Selasa, 15 Mei 2012

Sendang Kaapit Pancuran (Part 1)



Kubuat lingkaran merah tepat pada tanggal 13 November di kalender mejaku.  Hm, tiga puluh tahun usiaku kini.  Usia yang matang untuk seorang laki-laki.  Jika aku laki-laki. Tapi aku terlahir sebagai perempuan. Masyarakat sekitarku menganggap usiaku sudah kadaluwarsa sebagai anak perawan.  Kasarnya, aku adalah perawan tua.  Ih, jadi miris setiap kali kuingat istilah itu.
Miris tak berarti risau.  Sekali pun tak paham banyak tentang agama, tapi aku termasuk orang yang ‘ainul yaqin[i] bahwa takdirku sudah tertulis saat aku belum lagi 40 hari dalam rahim ibuku. Kelahiran, riski, jodoh, dan kematian adalah takdir yang tidak satu pun manusia dapat campur tangan. 
Bukannya mau menyerah pada takdir. Kalau pun hingga kini aku masih sendiri bukan berarti aku tak berusaha menemukan belahan jiwaku.  Aku bukan tipe perfeksionis yang menetapkan kriteria tertentu untuk laki-laki yang kumau.  Sama sekali bukan.  Aku juga bukan tipe workaholic yang mengabaikan naluri alamiahku untuk dicintai dan mencintai.  Aku normal, layaknya perempuan pada umumnya.  Apakah aku pernah trauma? Sama sekali tidak pernah. Baik trauma karena pengalaman sendiri, maupun trauma melihat pengalaman orang lain.  Tapi, entah kenapa, jodohku seolah tak berada satu dunia denganku.
Padahal, aku termasuk perempuan dengan penampilan yang prima.  Banyak yang bilang, aku cantik dan menarik.  Dengan tinggi 164 cm dan berat badan 51 kilogram, rasanya aku termasuk perempuan seksi.  Secara teoritis, seharusnya aku bisa dengan mudah menemukan seorang kekasih.  Kenyataannya, hingga kini, aku masih harus setia dengan status jomblo.
Beberapa kali aku tertarik dengan laki-laki tapi selalu salah.  Kadang salah orang, kadang salah waktu.  Aku pernah mencintai oomku, jelas itu salah orang.  Saat duduk di sekolah dasar, aku pernah terobsesi dengan guru teater yang, kata teman-temanku, sangat cakep.  Salah waktu, kan? 
Belum saatnya, lima belas tahun lagi, kata Naning, sahabat kecilku. 
Sering juga cintaku bertepuk sebelah tangan. Kadang aku suka seseorang, ternyata dia tak suka.  Sebaliknya, seseorang yang tak pernah kupedulikan selalu berusaha menarik perhatianku.  Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Versi Mbah Putriku, aku jauh dari jodoh karena aku belum diruwatKata mbah, aku yang terlahir sebagai anak perempuan di antara dua saudara laki-laki termasuk kategori anak sendang kaapit pancuran. Tipe anak semacamku ini berpotensi mengalami kesialan dalam hidup, kecuali dilakukan ruwatan[ii].  Anak yang setipe denganku adalah pancuran kaapit sendang, anak laki-laki di antara dua saudara perempuan. Ada lagi, kedono-kedini, dua anak sepasang, laki-laki dan perempuan atau sebaliknya. Pendowo limo, lima anak laki-laki. Wah, bisa-bisa semua manusia harus diruwat.  Bapakku tertawa saat aku menanyakan tentang itu.
Nduk[iii], kamu lahir di masa orde baru. Saat keluar dari perut ibumu, kamu  sudah diterangi lampu listrik dan bisa menikmati jalan aspal.  Kok, bisa-bisanya, hal-hal yang tak masuk akal semacam itu kamu pikirkan. Padahal, bapakmu ini, yang lahir saat Jepang mendarat di Tanjung Perak, tahun 1942, sedikit pun tak pernah terlintas pikiran semacam itu.”  Lalu bapak menunjuk foto di dinding ruang keluarga yang sudah menguning, foto mbah kakung.
“Itu, Mbah Kungmu,  yang juga termasuk orang kuno, malah sering bilang, “saben jelmo urip iku wis nggowo pestine dhewe-dhewe, rejekine wis tetep dadi ora perlu nganyak duweke wong liyo, jodone wis tetep dadi ora perlu grusa-grusu, patine wis mesti dadi ora perlu ndisiki pestine Gusti (setiap manusia membawa takdirnya masing-masing, riskinya sudah dipastikan jadi jangan mengambil hak orang lain, jodohnya sudah ditentukan, jadi tak perlu terburu-buru kalau pun belum juga bertemu, matinya pun sudah ditetapkan jadi jangan mendahului takdir Yang Kuasa).” 
“Berarti Bapak tak mempermasalahkan keadaanku, kan?
“Tentu tidak. Tapi, tak ada salahnya juga kalau kita mengupayakan agar kamu segera bertemu jodohmu.”
“Maksudnya, saya mau dijodohkan?
“Bukan dijodohkan, tapi dipertemukan dengan beberapa orang, siapa tahu, salah satunya adalah jodohmu.”
“Sama saja itu, Pak.”
“Tentu berbeda. Kalau dari sekian orang yang nanti dikenalkan padamu ternyata tak bisa membawamu duduk di pelaminan, artinya mereka bukan jodohmu, kan?  Kamu tidak dipaksa untuk menerima salah satu dari mereka.  Jalani saja, kalau akhirnya kalian bisa menikah, artinya kalian berjodoh.”
Kemudian Bapak mengenalkanku dengan beberapa anak teman bapak, anak kenalan teman bapak, bahkan sampai ke anak tetangga teman bapak.  Hasilnya? Nihil. Nol besar. Selalu saja ada hal-hal yang menjadi kendala sehingga berujung kegagalan.  Hingga kini, tiga puluh tahun sudah usiaku.
Amira, rekan kerja sekaligus sahabat baikku, lebih mengerikan lagi pendapatnya. Dia bilang, mungkin aku pernah menolak seseorang yang membuatnya sakit hati padaku.  Lalu dia mengirimkan guna-guna padaku dengan tujuan agar tak ada laki-laki yang mau denganku.  Aku tertawa mendengarnya. 
“Jangan anggap remeh kata-kataku.”  Ujarnya dengan mimik serius. “Ingat Inggit? Tak masuk akal, kan, jika tak ada laki-laki yang tertarik padanya.  Kecantikannya luar biasa, bagaikan foto model tingkat dunia.  Perilakunya juga sangat menyenangkan.  Tapi kenyataannya, hampir setiap laki-laki yang bertemu dengannya tak menunjukkan ekspresi tertarik, bahkan cenderung enggan dekat. Rinto, teman kita, pernah kucomblangi agar bisa jadian dengan Inggit.”  Amira tampak semakin serius.
Tahu apa katanya?” Amira mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mau kamu jodohkan dengan perempuan bermuka keriput itu?”  Amira menirukan kata-kata Rinto dengan suara yang dalam sambil membelalakkan matanya.
Hah, perempuan secantik Inggit dengan wajah cerah tanpa sedikit pun noda, seterang bulan purnama, dibilang keriput.  Apa yang sebenarnya terjadi?”  Aku mengangkat bahu, tak tahu harus berkomentar apa.  Amira mengibaskan tangannya, seolah berkata, “ya, sudahlah.”
“Nah, setelah  ruqyah[iv],” lanjut Amira dengan nada yang mulai merendah, “tak menunggu hitungan bulan, akhirnya dia bertemu dengan jodohnya, dan, kamu juga tahu, kini dia tengah menunggu buah hatinya yang ke dua.” Amira menatapku serius.
Think about it.
Aku termenung. Bukan mengiyakan seluruh kata-kata Amira, tapi sedang memikirkan kemungkinan aku pernah menyakiti hati seseorang, lalu dia mendoakan sesuatu yang buruk untukku.  Dan doanya terkabul. Bukankah doa orang teraniaya itu makbul[v]?
“Bagaimana, kamu mau mencoba?  Biar kutanyakan di mana Inggit ruqyah.”
Aku tersenyum, menurutku, kamu saja yang ruqyah. Bukannya usiamu terpaut dua tahun lebih tua dariku?  Kamu juga belum menemukan jodohmu….”  ujarku bergurau.  Amira mendelik.
“Lain cerita. Kita berbeda prinsip hidup.  Aku bukan orang yang suka terikat dalam kungkungan sakral pernikahan.  Jadi memang tak ada niat untuk menikah.  Kamu tahu, kan?  Aku lahir dari seorang ibu tanpa ayah yang jelas.  Seorang laki-laki bejat menghamili dan meninggalkan ibuku, layaknya seekor binatang yang kencing di jalan lalu pergi begitu saja.  Aku tak pernah menutupi semua itu.  Tapi seperti yang kamu lihat, ibuku tampak hidup normal dengan statusnya sebagai single parent.”
“Kodrati manusia adalah mengembangkan keturunan. Kamu tak ingin memiliki generasi penerus yang mewarisi rangkaian DNAmu?  Kamu rela sejarah hidupmu terputus tanpa keturunan?”  Amira mengangkat bahu.
“Aku termasuk salah satu jenis manusia yang tak memiliki kebanggaan dengan kelahiranku di dunia ini.  Yach, hanya mengikuti takdir harus terlahir dengan kondisi seperti ini.  Bukan mau merendahkan diriku sendiri, tapi mencoba untuk tahu diri.”  Amira menarik nafas panjang.
“Aku sadar seratus persen bahwa aku tak memenuhi syarat sebagai calon mempelai perempuan.  Kamu tahu, kan, ketika seorang laki-laki memilih calon istri, apa yang dipesankan oleh orangtuanya? Cari perempuan yang jelas bobot, bibit, dan bebetnya.  Belum lagi, kata Ustadz Yasin, memilih jodoh itu dilihat dari harta, paras, status, atau imannya.  Aku tak memiliki kualitas lebih dari orang lain mengenai syarat-syarat itu.  Jadi apa yang bisa menjadi kebanggaanku sebagai perempuan? Daripada sakit hati, rasanya hidupku akan lebih indah jika aku tak memikirkan tentang pernikahan.” Amira mencomot sepotong pizza dan mengunyahnya dengan santai.  Kuulurkan botol minumannya yang terletak di dekat tempat dudukku, dia tampak tercekik karena mengunyah dan menelan tanpa jeda.
Terima kasih.” Amira kembali menatapku.
Kalau pun aku ingin punya anak, aku akan melakukan inseminasi buatan.”  Mataku membelalak mendengar istilah sarkasme Amira. 
“Inseminasi buatan?  Seperti sapi pedaging saja.”
“Ya, semacam itu. Hm, atau kloning saja? Sekali beranak, bisa menghasilkan lebih dari satu makhluk baru yang sama persis denganku.  Aku bisa melihat diriku sendiri pada keturunanku.  Seperti kembar identik! Dan aku akan pastikan keturunanku hanya yang berjenis kelamin perempuan.  Aku akan bangga jika bisa mengisi dunia ini dengan banyak anak perempuan.  Lalu aku akan memberikan masa kecil dan masa remaja yang indah untuknya.”  Mata Amira bersinar terang.
“Kenapa harus perempuan?”
Karena perempuanlah makhluk terkuat di muka bumi ini.
“Perempuan makhluk terkuat?  Makhluk dengan tubuh lemah dan mudah menangis?” Amira menggoyang-goyangkan jari telunjuknya mendengar komentarku.
“Gen perempuan, kamu tahu, mampu bertahan sampai tiga hari hingga bertemu dengan sel telur.  Sedangkan gen laki-laki, hanya mampu bertahan sekian jam saja.  Dari asal muasalnya saja, perempuan sudah diciptakan sebagai makhluk yang memiliki daya juang dan daya tahan yang luar biasa.”  
“Aku bangga terlahir sebagai seorang perempuan. Satu-satunya kebanggaanku.” Amira tertawa lebar.
“Tapi perempuan banyak yang teraniaya.”
“Mereka mampu bertahan dalam keadaan teraniaya.  Hal yang tak bisa dilakukan oleh kebanyakan laki-laki. Contoh nyatanya, ibuku. Baru kini aku menyadari betapa kuatnya ibuku. Dalam keadaan sendiri, ibuku telah mengandung, melahirkan, lalu merawat aku. Bekerja keras untuk menafkahi kami. Dia begitu keras pada dirinya sendiri, demi aku.  Tak peduli apa pun kata orang tentang keadaannya. Demi memberiku kesempatan untuk melihat dunia ini, untuk melihat laki-laki kerdil yang telah menyakiti ibuku, menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa pengecutnya laki-laki itu.” Sorot mata Amira setajam pisau belati.
“Mau tahu perasaanku saat melihat laki-laki itu, tepat satu meter di hadapanku, tanpa dikenali sebagai anak perempuannya...” suara Amira lebih mirip desisan. “dia tak lebih dari seonggok tumpukan daging yang ditopang kerangka, tanpa hati dan jiwa.  Senyumnya lebar seperti seringai singa. Huh, benar-benar mimpi buruk mengingat semua itu.” Wajah Amira terlihat tegang.
“Hm, aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keadaan seperti ini.  Sedikit pun aku juga tak menyalahkan ibuku yang telah melakukan kesalahan besar dengan memilihkanku bapak seperti laki-laki itu. Karena aku bisa membuktikan, sekuat apa pun laki-laki itu berusaha membuat ibuku terjatuh, dia hanya akan melihat ibuku yang semakin lama justru semakin kokoh berdiri. I love my mom, so much! Dan aku sangat bangga pada ibuku.” Aku menatap Amira yang menerawang keluar jendela. Apa yang bisa kulihat darinya? Ketegaran atau kekuatan dendam yang membuatnya tampak sekeras batu karang?
“Aku yakin ibumu akan selalu membanggakanmu.  Kamu perempuan hebat yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang hebat pula.”  Ujarku menguatkan hatinya. Secara fisik, Amira memang kuat, tapi jiwanya rapuh, digerogoti amarah dan dendam yang tumbuh berakar secara laten, karena, mungkin Amira tak pernah menyadarinya.  Amira mematung. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
Sudahlah, lupakan laki-laki itu.” Kutepuk bahu Amira. “lagian, kenapa kita jadi bicara ngelantur? Oh ya, pesanan dari Pak Rian sudah siap dikirim?” 
“Hmm, ya.” Amira membalikkan tubuhnya menghadap komputer.  Sikapnya dengan cepat berubah.  Jemari lentiknya bergerak lincah di atas keyboard, mencari data yang kuminta.
“Lima kodi kotak hantaran balut kain tenun.  Sudah siap, tinggal dikirim besok.  Pesanan hiasan dinding dari bambu kuning untuk Bu Armini juga sudah siap.”
“Jangan lupa pesanan souvenir untuk pernikahan anak konglomerat kota ini.  Beliau minta barang sudah diterima, dalam keadaan mulus, paling lambat tiga hari sebelum hari H.” Amira mengacungkan jempol.
“Siap, Bos. Mulus, ya?” Aku tertawa. 
Yach, awalnya aku mendirikan rumah souvenir seorang diri, lima tahun yang lalu.  Setelah aku bosan bekerja di bawah tekanan.  Berbekal pengalamanku berjualan asesoris dan souvenir pada teman-temanku, aku pun memberanikan diri membuka usaha rumahan yang menyediakan aneka souvenir dari berbagai daerah di Indonesia. Kalaupun sekarang usahaku mulai menanjak, hingga bisa menyewa sebuah ruko di lingkungan perkantoran yang cukup elit, bukan berarti aku melalui jalan tol untuk mendapatkan semuanya. Bukan sekali dua kali aku gagal.  Pernah juga tertipu, dibayar dengan cek kosong, order pelanggan dilarikan oleh awak pengirim barang. Yang paling pahit, karya orisinilku dibajak dengan bahan yang mutunya gak jelas dengan merk yang sama, dengan maksud menjatuhkan kredibilitas rumah souvenir yang kudirikan. Semua menjadi pelajaran dan pengalaman.
Setengah perjalanan, saat usahaku tampak mulai berkembang, Amira, sahabatku saat kuliah, yang selama ini menganggur, kuajak bekerja sama.  Amira sangat luwes dan cekatan.  Sehingga usaha rumah souvenirku berkembang semakin pesat.
Kami bersahabat sekalipun banyak beda pendapat dalam prinsip hidup.  Tak jarang kami beradu argumen tentang kehidupan. Bukan salah Amira jika dia memiliki sentimen pribadi pada makhluk berjenis laki-laki. Sejarah kelam ibunya membuat Amira super protektif dari makhluk berjakun.  Tapi, aku tak henti berdoa, agar suatu saat, Amira dipertemukan dengan laki-laki baik yang mampu mengubah cara berpikirnya dan membawanya ke dunia indah pernikahan.  Amira layak mendapatkan laki-laki yang istimewa, karena dia gadis yang istimewa.
“Win, jadi Mbah Putrimu bikin acara ruwatan?” tanya Amira menyadarkanku dari lamunan.
“Hm…?” Aku menoleh dan menatap Amira. “Kamu percaya hal semacam itu?”
“Yang menarik buatku bukan tujuan acaranya, tapi prosesinya.  Di jaman modern seperti sekarang ini sulit menemukan acara ruwatan.  Apalagi dilakukan oleh trah[vi] jelata seperti kita. Biasanya, orang-orang berdarah biru yang rajin mengadakan acara kejawen seperti itu.
Trah jelata? Ngomong-ngomong, kata Mbah Putriku, leluhur kami masih keturunan bangsawan Majapahit, Lho. Kamu pernah lihat fotonya?  Rambutnya selalu digelung, berpakaian adat Jawa kuno lengkap dengan keris, beskap, dan blangkonnya.”
“Ah, apa iya?  Tapi memang lucu fotonya.  Blangkonnya mirip kura-kura.”  Amira tertawa geli.


be continued ....

Rabu, 02 Mei 2012

Ini Jalan yang Dulu Biasa Kita Lalui



Hari ini, entah kenapa, aku ingin melewatinya lagi.  Dulu, tiga tahun yang lalu, kamu membawaku melewati jalan ini.  Dan itu kali pertama bagiku.  

            “Dasar kuper!”  katamu waktu itu.  Aku hanya bisa tertawa. Karena kamu benar, aku kuper.  Tapi aku tak ingin tampak kuper di matamu.

            “Aku tak suka jalan-jalan memotong seperti ini.”

            “Hmmm.”

            “Apa, hmmm?”

            “Keras kepala.”

“Keras kepala?”

“Sudah ketahuan kuper, masih ngeles.” Aku tertawa.

“Ketahuan, ya?” Aku pura-pura bodoh. Dan kamu menyempatkan diri menoleh dan mencubit pipiku.  Padahal kamu sedang melaju kencang.

“Dingin.”

“Sudah dibilang, pakai jaket.  Bermotor di malam hari tentu dingin.  Lagi-lagi keras kepala.”  Itu yang aku suka darimu.  Caramu menegurku.  Caramu memberikan perhatian padaku.

Dan saat ini aku melewati jalan ini lagi.  Sendiri.
“Ini jalan favoritku.”  Katamu waktu itu.  Kali kedua.

“Kenapa?”  kamu tertawa.

“Lihat saja nanti.”  Aku penasaran.  Kamu terlihat senang melihat kepalaku dikerubuti ribuan tanda tanya.

“Ok.  Aku hitung mundur dari sekarang.  Pegangan yang kuat.”  Kupeluk pinggangnya erat. Telingaku lekat dipunggungnya yang hangat. Menikmati heartbeat-nya. Hmmm. “Tiga ... dua ... satu ... yuhuuuuu ....!”  ha ha ha.  Wow, sensasi gelombang di pinggir jalan ini sungguh berbeda.

“Benar, kan?” kamu masih tertawa.  Aku suka. “dari sekian banyak gelombang di jalan-jalan yang ada di Pekanbaru, hanya satu ini yang sensasional. Kita dibuat melambung tapi tak terpelanting.” Katamu di sela tawa.

“Lalu kenapa pake pesan sponsor ‘pegangan kuat-kuat’?”  kamu tertawa lebih kencang.

“Itu, sih, biar lebih dramatis dan romantis, gitu ....” Waaaa ... kupukul punggungnya kuat-kuat.

“Curi kesempatan, ya!” ha ha...

Aku merindumu.  Maka kini, kembali kulewati jalan ini.

Tapi kali ini sepi.  Aku melaju lamban tanpamu. Sepanjang jalan masih bisa kudengar tawamu.  Masih bisa kulihat jejakmu.  Meski samar.

“Jangan menangis.  Aku tak apa-apa.  Ini hanya sakit ringan, semacam flu.”  Ucapmu sambil tersenyum.  Kamu memang keras kepala sepertiku.  Dengan bibir sepucat itu, tubuh seringkih itu, kau bilang gak apa-apa. Dan tangisku semakin menjadi-jadi.  Meski tanpa suara.  Tapi dua anak sungai yang berhulu dari mataku mengalir deras.  Lalu kau susah payah bangkit dari berbaringmu.  Mencoba membendung banjir air mataku.

“Sudah.  Sisakan sedikit saat aku benar-benar mati.”  Waaaa ... kau bukan sedang menghiburku.  Kau pun tertawa.  

“Sudahlah.  Lebih baik kau bernyanyi untukku.  Sumbang nyanyianmu lebih indah daripada merdu tangismu.” Hu hu hu ....

“Sudahlah.”  Kali ini kamu lekat menatapku. Matamu tetap teduh. Selalu membuatku luruh.  Dan ajaib.  Air mataku berhenti mengalir, seketika.  

“Dunia ini sebentar saja bisa kita nikmati. Ada yang lebih abadi.  Dan aku akan menunggumu di sana.  Jadi, jika saatku tiba, jangan pernah menganggapnya sebuah perpisahan. Tapi itu adalah awal langkah baru kita.  Dan jangan menangis sedih, tapi menangislah bahagia.”

Aku terdiam.  Kunikmati genggaman tanganmu yang selalu hangat.  Kita tak pernah bilang saling cinta.  Kita hanya bertukar isyarat tentang perhatian, kasih sayang, dan indahnya berbagi.  Maka, sekali pun kamu tak pernah bilang “aku cinta kamu” tapi aku yakin kamu mencintaiku.

Kalau orang seringkali merasa sesuatu sangat berarti saat sudah kehilangan, tidak denganku.  Aku selalu merasa kehilanganmu.  Sebentar saja tanpamu, aku merindumu.  Kerinduan yang sama sekali tak menyiksaku.  Kerinduan yang membuatku ingin selalu hidup.  Kerinduan yang membuatku tak lelah menjalani hari.  

Kerinduan itu, kini, membawa langkahku ke sini.  Menelusuri jalan yang biasa kita lalui.

Sebentar lagi aku akan sampai di gelombang jalan favoritmu.  Yang akhirnya menjadi favoritku juga.  

Tiga ... dua ... satu ... fiiiiuuuuuuu ...

Kenapa rasanya tak sama?  Kenapa?

“Gelombangnya akan lebih terasa kalau kamu duduk di belakang.”  Katamu saat itu.  Seketika kuhentikan laju motorku. Setelah mengintip dari spion, memastikan tak ada kendaraan di belakangku, aku berbalik arah.  Aku ingin mencoba sekali lagi. Kupastikan aku duduk lebih mendekati belakang jok. 

Tiga ... dua ... satu ... gooooooo ....!

Ha ha ha ... kamu benar, Sayang!  It’s so great! Sensasional! Gelombang jalan itu membuatku serasa berayun.  Lembut dan so sexy

Kapan kita bisa lalui jalan ini bersama-sama lagi?

“He he ... jangan bermimpi. Kita berbeda dunia, Manis. Ayolah, cari sensasi baru di jalan yang baru.  Cari gelombang baru yang lebih indah.”

Aku menoleh ke sekelilingku. Itu suaramu.

“Bukankah kamu ingin aku selalu mengenangmu?”

“Tidak berarti dengan membuang waktu hanya untuk menelusuri jejakku.”

“Aku rindu.”

“Kita akan kembali bertemu.”

“Benarkah?”

“Semua akan sesuai prasangkamu.  Kalau kamu yakin itu, maka kita akan bertemu.”

Aku tersenyum.  

“Nah, pulanglah. Malam semakin larut. Bundamu akan sangat khawatir.”

“Adakah gelombang yang indah di duniamu, kini?”

“Uh, tak ada. Yang ada cubitan di bibirku, membuatnya lumer meleleh.  Karena bibir itu pernah mencium pipimu.”

“Ah.”

“Siapa berani mencubit bibirmu sekasar itu?”

“He he ... ini balasan setimpal untukku.  Menyentuh perempuan yang bukan milikku.”

“Aku milikmu.”

“Tidak dengan namaNya.”

“Oh.”

“Berdoalah, mohon ampunan untukku.  Aku dirundung sesal kini.”

“Karena mencintaiku?”

“Karena menyentuh bibirmu.”

“Ah.”

“Sudahlah, pulang sana.  Segera ambil wudhu lalu berdoa untukku.  Aku sungguh butuh bantuanmu.” 

Lalu kulihat bayanganmu. Sekelebat saja. Tersenyum dan melambai. Membuatku lalai.  Hingga lajuku tak lagi terkendali meski aku mencoba meng ambil kendali.  Tapi hanya setengah hati.  Aku lebih suka membiarkan semuanya ringan melayang.  Karena ingin bersamamu ... 

Kenapa kamu selalu keras kepala.  

Aku tersadar oleh bisikanmu.  Hah.  Semua tampak putih.  Ooo.  Sebuah ruangan di rumah sakit rupanya.

“Dan ...?”

“Kenapa nama itu yang kamu ingat?”  Bunda menggenggam jemariku. “untung ada yang lewat jalan itu dan menolongmu.  Bersyukurlah, Sayang.  Kamu bisa selamat.  Bahkan tanpa luka serius.  Ini mukjizat, Nak.”

“Mukjizat?”

“Lihatlah bangkai motormu, nanti.”  Bunda memang luar biasa.  Mungkin sudah kebal akan tingkahku.  Makanya tetap bisa setenang itu. “Kamu pasti ngebut lagi.”

Aku tak ingin menjawab.  Aku tak terlalu laju.  Aku hanya ingin mengikuti bayangan Daniel.
“Dengar. Daniel sudah tiada. Lanjutkan hidupmu. Daniel akan lebih senang kalau kamu tak seperti ini. Sejak dia tak ada, apa yang kamu lakukan?  Menghabiskan waktu sia-sia. Selesaikan kuliahmu segera.  Lihatlah Bunda.”

Bundamu benar, Sayang.

Suaramu lagi. Kamu ada di mana? Aku tak bisa menemukanmu.

“Tak usah repot mencari.  Kan, aku ada di hatimu?”  aku tersenyum.

“Benar.”

“Dengar aku.  Bundamu benar.  Lanjutkan hidupmu. Tak perlu risaukan aku. Semua baik-baik saja. Tak perlu kamu buktikan besarnya cintamu untukku. Aku percaya. Kalau kamu memaksa juga, jangan dengan cara seperti semalam.”

“Aku bukan sedang buktikan cinta dan setiaku.  Aku merindumu.”

“Ya, aku tahu.”

“Aku ingin mengulang semua.  Belum puas bersamamu.”

“Hei, bisa lihat aku tersenyum?”

Aku menggeleng.

“Tapi aku yakin kamu sedang tersenyum.”

Ha ha ha ...

“Sekarang kamu tertawa.” Aku tersenyum. “dan pasti kini kamu sedang menatapku.”

“Wow.”

“Kenapa?”

“Kamu bahkan hafal kebiasaanku.”

“Kamu bagian dari hidupku.”

“Baiklah, aku menyerah. Sekarang pilihanmu. Mau mati sebelum terkubur?  Atau kembali menjadi Tria yang dulu paling kukagumi?”

“Maksudmu?”

“Kamu tahu apa yang kusuka darimu?”

Aku menggeleng.

“Selalu bersemangat. Karena melihat semangatmu aku bisa bertahan. Setidaknya tiga tahun lebih lama dari vonis dokter.”

“Benarkah?”

“Takdir mempertemukan kita.  Takdir pula yang membuatku bertahan.  Dan kamu turut dalam takdirku.  Meski, akhirnya takdir pula yang beri jarak antara kita.”  

“Aku berarti juga untukmu.”  Aku tersenyum bahagia.

“Ya. Karena itu kembalilah seperti dulu.”

“Aku janji.”

Sekarang aku bisa melihat senyummu. Senyum yang selalu kurindu. 

“Aku boleh pergi sekarang?”

“Ya.  Seperti saat kamu pamit mau ‘offline’.  Janji besok akan ‘online’ lagi.”

Dan lagi-lagi aku bisa melihatmu tertawa.

Kamu tahu aku keras kepala.  Aku janji akan kembali seperti dulu.  Tapi aku tak janji mampu melupakanmu.  Daniel, tetaplah menungguku.  Carikan aku tempat di sana.  Harus yang dekat denganmu.  Aku tersenyum.  Untuk ke sekian kalinya.

Selasa, 01 Mei 2012

JUJUR DI WARUNG JUJUR




            Sekolah akan membuka warung jujur.  Tiga sekawan, Ikhsan, Iman, dan Arya, asyik memperbincangkan rencana itu. Mereka siswa kelas 4. Apa, ya  maksud warung jujur, tuch? 
“Mungkin warung yang penjual dan pembelinya yang jujur-jujur saja?”  kata Ikhsan.
“Berarti yang boleh beli cuma aku dan Iman”.  Sahut Arya. “Kamu, kan, suka diam-diam ambil kue di kantin dan kabur tanpa bayar”.
“Sembarangan!  Ibuku yang bayar sepulang sekolah.  Ibu, kan, sudah membuat kontrak kerja dengan Bu kantin, aku boleh ambil jajanan lalu ibu akan membayarnya saat jemput aku!”  Ikhsan membela diri.  Iman tergelak melihat ekspresi muka Ikhsan.
            “Memangnya kamu tak diberi uang jajan?”  tanya Arya.  Ikhsan diam sejenak.
“Dulu, iya.  Tapi sebulan terakhir ini ibuku tak lagi memberi uang jajan.  Tapi aku diberi bekal nasi dan teh manis.
“Kenapa?”
“Kata ibu, aku boros.”  Arya tertawa.
“Nah, kan, kamu dianggap tak jujur dengan uang jajan kamu.  Makanya, kalau nanti warung jujur jadi dibuka, kamu termasuk siswa yang dilarang keras berbelanja di sana.”  Wajah Ikhsan memerah.  Iman menepuk bahunya.
“Jangan sedih, kalau uang jajanku berlebih, aku traktir, deh!”  Ikhsan tersenyum senang. 
“Kamu memang sahabat sejatiku...”  ujar Ikhsan sambil melirik Arya dengan sengit.  Sahabatnya itu hanya tertawa.
“Hei, bel masuk.  Sekarang pelajaran Bu Yasmin.  Aku tak ingin ketinggalan sepatah kata pun dari beliau!”  Arya berlari menuju kelas.  Ikhsan dan Iman pun tak mau kalah, keduanya berlari tunggang langgang menyusul Arya. Bu Yasmin adalah guru Agama.  Usianya sudah 45 tahun tapi karena murah senyum, beliau tampak selalu cantik dan lebih muda dari usianya.  Hampir setiap siswa menyukainya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuhu...”  Bu Yasmin memberi salam.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuhu...!” dengan bersemangat seluruh siswa kelas 4b menjawab.  Bu Yasmin tersenyum lebar.
“Luar biasa semangatnya, terimakasih.  Sebelum Ibu mulai, Ibu absen dulu, ya.”  Satu per satu siswa kelas 4b dipanggil namanya.  Semua hadir.  Ya, setiap hari Rabu, semua siswa kelas 4b selalu hadir semua.  We love Wednesday, begitu motto mereka.  Karena ada Bu Yasmin. 
Gawat, ya!  Lihat saja, Anton yang tiap sebentar bersin-bersin pun memaksakan diri masuk, karena tak mau ketinggalan pelajaran Bu Yasmin.
“Kamu flu, Anton?” 
“Iya, Bu...”  Hidung Anton tampak memerah keseringan bersin.
“Kalau sedang bersin, tutup hidung dengan tisu atau sapu tangan, ya, biar tidak menyebar virusnya dan menulari teman yang lain.”  Anton mengangguk.
“Iya, Bu...”
“Nah, anak-anak Ibu semuanya.  Ibu ada cerita yang sangat bagus.  Ibu benar-benar terharu masih bisa menemukan anak sejujur itu.”
“Bagaimana ceritanya, Bu?”  Arya tak sabar.
“Iya, akan Ibu ceritakan.  Tadi, karena motor Ibu rusak, Ibu ke sekolah naik angkutan kota, keneknya seorang anak kecil, seusia kalian.  Kalau masih bisa sekolah, dia juga kelas 4, sama seperti kalian.  Tapi dia harus berhenti sekolah karena ayahnya sudah tiada, sedangkan ibunya hanya berjualan daun pisang di pasar.  Adiknya ada dua.”  Bu Yasmin menghela nafas.
“Lalu, Bu?”
“Sabar, dong, Ikhsan.”  Tegur Bima, ketua kelas.
“Ayahnya, yang bekerja sebagai sopir angkot, meninggal sebulan yang lalu, karena tabrakan.  Kalian ingat, kan, sebulan yang lalu ada tabrakan di dekat sekolah kita?  Saat itu, seorang anak muda mengendarai motor sangat kencang.  Angkot yang berusaha menghindari tabrakan dengan pemuda itu, malah menabrak tiang listrik.  Ternyata, sopir angkotnya, ayah si kenek kecil yang Ibu jumpai tadi.”  Mata Bu Yasmin tampak berkaca-kaca.  Suasana kelas menjadi hening.
“Ibu tidak punya uang kecil untuk membayar ongkos, lalu Ibu beri uang lima puluh ribuan.  Karena belum ada kembalian, Ibu diminta menunggu penumpang lain membayar.  Sampai di tujuan, Ibu langsung turun.  Ibu bahkan tak ingat belum diberikan kembalian.  Tadi, saat Ibu duduk di meja piket, kira-kira sudah sepuluh menit Ibu duduk, kenek kecil itu terengah-engah menemui Ibu dan memberikan uang kembalian.”
“Kamu berlari ke sini?”  tanya Ibu.
“Iya, Bu, maaf tadi tak sempat kasih kembalian.”
“Angkotmu, mana?”
“Menunggu di perempatan.  Sulit balik ke sini, jadi saya lari saja.” 
“Ibu terharu sekali.  Lebih-lebih, saat Ibu berikan dia uang sepuluh ribuan sebagai hadiah, dia menolaknya dengan halus.  Hebat, ya, anak itu?  Padahal, bisa saja dia tak pedulikan tentang uang kembalian itu.  Tapi karena kejujurannya, dia sampai bersusah payah menemui Ibu.  Benar-benar sikap yang patut kita tiru.”
“Betul, Bu.  Apalagi, sekolah kita akan membuka warung jujur!”  kata Iman.
Sebenarnya, warung jujur itu apa, sih, Bu?”
“Oh, maksudnya, warung itu tidak ada penjaganya.  Yang ada hanya barang-barang yang dijual dan kotak uang, serta buku catatan pembelian.  Siapa yang beli, catat nama, kelas, dan barang yang dibeli.  Catatan itu gunanya untuk mencocokkan barang terjual dengan jumlah uang yang ada.”  Semua siswa mengangguk-angguk.
“Wah, enak, tuh...”  Celetuk Risman.
“Huuu, iya, kamu pasti senang, bisa belanja tanpa bayar!”  Sahut Nita.  Risman melotot.  Bu Yasmin Tersenyum.
“Warung jujur dibuat sekaligus untuk menguji kejujuran anak-anak Ibu semuanya.  Memang tidak akan ada yang tahu seandainya kalian mengambil barang tanpa membayar.  Ya, tak ada satu pun manusia yang tahu.  Tapi ingat...”  Bu Yasmin menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Ya, ada yang malaikat yang senantiasa mencatat apa yang kita perbuat.  Allah juga melihat kita.  Sekalipun kita tidak melihat Allah, harus kita ingat, Allah pasti selalu melihat kita.”
“Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita minggu yang lalu.”  Waktu berlalu tanpa terasa.  Belajar dengan Bu Yasmin selalu menyenangkan.  Kadang-kadang beliau menceritakan kisah-kisah yang menarik jika suasana kelas mulai membosankan.  Sesekali beliau mengajak kami bernyanyi. Dengan begitu, anak-anak belajar dengan senang dan nyaman.
Seminggu kemudian, warung jujur pun dibuka dan diresmikan oleh Ibu Kepala Sekolah, setelah upacara bendera hari Senin pagi.
“Anak-anak Ibu semuanya.  Sekolah kita, hari ini, mulai membuka warung jujur.  Ada alat-alat sekolah, seperti pensil, pena, buku tulis, penghapus, penggaris, dan lain sebagainya, bisa kalian beli.  Kenapa dinamakan warung jujur?”
“Warung jujur ini dibuat untuk melihat seberapa besar kejujuran anak-anak Ibu semuanya.  Kalian bisa berbelanja tanpa ada penjaga.  Kalian melayani diri kalian sendiri.  Ibu harapkan, semua anak-anak Ibu selalu bersikap jujur sekali pun tak ada orang lain yang melihat.  Mari sama-sama kita sukseskan warung jujur sekolah kita ini.”  Demikian amanat Ibu Kepala Sekolah.
Hari pertama, semua barang di warung jujur habis.  Tapi kenapa uangnya tidak cukup?  Bu Rina, penganggungjawab warung jujur bingung.
Hari kedua, masih juga belum cocok antara jumlah barang terjual dengan uang yang ada dalam kotak.  Memang, uang yang ada sesuai dengan catatan dalam buku.  Wah, berarti ada yang curang, nih.
Hari-hari berikutnya masih sama. 
“Kalau seperti ini terus, kita tidak bisa lagi belanja barang baru.”  Keluh Bu Rina.
“Kita tunggu dalam satu bulan ini.”  Sahut Bendahara Sekolah.
“Apa perlu kita amati diam-diam?”
“Tidak usah. Bisa jadi, karena tahu diamat-amati, anak yang curang itu menghentikan aksinya.  Tapi begitu kita bosan mengamati, dia bikin ulah lagi.  Anak-anak itu harus menyadari kesalahannya mulai dari hati nurani mereka sendiri.” 
Ternyata, hingga sebulan warung jujur buka, selalu terjadi kecurangan. 
“Kalau dibiarkan, anak-anak ini akan merajalela.”
“Benar, ternyata belum ada perubahan.  Saya akan mengusahakan sesuatu untuk mencari siapa yang sebenarnya telah berbuat curang.”  Bu Yasmin mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.  Mungkin beliau memiliki ide cemerlang.
“Kita coba, semoga berhasil.”
Hari senin pagi, setelah upacara, seluruh siswa diminta tetap berkumpul di lapangan sekolah.  Masing-masing guru kelas membagikan sepotong stik es cream kepada siswanya.
“Anak-anak Ibu yang Ibu sayangi,”  Bu Yasmin menatap seluruh siswa. “hari ini kalian diberikan sepotong stik es cream yang panjangnya sama.  Stik itu sudah diberi nama oleh guru kelas kalian.  Besok, kalian kumpulkan kembali.”
“Warung jujur di sekolah kita, ternyata mulai dimasuki oleh anak-anak yang kurang jujur.  Jika hal ini dibiarkan terus, warung kita tentu bisa merugi, akhirnya tidak bisa buka lagi.  Stik yang dibagikan kepada kalian, bukan stik biasa.  Besok, saat dikembalikan, akan ketahuan siapa yang suka berbuat curang.  Stik milik si curang akan bertambah panjang dari stik kawannya.  Siapa yang besok bolos tanpa alasan, juga patut dipertanyakan.  Jadi, besok pagi, kalian kumpulkan kembali stik itu kepada guru kelas kalian, tanpa kecuali.”  Suara Bu Yasmin terdengar sangat tegas.  Suasana menjadi sunyi.
“Baiklah, sekarang kalian boleh masuk ke dalam kelas masing-masing.  Tidak usah takut, hanya stik milik si curang yang akan memanjang.”  Bu Yasmin mengakhiri amanatnya sambil tersenyum.  Para siswa berlarian menuju kelas masing-masing.
Hingga larut malam, Risman dan Bonar, tidak juga bisa tidur. Mereka bertetangga.  Sedari tadi mereka saling kirim SMS.
“Gimana, nih, Man.  Jangan-jangan stik kita memanjang.”  SMS Bonar bernada cemas.
“Mana mungkin.”
“Kata Bu Yasmin, stik ini bukan stik biasa.”
“Apa iya?”
“Memang, sepertinya mustahil.  Tapi ada baiknya kita jaga-jaga.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau stiknya kita potong sedikit.  Jadi kalau besok stik kita memanjang, ukurannya tetap sama dengan stik yang lain?”
“Kita tunggu saja besok.  Kalau memanjang, baru kita potong.”
“Iya kalau sempat, ini sudah larut malam, kita belum tidur.  Apalagi kamu, suka terlambat bangun.”
“Iya juga.  Baiklah, kita potong saja sedikit.”
Mereka merasa lega.  Akhirnya mereka bisa terlelap.
Keesokan harinya, semua siswa mengumpulkan stik kepada guru kelas.  Stik yang sudah terkumpul diperiksa dengan teliti.  Di kelas 4b, ada satu stik yang tampak bekas potongan dan ukurannya berbeda.  Begitu juga di kelas 4a.
“Akhirnya, dari stik yang kalian kumpulkan, Ibu tahu siapa yang selama ini melakukan kecurangan di warung jujur.”  Kata Bu Ira, Guru Kelas 4b, kepada siswanya.
“Siapa, Bu?”  Bu Guru tersenyum. 
“Alangkah baiknya jika anak yang Ibu maksud berani mengakuinya sebelum orangtuanya dipanggil oleh Kepala Sekolah.”  Meskipun berusaha tenang, wajah Risman terasa panas.  Mukanya tampak memerah.  Untung tak seorang pun temannya  memperhatikan.  Di kelasnya, Bonar juga merasakan hal yang sama.
Di kantin sekolah.
“Bonar, kita mengaku saja, yuk?  Aku takut kalau orangtuaku tahu semua ini.  Bisa-bisa mereka mengirimku ke kampung nenek lagi karena menganggapku masih nakal.”
“Aku juga takut.  Tapi kalau kita mengaku, nanti kita dihukum.”
“Ya, sih.  Tapi karena kita sudah salah, pantas juga dihukum.  Asal orangtuaku tak tahu masalah ini, aku bisa tenang.”  Keduanya terdiam beberapa saat.
“Aku akan mengaku.”  Risman bangkit dan berjalan menuju kelasnya.  Bu Ira tampak sedang sibuk mengoreksi PR siswa.  Beliau tersenyum melihat kedatangan Risman.
“Bu....”
“Duduklah.  Jadi akhirnya kamu menyadari kesalahanmu?”
“Tapi, bagaimana Ibu tahu pelakunya saya?  Apa stik saya memanjang lagi?”
“Bukan memanjang, tapi memendek.  Benda mati, kan, tidak bisa tumbuh dan berkembang?”
“Kata Bu Yasmin....”
“Bu Yasmin bukannya ingin berbohong, tapi berusaha membuat kalian menyadari kesalahan kalian.”
“Saya menyesal, Bu.”  Risman menunduk dalam-dalam.
“Kenapa menyesalnya menunggu ketahuan?”  Risman terdiam.
“Saya janji tak akan mengulanginya lagi.  Jangan panggil orangtua saya, ya, Bu?”
“Coba pandang Ibu.”  Risman memberanikan diri memandang bu Ira.  Matanya berkaca-kaca.
“Baiklah.  Kali ini, Ibu maafkan.  Jangan pernah diulangi lagi.  Perbuatanmu itu tidak hanya merugikan diri kamu sendiri.  Tapi juga merugikan sekolah dan teman-temanmu yang lain juga.”
“Iya, Bu, saya mengerti.  Saya minta maaf.”
Di kelas 4a, tampak Bonar sedang duduk takzim di depan Bu Arta, Guru kelasnya.  Rupanya Bonar juga mengakui kesalahannya.
Hari-hari selanjutnya, warung jujur benar-benar menjadi warung jujur. Tidak ada lagi selisih barang terjual dengan jumlah uang yang masuk.  Kalau pun ada selisih, tidak seberapa nilainya. Mungkin adik-adik yang masih kelas satu atau kelas dua salah menghitung uang kembalian. Warung jujur sekolah kami pun semakin berkembang.  Kalau dulu hanya menjual alat-alat sekolah, sekarang juga ada kue-kue.  Karena harganya lebih murah dan kue-kuenya pun tampak bersih dan bergizi, siswa banyak yang jajan di warung jujur.