, sama Bung Tri.”
“Yup, silakan langsung.”
“Selamat sore, Bung Tri.”
“Selamat sore, Mbak Astuti.”
“Jadi untuk pemesanannya, kontak ke siapa?” Ha ha...
Terdengar tawa khas Tri.
“To the point, ya?”  aku ikut tertawa.
“Mbak bisa lihat dulu contohnya di workshop saya, bisa dipilih langsung mana yang akan diorder, barang dikirim menyusul.  Karena kami baru membuat contohnya saja, baru dibuat banyak kalau ada pesanan.  Sudah terjawab?”
“OK, dech, terima kasih.”
“Hati-hati di jalan, ya....”
“Ya, terima kasih.”
Apa Tri mengenali suaraku?
“Wah, lancar, nih, nampaknya usaha Bung Tri.  Belum-belum sudah ada yang order.”
“Sama-sama pecinta kreasi bahan bekas.”
“Lho, nampaknya sudah mengenal Mbak Astuti?”
“Bukan begitu, yang tertarik kreasi saya tentu hanya pecinta kreasi bahan bekas, kan?” sahutnya diplomatis. Ho ho...
“Iya, juga, ya....”
Tapi aku tahu, Tri memang mengenali suaraku.
“Sayang sekali waktu tidak mengijinkan untuk berbincang-bincang lebih lama lagi.  Terima kasih atas kehadirannya, Bung Tri. Jangan bosan-bosan untuk berkunjung di studio kami.”
“Sama-sama, terima kasih juga sudah memberi media bagi pengrajin pinggiran seperti kami, Mas Agung.”
Hm, sebuah kebetulan yang aneh.  Setengah harian ini, waktuku terisi oleh Tri. Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tak dikenal.
“Selamat sore, Win.”
“Selamat sore, siapa, nih?”
“Tak ingat suaraku?”  Aku mengernyitkan kening.
“Oooo, Bung Tri, seniman muda yang kreatif.”
“Terima kasih atensinya, ya.”
“Sama-sama.  Kebetulan aku tune di saluran itu.  Kok, kebetulan lagi ada kamu.” Ha ha... terdengar tawanya yang khas.
“Tadi kamu ngga bilang mau siaran.”
Kan, gak penting untuk kamu?”
“Kamu juga ngga lihatin ke aku hasil karyamu yang dari pelepah pisang dan bunga mahoni.”
“Kupikir kamu hanya tertarik ukiran.”
“Yang kupajang di rumah souvenirku macam-macam....”
“Lusa aku ke kotamu. Ada yang mau kubawakan?
“Lukisanmu yang dari pelepah pisang, deh. Hiasan dari cangkang bunga mahoninya juga boleh. Jangan lupa gantungan kunci ukiran dan miniatur Candi Penatarannya, ya.”
“OK, tuan Putri, anything for you....”
“Hei, ini bicara soal bisnis, Tuan.”
“Ini juga bicara tentang sebuah pelayanan, Nona.”
“Ooo, jadi kepada semua pelangganmu, kamu akan menyebutnya tuan Putri?"
“Ooo, yang itu hanya untuk kamu.”
“Ih, tipe perayu juga, ya?”
“Bukan juga. Ini spontan dan baru kali ini. Maaf kalau mengganggumu.”
“Dimaafkan.”
“Aku minta diantar Dodo, lusa.”
“OK.”
“Lusa, aku pasti datang.”
“Iya. Kutunggu.”
“Benar, ya.  Tunggu aku.”  Aku tersenyum.
Dan lagu yang mengalun dari radioku terdengar semakin merdu.  Tak terasa melelahkan perjalananku sore ini.  Akhirnya sampai juga di rumahku. Sibuklah aku mengeluarkan berbagai bawaan dari bagasiku.  Terakhir...
“Ini bingkisan dari Tri.”  Gumamku.
Uh, agak berat, nih.  Apa, ya? Sepertinya lukisan. Sesuai janjiku, besok baru kubuka di kantorku.  Seperti janjiku juga, besok akan kuletakkan secara khusus dalam ruanganku.  Uh, tak sabar menunggu pagi.
“SELAMAT PAGI, BOS...!”
Sapaan Amira menimbulkan gempa dengan kekuatan 8,5 skala richter. Membuat aku limbung dan hampir terjerembab. Semua barang ditanganku sampai terjatuh berantakan, kecuali sebuah bungkusan dari Tri, yang secara reflek, kupegang kuat-kuat.
“Belajar etika berbicara, ya, Nona!” Amira nyengir.
“Apa, tuh, yang kamu bawa? Nampaknya istimewa, sampai-sampai kamu biarkan kantong di tangan kirimu tercampak untuk menjaga barang itu tak jatuh?”  Aku tak menjawab.
“Cepat selamatkan isi kantong itu, Mira.  Isinya bothok lamtoro dan peyek teri, titipan ibuku untuk kamu dan ibumu.”
“Wah, makanan istimewa untuk kami kamu campakkan demi bungkusan itu?”
“Sudahlah, maaf, itu reaksi spontan karena kaget. Salah siapa, juga, mengagetkanku seperti tadi.”  Amira bersungut-sungut.  Tapi karena ingat betapa dia menyukai bothok buatan Ibu Winda, dia segera memungut kantong besar yang tergeletak di lantai.
“Tak berantakan isinya, kan?
“Ibumu selalu cermat, tak ceroboh sepertimu, beliau mengemasnya dengan baik, untuk menjaga kemungkinan barangnya tercampak seperti insiden barusan.”
“Ih, banyak bicara.” Aku segera menyimpan tas dalam laci dan meletakkan bungkusan berukuran 90 cm x 50 cm itu di atas meja. “Ini yang membuatku penasaran, Mir.”
“Memang apa isinya?”
“Yach, kalau tahu isinya, tentu aku tak penasaran.”
Tanpa banyak kata segera kubuka bungkusan itu dengan hati-hati. Amira ikut tegang menungguku membuka bungkusan.
“Wow... lukisan Win...! Sepertinya, wajah kamu, tuh.”  Aku terperangah. Lukisan seorang perempuan dengan dandanan bak puteri keraton yang sedang menjalani sebuah prosesi siraman, menjelang acara pernikahan. Wajahnya memang mirip aku.  Rambut ikal yang panjang, tergerai hingga pinggang, bisa jadi dimiliki banyak perempuan.  Tapi, setitik tahi lalat di bawah mata kanan itu adalah ciri khususku. Di sudut kanan bawah lukisan terdapat sebuah inisial yang langsung bisa kukenali, TRI. Inisial yang sama juga pernah kulihat di lukisan pemandangannya, kemarin.
“Bagus, ya, Win.  Kamu pesan di mana?”
“Ini buatan kawan adikku.”
“Kamu pernah jumpa dia?”
“Kemarin.”
“Lukisan ini dibuat kemarin?” aku menggeleng.  Kutunjuk goresan tanggal di samping inisial Tri.  Tiga bulan yang lalu.
“Wah, punya kenalan pelukis hebat gini tak bilang-bilang.  Kamu lihat sendiri lukisan diriku yang kuletak dekat kamar mandi? Itu balasan untuk lukisan yang mengecewakan.”
“Aku baru kenal kemarin.”
Lho?”
“Kata Dodo, Tri punya kelebihan, bisa membuat lukisan berdasarkan cerita seseorang... tanpa melihat langsung obyeknya.”
“Wah, bisa jadi pelukis untuk kepolisian, tuh, melukis DPO.” Aku melolot.  Amira terpingkal-pingkal melihat mataku yang membesar bak bola bekel. Aku harus segera berterima kasih atas bingkisan yang luar biasa ini.
“Hallo, Tri? Makasih, ya, atas lukisannya yang indah.” Ha ha...
Aduh, tawa khas Tri tiba-tiba membuatku ingin bertemu dengannya. Ada apa, nih?
“Hasil lukisan, 80 persen, tergantung obyeknya.  Karena obyeknya indah, lukisan pun jadi indah. Ini menurutku, garis bawahi, ya.”
“Ah, sanjungan untukku atau pujian untuk keahlianmu? Kamu membuat lukisan ini tanpa ada obyek nyata.”
“Lho, sangat nyata.  Obyeknya sudah terekam kuat dalam otak kananku, tersimpan dalam long-term memoryku....” Aku tertawa. Hei, kenapa seolah ada taman bunga dalam hatiku. Terasa indah. Tiba-tiba aku tersipu-sipu.
“Ya, sudah, terima kasih, sekali lagi. Selamat berkarya, ya....”
“Sama-sama....”
Senyumku masih juga mengembang.  Amira melambai-lambaikan tangan di wajahku.
“Hoi...!”
Aku nyengir kuda.
“Ada yang sedang jatuh cinta, nampaknya.”
“Ih, selalu menarik kesimpulan tanpa pakai research and study. Dasar....”
“Menurutmu perasaan bisa disimpulkan melalui riset?” Amira mengerlingku. “kasus tentang cinta, bersifat kualitatif, Nona, bukan kuantitatif.  Dinilainya dari indikasi yang terlihat, bukan diukur dengan neraca.” Amira mengikuti kemana pun langkahku.
“Dan dari indikasi yang ada, berupa senyum yang sampai sekarang masih terlukis di wajahmu serta aura pelangi di matamu, dapat disimpulkan... you’re in love, my dear.” Kupukulkan buku, yang sedang kubawa, ke punggung Amira.
“Usil. Sudahlah, mulai kerja, deh.  Aku bawa banyak contoh barang dari kampung. Fresh dan newest, Lho.  Bahannya dari akar, bukan kayu.”  Amira langsung berubah sikap.  Sekarang dia tampak seperti seorang profesional yang tengah meneliti karat logam mulia. Satu per satu, hasil ukiran yang kubawa dari rumah, diamatinya dengan serius.
“Wah, ini keren, Win. Pas juga dengan yang diminta Miss Carren. Biar kuhubungi dia sekarang.  Rencananya dia mau pulang kampung seminggu lagi.  Ini akan jadi oleh-oleh yang berkesan untuk sanak saudara.”
“Jadi, tunggu apa lagi. Tapi kalau order banyak, tak bisa langsung dapat barangnya. Dikirim menyusul.”  Amira mengacungkan jempolnya. 
“Oh, iya.  Bantu aku pasang lukisan ini di ruanganku, ya, Mir.”
“Ya, ya... aku sangat mengerti.”  Amira mengerling nakal. Aku tak peduli.


be continued ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar