“Ini pasti Winda.”
Aku mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan genggaman erat.
“Salam kenal. Kamu
sepertinya sudah mengenalku. Tentu dari adikku.
Semoga hal yang baik saja yang diceritakannya.” Dia tersenyum.
“Ya, namaku, Tri.”
Katanya seolah tak peduli kata-kataku. Tri?
“Itu nama tengahku.”
“Dan itu nama depanku.”
“Anak ketiga?”
“Kenapa tri diartikan ketiga?”
“Memang artinya tiga, kan?” Tri tertawa.
“Dodo nyaris sempurna menceritakan tentangmu. Apa yang
kulihat darimu sekarang, nyaris sesuai dengan yang kubayangkan saat Dodo
menceritakan tentangmu.” Heran, aku tak
sedikit pun merasa keberatan. Dodo yang
tiba-tiba lenyap pun tak membuatku risau.
“Jadi, mana hasil ukiranmu?”
“To the point, ya.” Aku tertawa.
Yach, sempitnya waktu membuatku tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Tri
mengajakku ke ruang belakang. Wow, rupanya pemandangan di belakang rumah bambu
ini sangat indah. Hamparan sawah yang dibuat terasering tampak berundak-undak
seperti tangga berwarna hijau segar. Birunya pegunungan, nun jauh di sana,
memberikan kontras warna yang pas. Aku sampai tak sadar Tri sudah di hadapanku
dengan membawa sekeranjang contoh ukiran.
“Win....” aku
tersenyum.
“Indah.” Tri
mengangguk.
“Kamu bosan dengan keindahan ini?”
“Karena komentarku cuma anggukan kecil?” aku menatap
Tri. Dia menunjuk sebuah kanvas di sudut
ruangan. Sebuah lukisan pemandangan alam
yang sangat bagus, nyaris seperti sebuah foto.
“Lukisanmu?”
“Sebuah ungkapan kekaguman atas keindahan yang dilukiskan
oleh Sang Pencipta.” Tri tersenyum.
“Saat itu, aku seperti kamu saat ini. Aku takut menjadi bosan dengan
pemandangan yang setiap saat kulihat.
Jadi saat aku merasa sangat kagum, segera kupindahkan keindahan itu ke
dalam kanvas. Biar pun tak seindah aslinya.”
“Kamu hebat.”
“Biasa saja. Ah, iya, ini contoh ukirannya. Kalau ada
order, jangan terlalu sempit tenggang waktunya. Aku tak suka bekerja di bawah
tekanan. Setengah jiwa aku mengerjakannya kalau dalam keadaan terburu-buru.
Bagiku, ini adalah karya seni, bukan sekedar barang dagangan.” Aku tertawa.
“PD kamu berlebihan.
Dipajang juga belum. Tapi jangan
khawatir, aku akan meletakkannya di tempat khusus, yang setiap pengunjung
datang, karyamu inilah yang akan dilihatnya.”
“Aku sangat tersanjung. Terima kasih.” Tri mengulurkan sebuah kartu nama. Tanpa
melihatnya, aku segera menyelipkan kartu nama itu ke dalam salah satu saku tas
pinggangku.
“Sayang sekali waktuku sangat sempit. Kami hanya berdua mengelola rumah souvenir, jadi tak bisa berlibur lama.”
“Lain kali aku datang bersama Dodo, boleh?”
“Aku tunggu.” Tri
tersenyum lebar. Aku sedikit geli melihat Tri yang masih juga melambaikan
tangannya, mengantar kepergian kami, hingga bayangannya tak lagi terlihat saat
kami berbelok menuju jalan aspal. Aku jadi teringat lagu “Teluk Bayur”. He he.... tipe manusia akhir tahun 80-an.
“Kok, Mbak senyum-senyum?” aku tersentak. Mukaku terasa panas. Malu ketahuan sedang memikirkan sesuatu.
“Tampaknya Mbak suka sama mas Tri?”
“Ah, kamu. Kesimpulan yang dangkal.”
“Mas Tri itu, selain jago buat ukiran, jago juga membuat
lukisan. Dia bisa membuat lukisan hanya dengan membayangkan cerita yang kita
buat.”
“Mbak percaya.”
“Kok?”
“Ya, tadi Mbak lihat lukisan pemandangan alamnya. Sangat bagus, nyaris seperti sebuah hasil
bidikan kamera.”
“Ooo, itu, sih karena dia ada obyek nyata, jadi ngga terlalu istimewa. Yang paling istimewa, ada di jok mobil
Mbak. Tapi dilihatnya nanti, kalau sudah
sampai di kantor Mbak.”
“Yee, apa bedanya, sih, dibuka di rumah nanti?”
“Kemasannya cantik, Mbak. Nanti kita tak bisa mengemas
secantik itu lagi.”
“OK, lah.”
“Janji, jangan dibuka sebelum sampai kantor.” Aku mengangguk pasti. Dodo bersiul-siul. Dan anehnya, aku tak gusar
dengan siulannya kali ini. Alam pikiranku sedang kembara, kembali ke rumah
joglo di sebuah kampung terpencil. Selintas terbayang senyum simpul Tri. Hih,
siapa memberinya ijin untuk singgah di pikiranku? Kukibaskan tanganku, mencoba
mengusir senyum lucunya. Dodo melirikku
selintas. Aku pura-pura tidur.
Huff, akhirnya sampai rumah juga. Wah, jam tiga
sore. Aku segera berkemas. Mbah Putri dan Ibu membantuku. Lebih jelasnya, sibuk memasukkan berbagai
penganan dan lauk khas kampungku ke dalam kardus. Inilah kebiasaan Ibuku. Bothok lamtoro[x]
dan sembukan[xi],
peyek teri, ungkusan tawon[xii],
dan lain-lain. Kalau saja semua makanan
kampung itu bukan menu favoritku, pasti aku akan menggerutu. Meski pun aku bukan tipe pemakan, tapi menu
kampung masakan ibuku itu, pasti kulahap habis.
Tentu ditemani Amira. Dia ikut
bersemangat karena jadi merasa punya kampung halaman, setiap kali kami makan
masakan ibuku. Kadang aku terharu
melihatnya. Dua anak-beranak tanpo sanak tanpo kadang[xiii].
Sering kutawarkan agar ibu Amira tinggal bersama keluargaku di
kampung. Jadi, aku ada teman setiap
pulang kampung. Tapi dengan tegas Amira
menolak.
“Bukan menolak kebaikanmu, tapi ibuku membawaku merantau
untuk membuktikan beliau bukan manusia lemah yang mengandalkan belas kasihan
orang lain. Sepanjang hidupnya, ibuku
tak mau merepotkan orang lain. Kalau sekedar berkunjung dan menjalin
silatirahim, ya, sudah pasti kami sambut mesra.” Begitulah Amira dan ibunya. Dan aku menyanyangi mereka seperti keluargaku
sendiri.
“Nduk, mbah
Putri ingin sekali segera menimang cicit Mbah. Bulan depan, kita buat acara
ruwatan, ya, Nduk....” aku tersadar
dari lamunanku tentang Amira.
Bbbummmm, akhirnya meledak juga yang tersimpan dalam
pikiran mbah Putri sejak semalam. Aku
tersenyum.
“Siapa tahu, ada sesuatu yang menutupi auramu, sehingga
membuat orang tak bisa melihat kecantikanmu.”
“Memilih pasangan, kan,
tidak memandang paras, Mbah.” Aku
tersenyum lagi. “mungkin, jodoh Winda memang belum waktunya datang.”
“Mangkane kuwi, Nduk,
kita upayakan agar lebih cepat datangnya.”
Aku terdiam. Ibu mengedipkan
matanya, menyuruhku tak berkomentar. “sudah, iyakan saja, nanti tak habis-habis
mbahmu bicara,” begitu mungkin maksud Ibu.
“Mbah Putri akan di sini sampai bulan depan. Pulanglah
hari Jum’at, biar waktunya lebih longgar.” Mbah menepuk punggungku. “Mbah akan
persiapkan segala sesuatunya. Kamu
tinggal mengikuti prosesinya saja.” Aku
mengangguk kecil. Akhirnya semua
siap.
“Winda berangkat dulu, Pak, Bu....” kucium tangan
mereka. Ibu mencium pipiku. Bapak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk
bahuku. Mbah Putri menatap kami sambil
tersenyum.
“Winda berangkat, Mbah.”
Mbah Putri mencium pipiku.
“Ya, hati-hati, jangan lupa persiapkan diri untuk acara
bulan depan.” Aku mengangguk tanpa makna.
Aneh, keanehan yang ke sekian kalinya untuk kepulanganku
kali ini. Aku sedikit pun tak merasa risau dengan “ancaman” mbah Putri. Apa
karena saran Amira untuk bersikap seperti pepatah “anjing menggonggong, kafilah
tetap berlalu” sudah merasuki pikiranku?
Tapi rasanya bukan itu. Ada
sesuatu yang membuat hatiku seperti berselimut pelangi. Bisa jadi karena mbah
Putri ngga pakai acara ngotot
memaksaku untuk ruwatan. Bisa jadi
karena aku mulai bosan dengan rutinitas “ancaman” ruwatan. Jadi pikiranku lebih lepas dan bebas. Ya,
pasti karena itu.
Aku bersiul-siul.
Hei, kebiasaan baru, nih,
bersiul-siul. Padahal ini hal yang
paling kubenci. Ada apa denganku hari
ini? Untuk mengusir jenuh, kuputar radio sajalah.
“Selamat sore,
untuk sahabat Suara Antara, yang baru tune di 303,5 FM. Untuk bincang-bincang
sore hari ini, di studio telah hadir seorang seniman muda yang ganteng dan luar
biasa kreatif, bung Tri.”
Keningku langsung berkerut. Tri? Apa sama dengan Tri yang tadi siang kutemui?
“Apa
kabar, bung Tri?”
“Kabar
baik, mas Agung.”
“Jadi,
barang bekas apa, nih, yang sekarang disulap menjadi dolar?” Ha ha...
Hei, itu suara tawa Tri.
Benar, dia Tri yang sama.
“Yach,
namanya juga tinggal di kampung, Mas.
Banyak sampah daun, pelepah pisang, cangkang bunga mahoni, banyak.”
“Jadi,
dibuat untuk kerajinan apa, Bung?”
“Pelepah
pisang untuk lukisan. Cangkang bunga mahoni untuk hiasan bunga. Ini contohnya.”
“Wah,
terkesan mewah, ya.”
“Ya,
dengan sentuhan vernis dan cat.”
“Bisa
dijelaskan prosesnya?”
“Singkat
saja, ya? Pertama tentu dilakukan
pengeringan pelepah pisang. Lalu
dipotong-potong sesuai keinginan dan kebutuhan.
Beri warna dengan cat minyak. Selanjutnya,
tinggal digunakan untuk membuat lukisan dengan cara ditempelkan pada
kanvas. Bisa dilakukan pemotongan lagi
untuk detailnya.”
“Ini
lukisan yang luar biasa. Obyeknya pun nampaknya sangat istimewa?”
“Sebenarnya
ini replika dari lukisan saya yang lain, tapi lukisan yang itu menggunakan cat
minyak. Obyeknya sudah luar biasa,
makanya hasilnya bisa memuaskan.”
“Seseorang
yang istimewa untuk Bung Tri, nampaknya.”
Ha ha...
“Bisa,
saja.”
“Baik,
sahabat Suara Antara, bagi Anda yang ingin berbincang-bincang langsung dengan
Bung Tri, bisa on line di 0342 552821. Okay,
stay tune on 103.3 Suara Antara Pro 2 FM, kita break dulu dan kembali setelah
yang satu ini.”
Kuraih handphone dari saku tas pinggangku. Setelah
memasang headset, segera kudial nomor yang tadi disebutkan penyiar
radio.
“Kembali
pada bincang-bincang sore. Nampaknya
sudah ada penelpon masuk. Suara Antara Pro 2 FM, selamat sore. Dengan siapa dimana, nih?”
“Astuti,
lagi di jalan....”
“Ooo,
hati-hati dengan kemudinya, Non....”
“Terima
kasih. Mau nanya, nih, sama Bung Tri.”
“Yup,
silakan langsung.”
“Selamat
sore, Bung Tri.”
“Selamat
sore, Mbak Astuti.”
“Jadi
untuk pemesanannya, kontak ke siapa?” Ha ha...
Terdengar tawa khas Tri.
“To the
point, ya?” aku ikut tertawa.
“Mbak
bisa lihat dulu contohnya di workshop saya, bisa dipilih langsung mana yang
akan diorder, barang dikirim menyusul.
Karena kami baru membuat contohnya saja, baru dibuat banyak kalau ada pesanan. Sudah terjawab?”
“OK,
dech, terima kasih.”
“Hati-hati
di jalan, ya....”
“Ya,
terima kasih.”
Apa Tri mengenali suaraku?
“Wah,
lancar, nih, nampaknya usaha Bung Tri.
Belum-belum sudah ada yang order.”
“Sama-sama
pecinta kreasi bahan bekas.”
“Lho, nampaknya
sudah mengenal Mbak Astuti?”
“Bukan
begitu, yang tertarik kreasi saya tentu hanya pecinta kreasi bahan bekas, kan?”
sahutnya diplomatis. Ho ho...
“Iya,
juga, ya....”
Tapi aku tahu, Tri memang mengenali suaraku.
“Sayang
sekali waktu tidak mengijinkan untuk berbincang-bincang lebih lama lagi. Terima kasih atas kehadirannya, Bung Tri.
Jangan bosan-bosan untuk berkunjung di studio kami.”
“Sama-sama,
terima kasih juga sudah memberi media bagi pengrajin pinggiran seperti kami,
Mas Agung.”
Hm, sebuah kebetulan yang aneh. Setengah harian ini, waktuku terisi oleh Tri.
Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tak dikenal.
“Selamat sore, Win.”
“Selamat sore, siapa, nih?”
“Tak ingat suaraku?”
Aku mengernyitkan kening.
“Oooo, Bung Tri, seniman muda yang kreatif.”
“Terima kasih atensinya, ya.”
“Sama-sama.
Kebetulan aku tune di saluran
itu. Kok, kebetulan lagi ada kamu.” Ha
ha... terdengar tawanya yang khas.
“Tadi kamu ngga bilang
mau siaran.”
“Kan, gak penting untuk kamu?”
“Kamu juga ngga lihatin
ke aku hasil karyamu yang dari pelepah pisang dan bunga mahoni.”
“Kupikir kamu hanya tertarik ukiran.”
“Yang kupajang di rumah souvenirku macam-macam....”
“Lusa aku ke kotamu. Ada yang mau kubawakan?”
“Lukisanmu yang dari pelepah pisang, deh. Hiasan dari cangkang bunga mahoninya juga boleh. Jangan lupa gantungan
kunci ukiran dan miniatur Candi Penatarannya, ya.”
“OK, tuan Putri, anything
for you....”
“Hei, ini bicara soal bisnis, Tuan.”
“Ini juga bicara tentang sebuah pelayanan, Nona.”
“Ooo, jadi kepada semua pelangganmu, kamu akan
menyebutnya tuan Putri?"
“Ooo, yang itu hanya untuk kamu.”
“Ih, tipe perayu juga, ya?”
“Bukan juga. Ini spontan dan baru kali ini. Maaf kalau
mengganggumu.”
“Dimaafkan.”
“Aku minta diantar Dodo, lusa.”
“OK.”
“Lusa, aku pasti datang.”
“Iya. Kutunggu.”
“Benar, ya. Tunggu
aku.” Aku tersenyum.
Dan lagu yang mengalun dari radioku terdengar semakin merdu. Tak terasa melelahkan perjalananku sore
ini. Akhirnya sampai juga di rumahku.
Sibuklah aku mengeluarkan berbagai bawaan dari bagasiku. Terakhir...
“Ini bingkisan dari Tri.”
Gumamku.
Uh, agak berat, nih.
Apa, ya? Sepertinya lukisan. Sesuai janjiku, besok baru kubuka di
kantorku. Seperti janjiku juga, besok
akan kuletakkan secara khusus dalam ruanganku.
Uh, tak sabar menunggu pagi.
“SELAMAT PAGI, BOS...!”
Sapaan Amira menimbulkan gempa dengan kekuatan 8,5 skala
richter. Membuat aku limbung dan hampir terjerembab. Semua barang ditanganku
sampai terjatuh berantakan, kecuali sebuah bungkusan dari Tri, yang secara reflek,
kupegang kuat-kuat.
“Belajar etika berbicara, ya, Nona!” Amira nyengir.
“Apa, tuh, yang kamu bawa? Nampaknya istimewa,
sampai-sampai kamu biarkan kantong di tangan kirimu tercampak untuk menjaga
barang itu tak jatuh?” Aku tak menjawab.
“Cepat selamatkan isi kantong itu, Mira. Isinya bothok
lamtoro dan peyek teri, titipan ibuku untuk kamu dan ibumu.”
“Wah, makanan istimewa untuk kami kamu campakkan demi
bungkusan itu?”
“Sudahlah, maaf, itu reaksi spontan karena kaget. Salah
siapa, juga, mengagetkanku seperti tadi.”
Amira bersungut-sungut. Tapi
karena ingat betapa dia menyukai bothok buatan
Ibu Winda, dia segera memungut kantong besar yang tergeletak di lantai.
“Tak berantakan isinya, kan?”
“Ibumu selalu cermat, tak ceroboh sepertimu, beliau mengemasnya
dengan baik, untuk menjaga kemungkinan barangnya tercampak seperti insiden
barusan.”
“Ih, banyak bicara.” Aku segera menyimpan tas dalam laci
dan meletakkan bungkusan berukuran 90 cm x 50 cm itu di atas meja. “Ini yang
membuatku penasaran, Mir.”
“Memang apa isinya?”
“Yach, kalau tahu isinya, tentu aku tak penasaran.”
Tanpa banyak kata segera kubuka bungkusan itu dengan
hati-hati. Amira ikut tegang menungguku membuka bungkusan.
“Wow... lukisan Win...! Sepertinya, wajah kamu,
tuh.” Aku terperangah. Lukisan seorang
perempuan dengan dandanan bak puteri keraton yang sedang menjalani sebuah
prosesi siraman, menjelang acara pernikahan. Wajahnya memang mirip aku. Rambut ikal yang panjang, tergerai hingga
pinggang, bisa jadi dimiliki banyak perempuan.
Tapi, setitik tahi lalat di bawah mata kanan itu adalah ciri khususku.
Di sudut kanan bawah lukisan terdapat sebuah inisial yang langsung bisa
kukenali, TRI. Inisial yang sama juga pernah kulihat di lukisan pemandangannya,
kemarin.
“Bagus, ya, Win.
Kamu pesan di mana?”
“Ini buatan kawan adikku.”
“Kamu pernah jumpa dia?”
“Kemarin.”
“Lukisan ini dibuat kemarin?” aku menggeleng. Kutunjuk goresan tanggal di samping inisial
Tri. Tiga bulan yang lalu.
“Wah, punya kenalan pelukis hebat gini tak bilang-bilang. Kamu
lihat sendiri lukisan diriku yang kuletak dekat kamar mandi? Itu balasan untuk
lukisan yang mengecewakan.”
“Aku baru kenal kemarin.”
“Lho?”
“Kata Dodo, Tri punya kelebihan, bisa membuat lukisan
berdasarkan cerita seseorang... tanpa melihat langsung obyeknya.”
“Wah, bisa jadi pelukis untuk kepolisian, tuh, melukis DPO.” Aku melolot. Amira terpingkal-pingkal melihat mataku yang
membesar bak bola bekel. Aku harus segera berterima kasih atas bingkisan yang
luar biasa ini.
“Hallo,
Tri? Makasih, ya, atas lukisannya yang indah.” Ha ha...
Aduh, tawa khas Tri tiba-tiba membuatku ingin bertemu
dengannya. Ada apa, nih?
“Hasil
lukisan, 80 persen, tergantung obyeknya.
Karena obyeknya indah, lukisan pun jadi indah. Ini menurutku, garis
bawahi, ya.”
“Ah,
sanjungan untukku atau pujian untuk keahlianmu? Kamu membuat lukisan ini tanpa
ada obyek nyata.”
“Lho,
sangat nyata. Obyeknya sudah terekam
kuat dalam otak kananku, tersimpan dalam long-term memoryku....” Aku tertawa. Hei, kenapa seolah ada taman bunga dalam
hatiku. Terasa indah. Tiba-tiba aku tersipu-sipu.
“Ya,
sudah, terima kasih, sekali lagi. Selamat berkarya, ya....”
“Sama-sama....”
Senyumku masih juga mengembang. Amira melambai-lambaikan tangan di wajahku.
“Hoi...!”
Aku nyengir
kuda.
“Ada yang sedang jatuh cinta, nampaknya.”
“Ih, selalu menarik kesimpulan tanpa pakai research and study. Dasar....”
“Menurutmu perasaan bisa disimpulkan melalui riset?”
Amira mengerlingku. “kasus tentang cinta, bersifat kualitatif, Nona, bukan
kuantitatif. Dinilainya dari indikasi
yang terlihat, bukan diukur dengan neraca.” Amira mengikuti kemana pun
langkahku.
“Dan dari indikasi yang ada, berupa senyum yang sampai
sekarang masih terlukis di wajahmu serta aura pelangi di matamu, dapat
disimpulkan... you’re in love, my dear.”
Kupukulkan buku, yang sedang kubawa, ke punggung Amira.
“Usil. Sudahlah, mulai kerja, deh. Aku bawa banyak contoh
barang dari kampung. Fresh dan newest, Lho. Bahannya dari akar,
bukan kayu.” Amira langsung berubah
sikap. Sekarang dia tampak seperti
seorang profesional yang tengah meneliti karat logam mulia. Satu per satu,
hasil ukiran yang kubawa dari rumah, diamatinya dengan serius.
“Wah, ini keren, Win. Pas juga dengan yang diminta Miss Carren. Biar kuhubungi dia
sekarang. Rencananya dia mau pulang
kampung seminggu lagi. Ini akan jadi
oleh-oleh yang berkesan untuk sanak saudara.”
“Jadi, tunggu apa lagi. Tapi kalau order banyak, tak bisa
langsung dapat barangnya. Dikirim menyusul.”
Amira mengacungkan jempolnya.
“Oh, iya. Bantu
aku pasang lukisan ini di ruanganku, ya, Mir.”
“Ya, ya... aku sangat mengerti.” Amira mengerling nakal. Aku tak peduli.
be continued ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar